
Tak bisa melawannya dan tak mau berdebat, akhirnya Viollete menuruti begitu saja kemauan dari sang adik. Kini mereka pergi ke kasir dan membawa sekeranjang pakaian, yang terdiri dari pakaian untuk Cloud, Viollete, dan tentu saja Cloud juga memilihkan beberapa untuk Buck Karimova.
TRING ...
Sebuah notifikasi yang berasal dari ponsel Viollete mulai berbunyi, menandakan sedang ada sebuah pesan. Viollete segera mengambil ponselnya untuk membaca pesan itu.
Vio, ini aku Roy. Dan aku mendapatkan nomor ponselmu dari data dirimu. Oh ya, tuan Wilson memintamu untuk datang ke markas utama Doragonshadou besok pagi. Semoga ada kabar baik. Roy.
"Roy?" gumam Viollete pelan dengan kening berkerut. "Ah ... besok harus datang lagi ke tempat itu ya? Semoga saja aku bisa lolos dan bisa masuk ke dalam Doragonshadou. Jika kau sampai gagal, papa pasti akan sangat murka padaku."
"Kak! Ayo kita makan!" Cloud sudah menghampiri Viollete kembali dengan membawa beberapa bingkisan yang sudah ditentengnya.
"Baiklah, ayo!" sahut Viollete dan mulai mengambil beberapa bingkisan itu untuk membantu membawakannya.
"Sudahlah, aku saja yang membawakannya, Kak Vio. Aku ini seorang pria." Cloud tersenyum lebar dan mulai merebut kembali beberapa bingkisan yang dibawa oleh Viollete.
Viollete tersenyum lebar melihat tingkah Cloud, "Adikku sudah besar dan dewasa ya ..." ucap Viollete menggoda Cloud.
"Tentu saja dong, Kak. Usiaku kan sudah 21 tahun beberapa hari lagi." Cloud menyauti dengam senyum lebar.
"Hhm. Kau benar, Cloud. Ya sudah kali ini kamu mau makan apa?" tanya Viollete yang mulai menaiki eskalator bersama Cloud untuk pergi ke lantai atas.di bagian food street.
"Aku rindu makanan Thailand, Kak. Kita cari restoran Thailand yuk!" ajak Cloud bersemangat.
"Boleh, sudah lama tidak makan masakan Thailand." Viollete menyauti dengan senyum lebar dan sebenarnya gadis cantik itu juga sudah merindukan masakan Thailand.
Akhirnya mereka berdua mulai mencari restoran yang sesuai dengan keinginan mereka saat ini, hingga akhirnya mereka berdua menemukan restoran bergaya Thailand, dan tentunya akan banyak menu masakan Thailand di dalamnya.
Viollete dan Cloud mulai memasuki restoran itu dan mulai memilih tempat duduk paling pojokan dan sepi. Sebenarnya restoran ini tidak terlalu ramai, hanya saja kedua adik kakak ini memang sudah terbiasa dan sangat suka makan dalam keadaan tenang dan memilih tempat seperti itu jika sedang makan di luar rumah.
Viollete dan Cloud mulai memesan makanan, namun tiba-tiba saja sebuah melodi yang terdengar begitu tenang , mulai terdengar dari ponsel Viollete. Viollete mulai meraih ponsel itu, ternyata ada sebuah panggilan yang berasal dari sebuah nomor baru.
Tanpa berfikir panjang lagi, akhirnya Viollete mulai menggeser sebuah tombol hijau dan mendekatkan dan menempelkan benda pipih itu pada telinga kanannya.
"Hallo, siapa ini?" ucap Viollete dengan nada bicaranya yang selalu datar jika berbicara dengan orang asing.
Yeap, Viollete akan selalu berbicara dengan datar dan dingin dengan orang asing yang baru saja dikenalnya. Dan Viollete akan berbicara dengan tegas, bahkan kasar jika sedang menghadapi orang yang sudah bertingkah berlebihan terhadapnya, misalnya beberapa waktu yang lalu saat menghadapi sang boss di pelabuhan. Mulutnya bisa menjadi sangat pedas dalam seketika.
"Vio, kau melupakanku? Aku bahkan baru saja mengirimkan sebuah pesan untukmu." terdengar suara seorang pemuda yang cukup familiar untuk Viollete.
Namun Viollete masih terdiam untuk kembali mengingat sesuatu, hingga akhirnya Viollete mulai menyadari jika yang sedang menghubunginya saat ini adalah adalah senior Roy.
"Oh ... maafkan aku, Senior Roy. Aku belum sempat menyimpan nomor senior. Jadi aku tidak tau jka ini nomor senior." ucap Viollete sedikit merasa tidak enak.
"Hhm. Tidak masalah kok, Vio. Aku hanya ingin memastikan jika kamu memang sudah menerima pesan dariku." ucap Roy dari seberang dengan nada bicara seperti biasanya, selalu ramah.
"Iya, Senior Roy. Aku sudah menerimanya. Terima kasih. Besok aku akan datang untuk menemui tuan Wilson." Viollete menyauti dengan sedikir bersemangat.
"Sama-sama. Semoga beruntung, Vio! Baiklah kalau begitu sampai jumpa besok. Masih ada yang harus aku kerjakan sekarang."
"Hhm. Baiklah, Senior Roy."
Viollete mulai menyimpan kembali ponselnya dan segera meraih sebuah sendok untuk menikmati makanan yang baru saja diantar oleh seorang pelayan wanita.
"Siapa senior Roy, Kak? Apa senior baru kakak saat di Doragonshadou?" tanya Cloud sambil menikmati makanannya.
"Iya, Cloud. Dia adalah salah satu senior kakak saat mendapatkan misi dari tuan Wilson." jawab Viollete seadanya.
"Kakak, sebenarnya ... aku pernah mendengarnya. Aku tak sengaja mendengar percakapan kakak bersama papa saat itu. Apa kakak berniat memasuki Doragonshadou hanya karena sebuah sebuah dendam? Balas dendam untuk mama? Apa itu benar, Kak? Dan apakah tujuan utama kakak adalah petinggi utama mereka? Tuan Kagami Jiro?" tanya Cloud memelankan suaranya, hal ini sungguh sangat berbahaya jika sampai ada yang mendengarnya.
Hal ini tentu saja membuat Viollete merasa begitu tercengang dan kebingungan. Padahal selama ini Viollete dan Buck Karimova sudah sepakat untuk tidak memberitahu ataupun melibatkan Cloud soal hal ini. Namun rupanya Cloud malah sudah mengetahuinya begitu saja.
"Kak Vio ... jawab aku. Aku adalah adikmu, putra dari mama juga. Aku juga akan membantu kakak dan akan selalu berada di sisi kakak." ucap Cloud yang tiba-tiba saja membuat Viollete merasa bersedih hingga sepasang manik-manik indah itu mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih, Cloud. Tapi kamu harus berjanji untuk tetap berpura-pura seakan tidak mengetahui apapun di depan papa. Jika tidak, papa akan sangat marah jika kamu terlibat dengan hal ini. Kakak berjanji padamu, kakak akan mengatakannya padamu, jika kakak membutuhkan bantuanmu." ucap Viollete berusaha untuk tetap membuat Cloud merasa dihargai.
Padahal sebenarnya Viollete sendiri tak ingin melibatkan Cloud akan misi balas dendamnya saat ini. Viollete tak ingin membuat Cloud juga dalam bahaya, cukuplah hanya dirinya saja yang terjun dalam misi berbahaya ini. Karena Doragonshadou sangat besar dan kuat, dan siapapun yang menentang mereka adalah ibarat seseorang yang menjemput kematiannya sendiri.
Namun Viollete tetap akan melakukannya, meskipun nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya. Karena kematian tragis dari mamanya tak bisa dia biarkan begitu saja.
"Sekarang jangan pikirkan apapun saat ini, Cloud. Karena misi kakak masih akan sangat lama. Kakak masih harus berusaha untuk diterima disana dan bekerja dengan baik disana. Untuk mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang memegang kendali disana!!" ucap Viollete dengan pelan namun penuh dengan keyakinan.
...⚜⚜⚜...