The Goddess Of War

The Goddess Of War
Viollete Dan Roy Terpisah



Seorang pemuda dengan memakai pakaian tempur serba hitam dan menggendong ransel hitam waterproof berukuran sedang terlihat sedang menimang-nimang sebuah peluru yang baru saja dia temukan.


Sementara di dekatnya sudah ada seorang gadis cantik dengan rambutnya yang panjang diikat ke belakang. Gadis itu mengenakan tank top hitam press body dan sedikit pendek hingga menampakkan pusarnya. Sebuah jaket kulit berwarna caramel juga dia kenakan untuk membalut sisi luar tubuhnya.


Sepasang hand gloves berwarna hitam yang menampakkan bagian jari-jarinya juga sudah dikenakannya dengan manis. Pakaian kasual itu dia padankan dengan celana jeans berwarna cerah. Sebuah ransel berwarna biru navy dengan kombinasi line hijau waterproof berukuran sedang juga masih selalu digendongnya.


Mereka adalah Viollete dan Roy yang sedang mendapatkan tugas untuk menyisisiri area di dekat hutan desa Aiko Iyashi No Sato. Disaat mereka bedua sedang asyik berbincang bersama, tiba-tiba saja mulai terdengar suara tembakan yang terdengar tak jauh dari mereka berdua dan membuat Viollete dan Roy saling bertatapan dengan waspada.


TAR ...


Roy segera memberikan isyarat untuk Viollete untuk mulai mencari tau apa yang sedang terjadi saat ini. Namun mereka berdua malah menemukan sebuah jurang di antara dua tebing yang cukup tinggi. Di bawahnya terlihat air mengair dengan cukup deras seperti mengarah pada sebuah air terjun.


Ada sebuah jembatan kayu yang berusia sudah cukup tua yang menghubungkan antara 2 tebing curam itu. Setelah mengamati sekitarnya, kini mereka berdua mulai memutuskan untuk menyeberangi jembatan kayu itu untuk bisa mencapai seberang, karena suara tembakan itu berasal dari seberang tebing.



Roy mulai melenggang di depan Viollete dan mulai menyeberangi jembatan kayu tua itu dengan sangat hati-hati. Lalu mulai diikuti oleh Viollete di belakangnya yang juga sangat berhati-hati dalam setiap melangkahkan kakinya.


"Siapa disana?! Jangan bergerak!" tiba-tiba saja mulai terdengar suara seorang pria dari tebing belakang Viollete.


Dan disaat itu juga kayu tua yang sedang dipijaki oleh Viollete tiba-tiba saja ambrol hingga membuat Viollete terjatuh ke dalam terbing yang cukup curam itu hingga akhirnya mulai terjebur ke dalam sungai yang cukup dalam dan berarus kuat itu.


BYUURR ...


"Vio!!" teriakan Roy begitu menggema dan menggaung keras di seluruh hutan ini.


Sepasang netranya masih menatap ke bawah tebing dan berusaha untuk menangkap sosok Viollete. Namun tak terlihat sosok gadis pemberani itu sama sekali di antara air yang mengalir dengan deras itu.


Mungkin saja tubuh Viollete sudah terbawa oleh arus kuat itu yang mengarah pada sebuah air terjun. Dan tentu saja ini sangat membuat Roy merasa begitu khawatir hingga sudah melupakan sosok yang saat ini sedang memergokinya di sisi sampingnya.


"Angkat tanganmu sekarang juga, Wahai pemuda kulit putih!!" suara besar itu kembali terdengar semakin lebih tegas dan menakutkan.


Roy mulai mengangkat kedua tangannya lalu sedikit memutar tubuhnya hingga menatap orang itu. Rupanya seorang pemuda berkulit hitam sudah bersiap dan menodongkan sebuah senjata api laras pendek ke arah Roy.


"Aku hanya orang biasa yang sedang menikmati alam." ucap Roy berkilah.


"Ckk. Apa kau blpikir aku ini bodoh? Penampilan seperti seorang mata-mata dan petarung seperti itu mana mungkin kamu hanyalah orang biasa saja! Jangan berusaha untuk membodohiku, Wahai pemuda!" ucap pria berkulit hitam itu dengan suaranya yang lebih menggelegar.


"Oh ya? Sepertinya kamu memang bodoh?" ucap Roy tersenyum miring dan dengan cepat menurunkan tangan kanannya lalu meluncurkan sebuah tembakan mematikan dari sarung tangannya.


Yeap, tembakan sarung tangan itu adalah salah satu senjata rahasia yang dimiliki oleh Doragonshadou sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Senjata yang dirancang khusus ini digunakan untuk perang jarak dekat. Senjata ini berbentuk seperti sarung tangan dengan revolver sekaligus penembak pada bagian telapak tangannya.


Cara menggunakan senjata ini hanya tinggal menekan pemicu pada telunjuk atau menepukkan pada tubuh dari musuh, sehingga otomatis pelatuk akan tertekan dan menembak tubuh musuh. Senjata ini sangat efisien dan tentunakan sangat berguna untuk melakukan sebuah misi rahasia.


Namun senjata ini akan berakibat sangat fatal jika tidak bisa menggunakannya dengan hati-hati. Karena bisa saja tanpa sengaja sang pemakai sarung tangan itu sendiri terkena tembakannya sendiri karena tak sengaja menekan pelatuk tersebut.


Pria dewasa berkulit hitam itu seketika ambruk karena terkena tembakan dari Roy dan tepat mengenai salah satu organ vitalnya. Tubuhnya yang sudah tak berdaya tiba-tiba saja ambruk dan terhuyung hingga jatuh ke dalam sungai di bawah. Namun sebelum pria berkulit hitam itu terjatuh sepenuhnya, Roy sempat mengambil sebuah handy talky berwarna hitam miliknya.


Roy yang masih memegang handy talky dengan tangan kirinya itu kini mulai menatap ke dalam sungai di bawah. Tatapannya begitu nanar karena masih saja mengkhawatirkan Viollete.


"Vio, kamu harus tetap bertahan dimanapun kamu berada!" gumam Roy yang masih menatap ke dalam tebing curam itu.


Namun tiba-tiba Roy mulai teringat dengan sesuatu. Bahwa masing-masing anggota tim Ryuga sudah memakai sepatu pelacak. Sebenarnya sepatu itu sudah dipasangi dengan dengan teknologi GPS yang akan memberitahu di mana keberadaan lokasi seseorang dengan tepat dan akurat. Dan tentunya akan lebih mempermudah untuk menemukan Viollete.


Perancangan dari alat ini meliputi studi literatur, pembuatan program pada rangkaian sistem mikrokontroller dengan menggunakan Arduino, modul GSM sim800 sebagai media untuk mengirim dan menerima pesan dari pengguna, modul GPS tracking sebagai pendeteksi titik koordinat keberadaan orang yang hendak dilacak, membuat desain untuk peletakkan komponen pada sepatu, dan metode terakhir yaitu uji coba alat. Dan semua itu berhasil dilakukan oleh Doragonshadou dengan baik.


Hasil dari penelitian tersebut adalah sepatu dapat dilacak ketika alat yang ada di dalam sol sepatu sudah dalam keadaan aktif. Sepatu dapat dilacak dengan menggunakan sebuah pesan, dengan mengirim pesan sesuai dengan kode yang sudah diprogram pada alat. Jika kode sms yang dikirim benar maka alat akan membalas berupa titik koordinat dari pengguna sepatu.


Kini Roy mulai mengeluarkan ponselnya dan mulai memasuki sebuah aplikasi khusus. Sebuah kode sepatu yang sedang dikenakan oleh Viollete kini mulai dimasukkannya di dalam ponsel tersebut.


Hingga akhirnya setelah beberapa detik sebuah pesan mulai diterima oleh Roy. Dan pesan itu adalah pesan balasan otomatis dari program yang sudah dipasang pada sepatu pelacak Viollete. Pesan itu berisikan titik koordinat keberadaan Viollete saat ini.


Namun belum sempat Roy memastikan titik koordinat dari keberadaan Viollete saat ini, tiba-tiba saja ada suara seorang pria yang sedang memanggilnya dari sebuah handy talky milik si pria berkulit hitam. Dan itu berarti panggilan atau informasi itu ditujukan untuk si pria berkulit hitam yang saat ini sudah tiada itu.