
My love is sillie
Episode 98
•
Willy mengantar Aurora pulang ke rumahnya dengan mobil milik Johan yang ia pinjam semalam.
Mereka pun tampak bertatapan sejenak di dalam mobil sebelum turun ke luar.
"Rora sayang, aku minta maaf ya sama kamu! Aku udah lancang ambil kesucian kamu semalam, aku benar-benar minta maaf banget sama kamu! Kamu gak marah kan sama aku?" ucap Willy.
"Apa sih Wil? Aku kan udah bilang tadi, kamu gak salah. Aku ingat betul kok, aku yang goda kamu semalam dan minta kamu buat lakuin itu sama aku." ucap Aurora.
"Iya Rora, tapi itu semua karena aku." batin Willy.
"Yaudah lah ya, yang terjadi biarlah terjadi. Walau aku nangis sampe berdarah sekalipun, kesucian aku tetap gak akan balik." ucap Aurora.
Willy tersenyum dan mengusap puncak kepala Aurora seraya mendekatinya.
"Terimakasih ya sayang! Aku gak nyesel udah lakuin itu semalam, karena punya kamu enak banget!" ujar Willy.
"Ih dasar mesum!" cibir Aurora.
"Mesum mesum gini tapi kamu suka kan? Buktinya semalam aja kamu terus-terusan teriakin nama aku, ahh Willy ahh terus ahh enak.." goda Willy menirukan suara Aurora semalam.
Tentu saja Aurora langsung menghujani tubuh Willy dengan cubitan keras.
"Awhh aduh aduh sakit!" ringis Willy.
"Ih rasain tuh! Suruh siapa kamu nyebelin banget?! Yang kayak gitu mah gausah diperagain juga kali dasar mesum!" ujar Aurora kesal.
"Hahaha, iya iya maaf cantik! Kamu tuh gemesin banget tau kalo lagi marah gini!" ujar Willy seraya mencubit pipi Aurora.
"Udah ah aku mau masuk, kamu mending pulang sana! Orang tua kamu pasti nyariin karena semalam kamu gak pulang, mereka khawatir tuh!" ucap Aurora.
"Iya cantikku, abis ini aku pulang kok. Tapi, aku mau lihat kamu masuk ke dalam rumah dulu sampai aman!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Okay! Kamu hati-hati ya pulangnya sayang! Kalau udah sampai rumah, jangan lupa kabarin aku!" ucap Aurora.
"Siap sayangku cintaku!" ucap Willy patuh.
Cup!
Willy mendaratkan kecupan sekilas di pipi Aurora, membuat wanita itu tersenyum lebar dan menatap ke arah Willy dengan wajah memerah.
"Ih kamu nakal ya main cium-cium aja!" cibir Aurora.
"Gapapa dong, toh aku juga udah cobain semua lekuk tubuh kamu semalam. Jadi, gak masalah kalau aku cium pipi kamu sekarang. Mau lagi?" goda Willy.
"Enggak, nanti kamu malah keterusan dan gak mau berhenti. Aku harus masuk sekarang Willy, aku takut papa marah!" ucap Aurora.
"Iya iya.." ucap Willy menurut.
Aurora pun membuka pintu dan turun dari mobilnya itu, sedangkan Willy juga menyusul turun mengikuti langkah wanitanya.
"Sayang, yaudah ya aku langsung balik aja? Makasih banyak loh karena semalam kamu udah mau ikut ke pesta bareng aku, terus kamu juga kasih aku hadiah yang luar biasa!" ucap Willy.
"Hah? Hadiah apa? Perasaan aku gak ada kasih kamu hadiah apa-apa deh," tanya Aurora heran.
Willy mendekat dan menyempilkan rambut Aurora di sela-sela telinganya seraya berkata, "Tubuh kamu itu loh sayang, sangat seksi dan luar biasa."
Kata-kata Wily di telinganya membuat Aurora merasakan hawa yang aneh.
Ditambah pria itu juga mengecup ceruk lehernya yang terbuka itu dengan lembut.
"Ahh.." tanpa sadar Aurora melenguh pelan dan matanya pun mulai terpejam saat Willy terus menggerayangi lehernya.
"Aurora!"
Mereka langsung buru-buru menjauh dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa saat mendengar suara itu.
"Papa?" ucap Aurora masih dengan jantung berdebar kencang.
"Aurora, darimana saja kamu semalam? Kenapa kamu gak pulang ke rumah? Kamu bilang hanya sebentar, tapi kenapa sampai pagi?" tanya Johan cemas.
"Heh Willy! Kamu bawa kemana anak saya? Ditelpon gak bisa, bikin cemas aja tau!" lanjutnya sembari menatap Willy.
"Eee begini pah, kita..."
******
TOK TOK TOK...
Randi terkejut mendengar suara ketukan di depan rumahnya saat hendak meminum kopi yang sudah ia buat.
Tentu saja Randi langsung bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu dengan malas, jujur ia sangat kesal karena orang di luar itu telah mengganggu momen santainya.
"Iya sebentar!" teriaknya dari dalam.
Ceklek...
Randi membuka pintu, matanya langsung melongok lebar melihat sosok Thoriq tengah berdiri di hadapannya saat ini.
"Hah? Thoriq? Ini gue gak lagi mimpi kan??" ujar Randi seraya mengucek-ngucek matanya.
"Ya enggak lah bro, good morning bro happy sunday!" ucap Thoriq menyapa sohibnya itu.
"Ah ya ampun Thoriq, gila gue kangen banget sama lu Riq!" ucap Randi tampak gembira.
Akhirnya Randi langsung maju memeluk Thoriq selama beberapa detik, mereka melepas kerinduan yang teramat dalam itu.
"Yaudah, masuk aja yuk!" ajak Randi.
"Boleh," Thoriq mengangguk setuju.
Mereka pun sama-sama melangkah ke dalam dan duduk di sofa.
Thoriq melihat cangkir kopi di atas meja yang masih terisi penuh, itu membuatnya tergiur.
"Wih ada kopi nih!" ujar Thoriq.
"Iya dong, itu bikinan gue. Tadinya gue lagi santai mau ngopi sambil nonton Spongebob di tv, eh malah ada yang dateng." ucap Randi.
"Hahaha, udah gede tontonan nya Spongebob! Malu tuh sama umur!" cibir Thoriq.
"Ah berisik lu! Udah lah gausah bahas Spongebob lagi! Sekarang lu jelasin ke gue, kenapa lu gak pernah datang ke markas lagi atau ketemu sama gue disini?!" ujar Randi.
"Entar dulu lah bro, lu minimal tawarin gue minum dulu kek apa kek! Ini mah malah langsung ditanyai-tanyain, gue haus tau bro! Gue ini tamu lu loh!" ucap Thoriq.
"Oh iya sampe lupa gue sangking senengnya lu dateng kesini, yaudah bentar gue bikinin lu minum dulu. Eh tapi, lu mau minum apa bro?" ujar Randi.
"Kopi aja biar enak," jawab Thoriq.
"Sip dah, bentar ye!" ucap Randi.
"Oke!" ucap Thoriq mengangguk singkat.
Randi pun beranjak dari sofa dan menuju dapur untuk membuatkan kopi.
Tak lama, Randi kembali membawa satu lagi cangkir kopi di tangannya untuk Thoriq.
"Nah, ini dia kopinya mas bro!" ucap Randi.
"Wah mantap nih! Uhh aromanya mantap banget!!" ucap Thoriq yang langsung mengambil cangkir tersebut dan menghirup aroma kopinya.
"Hati-hati bro masih panas itu!" ucap Randi.
"Santai! Gue cuma mau hirup aroma kopi ini, soalnya sebelum diminum, kopi itu harus dinikmati bro!" ucap Thoriq.
"Sip dah, terserah lu aja!" ucap Randi.
Sluurrpp...
"Ahh mantap!" ucap Randi.
"Eh ya, jadi gimana tadi soal pertandingan gue Riq? Lu kenapa gak pernah kumpul bareng lagi sama anak the darks sih?" tanya Randi pada Thoriq.
"Yah elah Ran, lu emang lupa kalau ortu gue ngelarang gue buat main sama kalian lagi? Mereka tuh khawatir kalau gue bakal terluka lagi kayak kemarin," jawab Thoriq.
"Ya gue inget kok, cuma maksud gue kan lu cuma sekedar mampir gitu buat silaturahmi. Masa gak boleh juga sih?" ujar Randi.
"Gak tahu tuh ortu gue, mereka sekarang juga jaga gue ketat banget." ucap Thoriq.
"Hahaha, kayak anak kecil lagi ya bro?" cibir Randi.
"Ah sialan lu!" umpat Thoriq.
******
Disisi lain, Tedy coba mengambil kesempatan untuk mendekati Ayna saat gadis itu tengah ditinggal sendirian oleh sang kakak di depan minimarket.
Tedy memang sempat ragu untuk melakukan itu, ia khawatir Geri akan mengetahuinya dan menghajarnya disana, tetapi ia hilangkan semua keraguan itu demi menggapai cintanya.
"Hai Ayna!" sapa Tedy dengan ramah dan satu tangan melambai ke arah gadis itu.
"Te-tedy? Ka-kamu ada disini juga?" Ayna cukup terkejut dan terlihat panik saat melihat Tedy menghampirinya.
"Ya Ayna cantik, aku mau belanja disini. Aku gak nyangka deh kita bisa ketemu di tempat ini, sungguh kebetulan yang luar biasa!" ucap Tedy.
"Umm, iya.." Ayna terus melirik ke arah dalam minimarket untuk memastikan kakaknya belum kembali.
"Kamu kenapa? Kok daritadi kayak ngeliatin ke dalam terus? Emangnya ada apa sih disana?" tanya Tedy berpura-pura tak tahu apa-apa.
"Eee enggak kok," jawab Ayna berbohong.
"Kamu yakin? Kelihatan loh dari ekspresi kamu, kamu kayak lagi panik gitu." ujar Tedy.
"Iya Ted, aku gapapa kok." ucap Ayna.
"Yaudah, bagus deh! Kalo gitu kamu mau gak ikut sama aku sebentar?" ucap Tedy.
"Hah? Kemana?" tanya Ayna penasaran.
"Aku mau bicara sebentar sama kamu, mau kan?" jelas Tedy.
"Iya iya aku mau, yaudah yuk kita kesana!" ucap Ayna.
Tedy mengangguk dan menggandeng tangan Ayna lalu pergi menjauh dari minimarket itu.
Ayna diam saja merasakan tangannya digenggam oleh Tedy, ia sebenarnya tak suka namun ia tidak berani protes.
Tedy pun melepas tangannya begitu mereka sudah menjauh dari minimarket.
"Nah, kita bicara disini aja. Duduk dulu yuk!" ucap Tedy.
Ayna menurut dan duduk di tempat yang tersedia, begitupun dengan Tedy.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Ayna penasaran.
"Teman aku si Randi bilang sama aku, katanya dia lihat musuh kita di rumah kamu dan kelihatan akrab sama kamu. Apa itu benar Ay?" jelas Tedy.
"Iya dong, itu kakak aku namanya Geri. Dia juga udah bilang sih soal Randi dan anak the darks, kalian itu emang musuhan ya?" ucap Ayna.
"Ya begitu deh Ay, the darks sama geng kakak kamu itu emang musuh berat. Makanya aku sedih banget pas dengar ternyata kamu ada hubungan sama mereka," ucap Tedy.
"Kenapa harus sedih?" tanya Ayna bingung.
"Karena aku jadi gak bisa dekat-dekat lagi sama kamu, aku takut kamu dimarahin sama kakak kamu itu." jawab Tedy.
"Jangan bilang gitu! Kita tetap bisa temenan kok, kamu gausah mikirin kak Geri! Dia gak bakal tau kalau kita temenan," ucap Ayna.
"Masa sih? Emangnya kamu gak bakal ditanyai-tanyain gitu sama dia?" ujar Tedy.
"Ya pasti ditanyain sih, tapi kan aku bisa bohong. Yang penting kita kalau ketemuan atau telponan jangan di dekat kak Geri aja! Misalnya sembunyi-sembunyi kayak gini," ucap Ayna.
"Boleh tuh usul kamu, aku setuju deh! Aku senang karena kamu masih mau dekat sama aku!" ucap Tedy.
"Iya, aku juga. Selama ini aku jarang banget punya teman cowok, makanya aku senang pas ketemu kamu sama teman-teman kamu itu." ucap Ayna.
"Hahaha.." mereka tertawa bersamaan.
"Ayna!" keduanya terkejut mendengar suara itu dan kompak menoleh.
******
"Sayang, yaudah ya aku langsung balik aja? Makasih banyak loh karena semalam kamu udah mau ikut ke pesta bareng aku, terus kamu juga kasih aku hadiah yang luar biasa!" ucap Willy.
"Hah? Hadiah apa? Perasaan aku gak ada kasih kamu hadiah apa-apa deh," tanya Aurora heran.
Willy mendekat dan menyempilkan rambut Aurora di sela-sela telinganya seraya berkata, "Tubuh kamu itu loh sayang, sangat seksi dan luar biasa."
Kata-kata Wily di telinganya membuat Aurora merasakan hawa yang aneh.
Ditambah pria itu juga mengecup ceruk lehernya yang terbuka itu dengan lembut.
"Ahh.." tanpa sadar Aurora melenguh pelan dan matanya pun mulai terpejam saat Willy terus menggerayangi lehernya.
"Aurora!"
Mereka langsung buru-buru menjauh dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa saat mendengar suara itu.
"Papa?" ucap Aurora masih dengan jantung berdebar kencang.
"Aurora, darimana saja kamu semalam? Kenapa kamu gak pulang ke rumah? Kamu bilang hanya sebentar, tapi kenapa sampai pagi?" tanya Johan cemas.
"Heh Willy! Kamu bawa kemana anak saya? Ditelpon gak bisa, bikin cemas aja tau!" lanjutnya sembari menatap Willy.
"Eee begini pah, kita..."
"Kita semalam terpaksa nginep di tempat pestanya om, soalnya udah kemalaman. Soal telpon, hp kita berdua itu sama-sama lowbat jadi gak bisa hubungi om Johan deh." potong Willy.
Johan masih menatap wajah Willy serta Aurora dengan tajam.
"Iya pah, bener yang dibilang Willy itu. Papa jangan marah kayak gitu dong sama kita! Maaf banget ya pah, aku tahu aku salah deh!" ucap Aurora.
"Yaudah, papa maafin kalian. Tapi, lain kali jangan kayak gini lagi! Kalau ada apa-apa itu harus kabari papa dulu!" ucap Johan.
"Iya pah, aku benar-benar nyesel dan minta maaf banget sama papa!" ucap Aurora.
"Gapapa sayang, udah yuk masuk! Willy, kamu pulang aja ya! Itu motor kamu gak diapa-apain kok sama saya, jadi baik-baik aja." ucap Johan.
"Iya om, saya percaya kok!" ucap Willy.
"Yaudah ya Rora, aku pulang dulu. Nanti begitu aku sampe rumah, aku langsung kabarin kamu dan kita telponan lagi sampe puas." ucap Willy pada Aurora.
"Ah kamu lebay banget sih! Malu tau di depan papa ngomongin gituan!" ucap Aurora tersipu.
"Hahaha, anak muda jaman sekarang memang begitu ya kalau pacaran.." ujar Johan tertawa kecil.
Willy tersenyum saja sembari mengusap rambut halus milik Aurora, barulah setelah itu ia pamit dan pergi dari sana dengan motornya.
Johan kini merangkul putrinya, ia heran karena Aurora sudah sangat wangi dan memakai pakaian yang berbeda dari semalam.
"Kamu kok udah wangi banget sih?" tanya Johan.
"Umm iya pah, aku tadi sempat mandi dulu di rumah pesta itu.. emangnya kenapa sih pah?" jawab Aurora tampak gugup.
"Gapapa, papa heran aja. Terus baju kamu yang semalam itu kemana? Kok kamu pakai baju lain?" tanya Johan.
"Ah itu semalam bajunya basah, terus aku dibeliin baju baru sama Willy." jawab Aurora.
"Oh gitu, yaudah yuk masuk aja yuk!" ucap Johan mencium rambut putrinya lalu melangkah ke dalam rumahnya.
Bersambung....