
My love is sillie
Episode 149
•
"Oke, gue minta maaf!" ucap Rimba mengalah.
"Hahaha, takut juga ya lo ternyata sama ancaman kita?" kekeh Ilham.
"Ya iyalah Ham, dia kan cuma sendiri disini. Kalau dia ngelawan, bisa jadi ayam geprek dia!" timpal Billy.
"Hahaha..." anggota black jack lainnya pun ikut tertawa.
"Jangan ketawain gue kayak gitu kalian! Kita ini kan mau kerjasama, gak boleh lah saling mengejek!" ucap Rimba.
"Ya ya, makanya lain kali lu jaga sopan santun kalau ada di wilayah kita!" ucap Ilham.
"Siap salah! Gue minta maaf!" ucap Rimba.
"Oke kita maafin, tapi awas ya kalo lain kali lu begitu lagi!" ucap Ilham.
Rimba menunduk saja tanpa bicara apapun.
Drrttt
Drrttt
Ponsel milik Ilham berdering, dia pun bangkit dan mengangkatnya sejenak.
Sementara Rimba serta para anggota black jack yang lain hanya terduduk diam disana.
"Heh! Kira-kira siapa yang telpon Ilham?" tanya Rimba pada mereka.
Namun, mereka hanya menaikkan kedua bahu.
"Kenapa kalian gak coba nguping dan dengerin pembicaraan Ilham di telpon? Siapa tahu dia ada bisnis lain kan?" usul Rimba.
Mereka semua pun saling pandang.
"Gak mungkin si Ilham begitu, dia kalau ada apa-apa pasti kasih tahu kita kok. Mungkin sekarang dia butuh privasi, kita gak perlu juga tau urusan pribadi dia!" ucap Billy.
"Iya, lagian kenapa lu kepo banget sih? Gausah ikut campur urusan orang!" timpal Choky.
"Galak amat, gue kan cuma nebak-nebak! Abisnya si Ilham terima telpon pake menjauh segala," ucap Rimba.
"Halah udah lu diem aja deh!" ujar Billy.
"Kurang ajar ya lu emang! Untung gue orangnya sabar, jadi gue gak mau ladenin kalian semua!" kesal Rimba.
"Hahaha, bilang aja lu takut sama kita-kita! Udah deh lu gausah banyak bicara!" ucap Billy.
Tak lama kemudian, Ilham kembali setelah selesai menerima telponnya. Ia sedikit heran melihat ketegangan diantara teman-temannya itu.
"Ada apa nih? Kenapa lu semua pada tegang kayak gitu?" tanya Ilham.
"Tanya aja tuh sama si ketua thunder yang sok jago!" jawab Billy.
"Hah??!" Ilham spontan menoleh ke arah Rimba dengan wajah kaget.
"Ada apa lagi sih ini? Lo masih mau cari ribut di tempat kita?" tanya Ilham pada Rimba.
"Apaan sih? Gue kagak cari ribut, orang-orang lu aja tuh yang lebay!" elak Rimba.
"Heh! Sembarangan lu nuduh kita, padahal lu sendiri yang kepo!" ucap Billy tak terima.
"Udah udah, gausah ribut! Barusan gue dapat info, katanya Chalvin balik lagi ke the darks," ucap Ilham.
"Apa??" kaget mereka semua.
"Dapat info darimana lo? Valid gak?" tanya Rimba seolah tak percaya.
"Ya pasti valid lah, gue kan punya mata-mata yang bisa dipercaya. Lo tenang aja, karena info ini pasti benar!" jawab Ilham.
"Ah gawat! Bisa makin kuat tuh the darks kalau Chalvin balik lagi kesana," ujar Rimba.
"Kenapa? Lo takut?" tanya Ilham dengan nada mengejek yang tentunya tak disukai Rimba.
"Buat apa gue takut sama dia? Gue cuma khawatir kita akan makin kesusahan buat nandingin kekuatan mereka," jawab Rimba.
"Itu sama aja lo takut," cibir Ilham.
******
"Lagian ngapain sih kamu mau buru-buru nikahin nak Aurora? Takut diambil orang lain ya?" ujar Bu Ani sambil terkekeh kecil.
"Itu salah satu alasannya Bu, soalnya Aurora ini kan cantiknya bukan main. Aku gak mau lah ada cowok lain yang embat dia," jawab Willy.
"Ngomong apa sih kamu? Mana ada yang berani rebut aku dari kamu? Yang ada mereka nanti bakal dihajar dan dibikin masuk ke UGD sama kamu," ucap Aurora.
"Hahaha, iyalah itu yang bakal aku lakuin kalau sampai ada yang deketin kamu!" kekeh Willy.
"Udah udah, ngobrolnya disambung sambil makan aja! Ini udah mau siang loh, nanti kalian telat sekolah gimana?" potong Bu Ani.
"Oh iya, keasyikan ngobrol sama cewek cantik sih Bu jadi lupa waktu!" ucap Willy sambil menatap wajah Aurora.
Seketika Aurora kembali tersipu mendengar ucapan yang dilontarkan Willy.
"Cie cie mukanya merah cie," goda Willy.
"Apa sih kamu? Malu tau ada ibu sama teman kamu!" sentak Aurora.
"Gausah malu, mereka mah gak akan masalahin itu kok. Ya kan Bu? Sasha?" kekeh Willy.
"Hahaha, udah lah kalian jangan mesra-mesraan terus! Yuk kita sarapan mumpung masih ada waktu!" ujar Bu Ani.
"Tau nih Willy, malah godain aku terus!" cibir Aurora.
"Tapi kamu senang kan digodain sama aku?" kekeh Willy sembari mendekap tubuh gadisnya.
"Apa sih ih?!" Aurora memukul serta mendorong tubuh Willy darinya.
Willy terkekeh saja dengan tingkah menggemaskan pacarnya itu, rasanya ingin sekali ia terkam Aurora saat ini jika tidak ada Bu Ani dan Sasha.
Akhirnya mereka pun sama-sama melangkah ke meja makan, yang mana disana sudah tersedia makanan pemberian Sasha.
"Ayo dimakan dong Willy, Aurora!" pinta Bu Ani.
"Eee Bu, kayaknya aku makan sandwich buatan Aurora aja deh. Gak enak juga kalau aku gak makan," ucap Willy melirik ke arah Aurora.
"Ohh, iya benar juga sih. Terserah kamu aja mau makan yang mana," ucap Bu Ani.
"Ayo nak Aurora, dimakan dong makanannya!" sambungnya seraya menatap wajah Aurora.
"Ah iya Bu, aku kebetulan udah sarapan tadi di rumah. Jadi, aku masih kenyang sekarang," ucap Aurora.
"Oalah pantas," ucap Bu Ani.
"Tapi, kalau aku suapin kamu pake sandwich ini mau kan?" tanya Willy menyodorkan satu buah sandwich di tangannya ke arah Aurora.
"Eee itu buat kamu aja Wil, aku kan udah makan tadi di rumah," jawab Aurora.
"Jangan gitu lah! Aku mau suapin kamu, dan kamu gak boleh nolak sayangku!" paksa Willy.
"I-iya deh iya.." ucap Aurora menurut.
******
"Mangsa? Mangsa apa maksudnya bang?" tanya Thoriq tak mengerti.
"Ya hewan buruan lah, gimana sih lo?!" jawab Jamal ketus.
"Hehe.."
"Ta-tapi bang, kita gak ngerti caranya cari hewan buruan. Berburu aja kita gak pernah, ya kan sayang?" ucap Mia.
"Eee i-i-iya, betul itu bang!" sahut Thoriq dengan sedikit gugup.
"Lu berdua tenang aja, kita pasti kasih tau caranya nanti! Yang penting sekarang kalian ikut aja dulu sama kita!" ucap Jamal.
"Oke deh bang! Tapi, bener kan kalian bakal bantu kita buat keluar dari hutan ini?" ujar Thoriq.
"Iya, yah elah kagak percayaan amat! Gue mah udah hafal sama daerah sini," ucap Jamal.
Thoriq manggut-manggut saja, ia pun terpaksa mengikuti kemauan Jamal dan Ujang, meski ia sedikit merasa ragu.
"Sayang, kamu yakin?" bisik Mia.
"Kamu tenang aja!" balas Thoriq singkat.
Mia mengangguk menurut dengan apa yang diucapkan Thoriq, memang tak ada pilihan lain bagi mereka selain mengikuti dua orang pemburu tersebut agar bisa lepas dari hutan itu.
"Bang, kita mau berburu hewan apa sih? Daritadi cuma muter-muter doang gak jelas," ujar Thoriq.
"Heh! Makanya lu bantu cari hewan yang bisa kita buru dong!" sentak Jamal.
"Hah??" kaget Thoriq.
"Kenapa lu kaget gitu? Perjanjian awalnya kan emang kayak begitu, gimana sih lu?" ujar Jamal.
"Iya bang, gue tuh cuma akting aja biar tambah seru," ucap Thoriq.
"Alah ngeles aja lu!" kesal Jamal.
Tak lama kemudian, terlihat seekor rusa yang melintas di depan mereka dengan sangat cepat.
"Eh bang, tuh ada binatang tuh!" ujar Thoriq.
"Hah? Wah dapet rusa, akhirnya setelah sekian lama! Yaudah, ayo kalian ikut kita tangkap tuh rusa!" ucap Jamal.
"Ta-tapi bang..."
"Udah gausah tapi-tapi!" potong Jamal.
Mereka pun berlari ke arah rusa tersebut, Jamal dan Ujang bersiap dengan senapan mereka dan membidik secara hati-hati.
Sementara Thoriq dan Mia hanya menyaksikan saja aktivitas Jamal serta Ujang, mereka bingung harus berbuat apa.
"Sayang, aku gak mau ah lama-lama sama mereka!" ujar Mia ketakutan.
"Tenang ya sayang!" ucap Thoriq menenangkan gadisnya.
"Gimana bisa tenang? Mereka ngeri-ngeri banget tau, mana bawa senapan lagi," ucap Mia.
"Ya namanya juga pemburu sayang," ucap Thoriq kini memeluk wanitanya.
Tak lama kemudian, Jamal dan Ujang telah berhasil mendapatkan rusa tersebut. Mereka terlihat bahagia dan memamerkan itu pada Thoriq serta Mia.
"Heh! Lihat nih, kita udah dapat hewan buruan kita," ucap Jamal dengan bangga.
"I-iya bang, tapi bisa gak tolong anterin kita keluar dari sini sekarang?" gugup Thoriq.
Selesai....