My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 74. Sempat kesal



My love is sillie


Episode 74



"Yaudah, kita masuk yuk!" ajak Aurora.


"Ntar dulu Aurora! Kamu jawab dulu pertanyaan aku tadi!" pinta Willy.


"Pertanyaan apa sih?" tanya Aurora heran.


"Kamu mau gak jadi pacar beneran aku?" ucap Willy sambil tersenyum.


"Haish, bahas itu nanti aja deh! Kita tuh harus temui pak kepsek sekarang Willy, sebelum bel!" ucap Aurora.


Willy tersenyum lebar, bergerak maju mendekati Aurora dan menangkup wajah gadis itu.


Disaat bibir mereka hendak bertaut, tiba-tiba sebuah teriakan membuyarkan momen itu.


"Willy!" teriak seorang gadis dari arah samping.


Sontak keduanya menoleh secara bersamaan, Aurora pun langsung menjauh dari Willy dan melepaskan tangannya.


Tampaklah sosok Kiara berdiri disana, menatap ke arah mereka dan perlahan melangkah mendekati pasangan itu.


"Mau apa sih dia? Sukanya kok ganggu orang pacaran terus!" batin Aurora.


Kiara sampai tepat di depan keduanya, ia tersenyum menatap wajah Willy dan juga Aurora secara bergantian.


"Hai Aurora!" ucap Kiara.


"Ah iya, hai juga!" balas Aurora dingin.


"Kamu udah mulai sekolah lagi? Kemarin-kemarin kemana, kok gak sekolah?" tanya Kiara.


"Bukan urusan kamu," jawab Aurora ketus.


Kiara manggut-manggut saja walau ia sedikit heran dengan sikap Aurora yang seperti itu padanya.


"Sayang, kamu jangan gitu dong!" tegur Willy.


"Apa? Emangnya aku salah?" tanya Aurora.


"Eee ya enggak sih, tapi kamu kenapa bicaranya begitu sama Kiara? Kan Kiara tanya baik-baik loh, harusnya kamu jawabnya juga baik-baik." ucap Willy.


"Suka-suka aku dong," ucap Aurora sembari memutar bola matanya.


"Udah udah, kalian jangan ribut karena aku! Lagian aku kesini cuma mau kasih tau sesuatu ke kamu, Willy." ucap Kiara.


"Hah? Sesuatu apa?" tanya Willy penasaran.


Kiara melirik sekitar lebih dulu untuk memastikan keadaan apakah aman atau tidak.


"Kemarin aku dengar Max lagi bicara berdua sama kepala sekolah," jawab Kiara.


"Terus kenapa? Emangnya ada masalah ya kalau Max bicara sama kepala sekolah berdua? Perasaan murid-murid disini banyak kok yang kayak gitu, dan gak ada yang perlu dicurigai." ujar Aurora.


"Haish, kamu dengar dulu Aurora!" ucap Kiara.


Willy pun merangkul Aurora dan membekap mulut gadis itu untuk mencegahnya agar tidak berbicara kembali.


"Mmppphhh!!" Aurora berusaha melepaskan diri, tetapi dekapan Willy terlalu keras untuknya.


"Wil, kamu apa-apaan sih? Kasihan Aurora, kamu lepasin dong dia!" ucap Kiara.


"Udah gapapa Kiara, kamu lanjutin aja ucapan kamu! Aurora biar begini terus, abisnya dia kebanyakan ngomong sih." ucap Willy.


"I-i-iya deh.." ucap Kiara.


"Jadi, aku juga sempat dengar kalau Max itu maksa kepala sekolah buat tambahin waktu skorsing kamu. Tapi, untungnya kepala sekolah gak mau nurutin kemauan dia sih." jelas Kiara.


"Apa? Si Max itu berusaha bujuk kepala sekolah buat tambahin waktu skorsing aku?" ujar Willy.


Kiara mengangguk tanda iya.


"Wah kurang ajar tuh anak! Jangan-jangan dia juga yang udah hasut kepala sekolah buat kasih hukuman skorsing ke gue!" ucap Willy.


"Entahlah Wil, tapi menurut aku sebaiknya kamu jangan salah sangka dulu! Siapa tahu bukan Max pelakunya kan?" ucap Kiara.


"Gimana aku gak salah sangka? Kan kamu yang bilang sendiri kalau dia itu lagi berusaha hasut kepala sekolah buat tambahin hukuman skorsing aku," ujar Willy.


"Iya Willy, tapi kan gak ada bukti kalau dia juga yang hasut kepala sekolah sebelumnya." kata Kiara.


"Ya iya sih," ucap Willy menunduk.


Sementara itu, Aurora baru berhasil melepaskan diri dari dekapan Willy dan mulutnya pun juga telah bebas.


"Hah hah hah! Kamu benar-benar keterlaluan Wil! Kamu mau bikin aku mati ya?!" ujar Aurora.


"Enggak sayang, maaf tadi aku kelupaan kalau kamu masih aku bekap!" ucap Willy.


"Ish emang nyebelin kamu ya!" umpat Aurora.


Gadis itu pun pergi begitu saja dari sana meninggalkan Willy dan Kiara.


"AURORA TUNGGU!" teriak Willy.


******


Willy berhasil menyusul Aurora dan menarik paksa lengan gadis itu agar tak pergi darinya.


Aurora terpaksa menyerah, ia menghentikan langkahnya sesuai kemauan Willy.


"Hey, tunggu dong sayang!" ucap Willy.


"Kamu mau apa sih? Udah deh, sana kamu lanjutin aja lagi ngobrolnya sama Kiara! Buat apa juga kamu perduliin aku?" ujar Aurora kesal.


"Kamu jangan cemburu gitu lah! Aku sama Kiara kan cuma bahas tentang Max, kita gak ada bahas hal-hal romantis kok. Kan kamu tadi dengar sendiri juga sayang," ucap Willy.


"Apaan sih? Siapa juga yang cemburu? Gausah ge'er deh!" elak Aurora.


"Iya iya yang gak cemburu, terus kenapa kamu pake lari segala tadi kalo gak cemburu? Dari muka kamu aja udah kelihatan kok," ujar Willy.


"Sotoy banget dasar!" cibir Aurora.


"Hahaha, lama-lama aku makin gemas deh sama kamu. Pengen aku langsung nikahin rasanya," ucap Willy sembari mencubit pipi gadisnya.


"Ish, aku ogah kali nikah sama kamu! Orang kamu aja kasar kayak tadi," ucap Aurora.


"Kasar darimana sih? Perasaan aku baik-baik aja, aku gak ngerasa kasarin kamu." kata Willy.


"Oh ya? Terus, yang tadi bekap mulut aku sampe aku hampir mati siapa ya?" ujar Aurora.


"Eee itu kan aku maksudnya cuma pengen kamu diem dulu gitu, soalnya aku penasaran sama apa yang diucapin Kiara. Kamu jangan marah ya cantik! Aku minta maaf deh, aku janji gak akan ngulang kejadian tadi!" ucap Willy.


"Huft, yaudah aku maafin. Tapi, mulai saat ini kamu harus jauh-jauh dari Kiara! Kalau kamu masih aja pengen deket sama dia, kamu harus jauhin aku!" ucap Aurora.


"Emang gak bisa ya kalau kita bertiga itu saling deketin aja?" tanya Willy.


"Maksudnya? Kamu mau punya pacar dua gitu?" ucap Aurora.


"Ya enggak lah, maksudnya tuh aku pacaran sama kamu. Terus, aku sama Kiara temenan." jelas Willy.


"Terserah kamu!" ucap Aurora kesal.


Aurora pun hendak pergi dan melepaskan diri dari genggaman Willy, tetapi Willy justru mengeratkan pegangan tangannya terhadap Aurora.


"Ih lepasin aku Willy!" ujar Aurora.


"Gak mau ah! Abisnya kamu marah-marah terus sih sama aku," ucap Willy cemberut.


"Yang bikin aku marah siapa? Kamu kan?" ujar Aurora.


"Iya deh, aku minta maaf lagi. Aku gak mau dekat sama Kiara lagi deh, tapi kamu maafin aku ya cantik!" ucap Willy.


"Kamu boleh kok dekat sama Kiara, itu kan hak kamu. Udah ah lepasin aku!" ucap Aurora.


"Enggak, aku gak akan dekat sama dia lagi. Aku cuma mau dekat sama kamu sayangku, jangan marah ya!" ucap Willy membujuk gadisnya.


"Kok gombal sih? Ini beneran loh, aku cuma mau dekat sama pacar aku yang cantik ini. Buat apa aku deketin cewek lain, disaat pacar aku aja udah secantik ini?" ujar Willy.


Aurora langsung tersipu mendengar ucapan Willy, wajahnya memerah dan tersenyum manis.


"Duh manis banget sih kamu!" ucap Willy.


"Yaudah, ayo kita masuk ke dalam! Kita harus temuin kepala sekolah sekarang! Sekalian cari Max dan tanya langsung ke dia soal apa yang tadi dibilang sama Kiara," ucap Aurora.


Willy mengangguk setuju, mereka pun melangkah masuk bersama-sama.


******


Mereka kini sudah berada di dalam sekolah, mencari kepala sekolah untuk berbicara mengenai keputusan skorsing bagi Willy.


Namun, tampaknya Willy masih ragu untuk menemui kepala sekolah karena khawatir justru akan menambah hukumannya.


"Eee sayang, kita balik aja yuk!" pinta Willy.


"Hah kok gitu?" ujar Aurora terkejut.


"Iya, aku gak berani temuin kepala sekolah sekarang apalagi buat protes. Aku takut hukuman aku malah semakin ditambah, belum lagi kalau kamu ikutan dihukum nantinya." ucap Willy.


"Gapapa Willy, kalaupun aku ikut dihukum justru bagus dong." ucap Aurora tersenyum.


"Lah bagus gimana?" tanya Willy tak mengerti.


"Ya jadinya aku sama kamu bisa deketan terus, lagian sekolah gak ada kamu itu rasanya beda tau." jawab Aurora.


"Duh, cie udah ada yang mulai bisa gombalin aku nih ye.." goda Willy.


"Kok gombal? Aku mah gak pernah gombal, tadi itu fakta tau." ujar Aurora.


"Iya deh, tapi aku senang dengar omongan kamu tadi. Rasanya hati aku kayak dibawa terbang setinggi langit sama kamu," ucap Willy.


"Jadi, kamu mau kan temuin kepala sekolah sekarang?" tanya Aurora.


"Eee mau gak yaa...??" pikir Willy.


"Udah mau aja! Ada aku kok yang bakal bantu kamu buat ngobrol sama pak kepsek, ini semua tuh harus dibongkar tau!" ujar Aurora.


"Aduh bahasanya mewah banget sih kamu, pake harus dibongkar segala udah kayak omongan detektif terkenal aja." ledek Willy.


"Ih aku serius tau!" ujar Aurora.


"Hehe, iya iya.." ujar Willy sambil nyengir.


"Iya iya apa? Kamu mau apa enggak?" tanya Aurora.


"Mau kok sayang," jawab Willy.


"Yaudah, ayo lanjut jalan!" pinta Aurora.


Willy mengangguk sambil tersenyum, mengusap puncak kepala Aurora dengan lembut dan sesekali mengecup pipinya.


Disaat mereka hendak melangkah, Max beserta teman-temannya justru muncul di hadapan mereka sambil tertawa penuh kebahagiaan.


"Hahaha, guys lihat deh ada siapa di depan kita!" ujar Max.


"Wah ada murid yang lagi diskors!" ucap Lintang.


"Eh eh, tapi kok dia berani banget sih datang ke sekolah? Padahal kan dia lagi diskors, apa gak takut tuh ditambahin hukumannya?" cibir Tarjo.


"Heh kalian diem deh! Apa urusannya sama kalian kalau Willy datang ke sekolah sekarang? Emang bikin kalian terganggu?" ucap Aurora.


"Aurora Aurora, kamu kenapa sih mau pacaran sama cowok kayak gitu? Padahal kan ada aku disini, jelas-jelas aku lebih tampan dan rupawan daripada dia." ujar Max.


"Dasar gila! Udah Wil, kita gausah ladenin dia! Ayo kita pergi aja!" ucap Aurora.


"Tunggu sayang! Ini kan kita lagi ketemu sama Max, pas banget sekalian aja kita obrolin soal itu ke dia." ucap Willy.


"Oh iya ya, benar juga kamu.." ucap Aurora.


Aurora pun beralih menatap wajah Max di depannya dengan muka serius.


"Kamu mau bicara apa sama aku, Aurora sayang?" tanya Max sedikit menggoda.


"Dih najis, jangan panggil sayang-sayang ke gue! Wil, marahin dong si Max!" ucap Aurora.


"Eee gak bisa dong sayang, ini kan di sekolah. Kalo aku marahin dia terus ribut sama dia, yang ada aku bisa dikasih hukuman tambahan sama kepala sekolah." ucap Willy.


"Haish, takut amat sih kamu!" cibir Aurora.


"Hehe.." Willy nyengir saja sambil merapihkan rambutnya.


******


Martin yang sedang kesal, tampak memukul setir mobilnya dengan keras akibat sikap pamannya yang saat ini justru membela Willy.


"Aaarrgghh!! Kenapa om Johan jadi tiba-tiba belain si Willy kayak gitu sih? Harusnya dia mau dengerin kata-kata saya, Willy itu bukan cowok baik dan dia gak pantas untuk Aurora! Kayaknya saya harus singkirkan Willy secepatnya deh," ucap Martin.


"Oh ya, gimana ya kelanjutan tugas si Asep itu? Kira-kira anak buahnya udah berhasil apa belum ya menghabisi seluruh anggota the darks?" gumam Martin.


Pria itu pun melipir sejenak ke pinggir dan mengambil ponselnya dari dashboard.


Martin segera menghubungi nomor Asep untuk memastikan bagaimana kelanjutan tugasnya.


📞"Halo!" ucap Martin dengan serius.


📞"Ya halo! Ada apa lagi pak?" ucap Asep.


📞"Anda ini gimana? Saya kan sudah menugaskan anda untuk mencari dan menghabisi seluruh anggota the darks, termasuk Willy. Kenapa anda malah bertanya seperti itu pada saya?" ujar Martin.


📞"Iya, saya tahu itu. Lalu apa yang kamu inginkan lagi saat ini? Saya kan sudah melakukan semua perintah kamu," tanya Asep.


📞"Memangnya anda sudah berhasil menghabisi seluruh anggota the darks, ha? Belum kan?" ucap Martin geram.


📞"Ya memang belum, tapi kan anak buah saya sudah berhasil mengirim beberapa anggota geng the darks ke UGD. Itu artinya, tugas dari kamu juga telah saya lakukan." ucap Asep.


📞"Itu saja belum cukup, cepat kerahkan anak buah anda lagi untuk habisi geng the darks dan juga Willy!" perintah Martin.


📞"Berani bayar berapa kamu?" ujar Asep.


📞"Apa maksudnya? Saya kan sudah bayar kamu waktu itu, masa kamu minta bayaran lagi?" tanya Martin kesal.


📞"Memang begitu aturannya, jika kamu ingin memakai jasa saya lagi, maka kamu harus berikan uang lebih banyak." jawab Asep.


📞"Kurang ajar! Kamu mau memeras ku, ha?!" geram Martin.


📞"Tidak, saya tidak memaksa. Kalau kamu gak mau bayar juga gapapa, tapi jangan gunakan jasa saya lagi!" ujar Asep.


Tuuutttt tuuutttt...


Asep langsung memutus telponnya begitu saja, hingga membuat Martin geram dan kembali memukul setirnya.


Bughh...


"Sial! Kenapa dia tiba-tiba jadi begini sama saya? Padahal saya sudah bayar dia banyak, tapi dia malah begini. Awas aja, saya akan cari tuh orang dan balas perbuatannya!" geram Martin.


Martin pun menggeleng pelan, berpikir sejenak untuk apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


"Kira-kira saya cari siapa lagi ya yang bisa dibayar untuk menghabisi Willy dan anggota the darks?" gumam Martin berpikir keras.


Drrttt..


Drrttt...


Tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat nama Johan alias pamannya itu terpampang disana dan membuat Martin menggeram kesal.


"Mau apa lagi sih paman ini?" ujarnya.


"Ah biarin aja lah, buat apa juga saya angkat? Tadi aja dia udah gak mau dengerin saya lagi!" ucapnya.


Akhirnya Martin menyimpan ponselnya di dashboard dan kembali melajukan mobilnya.


Bersambung....