
My love is sillie
Episode 126
•
Sasha tampak celingak-celinguk mencari Willy, dia khawatir Willy sudah berangkat lebih dulu karena sedari tadi tak ada tanda-tanda dari pria itu.
"Eee tante, Willy nya kemana ya? Dia kok gak kelihatan daritadi?" tanya Sasha.
"Ohh, Willy masih di kamar. Bentar lagi juga dia keluar, udah yuk kamu duduk dulu!" jawab bu Ani.
"Ah iya tante, makasih!" ucap Sasha kemudian duduk di sofa dan meletakkan rantang bawaannya di meja.
"Loh, ini apa nak Sasha?" tanya Bu Ani menunjuk ke rantang tersebut.
"Umm, aku sengaja bawain sarapan buat tante sama om Gunawan, Willy juga sih." jawab Sasha.
"Oalah, aduh kamu pake repot-repot segala sih! Ya tapi untung juga sih, soalnya ibu lagu gak masak. Terimakasih ya nak Sasha!" ucap Bu Ani.
"Iya tante, diterima ya! Ini masakan mama saya, sengaja dilebihin biar bisa dibawa kesini," ucap Sasha.
"Wah terimakasih banyak loh nak Sasha!" ucap Bu Ani.
"Sama-sama tante," ucap Sasha singkat.
"Eee sebentar ya nak Sasha, tante mau ke belakang dulu tuang makanannya ke piring. Nak Sasha belum sarapan kan? Kita sekalian aja ya sarapan bareng?" ucap Bu Ani.
"Saya udah sarapan kok tante, lagian ini kan saya bawain buat tante sekeluarga, masa saya malah ikutan makan juga?" ujar Sasha.
"Loh gapapa nak Sasha, kita makan bareng-bareng biar makan asyik. Nanti Willy juga ada kok, dia tante suruh sarapan di rumah tiap pagi biar gak pingsan di sekolah," ucap Bu Ani.
"Iya deh tante, aku ngikut aja." Sasha akhirnya mau meskipun ia sebenarnya sudah kenyang.
"Yaudah, sebentar ya nak Sasha? Tante ke belakang dulu siapin sarapannya, nak Sasha tunggu disini aja nanti Willy juga datang kok!" ucap Bu Ani bangkit dari sofa.
"I-i-iya tante, aku nunggu disini. Tapi, lebih enak sih aku bantuin tante siapin sarapan. Aku gak enak lah cuma diam aja disini tante," ucap Sasha.
"Eh jangan! Kamu itu kan tamu, masa kamu mau ikut siapin sarapan? Udah kamu disini aja nak Sasha!" ujar Bu Ani.
"Iya deh tante," ucap Sasha menurut.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum!" Bu Ani dan Sasha kompak terkejut mendengar suara wanita yang muncul di luar sana.
"Siapa ya?" ujar Bu Ani.
"Biar saya aja yang buka tante, kan tante katanya mau ke dapur siapin makanan?" ucap Sasha.
"Bener nih gapapa?" tanya Bu Ani.
"Iya tante, kan cuma buka pintu aja," jawab Sasha.
"Yaudah deh, tante ke belakang dulu ya sayang?" ucap Bu Ani.
Sasha mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dengan perlahan ia membukanya sembari membalas salam dari wanita di luar sana.
Ceklek...
"Waalaikumsallam," Sasha terperangah kaget melihat kehadiran Aurora disana, kedua wanita itu sama-sama terdiam tak mampu berbicara.
"Haish, ngapain sih nih cewek dateng kesini?" batin Sasha.
Aurora menatap heran ke arah Sasha, ia terlihat tak suka melihat adanya Sasha di rumah sang kekasih.
"Loh, kamu kok ada disini? Lagi apa?" tanya Aurora.
"Eee gue kan temannya Willy dari dulu, emang salah ya kalo gue disini?" jawab Sasha.
"Gak salah kok, aku kan cuma nanya. Kenapa kamu sensi banget gitu sih?" ujar Aurora.
"Gue biasa aja, lo kali yang sensi!" ujar Sasha.
"Yaudah, Willy nya ada kan? Tolong bilangin dong ada aku disini!" ucap Aurora.
"Lo bilang aja sendiri!" cibir Sasha.
"Gimana caranya? Gak sopan dong kalo aku langsung masuk gitu aja, kamu kan udah di dalam jadi tolong panggilin ya!" ucap Aurora.
"Ah ngerepotin orang aja lo! Gue ada urusan lain, gue gak bisa panggilin Willy buat lo!" ujar Sasha.
Aurora terdiam, Sasha berniat kembali ke dalam dan meninggalkan Aurora. Namun, ia malah bertemu dengan Willy.
"Ada apa Sasha??" tanya Willy.
******
Mereka pun melangkah bersama-sama.
Di dalam, Ayna meminta Randi duduk di sofa berdampingan dengannya. Namun, lagi-lagi tatapan Randi mengarah pada belahan yang menggugah selera itu.
"Sayang, kamu seksi banget deh. Aku gak bisa fokus ngobrol nih jadinya," ucap Randi.
"Hah? Ohh, maaf ya sayang! Kalo gitu aku ganti baju dulu ya di kamar?" ucap Ayna.
"Terserah kamu deh, aku ngikut aja," ucap Randi.
"Eee kamu tunggu disini sebentar gapapa kan? Nanti aku balik lagi kok gak lama, cuma ganti baju sama celana biar kamu bisa nyaman ngobrolnya sama aku," ucap Ayna.
"Oke sayang! Tapi, ngomong-ngomong ini minumannya mana ya?" ujar Randi.
"Oh iya, sebentar ya aku tanyain ke bibik dulu?" ucap Ayna seraya bangkit dari sofa.
"Eh gausah," ucap Randi menahan Ayna.
"Loh kenapa? Bukannya kamu haus dan tadi nanyain minuman?" tanya Ayna heran.
"Iya sih, tapi itu bibik kamu udah kesini kok," jawab Randi menunjuk ke seorang wanita dewasa yang tengah berjalan mendekatinya.
"Hah? Eh iya, yaudah berarti aku bisa ganti baju sekarang kan?" ucap Ayna.
"Ya ya, aku tunggu disini ya cantik?" ucap Randi.
Ayna mengangguk pelan, lalu mulai melangkah menuju kamarnya meninggalkan Randi yang sedang meminum minumannya.
Setibanya di kamar, Ayna langsung membuka kaosnya dan memilih baju ganti dari dalam lemari. Ia sejujurnya bingung harus memakai baju apa di depan Randi.
"Duh, aku pake baju apa ya? Mau yang lengan panjang tapi gak nyaman, kalo lengan pendek juga takut Randi marah lagi," gumam Ayna.
Disaat ia sedang asyik memilih pakaian, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang dan menciumi bahunya yang terbuka. Sontak Ayna terkejut lalu spontan menoleh ke belakang.
"Hah Randi?? Ka-kamu ngapain sih? Aku kan minta kamu tunggu di bawah," ujar Ayna panik.
"Aku penasaran aja, kamu kok lama banget sih ganti bajunya? Makanya aku susul kamu kesini, eh ternyata kamu belum ganti baju," ucap Randi.
Deg!
Ayna semakin panik saat Randi mengecup leher jenjangnya yang terbuka, perasaan aneh menjalar di tubuhnya ditambah dengan tangan Randi yang menggerayangi perut ratanya.
"Ran, ka-kamu ngapain sih? Aku mau ganti baju, kamu tunggu di depan aja ya!" ucap Ayna gugup.
"Gapapa Ayna, kamu ganti baju terus aku disini lihatin kamu," bisik Randi.
Ayna tampak menggigit bibir bawahnya saat Randi menjilati telinga serta lehernya, sungguh hal yang belum ia rasakan sebelumnya.
"Ran please, jangan kayak gini! Aku gak mau kita salah langkah!" pinta Ayna.
"Apa sih? Emang salah ya kalau aku peluk dan cium kamu kayak gini?" tanya Randi.
"Tapi, enak sih peluk kamu dalam keadaan kayak gini. Aku mau pegang yang atas boleh gak?" ujar Randi sensual.
"Hah??" Ayna terkejut karena tangan Randi semakin naik ke atas dengan liarnya, lidah pria itu juga masih bermain-main di lehernya.
Ya akhirnya Randi berhasil menyentuh pegunungan milik Ayna yang kenyal itu.
Ceklek...
Mereka berdua sama-sama terkejut mendengar pintu dibuka dari luar.
******
"Eh ya, lo tumben banget dateng ke markas pagi-pagi gini. Biasanya lo juga langsung berangkat sekolah," ujar Billy keheranan.
"Emangnya kenapa? Gak boleh gue kesini sebelum sekolah? Gue kan pengen ngobrol-ngobrol dulu sama kalian," ucap Ilham.
"Yah elah sensi banget sih lo! Gue kan cuma nanya, soalnya gak biasanya lo datang kesini sebelum berangkat sekolah," ujar Billy.
"Ya ya, gue lagi suntuk soalnya," jawab Ilham.
"Hah? Suntuk kenapa tuh?" tanya Billy.
"Gue gak nyangka, ternyata mantan leader black jack juga bisa suntuk," celetuk Geri.
"Hahaha," sahut yang lainnya tertawa kompak.
"Diam lo pada! Gue tuh lagi suntuk, kalian malah pada ketawa bukannya hibur gue!" kesal Ilham.
"Hehe, sorry Ham! Emangnya lo suntuk kenapa sih?" tanya Choky penasaran.
"Cewek incaran gue, dia masih aja gak mau terima gue buat jadi pacarnya. Dia malah terus berharap sama si Willy yang udah punya pacar, kan gue jadi kesel bro. Apa sih emang hebat Willy sampai Sasha tergila-gila sama dia?!" jelas Ilham.
"Oalah, jadi ini masalah cewek toh? Udah lah Ham, lo gausah kejar-kejar lagi tuh cewek! Mending lo fokus aja sama kita, black jack!" usul Billy.
"Meski begitu, gue juga tetap butuh yang namanya cewek bro buat tempat curhat. Lagian hidup itu butuh pendamping, mau sampai kapan gue sendiri terus kayak gini?" ujar Ilham.
"Iya juga sih, tapi cewek itu kan gak cuma si Sasha. Gue yakin, di luaran sana banyak cewek yang mau sama lo kok!" ucap Billy.
"Betul tuh Ham! Apalagi lo ganteng dan banyak duitnya, pasti cewek-cewek sana udah pada ngantri buat dapetin cinta lo. Buat apa lo berharap sama cewek yang salah?" sahut Choky.
"Tapi, gue cintanya sama Sasha. Gue cuma mau sama dia, gak yang lain. Kalian bantu gue kek buat dapetin cinta Sasha, nanti gue kasih kalian bonus deh," ucap Ilham.
"Bantuin kayak gimana Ham?" tanya Billy.
"Gue mau bikin Sasha jatuh cinta sama gue, kalian bisa kan bantu gue?" jawab Ilham.
"Eee ya yaudah deh, kita mau. Tapi, caranya gimana?" tanya Choky.
"Begini nih..."
"Hey!!"
Ucapan Ilham terjeda karena tiba-tiba seseorang berteriak keras ke arah mereka, semuanya pun kompak menoleh menatap asal suara dengan wajah bingung.
"Gue Rimba, ketua geng thunder. Gue kesini buat bahas perjanjian kerjasama kita kemarin, gue udah gak sabar pengen abisin si Willy!" ujar Rimba.
Ilham serta yang lainnya langsung bangkit dan berdiri tegak lalu menghampiri Rimba yang ada di depan sana sendirian.
"Kenapa lo datang sendiri? Mana anak-anak thunder yang lain?" tanya Ilham keheranan.
"Mereka ada urusan lain, lagian kalau cuma membahas rencana kerjasama kita cukup gue aja yang datang kesini. Gimana? Kalian bisa kan terima kehadiran gue disini?" jelas Rimba.
"Santai aja bro! Yuk duduk sini, kita bicara santai sambil minum-minum!" ajak Ilham.
"Oke!" Rimba mengangguk pelan lalu ikut duduk bersama yang lain.
"Dimana leader kalian? Siapa tuh namanya? Martin ya?" tanya Rimba.
"Ah iya, bang Martin belum datang. Mungkin agak siangan dia baru kesini," jawab Ilham.
"Ohh, tapi lo semua ngerti kan yang harus dibahas?" tanya Rimba.
"Santai aja!" jawab Ilham.
******
Seperti biasa, anak-anak the darks tengah berkumpul ria di pagi hari yang cerah ini.
Mereka semua tampak ceria, mengobrol dan saling melempar candaan satu sama lain.
Namun, berbeda dengan Tedy yang terus saja berdiam diri sedari tadi.
"Oi Ted! Lo ngapa diem aja sih?" tegur Arif.
"Tau lu, biasanya juga paling ceria disini. Lo lagi ada masalah apa gimana?" sahut Zafran yang ikut penasaran.
"Biasalah bro, paling juga urusan cewek. Secara dia kan cintanya abis ditolak sama adeknya si Geri," celetuk Leo.
"Hah? Serius lo?? Emang bener Ted?" kaget Arif.
"Iya, ini semua gara-gara si Randi sialan!" jawab Tedy.
"Lah kok jadi si Randi? Hubungannya apa emang?" tanya Arif tak mengerti.
"Dia udah ngerebut Ayna dari gue," jawab Tedy.
"Serius lo Ted? Kok bisa si Randi kayak gitu sama lo? Apa dia gak tahu kalau lo itu lagi ngejar Ayna?" tanya Arif sedikit kaget.
"Justru itu Rif, si Randi kayaknya emang sengaja rebut Ayna dari gue. Orang dia udah tau kok kalau gue lagi deketin Ayna, kurang ajar banget emang tuh orang!" jawab Tedy dengan geram.
"Sabar Ted! Mungkin bukan Randi yang deketin Ayna, tapi sebaliknya si Ayna yang duluan deketin Randi dan bikin Randi kesemsem," ujar Leo.
"Gak tahu juga sih, intinya tetap aja si Randi itu pengkhianat dan dia udah rebut Ayna dari gue! Kalau emang Ayna yang godain dia, dia kan bisa menghindar buat menghargai gue yang lagi berjuang deketin Ayna," ucap Tedy.
"Yaudah, lo sabar aja dulu Ted! Jangan sampai pertemanan kita hancur cuma karena perempuan! Kita udah bertahun-tahun kumpul kayak gini, masa mau bubar sih?" ujar Arif.
"Iya Ted, kuatin aja diri lo ya! Kita disini tetap selalu support lo kok!" sahut Zafran.
"Thanks guys! Tapi, kalian ngerti lah gimana perasaan gue saat ini?! Susah bagi gue buat sabar," ucap Tedy lirih.
"Ya ya ya, lo boleh tenangin diri lo dulu sementara waktu. Saran gue, lo jangan dendam sama Randi ya! Dia itu kan sohib lo juga," ujar Jeki.
"Gue tahu kok Jek, gue gak dendam sama dia kok. Gue ini cuma kesal dan masih gak nyangka aja kalau Randi pacaran sama Ayna," ucap Tedy.
"Emangnya udah terbukti kalau mereka pacaran? Siapa tahu lu cuma salah kira," tanya Arif.
"Iya, emang lo udah tanya langsung ke Randi?" sahut Syakur.
"Udah sebelumnya, tapi dia gak mau ngaku dan bilang kalau diantara mereka cuma teman. Gue sih gak percaya, karena mereka deket banget bahkan hampir mau ciuman gitu," jawab Tedy.
"Waduh, berarti mereka emang asli pacaran!" ujar Leo terkejut.
"Ya gitu deh," ucap Tedy singkat.
Tiba-tiba saja, seseorang datang ke markas mereka dan berhenti tepat di dekat mereka.
"Siapa tuh?" tanya Syakur heran.
"Gak tahu, kita samperin aja!" jawab Zafran.
Mereka pun bangkit dan melangkah mendekati pria yang baru datang itu.
"Woi! Siapa lo?" tegur Zafran.
Bersambung....