My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 91. Tawaran Martin



My love is sillie


Episode 91



"Iya pah, tapi papa tumben belain Willy, biasanya juga papa selalu mojokin dia." ujar Aurora.


"Papa sebenarnya gak belain siapa-siapa, papa cuma gak mau putri papa yang cantik jelita ini sedih gara-gara mikirin sesuatu yang belum pasti. Jadi, makanya papa mau hibur kamu!" ucap Johan.


"Makasih ya papaku yang tampan! Aku senang deh diperhatiin begini sama papa, aku bahagia banget bisa dekat sama papa kayak gini!" ucap Aurora.


"Sama sayang, papa juga senang." ujar Johan.


Aurora mengeratkan pelukannya sambil semakin membenamkan wajahnya di dada sang papa.


"Kita terus begini ya pah! Pokoknya aku gak mau jauh-jauh dari papa, awas aja kalau papa berubah lagi kayak dulu!" ucap Aurora posesif.


"Tenang aja sayang! Selagi papa masih hidup, papa akan usahakan untuk selalu ada di dekat kamu. Tapi, kalau kamu nanti sudah menikah, mungkin kita gak bisa sedekat ini lagi sayang." ucap Johan.


"Loh kenapa, pah?" tanya Aurora dengan polos.


"Ya kamu kan pasti bakal dibawa sama suami kamu, jadinya kita bakal jarang ketemu deh." jawab Johan sembari membelai rambut Aurora.


"Eee tenang aja pah! Nanti aku minta sama Willy, biar supaya dia aja yang tinggal disini, jadi aku bisa dekat terus deh sama papa." ucap Aurora.


"Hah? Memangnya kamu sudah yakin banget mau nikah sama Willy?" ujar Johan.


"Papa ih!" Aurora dibuat tersipu dengan kata-katanya sendiri.


"Hahaha, lucu banget sih anak papa kalo lagi cemberut gini!" ujar Johan sambil mencubit dua pipi putrinya.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan momen indah ayah dan anak itu.


"Siapa ya yang dateng?" ujar Johan bingung.


"Biar aku aja yang buka pah, papa disini aja ya!" pinta Aurora.


"Ya ya ya.." Johan mengangguk setuju.


Lalu, Aurora pun bangkit dari sofa dan bergerak menuju pintu untuk menemui tamu yang datang.


Ceklek...


"Cari siapa ya?" Aurora membuka pintu dan langsung dibuat syok saat melihat kekasihnya alias Willy berdiri di depan sana.


Gadis itu terbengong dengan mulut terbuka lebar, kedua matanya terus menatap ke arah Willy seakan tak percaya kalau pria itu ada di hadapannya saat ini.


Sementara Willy sendiri hanya tersenyum tipis sembari menghadap ke arah Aurora.


"Kamu kenapa kaget gitu? Eh ya, tadi kamu tanya aku cari siapa ya? Begini mbak, aku tuh lagi cari cewek yang cantik banget, terus kalo senyum manisnya kebangetan bikin diabetes, namanya Aurora. Dia ada disini gak mbak?" sarkas Willy.


"Aih, kamu ih gombal terus!" cibir Aurora.


"Gapapa dong, toh yang digombalin juga pacar aku sendiri. Emangnya kamu gak suka digombalin sama aku?" ucap Willy mendekati Aurora.


"Suka, tapi dikit." jawab Aurora.


"Duh duh duh, gemesin banget sih kamu!" ucap Willy seraya mencubit pipi gadisnya itu.


"Awhh sakit tau!" rintih Aurora.


"Biarin! Anggap aja ini balasan buat kamu, karena kamu tadi udah bikin segitiga aku sakit. Sampai sekarang masih ngilu banget tau, aku jadi susah buat jalan." ujar Willy.


"Hah? Ya ampun, maafin aku ya Willy! Abisnya tadi kamu mesum banget sih pas di hotel!" ucap Aurora.


"Gapapa, kamu gak salah kok. Harusnya aku yang minta maaf sama kamu, karena aku sempat gak bisa kontrol diri aku tadi! Kamu mau kan maafin aku?" ucap Willy.


"Iya Wil, aku udah maafin kamu. Tapi, kamu darimana aja sih? Kenapa chat aku gak kamu balas? Terus telpon aku juga gak kamu angkat, abis ngapain sih emang? Sibuk banget ya atau udah lupa sama aku?" tanya Aurora.


"Mana mungkin aku lupain kamu? Aku itu tadi ada urusan sebentar sama anak-anak, makanya aku gak sempat balas chat kamu." jawab Willy.


"Ohh, aku kira kamu lupa atau malah masih marah sama aku gara-gara kejadian pagi tadi." ucap Aurora.


"Ya enggak lah, aku mana bisa sih marah lama-lama sama kamu?" ujar Willy sembari mencolek pipi Aurora dan tersenyum.


"Bagus deh! Yaudah, kamu masuk yuk! Papa aku juga kebetulan mau ketemu sama kamu tuh," ucap Aurora.


"Hah? Papa kamu? Kamu cerita soal kejadian di hotel tadi sama papa kamu?" tanya Willy panik.


"Enggak kok, emang kenapa?" ucap Aurora heran.


"Ya terus ngapain papa kamu mau ketemu sama aku?" ucap Willy.


"Ohh, mungkin cuma mau ngobrol biasa aja. Udah lah, gausah panik gitu!" jawab Aurora.


"Huh syukurlah!" ucap Willy merasa lega.


"Hahaha.." Aurora tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.


Lalu, mereka pun sama-sama masuk ke dalam rumah itu dan menemui Johan yang sudah terduduk di sofa ruang tamu sendirian.


***


"Malam om!" Willy menyapa ayah dari gadisnya dengan ramah dan sopan.


"Eh iya, malam juga Willy! Ternyata kamu toh yang datang tadi kesini?" ucap Johan langsung berdiri menyambut Willy sambil tersenyum.


"Iya om," jawab Willy singkat.


Willy pun mencium tangan Johan sebagai rasa hormatnya.


"Ayo duduk duduk!" pinta Johan.


"Makasih om!" ucap Willy.


"Aurora, kamu bilang ke bik Ratih suruh bikinin minuman buat nak Willy ya!" ucap Johan pada putrinya.


"Siap pah!" ucap Aurora menurut.


Willy dan Johan pun duduk bersebelahan, Willy terus menunduk seakan tak berani menatap wajah pria di sampingnya itu.


"Om dengar dari Aurora, tadi kamu sempat marah sama Aurora gara-gara anak itu diantar sama nak Martin ke sekolah, benar begitu nak Willy?" ucap Johan bertanya pada Willy.


"Eee iya benar om, tapi itu tadi kok. Sekarang saya udah gak marah lagi sama Aurora," jawab Willy.


"Oh ya? Baguslah, om senang dengarnya. Tapi kalau bisa, kamu jangan marah lagi ya sama Aurora semisal nanti dia dekat atau diantar ke sekolah sama nak Martin! Biar gimanapun, Martin itu kan keponakan om, otomatis dia juga sepupu Aurora. Jadi, wajar lah kalau mereka dekat." ucap Johan.


"Iya om, saya sebenarnya gak masalah kok kalau Aurora mau diantar sama Martin. Tapi, saya cuma kesal aja karena Aurora gak ada bilang sama saya soal itu." ucap Willy.


"Ohh, berarti antara kamu sama nak Martin sudah tidak ada masalah kan? Kalian sudah saling memaafkan kan?" tanya Johan.


"Eee kalau itu lain lagi om," jawab Willy.


"Maksudnya lain lagi itu bagaimana? Kamu masih gak suka sama nak Martin?" tanya Johan.


"Bukan gak suka, cuma kesel aja om. Lagian yang awal mulanya cari masalah sama saya kan dia, jadinya saya kesal karena Martin itu gak pernah berhenti ganggu saya dari dulu." jawab Willy.


"Oh gitu, kamu bisa jelasin gak apa alasan kamu dan Martin bertengkar begini?!" ucap Johan.


Johan tersenyum lebar mendengar jawaban Willy, ia semakin menyukai karakter pria tersebut.


"Kamu itu anak yang baik Willy! Aurora gak salah pilih laki-laki seperti kamu, tapi kamu tenang aja karena Martin gak akan mungkin tahu tentang pembicaraan kita kali ini kok!" ucap Johan.


"Jadi, om tetap mau saya cerita alasan kenapa saya dan Martin bisa bermusuhan?" tanya Willy.


"Iya, ayo cerita! Om penasaran soalnya, gak masalah kan?" jawab Johan.


"Gak kok om, demi calon mertua mah apapun dilakukan." sarkas Willy.


"Ah kamu ini!" Johan tampak salah tingkah dibuatnya.


"Hehe, bercanda om!" ucap Willy sambil tertawa.


"Yaudah, ayo cepat cerita!" pinta Johan pada Willy.


"Baik om! Jadi begini, dulu itu saya pernah punya pacar, namanya Kiara. Nah, pacar saya ini diambil paksa sama Martin dan sampai sekarang dia tinggal dengan Martin di tempatnya, itulah alasan kenapa saya benci sama Martin, om." jelas Willy.


"Hah? Maksud kamu, nak Kiara itu pacar kamu yang direbut sama Martin?" ujar Johan terkejut.


"Begitulah om, makanya sampai sekarang saya masih benci banget sama Martin. Tapi, perlahan-lahan saya udah mulai lupain semua itu kok, terutama sejak kedatangan Aurora anak om. Hidup saya jadi kembali berwarna, dan saya gak lagi murung seperti dulu." ucap Willy.


"Ternyata begitu ceritanya, pantas aja kalian gak pernah akur. Kenapa ya Martin tega merebut pacar kamu secara paksa?" ucap Johan.


"Mungkin karena Martin cinta sama Kiara, atau apalah itu saya juga gak ngerti." tebak Willy.


"Yasudah, kalau bisa sih kamu maafkan aja ya nak Martin itu! Biar gimanapun, nantinya kan kamu juga bakal bersaudara sama dia semisal kamu menikah dengan Aurora." ucap Johan.


"Hahaha, waduh kayaknya saya dapat lampu hijau nih dari om!" ujar Willy sambil tertawa.


"Hahaha..." Johan ikut tertawa bersama Willy.


Tak lama kemudian, Aurora muncul membawa segelas minuman di tangannya. Ia tampak heran melihat Willy dan papanya tertawa bersamaan.


"Ehem ehem, seru banget nih kayaknya. Lagi pada bahas apa sih?" ucap Aurora sembari meletakkan gelas minuman di atas meja.


"Halah kamu ini kepo banget sih! Udah, kamu mah gak perlu tahu! ini tuh orbolan para lelaki, kamu kan perempuan." ucap Johan.


"Ih papa udah mulai main rahasia-rahasiaan ya sama aku, awas aja!" ucap Aurora.


"Hahaha, sudahlah kamu duduk aja nih disini! Papa mau ke kamar, ngantuk nih udah malam juga. Maaf ya nak Willy, om tinggal ke kamar!" ucap Johan.


"Gapapa om, selamat istirahat ya om!" ucap Willy.


"Ya ya ya, kalian berdua lanjut ngobrol aja! Tapi ingat, jangan berbuat yang macam-macam loh!" ucap Johan.


"Siap om!" ucap Willy patuh.


"Iya pah, Willy mah orangnya gak begitu kok." sahut Aurora sambil tersenyum.


"Ya syukurlah!" ucap Johan singkat.


Johan pun melangkah pergi menuju kamarnya, sedangkan Aurora masih berdiri dan tersenyum memandang ke arah papanya itu.


Tanpa aba-aba, Willy langsung menarik tubuh Aurora hingga terjatuh ke atas sofa tepat di pangkuannya.


"Akh!" pekik Aurora yang merasa terkejut.


"Ish, kamu apa-apaan sih?! Ngapain kamu pake tarik-tarik aku segala?" protes Aurora.


"Biarin, abisnya aku gemes sama kamu! Suruh siapa sih kamu gemesin banget kayak gini? Bikin aku gak bisa jauh-jauh dari kamu tau!" ucap Willy sembari mencubit dan memainkan wajah Aurora.


"Akh akh Willy! Udah ah sakit tau! Posisinya juga gak enak ini, badan aku yang ada jadi sakit semua nanti!" ujar Aurora.


"Hehe iya iya..." Willy mengangkat dan memindahkan tubuh Aurora ke samping.


"Huft, beraninya pas udah gak ada papa! Coba dong sekali-sekali kamu ngelakuin itu di depan papa, berani gak?!" tantang Aurora.


"Ya jelas enggak lah, yang ada aku bisa dikeplak sama papa kamu. Terus, aku juga gak akan mungkin bisa nikahin kamu nanti. Kecuali kalau kita udah sah, baru deh aku berani gituin kamu di depan papa kamu." ucap Willy.


"Ih dasar mesum!" cibir Aurora sembari memukul lengan kekar Willy.


"Biarin, yang penting mesumnya cuma sama kamu." ucap Willy sambil terus mengendus leher Aurora dan mendekapnya, satu tangannya juga tanpa sengaja meremass dada Aurora.


"Ahh.."


******


Disisi lain, Martin tiba di lokasi markas tempat geng black jack berada.


Martin memang sengaja mendatangi tempat itu, karena ia ingin bekerjasama dengan geng black jack untuk menghabisi Willy.


Tanpa berlama-lama, Martin bergegas turun dari mobilnya dan melepas kacamata hitam yang ia kenakan itu.


Kehadiran Martin disana membuat para anggota black jack bingung, mereka kompak berdiri dan menatap Martin dengan terheran-heran.


"Siapa lu? Mau apa kesini?" tanya Billy.


"Tenang! Saya kesini ingin bicara dengan ketua kalian, apa boleh?" jawab Martin.


"Bicara soal apa?" tanya Billy lagi.


"Eee saya cuma mau bicara dengan ketua kalian, jadi yang mana ketua kalian?" ucap Martin.


"Gue ketua mereka, mau apa lu datang kesini?" ucap Ilham yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Ah begitu, saya senang bisa bertemu dengan kamu dan juga kalian semua! Perkenalkan, saya Martin!" jawab Martin seraya mengulurkan tangannya ke arah Ilham.


"Gue Ilham, ketua black jack." balas Ilham.


"Ya ya ya, kalau begitu kita bisa mulai obrolannya sekarang? Kebetulan saya juga tidak punya banyak waktu malam ini," ucap Martin.


"Yaudah, ngomong aja silahkan!" ucap Ilham.


"Alangkah baiknya kalau kita mengobrol sambil duduk, kalau berdiri terus begini kan jadi sama-sama capek." usul Martin.


"Benar Ham! Baru sebentar aja gue udah capek, kita duduk yuk!" ucap Geri.


"Ah payah lu! Oke, lu boleh duduk Martin!" ucap Ilham.


"Terimakasih!" Martin tersenyum dan berjalan ke arah tempat duduk disana.


"Jadi, apa yang lu mau omongin sama gue sekarang?" tanya Ilham penasaran.


"Begini, saya cuma mau sampaikan ajuan kerjasama diantara kita." jawab Martin.


"Kerjasama? Buat apa??" tanya Ilham lagi.


"Saya tahu kalian semua ini sangat benci dengan Willy, begitupun saya. Maka dari itu, bagaimana kalau kita semua kerjasama untuk menghabisi Willy?" jelas Martin.


Ilham terdiam sejenak dan melirik ke arah teman-temannya dengan wajah bingung.


"Ya saya memang bukan anak geng motor seperti kalian, tapi saya bisa pastikan kalau kalian tidak akan menyesal bekerjasama dengan saya! Saya bisa lakukan apapun yang kalian minta, itu jika kalian setuju dengan usulan saya tadi." tambah Martin.


"Lu kenapa pengen kerjasama sama kita buat abisin Willy? Emang lu punya masalah apa sama dia?" tanya Ilham.


Martin tersenyum, lalu mulai menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Willy kepada Ilham dan yang lainnya disana.


Bersambung....