My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 53. Mau duduk sama kamu



My love is sillie


Episode 53


β€’


"Cie yang mulai perduli sama aku," goda Willy.


"Ah enggak tuh, biasa aja." kata Aurora.


"Kok wajah kamu merah gitu? Berarti tandanya kan kamu lagi malu, nah kalo malu itu artinya kamu beneran perduli sama aku. Aku senang deh dengar kamu khawatir sama aku," ucap Willy tersenyum.


"Udah udah, malu ah dilihat orang-orang! Ini di kelas, bukan tempat pacaran." ucap Aurora.


"Emangnya kamu udah anggap aku sebagai pacar kamu?" tanya Willy sengaja menggoda gadis itu.


Aurora pun langsung membuang muka, menahan senyum di bibirnya yang hendak tumpah akibat kata-kata Willy barusan.


Seakan tergoda, Willy menarik wajah Aurora menghadap ke arahnya dan memajukan bibirnya ke dekat gadis itu.


"Kamu cantik!" ucap Willy memujinya.


Deg!


Jantung Aurora berdetak semakin kencang saat ini, jarak diantara mereka mungkin hanya sekitar beberapa senti saja dan Aurora tahu apa yang hendak dilakukan Willy selanjutnya.


"Ehem ehem, cie cie.." tiba-tiba Cindy dan Elsa datang membuyarkan suasana romantis itu.


Willy pun reflek menjauh dari Aurora dan tampak kikuk sendiri ketika melihat dua sahabat dari gadisnya muncul disana.


"Ahaha, pada salting tuh Sa." ujar Cindy.


"Lu sih Sin, harusnya jangan gangguin mereka! Biarin aja mereka pacaran disini," ucap Elsa.


"Ih kok jadi gue? Kan lu yang punya ide buat ganggu mereka tadi, gimana sih?!" protes Cindy.


"Hehe.." Elsa nyengir sembari menggaruk kepalanya.


"Udah udah, gausah saling salah-salahan! Gue sama Willy juga gak pacaran, kita cuma ngobrol biasa kok. Lagian ini kan sekolahan, bukan tempat buat pacaran." ucap Aurora bangkit dari duduknya.


"Yakin gak pacaran? Tadi kelihatan loh hampir mau kecup kecup ahay, andai aja kita gak dateng atau telat datang pasti kalian udah tempelin bibir masing-masing kan." ujar Cindy.


"Apaan sih? Mana ada?" elak Aurora.


"Hahaha, sorry ya Ra! Kita gak maksud ganggu lu berdua kok, kita syok aja tadi karena ngeliat ciuman di depan mata." ucap Cindy.


"Ish, udah dibilang gak ada yang mau ciuman. Ngeyel amat sih kalian!" ujar Aurora.


"Sabar dong Rora! Kok marah-marah gitu sih? Oh pasti gara-gara gagal ciuman sama Willy ya tadi?" ledek Elsa terkekeh kecil.


"Gak jelas!" cibir Aurora.


Aurora pergi begitu saja menuju tempat duduknya, sedangkan kedua sahabatnya itu tampak cekikikan sambil menutup mulut mereka.


Willy ikut bangkit, menatap sekilas ke arah Cindy serta Elsa sambil tersenyum tipis. Dua gadis itu menyapanya, namun Willy hanya diam dan malah berjalan menghampiri Aurora.


"Hai Willy! Sorry ya, lu jadi gagal deh ciuman sama Aurora!" ujar Elsa nyengir.


Willy tak menjawab, ia fokus mendekati Aurora dan duduk di samping gadis itu.


"Ih sombong lu Wil!" cibir Elsa.


"Ahaha, sabar Elsa! Namanya juga orang lagi kasmaran, pasti pengennya berdua terus sama pacarnya. Nanti kalo lu punya cowok, pasti juga kayak gitu kok!" ucap Cindy.


"Iya ya.." ujar Elsa.


***


Willy duduk di kursi sebelah Aurora, merangkul gadis itu sambil membelai rambutnya.


Aurora terkejut karena tiba-tiba Willy ada di sebelahnya, ia pun menoleh ke arahnya.


"Wil, lu ngapain kesini?" tanya Aurora heran.


"Gue mau duduk disini sama lu. Nanti si Clara biar pindah aja ke belakang, gapapa kan?" jawab Willy sambil menaikkan kedua alisnya.


"Hah? Ish, gak boleh Willy! Udah balik sana ke tempat duduk lu! Lagian Clara mana mau duduk sama Zabnu?" ucap Aurora menolak.


"Pasti mau kok, udah lu nurut aja sama gue! Gue tuh lagi pengen berduaan sama lu," ucap Willy.


Willy mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih hingga membuat Aurora merasa risih.


"Lu wangi banget sih!" ucap Willy sembari mengendus aroma tubuh gadisnya.


"Iya dong, gue mah selalu wangi. Yakali cewek cantik kayak gue bau badan," ujar Aurora.


"Ahaha, iya juga sih. Itu sebabnya aku suka cium wangi kamu sayang. By the way, kamu pake parfum apa? Siapa tau nanti kita bisa couplean pake parfum yang sama," ucap Willy.


"Dih gak bisa, ini parfum khusus cewek. Lu gak bisa pake parfum ini juga, lagian kan emang lu gak ada parfum sendiri apa?" ucap Aurora.


"Ada sih, tapi wanginya beda gak sama kayak kamu. Aku kan pengennya sama terus sama kamu, sayang." ucap Willy dengan nada manja.


"Huweekk.." Aurora berpura-pura mual.


Willy cengar-cengir saja melihat ekspresi Aurora, gadis itu memang menggemaskan sekali dan membuat Willy ingin mencubit pipinya.


Tak lama kemudian, Clara yang harusnya duduk di sebelah Aurora pun tiba. Gadis itu terkejut karena tempatnya ditempati oleh Willy.


"Loh, lu ngapain duduk disini Wil?" tanya Clara.


"Gue hari ini mau duduk di sebelah Aurora, cewek gue. Jadi, lu pindah gih ke belakang tuh! Temenin Zabnu kasihan dia sendirian, kalau bisa ajak pdkt juga biar kalian jadian!" ucap Willy nyengir.


"Hah? Gue gak mau ah, lu aja sana yang duduk sama si Zabnu!" ujar Clara menolak.


"Tuh kan Wil, pasti si Clara nolak. Udah deh, lu jangan bikin keributan disini!" ucap Aurora.


"Siapa yang bikin keributan sih sayang? Aku cuma mau duduk di dekat kamu, apa salah?" ucap Willy mendekat ke wajah Aurora.


"Gak salah, tapiβ€”" ucapan Aurora dipotong oleh Willy yang meletakkan telunjuknya di bibir gadis itu.


"Kalau emang gak salah, ya artinya biarin aku duduk disini dong sayang." ucap Willy santai.


"Tapi Wil, ini tempat duduk Clara. Lu kan harusnya duduk di belakang sama Zabnu. Lagian emang lu gak kasihan apa sama si Zabnu itu? Dia kan teman sebangku lu, masa ditinggalin?" ucap Aurora.


"Aku lagi pengen duduk disini sama kamu, aku gak mau sama si Zabnu terus. Ayolah Clar, lu pindah ya sebentar aja ke belakang!" ujar Willy.


"Haish, lu nyebelin banget sih Wil! Iya iya oke, kali ini gue nurut sama lu!" ujar Clara.


"Nah gitu dong, kan siapa tahu juga lu sama Zabnu bisa jadi sepasang kekasih kayak gue dan Aurora." ujar Willy nyengir.


"Hah??" Clara terkejut dan melirik sekilas ke arah Zabnu.


Tampak Zabnu memicingkan senyum genit, membuat Clara langsung membuang muka.


"Idih amit-amit gue!" umpat Clara.


"Hahaha..." Willy tertawa keras sembari mengambil kesempatan untuk mencium pipi Aurora.


******


Thoriq baru selesai memakan soto ayam di pinggir jalan sebagai makan siangnya, kebetulan hari sudah terik dan kini Thoriq hendak mengajak anak-anak the darks berkumpul kembali.


"Bang, ini uangnya ya." ucap Thoriq menyerahkan selembar uang kepada penjual soto itu.


"I-i-iya mas, makasih!" ucap penjual itu gugup.


Thoriq sungguh tak mengerti mengapa si pedagang tersebut tampak gemetar saat berhadapan dengannya.


Namun, ia mengacuhkan saja sikap penjual tersebut dan beralih menelpon Randi serta teman-teman the darks yang lain.


πŸ“ž"Iya halo Riq! Ini gue masih cari-cari tempat buat sekolah, tapi belum nemu yang cocok. Emangnya kenapa?" ucap Randi menjelaskan.


πŸ“ž"Ohh enggak kok, gue cuma pengen kasih tahu lu kalau sekarang gue lagi menuju ke markas. Kita kumpul lagi ya disana nanti," ucap Thoriq.


πŸ“ž"Oke oke, gue nyusul nanti." kata Randi.


πŸ“ž"Yaudah, bantu kabarin anak-anak yang lain juga! Gue udah kirim pesan sih di grup wa, tapi gak ada salahnya kalo lu pc mereka sekali lagi biar gak lupa." ucap Thoriq.


πŸ“ž"Iya iya.." ucap Randi.


πŸ“ž"Oke, thanks ya Ran! Semangat cari sekolah barunya!" ucap Thoriq.


πŸ“ž"Siap!" ucap Randi singkat.


Tuuutttt...


Telpon pun terputus, Thoriq kini naik ke motornya dan memakai helm di kepalanya bersiap untuk pergi menuju markas.


Thoriq segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu, ia tidak tahu bahwa seseorang memantaunya dari jauh.


"Itu dia targetnya, kalian kejar dia dan kasih dia pelajaran!" titah orang itu melalui alat semacam ht.


"Baik bos!"


Tepat setelah Thoriq pergi, gerombolan pemotor trail muncul dan mengikuti motor Thoriq dengan kecepatan tinggi.


Aksi kejar-kejaran pun terjadi, Thoriq masih belum sadar bahwa ia diikuti oleh mereka. Bahkan, Thoriq tampak santai saja berkendara sambil bersiul dan melirik ke kanan serta kiri.


Hingga pada akhirnya, pemotor trail tersebut berhasil mengejar Thoriq dan menendang motor Thoriq hingga tersungkur ke jalan.


Bruuukkk...


"Akh!" pekik Thoriq saat terjatuh ke jalan.


Pemotor trail yang berjumlah lima orang itu langsung menghampiri Thoriq, mereka mendekat sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Hahaha, rasain tuh!" ujar si pemotor.


"Akh! Kalian siapa? Mau apa kalian cegat gue?" tanya Thoriq terus memegangi perutnya.


"Hahaha, gausah banyak tanya lu! Sini bangun!" pemotor itu menarik tubuh Thoriq dan memukulnya sangat keras.


Bughh...


"Ughh!!" rintih Thoriq yang kembali terjatuh.


"Segitu doang kemampuan anak the darks yang dibilang mengerikan itu? Mana raja jalanan? Ayo dong lawan kita!" ujar pemotor trail itu.


"Cih! Kalau berani jangan keroyokan, ayo satu lawan satu!" ucap Thoriq yang sudah berdiri.


"Oke! Maju sini lu, kita duel! Kita buktiin siapa raja jalanan yang sesungguhnya!" ucap pemotor itu.


Thoriq pun maju menyerang si pemotor dengan membabi buta, pukulan demi pukulan serta tendangan ia layangkan ke arah pemotor itu tapi tidak ada yang kena.


Kreekkk...


"Aakkkhhh!!" Thoriq memekik keras saat pergelangan tangannya dipelintir oleh pemotor itu dan rasanya hampir remuk.


"Hahaha, lu itu gak ada apa-apanya. Ayo guys, kita bikin dia masuk UGD dan buktikan kalau anak trail lebih jago daripada anak the darks!" ujar pemotor itu.


"Siap bro!" keempat pemotor trail yang lain, ikut menghampiri Thoriq dan bersiap menghajarnya.


Bughh bughh bughh...


Thoriq terus dihajar habis-habisan oleh mereka sampai tak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya pingsan disana.


Setelah dirasa cukup, kini kelima pemotor itu berhenti memukuli Thoriq. Mereka memandang sejenak tubuh Thoriq dan memotretnya.


Cekrek...πŸ“ΈπŸ“ΈπŸ“Έ


"Udah cukup, gue udah kirim foto ini ke bos dan dapat dipastikan orang ini bakal masuk ke UGD dalam waktu yang lama. Tugas kita selesai kali ini, yuk cabut!" ucap pemotor itu.


"Oke bro! Andai aja kita bisa bebas pukulin dia, gue masih belum puas nih." ujar yang lain.


"Santai, udah yuk cabut aja dulu!"


Kelima pemotor itu pun pergi dari sana meninggalkan Thoriq dalam keadaan yang buruk dan tengah pingsan.


******


Waktu pulang sekolah tiba, Willy dan Aurora seperti biasa hendak pulang bersama dengan motor pria itu sembari menikmati indahnya hari ini.


Namun, Aurora cukup terkejut ketika melihat supir bersama bodyguardnya sudah berdiri di depan sana menunggunya.


Sontak Aurora melirik sekilas ke arah Willy dengan wajah sedihnya, ia tahu kalau kali ini ia tidak bisa pulang bersama Willy.


"Sayang, kamu kenapa berhenti sih? Ayo kita jalan ke parkiran!" tanya Willy keheranan.


"Eee kayaknya kita gak bisa pulang bareng deh, Wil. Itu di depan udah ada supir gue sama bodyguard yang ditugasi papa buat jaga gue, jadi gak mungkin kita bisa balik bareng kali ini." jawab Aurora.


"Hah?" Willy terkejut dan menoleh ke depan.


"Ah sial! Ngapain sih mereka pake disitu segala?! Kamu tenang aja, pokoknya kita tetap bakal pulang bareng kali ini!" sambungnya.


"Loh, gimana caranya Wil?" tanya Aurora.


"Biar aku yang bicara sama mereka, aku bakal perjuangkan cinta kita sayang!" jawab Willy.


"Lu bicara apa sih, Wil? Gausah ngada-ngada deh, gue gak mau lu kenapa-napa!" ujar Aurora.


"Cie cie, perhatian nih ye.." goda Willy.


"Ish, gue lagi serius juga lu malah bercanda! Udah deh Wil, lu jangan cari gara-gara!" ucap Aurora.


"Gapapa, gue bisa kok hadapi mereka." kata Willy.


"Bukan masalah itu Wil, gue gak mau bikin lu jadi makin dibenci sama papa. Kalau lu berantem sama mereka sekarang, iya gue yakin lu bakal menang. Tapi, pasti papa bakalan makin yakin kalau lu itu anak berandalan." ucap Aurora.


"Iya sih, terus gimana dong? Aku gak mau pulang sendiri tanpa kamu sayang," tanya Willy.


"Sekali ini aja, gapapa ya? Besok-besok kita cari cara lagi supaya kita bisa pulang bareng, oke?" ucap Aurora memberi usul.


"Gak, gak bisa!" tegas Willy.


"Willy ayolah! Emang lu pengen lu semakin dicap buruk sama papa? Terus, kita bakal makin susah juga buat ketemu. Please Wil, untuk kali ini lu nurut ya sama gue!" bujuk Aurora.


Willy terdiam sejenak, tangannya terus menggenggam erat lengan Aurora di bawah sana.


"Ayo kita temui mereka bersama! Aku mau coba dulu bicara sama mereka, siapa tahu mereka bisa bantu kita kan. Aku bakal terus berjuang untuk dapat dekat dengan kamu!" ucap Willy.


"Wil, luβ€”"


"Sssttt jangan banyak bicara! Kamu mau aku cium disini sekarang juga?" potong Willy seraya menempelkan telunjuknya di bibir Aurora.


"Ish, ya jangan lah! Ini sekolah dan ramai orang, ngada-ngada aja lu!" ujar Aurora.


"Hahaha, yaudah jangan bandel deh jadi anak! Nurut aja sama yang pacar kamu bilang, ayo kita samperin mereka!" ucap Willy.


"Iya iya.." Aurora pun menurut dengan Willy, biarpun ia masih merasa tidak nyaman.


Willy langsung merangkul Aurora, mengecup bibirnya sekilas dan melangkah mendekati supir serta bodyguard Aurora di depan sana.


"Heh kalian berdua!"


Bersambung....