
My love is sillie
Episode 57
•
Martin dan Kiara pun melangkah mendekati Johan sambil pria itu merengkuh pinggang Kiara, sedangkan Sundari pergi ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.
"Sayang, kamu kalau di depan orang tolong jangan panggil saya dengan sebutan tuan! Nanti mereka pada curiga loh sama kita!" bisik Martin.
"Maaf tuan! Terus, aku harus panggil tuan apa dong kalo gitu?" tanya Kiara bingung.
"Apa aja, asalkan jangan tuan! Misalnya sayang, atau mas juga gapapa." jawab Martin.
"Iya deh tuan, eh maksud aku mas." ucap Kiara langsung merevisi ucapannya.
"Nah, begitu lebih baik!" ucap Martin tersenyum.
Mereka berdua berdiri tepat di sebelah Johan yang sedang duduk di sofa, mereka saling lirik sebelum memutuskan untuk menegur Johan.
Johan memang masih belum menyadari keberadaan ponakannya itu, karena ia masih fokus dengan ponselnya dan mencari-cari Aurora.
"Umm, permisi om! Selamat malam!" ucap Martin menegur pamannya.
"Hah?" Johan terkejut dan spontan menoleh, ia tersenyum saat mengetahui Martin ada disana.
"Loh Martin? Kamu kenapa kesini gak bilang sama om?" ucap Johan langsung bangkit dari duduknya.
"Hehe, iya om. Niatnya aku emang mau kasih kejutan buat om, ini aku sengaja ajak Kiara kesini supaya bisa kenalan sama om. Nah om, Kiara ini kekasih aku yang sering aku ceritain ke om. Kiara, ini paman aku." ucap Martin.
"Ah iya iya, cantik sekali kamu Kiara! Salam kenal ya, nama om Johan." ucap Johan berkenalan dengan Kiara sekaligus berjabat tangan.
"Iya om, terimakasih! Aku Kiara, pacar mas Martin." ucap Kiara tersenyum manis.
"Wah manggilnya udah pake mas segala nih, kayaknya kalian cocok banget deh tinggal tunggu kapan nikahnya aja nih!" ujar Johan.
"Ahaha, bisa aja om. Kiara ini masih sekolah loh om, malah satu sekolah sama Aurora dan umur mereka juga sama." ucap Martin.
"Oh ya? Wah om baru tau soal itu!" ujar Johan.
"Iya om," ucap Martin.
Kiara pun terkejut saat Martin menyebut nama Aurora, ia teringat pada sosok kekasih Willy yang juga bernama sama.
"Apa Aurora yang dimaksud tuan Martin, itu sama dengan Aurora pacarnya Willy?" batin Kiara.
"Oh ya om, Aurora nya mana? Kok gak kelihatan daritadi?" tanya Martin pada pamannya.
"Itu dia Martin, daritadi om juga lagi nungguin dia pulang. Soalnya dia belum pulang-pulang juga sampai sekarang, om jadi khawatir sama dia. Mana hp nya gak bisa dihubungi, terus om juga gak tahu dia ada dimana. Padahal om udah sewa bodyguard buat jemput dia, eh dia malah tetap ngeyel mau pulang bareng Willy." jawab Johan menjelaskan.
"Tuh kan om, emang semuanya itu gara-gara Willy. Seharusnya Aurora itu gak dekat-dekat sama Willy, terbukti sekarang kalau Willy membawa pengaruh buruk bagi Aurora kan!" ucap Martin.
"Iya Martin, om juga bingung kenapa Aurora sampai segitunya sama Willy. Dia bahkan berani menentang om hanya karena anak itu, pasti emang dia yang udah pengaruhi Aurora!" ujar Johan.
"Iya om," ucap Martin manggut-manggut.
"Ah iya om sampai lupa, ayo ayo duduk Martin, Kiara! Gak enak masa tamu berdiri aja," ucap Johan.
"Hahaha, gapapa om." ucap Martin.
Mereka bertiga pun duduk di sofa, tak lama setelah itu Sundari muncul kembali membawakan minuman untuk mereka.
"Permisi tuan! Ini saya buatkan minum sama cemilan, silahkan dinikmati!" ucap Sundari.
"Makasih ya bik!" ucap Johan.
"Sama-sama tuan, kalo gitu saya permisi dulu mau balik kerja!" ucap Sundari.
"Iya bik, silahkan!" ucap Johan.
"Ayo diminum dulu Martin, Kiara!" pinta Johan.
"Iya om," ucap Martin dan Kiara bersamaan.
"Papa!" tiba-tiba saja Aurora muncul mendekati mereka dengan wajah emosi.
Sontak Johan, Martin serta Kiara langsung menoleh ke arah gadis itu.
"Aurora?" ucap Johan terkejut.
******
Thoriq telah sadarkan diri, Randi bersama Jeki juga sudah masuk ke dalam ruang UGD untuk menjenguk pria itu dan mengecek kondisinya.
Namun, tampaknya Thoriq masih belum dapat berbuat banyak saat ini karena kondisi tubuhnya yang masih terluka parah.
"Riq, syukurlah lu udah sadar! Gimana keadaan lu saat ini, baik-baik aja kan?" ucap Randi.
"Gue gak kenapa-napa kok, gue masih bisa nafas dan bicara kan?" ucap Thoriq.
"Emang ya lu Riq, lagi kondisi sakit gini masih aja bisa bercanda. Tapi gue seneng sih, karena emang ini yang paling kita kangenin dari lu Riq." ucap Randi tersenyum lebar.
"Betul tuh, Thoriq si periang yang suka menghibur anak-anak the darks." sahut Jeki.
"Ahaha, bagus deh kalo kalian pada kangen sama gue. Oh ya, yang lainnya kemana nih? Kok kalian cuma berdua?" ujar Thoriq.
"Mereka ada di depan kok, lu gausah khawatir! Selain itu, orang tua lu juga lagi on the way menuju kesini buat jengukin lu." jawab Randi.
"Hah? Ortu gue mau dateng kesini?" ucap Thoriq terkejut.
"Iya Riq, gue yang hubungin mereka soal kondisi lu. Gue takut aja mereka khawatir kalau gak ada kabar dari lu, sorry ya karena gue kabarin mereka tanpa izin dari lu!" ucap Randi.
"Gapapa Ran," ucap Thoriq tersenyum tipis.
"Yaudah, lu jangan banyak gerak dulu ya! Kondisi lu masih belum pulih benar, nanti yang ada lu malah makin sakit lagi!" ucap Randi.
"Iya, gue juga kan cuma rebahan daritadi." kata Thoriq.
"Eh Riq, gue penasaran deh. Sebenarnya siapa sih yang udah keroyok lu sampai babak belur dan masuk ke UGD kayak gini?" tanya Jeki.
"Iya Riq, apa ini ulah anak-anak black jack?" sahut Randi ikut penasaran.
"Bukan guys, bukan mereka yang serang gue. Kalau emang itu anak-anak black jack, pasti gue bisa kenalin mereka. Lagipun, mereka juga pake motor trail bukan motor yang biasa digunakan anak-anak black jack." jawab Thoriq.
"Hah? Terus, kalau bukan anak black jack siapa dong yang nyerang lu Riq? Apa lu punya musuh lain selain mereka?" tanya Jeki terheran-heran.
"Ya enggak lah, gue ini kan orangnya cinta damai. Mana mungkin gue punya musuh selain anak-anak black jack?" jawab Thoriq.
"Tapi, kenapa orang-orang itu nyerang Farrel juga ya? Kalau mereka emang bukan geng black jack, terus apa alasan mereka bantai anak-anak the darks?" ucap Randi kebingungan.
"Tunggu tunggu, si Farrel emangnya diserang juga?" tanya Thoriq terkejut.
"Iya Riq, dia ada di sebelah tuh masih pingsan. Tadi sebelumnya dia abis dari sini jenguk lu, eh pas di jalan pulang tau-tau dia diserang orang. Gue juga dapat kabar dari orang yang temuin dia di jalan, jadi gue gak tahu siapa yang udah nyerang Farrel. Ada kemungkinan orang itu sama dengan orang yang nyerang lu," jelas Randi.
"Kira-kira mereka siapa ya? Dan apa motif mereka serang lu sama Farrel? Apa mungkin mereka itu geng motor baru yang gak suka sama the darks dan pengen rebut daerah kekuasaan kita?" ujar Jeki menebak-nebak.
"Entahlah, kita bahas ini nanti sama Willy. Sekarang lu banyak-banyak istirahat dulu ya Riq!" ucap Randi.
"Oke Ran!" ucap Thoriq mengangguk pelan.
******
Kedatangan Willy disana membuat para anggota black jack terkejut dan spontan bangkit menatap ke arah Willy.
Willy pun turun dari motornya, bergerak menghampiri mereka semua tanpa ekspresi sedikitpun.
"Wah wah wah, lihat siapa yang datang guys!" ucap Ilham mendekat ke arah Willy.
"Hahaha, ada yang mau cari mati kayaknya guys. Bakalan pesta kita malam ini," ucap Billy.
"Gausah banyak omong lu semua! Sekarang lu mending jelasin ke gue, apa maksud lu nyerang Thoriq sama Farrel sampe bikin mereka masuk UGD?! Kalau kalian punya masalah, bilang sama gue! Jangan malah bantai anggota geng gue yang gak punya salah apa-apa!" ucap Willy emosi.
"Lu bicara apa sih, ha? Kita gak ngerti sama apa yang barusan lu omongin. Siapa juga yang nyerang mereka? Kita aja belakangan ini fokus kembangin bisnis kita, buat apa kita harus berurusan sama geng lu yang cupu itu?" ucap Ilham.
"Jangan pura-pura gak tahu! Kalian ini gak bisa bohong dari gue, mending kalian ngaku deh sebelum gue ratain tempat ini!" ujar Willy.
"Apa? Lu mau ratain markas kita? Yang benar aja Wil, yang ada tuh lu yang bakal kita abisin disini! Dengar ya Wil, lu jangan sok jagoan deh! Lu itu gak bisa apa-apa!" ujar Ilham.
"Okay, kita bicara baik-baik. Cepat ngaku ke gue kalau kalian yang udah serang anak the darks!" ucap Willy tegas.
"Bukan kita yang lakuin itu, jadi jangan asal tuduh kalau gak ada bukti!" ucap Ilham.
"Halah! Mending kalian ngaku aja sekarang, gue tahu kok kalian pelakunya!" ujar Willy.
"Terserah lu aja Wil! Intinya emang bukan kita yang udah nyerang anggota geng lu, belakangan ini kita juga udah gak pernah ketemu lagi sama anak-anak the darks kok." ucap Ilham.
"Iya tuh, lu jangan asal tuduh gitu dong! Gak ada untungnya juga buat kita keroyok anak-anak the darks!" sahut Billy.
"Diem lu! Gue gak mau bicara sama lu!" bentak Willy sembari menunjuk ke arah Billy.
"Wah songong nih anak! Berani banget lu nunjuk ke arah gue, mau cari mati lu?!" ucap Billy.
"Apa lu? Sini maju kalo berani, jangan ngumpet di ketiak ketua lu yang cupu ini! Lu pemberani kan?" ucap Willy menantang Billy.
"Ah kurang ajar lu!" Billy hendak maju mendekati Willy, tetapi ditahan oleh Ilham.
"Tahan Bil! Willy biar gue yang urus, lu mundur aja!" ucap Ilham.
"Oke Ham!" ucap Billy menurut.
Kini Ilham selangkah lebih maju menghadap Willy dengan nafas memburu seperti bersiap untuk menyerang pria itu.
"Lu sekarang mau apa? Cari ribut?" ujar Ilham.
"Enggak, gue gak mau cari ribut. Gue kesini pengen cari tau kenapa kalian bantai teman-teman gue!" ucap Willy.
"Gue udah bilang tadi, bukan kita pelakunya. Lu mau percaya atau enggak, emang begitu kenyataannya. Jadi, lebih baik lu pergi sekarang sebelum gue makin emosi!" ucap Ilham.
Willy terdiam memikirkan perkataan Ilham, ia bingung apakah yang barusan dikatakan Ilham itu benar atau tidak.
"Gue jadi bingung, bener gak sih bukan mereka yang bantai Thoriq dan Farrel?" batin Willy.
******
Sasha mendatangi rumah Willy dengan membawa sekotak kue coklat untuk pria itu, entah mengapa Sasha tiba-tiba saja ingin bertemu dengan Willy malam ini.
Gadis itu pun langsung bergerak menuju pintu depan setelah turun dari motornya dan melepas helmnya, ia mengetuk pintu berharap ada seseorang yang membukanya dari dalam sana.
TOK TOK TOK...
"Permisi, assalamualaikum!" ucap Sasha.
"Waalaikumsallam..."
Mendengar adanya balasan dari dalam, Sasha pun berhenti mengetuk pintu dan memilih menunggu seseorang itu membukakan pintu untuknya.
Tap tap tap...
Ceklek...
"Eh nak Sasha?" ucap Bu Ani yang baru muncul dari dalam.
"Malam tante!" ucap Sasha membungkuk dan mencium tangan Bu Ani.
"Iya, malam juga. Ada apa nih kamu malam-malam begini datang ke rumah?" tanya Bu Ani.
"Eee aku cuma mau mampir kok tante, ini aku juga bawain kue coklat buat tante sekeluarga." jawab Sasha sambil tersenyum.
"Oalah, baik banget sih kamu. Makasih banyak ya cantik!" ucap Bu Ani mengambil kue itu.
"Sama-sama, tante." ucap Sasha.
"Yaudah, duduk dulu yuk di dalam biar enak ngobrolnya!" ujar Bu Ani.
"Eee boleh deh tante," ucap Sasha.
Mereka pun masuk ke dalam bersama-sama, lalu duduk di sofa berdampingan.
Namun, Sasha tampak terus celingak-celinguk seperti mencari seseorang disana.
"Kamu cari siapa Sasha?" tanya Bu Ani heran.
"Eh eee anu tante, Willy nya ada gak ya?" jawab Sasha gugup.
"Ohh, kamu kesini mau ketemu Willy?" ujar Bu Ani.
"Hehe, ya begitulah tante. Tapi, bukan cuma mau ketemu Willy kok, ketemu tante sama om juga." ucap Sasha nyengir.
"Willy belum pulang sayang, tadi bilangnya mau jengukin temannya di rumah sakit. Nah kalau papanya Willy, barusan aja dia pergi ada urusan katanya." jelas Bu Ani.
"Maksud tante, jadi Willy belum pulang juga dari waktu sekolah?" tanya Sasha.
"Iya benar sayang, seperti yang tadi tante bilang katanya sih dia mau jenguk temannya di rumah sakit. Ya tapi tante gak tahu siapa temannya itu," jawab Bu Ani.
"Yah sayang banget ya tante, padahal aku kesini pengen ketemu dan ngobrol sama Willy. Kan udah lama juga aku gak ketemu dia," ucap Sasha.
"Iya Sasha, maaf banget ya!" ucap Bu Ani.
"Ah gapapa kok tante, ini kan bukan salah tante atau Willy. Aku aja yang kesini gak kasih kabar dulu, jadinya aku gak bisa ketemu sama Willy deh." kata Sasha.
"Yaudah, kamu disini aja dulu tunggu Willy sampai pulang!" saran Bu Ani.
"Emangnya boleh tante?" tanya Sasha.
"Ya boleh dong, udah kamu tunggu aja Willy disini! Sebentar ya, tante mau ke dapur dulu bikin minuman!" ucap Bu Ani.
"Duh, gausah repot-repot tante!" ucap Sasha.
"Gapapa, gak repot kok. Yang namanya tamu itu kan harus disuguhi sesuatu," ucap Bu Ani.
"Iya deh tante," ucap Sasha tersenyum.
Bu Ani beranjak dari sofa, lalu pergi ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.
Bersambung....