My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 139. Temenin dulu



My love is sillie


Episode 139



"Bang, tolongin gue bang! Mereka gak jelas banget tiba-tiba serang gue, padahal gue gak kenal dan gak ngerasa punya urusan sama mereka. Ketemu juga baru kali ini," ucap Max ngos-ngosan.


"Heh! Lo gausah ikut campur, ini masalah kita sama tuh orang!" bentak si ketua geng.


"Masalah apaan? Gue aja gak kenal sama kalian, jangan ngarang deh!" elak Max.


"Bener-bener lu ya, udah bawa kabur uang kita terus sekarang pura-pura gak kenal segala!" geram si ketua geng.


"Hah??!" Max terkejut bukan main, dia benar-benar bingung setelah dituduh seperti itu.


"Bawa kabur uang kalian? Apa benar begitu Max?" tanya Martin menatap ke arah Max.


Max terdiam, dia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Itu tidak benar Martin, gue gak pernah bawa kabur uang mereka! Gue aja baru kali ini ketemu sama mereka, gimana bisa gue ambil uang mereka?!" elak Max.


Martin sama sekali tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Max, dia bisa tahu kalau lelaki itu sedang jujur.


"Ah maling mana ada yang mau ngaku! Sekarang lo serahin duit itu, atau kita bakalan hajar lo berdua sampai masuk rumah sakit!" teriak si ketua geng mengancam Max.


"Bang Martin, gimana ini bang??" tanya Max panik.


"Kita hadapi mereka bersama, lo gak boleh jadi laki-laki pengecut!" sentak Martin.


"Ta-tapi bang.."


"Maju Max!" potong Martin.


Mau tidak mau, Max pun terpaksa ikut menyerang geng motor tersebut bersama Martin.


Kiara yang masih di dalam mobil, merasa bingung dan cemas melihat Martin serta Max berkelahi dengan geng motor itu. Ia khawatir jika salah satu diantara mereka akan terluka.


"Duh, aku harus gimana ya buat bubarin mereka? Apa aku telpon polisi aja?" gumam Kiara.


"Iya non, ada baiknya kita hubungi polisi non. Supaya tuan Martin juga bisa selamat," sahut sang supir.


"Eee i-i-iya deh pak, tapi bapak turun dong bantu tuan Martin lawan orang-orang itu!" ujar Kiara.


"Waduh! Saya bukan gak mau bantu tuan Martin non, kalau saya turun nanti non Kiara gimana?" ucap supir itu.


"Halah alasan aja kamu! Yaudah, saya mau telpon polisi dulu?" ucap Kiara.


"Siap non!" ucap si supir.


Kiara pun mulai menghubungi polisi.


Sementara itu, Martin terlihat mulai kehabisan tenaga karena harus melawan cukup banyak orang sekaligus disana.


Tak hanya Martin, bahkan Max pun sudah menjadi bulan-bulanan geng motor itu dan hampir pingsan karena tak mampu melawan lagi.


Bughh


Bughh


"Aakhhh ampun! Tolong hentikan gue gak kuat!" ucap Max memohon ampun pada mereka sambil terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Orang-orang itu akhirnya berhenti memukuli Max, lalu salah satu dari mereka menarik tubuh Max untuk berdiri menghadapnya.


"Heh! Lo gak mau mati di tangan kita kan?" ujarnya.


Max menggeleng dengan tubuh gemetar.


"Yaudah, lu nurut sekarang sama kita dan ikut kita atau gue habisin lu sama temen lu itu!" ancamnya.


"Oke oke, gue mau ikutin kemauan kalian. Sekarang lepasin gue dan jangan serang bang Martin lagi!" ucap Max mengalah.


"Bagus!" ucap pria itu singkat.


******


"Hahaha, masa sih? Gue jadi penasaran sama ceweknya si Willy yang sekarang," ujar Chalvin.


"Tunggu aja bro, dia kadang suka kesini bareng ceweknya. Ya tapi gue juga gak tahu kapan sih," ucap Zafran.


"Okelah!" ucap Chalvin singkat.


"Eh ya, ini perasaan gue doang atau emang geng the darks makin sepi? Si Randi, Thoriq sama Farrel pada kemana dah?" tanya Chalvin heran.


"Eee Thoriq sama Farrel udah keluar dari the darks bro," jawab Zafran.


"Hah? Kenapa??" Chalvin terkejut bukan main.


"Waktu itu geng the darks diincar sama orang-orang bayaran, mereka hajar satu persatu anggota kita, termasuk Thoriq dan Farrel. Sejak itu, orang tua mereka gak setuju kalau mereka balik lagi kesini," jelas Zafran.


"Apa??!" kaget Chalvin.


"Iya bro, makanya sekarang kita kehilangan anggota. Dan sampai saat ini, kita belum temuin pengganti mereka," ucap Zafran.


"Duh, berat juga ya?" ujar Chalvin.


"Ya begitulah bro, makanya sekarang kekuatan the darks itu rada berkurang. Kita aja gak bisa hadapin geng black jack tanpa Willy, kita selalu babak belur tiap mereka datangi kita," ucap Zafran.


"Hah? Black jack? Geng mana lagi itu? Geng baru?" tanya Chalvin amat kaget.


"Itu geng black punyanya si Ilham, mereka bikin geng baru yang lebih besar dan kuat. Sekarang mereka juga masih jadi musuh kita," jelas Zafran.


"Hah??" kaget Chalvin.


"Betul Vin, makanya kita lagi berusaha buat cari anggota baru di geng the darks. Supaya kita bisa mengimbangi kekuatan black jack, apalagi sekarang mereka juga dibacking sama Martin si mafia besar itu," ucap Leo.


"Berarti mereka kuat-kuat juga dong?" tanya Chalvin.


"Iya, itu karena pengaruh Martin. Kenapa Vin? Lo pengen coba lawan mereka?" ujar Leo.


"Eee gue..."


"Kalau iya lu mau, mending lu gabung aja deh sama kita lagi kayak dulu!" potong Leo.


"Nah betul tuh, gue setuju sama ucapan Leo! Lo balik aja ke the darks ya!" sahut Zafran.


"Justru emang itu yang mau gue sampein ke kalian, gue pengen balik kesini dan gabung sama kalian lagi," ucap Chalvin.


"Hah serius lo Vin?? Beneran lo mau gabung the darks lagi?" tanya Zafran yang langsung terkejut.


"Iya Zaf, makanya gue mau cari Willy karena gue pengen bicarain soal ini. Ya siapa tau aja gue bisa diterima lagi di geng the darks," jawab Chalvin.


Semua disana kompak terkejut bukan main.


"Wah ini sih berita menggembirakan banget buat kita-kita! Ya gak guys?" ujar Syakur yang langsung bangkit dari duduknya.


"Betul tuh! Kita seneng banget lo balik kesini Vin!" sahut Jeki.


******


Cup!


"Ih Willy!" protes Aurora.


"Abisnya kamu kenapa diem aja? Terpesona ya sama ketampanan aku?" goda Willy yang tak berhenti mengendus leher Aurora.


"Willy, kamu jangan kayak gini di depan bapak kamu! Aku gak enak tau!" bisik Aurora.


"Iya iya, aku bicara sama bapak dulu ya?" ucap Willy kemudian beralih menatap pak Gunawan. Aurora yang mendengar itu dibuat sangat kaget.


"Wil, kamu mau ap—"


"Pak, bapak gak mau kemana gitu pak? Aurora malu katanya kalau ada bapak," ucapan Aurora terpotong oleh perkataan tidak sopan Willy kepada bapaknya sendiri.


Sontak Aurora terkejut karena Willy dengan berani mengusir papanya demi bisa berduaan dengannya disana, sungguh tidak beradab.


"Ya ya ya, ini bapak juga mau ke depan kok. Sudah, kalian ke meja makan aja sana! Sarapannya udah disiapin sama ibu, jadi nak Aurora juga bisa sekalian sarapan!" ucap pak Gunawan.


"Ah eee i-i-iya pak, makasih!" ucap Aurora.


"Yaudah, bapak ke depan dulu ya?" ucap pak Gunawan lalu berlalu pergi.


Willy tersenyum dan kembali menatap gadisnya.


"Hah? Cium? Cium pipi maksud kamu kan?" kaget Aurora.


"Ya bukanlah sayang, cium bibir yang aku mau. Atau enggak, aku yang cium kamu duluan nih," ujar Willy seraya memegang bibirnya.


"Ih gak mau!" tolak Aurora.


"Ohh gitu..." tanpa aba-aba, Willy menarik tengkuk Aurora dan mencium bibirnya cukup lama.


"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora coba berontak tetapi gagal.


Perlahan Willy mulai mendorong tubuh Aurora hingga menempel di tembok, memperdalam ciumannya sambil terus memaksa lidahnya untuk masuk.


Aurora yang tak mampu melawan, akhirnya membuka mulutnya dan memberi akses bagi Willy untuk bermain disana.


Merasa Aurora mulai kehabisan nafas, Willy pun melepas sejenak tautan mereka dan itu langsung dimanfaatkan Aurora untuk mengambil nafas.


"Haaahhh haaahhh.."


"Kamu benar-benar gak waras ya Willy!" kesal Aurora pada kekasihnya.


"Hahaha..."


"Ish malah ketawa, gak lucu tau! Aku sebel banget pokoknya sama kamu!" kesal Aurora.


"Hey, iya iya aku minta maaf!" ujar Willy sembari memeluk gadisnya itu dan mengusapnya lembut.


"Tadi itu aku terlalu naf-su sama kamu, jadinya aku lupa buat lepas ciumannya dan bikin kamu susah nafas. Maafin aku ya Aurora yang cantik jelita!" bujuk Willy.


Aurora hanya memutar bola mata malas, Willy pun menangkup wajahnya dan kembali mengecup bibir manis yang menjadi candu baginya itu.


Cup!


"I love you Aurora sayang!" ucap Willy.


"Willy, nak Aurora!" panggil Bu Ani.


Seketika Aurora dan Willy kompak terkejut melihat keberadaan Bu Ani serta Sasha disana.


"Hah ibu??" kaget Willy.


******


"Yah terus gimana dong sayang?" tanya Mia.


"Kita turun dulu yuk sayang! Supaya kudanya juga bisa istirahat," jawab Thoriq.


Mia mengangguk setuju, lalu mereka pun turun dari kuda dan duduk bersandar di bawah pohon besar setelah mengikat kuda itu.


"Sabar ya sayang!" ucap Thoriq lirih.


"Aku sabar kok sayang, tapi aku gak mau kita terus terjebak disini sampai malam. Kita harus cepat-cepat keluar, sebelum hari mulai gelap!" ucap Mia dengan sangat panik.


"Iya iya, aku bakal pikirin cara supaya kita bisa keluar disini. Sekarang kamu tenang dulu, jangan panik ya sayang!" ucap Thoriq.


Mia mengangguk lesu, membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih. Thoriq tersenyum merasakan wajah Mia di bahunya, ia pun mengusap wajah Mia dengan lembut dan sesekali mengecupnya.


Cup!


"Kamu tenang ya cantikku! Aku disini bakal jagain kamu, kita berdua juga pasti bisa kok keluar dari hutan ini!" ucap Thoriq.


"Iya sayang, aku percaya kamu!" ucap Mia.


"WOI!!!"


Mereka dikejutkan dengan suara teriakan yang datang secara tiba-tiba.


"Ngapain lo berdua disini? Mau mesum ya?!" tegur pria tersebut.


"Hah??" Thoriq dan Mia reflek berdiri.


"Siapa kalian? Ngapain berduaan di hutan kayak gini? Kalau mau mesum itu di hotel, yang modal dikit lah bro!" tegur si pria.


"Ki-kita gak mesum kok bang, kita kesasar. Tadi kita lagi naik kuda ini, terus gak sengaja sampai ke hutan ini. Untung kami ketemu sama abang, bisa kan kami minta bantuan?" jelas Thoriq.


"Kesasar? Jadi, kalian sewa kuda terus kesasar sampe sini?" tanya si pria.


"I-i-iya bang, emangnya kenapa?" Thoriq merasa heran dan curiga.


"Bohong! Alasan macam apa kayak gitu? Tempat kuda aja gak ada di dekat sini, jangan ngarang deh kalian!" tegur si pria.


"Ya mending kalian ngaku aja kalau mau berbuat mesum!" sahut pria yang lain.


"Apa sih bang? Mana ada kita mesum disini? Kalaupun iya, kenapa kita begituan siang-siang coba kan bisa malam biar enak?!" sangkal Thoriq.


"Iya juga ya.."


"Yaudah kita percaya sama alasan kalian, tapi emang kalian ini siapa dan tinggal dimana?" tanya pria itu pada Thoriq.


"Kenalin bang, saya Thoriq dan ini pacar saya namanya Mia!" ucap Thoriq seraya mengulurkan tangan ke arah pria itu.


"Gue Jamal, terus ini teman gue Ujang. Kita pemburu disini dan setiap hari kita selalu kesini buat tangkap buruan kita, gak nyangka juga kita bisa ketemu kalian sekarang," jawab pria bernama Jamal itu.


"Ohh, salam kenal ya bang Jamal, bang Ujang!" ucap Thoriq agak grogi.


Jamal dan Ujang hanya mengangguk pelan disertai senyum tipis, lalu mereka menyudahi sesi salaman itu dan kembali berbincang.


"Kalian mau keluar dari hutan ini kan?" tanya Jamal.


"I-i-iya bang, abang berdua bisa bantu kita keluar dari sini?" jawab Thoriq.


"Ya bisa lah, itu mah hal kecil buat kita. Tapi sebelumnya, gue minta kalian temenin gue dulu buat cari mangsa di sekitar sini!" ucap Jamal.


"Mangsa? Mangsa apa maksudnya bang?" tanya Thoriq tak mengerti.


"Ya hewan buruan lah, gimana sih lo?!" jawab Jamal ketus.


"Hehe.."


******


"Makasih ya sayang! Berarti kapan-kapan boleh dong aku masuk kamar kamu lagi?" ujar Randi.


"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.


"Hahaha, bercanda kok sayang. Tapi, kalau emang dibolehin sih gapapa. Aku ngerasa nyaman ada di kamar kamu kayak tadi," ucap Randi.


"Boleh boleh aja, asalkan gak ada kak Geri mah. Udah ah jangan bahas itu terus, yuk kita jalan ke luar!" ujar Ayna.


"Kamu mau pergi kemana emang sayang?" tanya Randi seraya mendekap tubuh gadisnya.


"Umm, kemana aja asalkan sama kamu deh." jawab Ayna sembari menaruh wajahnya di dada sang kekasih.


Randi tersenyum lebar, mencium pipi Ayna serta mengusap rambutnya.


Mereka pergi dari rumah itu, Randi sengaja membawa Ayna ke cafe nya lebih dulu untuk sekedar sarapan.


"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.


"Oke!" Ayna mengangguk singkat.


Mereka duduk berdampingan di cafe itu, Randi terus menatap wajah gadisnya dan tersenyum.


"Kamu cantik banget sih!" goda Randi.


"Ah kamu bisa aja!" ucap Ayna.


Randi semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka dengan tangan yang terus mengusap rambut sang wanita.


"Ka-kamu mau apa? Jangan dekat-dekat Randi, malu!" ucap Ayna.


"Rileks sayang!" bisik Randi sensual.


"Ih kamu bilang tadi gak akan mau macam-macam ya sayang! Malu tau banyak orang!" sentak Ayna.


"Banyak darimana? Enggak ada tuh," ujar Randi.


"Tetap aja aku malu, kamu gausah kayak gini dong Randi sayang!" ucap Ayna dengan gugup.


Bersambung....