My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 61. Paksaan Willy



My love is sillie


Episode 61



"Ish, gausah sentuh-sentuh gue deh! Udah yuk guys, kita cabut aja dari sini! Kebetulan gue udah lapar nih pengen makan, gak guna juga disini terus." ucap Aurora.


"Eh eh tunggu dulu dong sayang!" ucap Willy menahan Aurora dengan mencekal lengan gadis itu dari belakang.


"Kenapa Willy?" tanya Aurora kesal.


"Kita ke kantinnya barengan aja ya, aku mau makan juga nih." jawab Willy.


"Enggak ah, gue bosen!" tolak Aurora.


Aurora meronta agar bisa lepas dari genggaman Willy, namun pria itu justru mengeratkan cengkeramannya hingga Aurora tak dapat bergerak.


"Wil, lepasin!" pinta Aurora.


"Gak akan pernah sayang, kamu harus ikut sama aku!" tegas Willy.


"Eh Wil, lu gak bisa maksa Aurora kayak gitu dong! Dia kan udah bilang gak mau, harusnya lu lepasin dia!" ucap Cindy.


"Lu tolong jangan ikut campur ya, ini urusan gue sama Aurora! Sebaiknya kalian berdua diam aja!" ucap Willy.


"Gimana kita gak ikut campur, Wil? Yang lu sakitin ini sahabat kita, jadi kita gak bisa biarin lu berbuat seenaknya ke dia dong!" ucap Cindy.


"Iya tuh, harusnya lu paham dong Wil!" sahut Elsa.


"Siapa sih yang mau nyakitin Aurora? Gue itu cuma pengen berduaan sama dia," ucap Willy.


"Ya tapi, kalo Aurora gak mau harusnya lu jangan maksa kayak gini dong!" ujar Cindy.


"Udah udah udah, jangan pada ribut ya! Cindy Elsa, gue mau ikut kok sama Willy. Kalian ke kantin berdua aja ya, sampai ketemu nanti di kelas!" ucap Aurora menengahi mereka.


"Nah, denger tuh kata-kata Aurora! Kalian berdua jangan ikut campur atau halangin gue lagi buat bawa Aurora!" ucap Willy.


"Iye iye..." ucap Cindy pasrah.


"Yaudah, ayo sayang kita pergi sekarang! Kamu jangan ngambek lagi ya, aku bakal kasih sesuatu yang bisa bikin kamu bahagia!" ucap Willy.


"Sesuatu apa?" tanya Aurora penasaran.


"Nanti juga kamu tau, sekarang ayo kita pergi! Aku gak mau lama-lama disini, nanti yang ada kita gak bisa pacaran seenaknya lagi." ucap Willy.


"Yeh dasar kang bucin lu Willy! Kerjaannya tiap hari bucin mulu!" cibir Cindy.


"Lah bodoamat, suka-suka gue dong! Aurora kan pacar gue, jadi gak ada salahnya dong kalo gue bucin sama dia?" ucap Willy merangkul Aurora dan mengecup pipinya.


"Iya, udah yuk kita pergi! Bye guys semua!" ucap Aurora pamit pada dua temannya sembari melambaikan tangan.


"Bye Aurora!" ucap Cindy dan Elsa bersamaan.


Setelahnya, Aurora pun mengikuti langkah kaki Willy yang berada di sampingnya dan masih terus merangkul pundaknya seakan tak rela jika gadis itu menjauh darinya.


Saat di perjalanan, Aurora tiba-tiba kepikiran tentang apa yang diobrolkan oleh Willy dan Kiara di taman tadi. Ia pun mencoba untuk bertanya pada Willy mengenai itu.


"Umm, tadi lu sama Kiara ngobrolin apa sih di taman?" tanya Aurora penasaran.


"Hah? Kamu masih cemburu ya karena aku dan Kiara ngobrol berdua tanpa sepengetahuan kamu? Cie cie cemburu nih ye.." goda Willy.


"Ish, apaan sih? Siapa juga yang cemburu coba? Gue tuh cuma mau tau aja apa yang kalian obrolin, bukan cemburu!" elak Aurora.


"Halah gak mau ngaku, udah lah Rora ngaku aja kalo cemburu mah!" ujar Willy.


"Gak ada yang cemburu ya, jangan ge'er deh!" ucap Aurora membuang muka.


Willy terus menggoda gadisnya sembari mencolek dagu serta pipi gadis itu dan membuat Aurora semakin jengkel.


"Ih kalo lu gak mau jawab yaudah gapapa, gak penting juga kok!" bentak Aurora.


"Jangan kasar gitu dong sama aku! Iya iya, nanti aku bakal ceritain ke kamu semuanya. Sekarang kamu cium pipi aku dulu!" ucap Willy.


"What? Cium pipi?" ujar Aurora terkejut.


"Iya sayang, ayo dong!" ucap Willy.


"Ogah!" tolak Aurora.


******


Singkat cerita, Aurora dan Willy telah tiba di rooftop sekolah. Mereka berdua pun berdiri disana menikmati angin yang menerpa disertai keindahan langit di atas sana.


Namun, Aurora masih merasa bingung mengapa Willy mengajaknya kesana. Ia pun terus menatap wajah Willy dari samping dengan rambutnya yang berterbangan diterpa angin.


"Wil, lu kenapa bawa gue kesini? Gue pikir lu mau cari tempat lain gitu," tanya Aurora keheranan.


"Emangnya kenapa sih? Disini kan indah, sejuk juga banyak angin. Tuh lihat, rambut kamu aja sampe terbangan begini." ucap Willy sembari merapihkan rambut gadisnya.


"Iya emang sejuk, tapi kan panas tau. Kalau kita kelamaan disini, nanti yang ada bisa gosong." ujar Aurora.


"Kamu takut item? Tenang aja sayang, walau kamu jadi item juga aku tetap bakal cinta sama kamu!" ucap Willy tersenyum lebar.


"Haish, gausah gombal deh!" ujar Aurora.


"Hahaha, gapapa dong sayang. Kamu kenapa sih gak suka banget tiap kali aku gombalin kamu?" ucap Willy keheranan.


"Bukannya gak suka, tapi lu kalo gombal tuh gak tahu waktu. Gue kan lagi nanya serius sama lu, eh lu malah gombal." ucap Aurora.


"Iya iya, maafin aku ya cantik! Aku sengaja bawa kamu kesini, supaya ada sensasi berbeda gitu. Kita kan belum pernah pacaran disini, jadi aku mau tunjukin ke kamu gimana rasanya ciuman plus pelukan disini." jelas Willy.


"Hah? Ciuman? Lu jangan gila deh Wil, gue gak mau ciuman disini!" ujar Aurora.


Bukannya menurut, Willy justru semakin merapatkan tubuhnya dengan Aurora seraya mengusap-usap puncak kepala gadis itu dan sesekali menekan ceruk lehernya.


"Tapi, aku mau coba sayang. Bibir kamu itu kan manis banget, pasti rasanya tambah asik kalo kita ciuman disini!" ujar Willy.


"Gak gak, gue gak mau!" ucap Aurora.


Willy tersenyum smirk, kemudian mendekatkan wajahnya ke bibir Aurora dan langsung saja menyatukan kedua bibir mereka disana sembari menekan tengkuk Aurora.


"Mmppphhh—" Aurora berusaha melawan dan memukul-mukul dada Willy, tetapi gagal.


Setelah dirasa Aurora kehabisan oksigen, Willy pun melepas ciumannya dan berganti menangkup wajah gadis itu.


"Uhuk uhuk uhuk.." Aurora terbatuk-batuk.


"Wil, lu mau bunuh gue ya?" geram Aurora.


"Enggak lah sayang, yakali aku mau bunuh pacar kesayangan aku yang cantik ini?" goda Willy.


"Ih gausah pegang-pegang!" bentak Aurora.


"Hehe, tuh kan bener rasanya enak. Kamu pasti ketagihan ya sayang? Mau aku cium lagi gak?" ucap Willy.


"Gak mau ah! Gue mau dengar aja cerita dari lu tentang Kiara tadi, gue penasaran tau!" ujar Aurora.


"Oalah, yaudah kalo gitu kita duduk disana yuk!" ucap Willy seraya menunjuk ke depan.


Aurora cukup kaget karena disana terdapat dua piring berisi spaghetti dan juga dua gelas minuman yang telah tersedia.


"Wil, ini siapa yang siapin makanannya?" tanya Aurora keheranan.


"Ya aku dong sayang, yuk kita duduk terus nikmati makanan ini semua! Aku juga bakal ceritain kok tentang aku dan Kiara nanti, kamu jangan khawatir ya!" ucap Willy.


"Iya Wil," ucap Aurora menurut.


Mereka pun duduk berhadapan disana, Willy tampak tersenyum sembari meraih dua tangan Aurora dan mengecupnya lembut.


Cupp!


******


Waktu pulang sekolah tiba, Willy berniat menjenguk Thoriq serta Farrel kembali di rumah sakit.


Akan tetapi, Aurora merasa enggan ikut bersama Willy dan ingin pulang ke rumahnya.


Sebagai seorang kekasih, Willy tidak mau jika Aurora tak ikut bersamanya.


"Wil, sorry ya gue gak bisa ikut!" ucap Aurora.


"Kamu itu kenapa sih sayang? Masih marah sama aku soal aku bicara berdua sama Kiara tadi? Kan aku udah jelasin semuanya ke kamu sayang, masa masih marah sih?" tanya Willy cemas.


"Gak ada yang marah, gue gak mau ikut karena gue udah janji sama Cindy dan Elsa buat ke toko buku bareng. Ada novel baru soalnya," jawab Aurora.


"Yah elah, itu mah gak penting!" ujar Willy.


"Kata siapa gak penting? Aku suka banget tau sama novel itu!" ucap Aurora.


"Lebih suka sama novel itu atau aku?" tanya Willy.


"Ish, kenapa jadi nanya begitu? Pokoknya gue gak bisa ikut sama lu sekarang, gue harus pergi sama Cindy dan Elsa!" ucap Aurora.


Aurora beranjak dari kursinya, membawa tas serta handphone miliknya dan hendak menghampiri dua sahabatnya yang ada di belakang Willy.


Namun, Willy tak membiarkan Aurora pergi begitu saja dan malah mengambil ponsel milik gadis itu lalu menyimpannya di saku celana.


"Ih balikin hp gue Wil! Lu sekarang udah berbakat jadi copet ya?" geram Aurora.


"Hahaha, makanya kamu ikut sama aku. Baru deh nanti aku balikin hp kamu ini," ucap Willy.


"Wil, please lah jangan kayak gini! Balikin hp gue sekarang, lu gak bisa paksa gue buat ikut sama lu!" ucap Aurora kesal.


"Kenapa gak bisa? Kamu kan pacar aku, jadi aku punya hak buat ajak kamu ikut sama aku ke rumah sakit." kata Willy sambil tersenyum.


"Lu ingat ya Wil, kita itu—"


"Itu apa? Udah ya Rora sayang, kamu ikut aku atau hp ini aku sita selamanya!" potong Willy.


"Sita? Dih, jangan kurang ajar deh!" ujar Aurora.


"Aku gak kurang ajar, aku kan cuma mau kamu ikut sama aku. Nanti aku deh yang anterin kamu buat beli novel baru itu, kamu ikut aja ya sama aku sayang!" ucap Willy.


"Haish, gue bingung banget deh sama lu. Kenapa lu kayaknya posesif banget sama gue? Gue kan sekali-kali juga mau pergi bareng temen-temen gue, bosen tau sama lu terus." kata Aurora.


"Ah sayang, masa kamu bosen sih jalan bareng aku? Ayolah, ini kan kita mau ke rumah sakit jenguk anak-anak the darks! Aku yakin mereka pasti senang kalau dijenguk sama kamu!" ucap Willy meraih dua tangan gadis itu.


"Apa hubungannya coba? Kenapa mereka harus senang kalau gue jenguk? Yang ada tuh lu yang girang kali," ujar Aurora.


"Nah itu tau, emang aku bakal girang banget kalau kamu mau ikut sama kamu." ucap Willy.


Akhirnya Cindy serta Elsa muncul menghampiri mereka berdua disana, kedua gadis itu tampak heran melihat ketegangan di wajah Aurora.


"Eh Rora, lu kenapa?" tanya Cindy heran.


"Iya, udah ayo buruan kita ke toko buku sekarang! Pasti disana udah rame deh, ini kan perilisan perdana." sahut Elsa.


"Sorry guys! Kayaknya gue gak bisa ikut sama kalian deh sekarang, soalnya Willy gak kasih izin gue buat pergi kesana." ucap Aurora.


"Hah? Ya ampun Rora, ngapain juga lu harus patuh gitu sama Willy? Dia ini kan baru jadi pacar lu, belum suami lu. Harusnya lu gak perlu takut gitu lah sama dia!" ucap Cindy.


"Hey! Lu jangan hasut cewek gue buat jadi pacar durhaka dong!" ucap Willy.


"Hadeh Willy, makanya lu jangan terlalu kekang Aurora dong! Dia kan juga butuh refreshing tau bareng kita-kita," ucap Elsa.


"Enggak enggak, pokoknya gue tetap gak kasih izin Aurora buat pergi sama kalian!" ucap Willy tegas sembari mencengkeram tangan Aurora kuat.


"Awhh!" rintih Aurora.


******


Leo dan Jeki yang sedang ditugaskan membeli makan siang untuk anak-anak the darks di rumah sakit, tanpa sengaja justru dicegat oleh beberapa orang yang mengenakan motor trail.


Sontak kedua orang itu merasa bingung, mereka tampak ketakutan sekaligus cemas saat enam orang pria di depan mereka turun dari motor dan mendekat ke arah mereka.


"Kalian siapa dan mau apa?" tanya Leo berusaha tetap tenang.


"Kita bakal bikin kalian berdua susul teman-teman kalian di rumah sakit!" jawabnya.


"Hah? Jadi, kalian yang udah hajar Thoriq dan Farrel sampe masuk rumah sakit?" ujar Leo.


"Ya, begitulah. Dan sekarang kalian yang akan menyusul mereka!" ucap orang itu.


"Kurang ajar! Sebenarnya apa maksud kalian lakuin itu ke kita? Apa salah geng the darks sama kalian semua, ha?" ujar Jeki.


"Iya, kami gak pernah merasa punya salah sama kalian. Tapi, kenapa kalian justru ingin menghabisi kami semua?" sahut Leo juga penasaran.


"Lu berdua gausah banyak tanya! Siap-siap aja buat nyusul masuk UGD bareng teman-teman lu, dan bilang juga ke yang lain kalau mereka bakal jadi korban selanjutnya!" ucap orang itu.


Leo melirik ke arah Jeki, begitupun sebaliknya. Mereka sama-sama turun dari motor dan bersiap menghadapi keenam pria itu.


"Hahaha, mau ngelawan lu pada?" ujar orang itu.


"Kita gak akan pernah menyerah gitu aja sama kalian, kita bakal terus melawan walau sesulit apapun itu!" ucap Leo tegas.


"Iya, itulah mental anak-anak the darks. Mau kalian sebanyak apapun, kita gak mungkin menyerah sebelum bertarung!" sahut Jeki.


"Baiklah, terserah kalian saja. Ayo semua, kita habisi mereka dengan cepat!" ucap orang itu.


Sontak enam orang pria tersebut langsung maju menyerang Leo dan Jeki dengan membabi buta, mereka tak membiarkan dua orang anggota the darks itu untuk memberikan perlawanan.


Leo dan Jeki berhasil dipaksa bertahan dan hanya mampu menangkis serangan-serangan mereka, hingga pada akhirnya kedua pria itu mulai lelah dan tak mampu lagi melawan.


Bruuukkk...


Dua lelaki itu pun tersungkur ke jalan, salah seorang yang menyerangnya langsung menarik kerah baju Leo dan kembali memukulnya.


Bughh...


"Jangan harap bisa melawan kami!" bentak orang itu dengan keras.


Setelahnya, mereka berenam pun pergi dari sana meninggalkan Leo dan Jeki dalam keadaan luka.


Bersambung....