My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 43. Fitnah Ilham



My love is sillie


Episode 43.



Cupp!


Dikecupnya puncak kepala Kiara, gadis itu memejamkan mata merasakan kehangatan yang jarang ia dapatkan dahulu.


Hingga tiba-tiba saja kaca mobil mereka dilempari batu oleh segerombolan pemotor di luar sana yang membuat Martin cukup terkejut.


Pluuggg...


Untungnya kaca mobil itu tidak pecah, namun tentunya agak sedikit mengganggu perjalanan mereka, terutama kaca bagian depan yang tampak retak dan menyulitkan supir untuk menyetir.


"Sialan! Siapa mereka?" umpat Martin kesal dan lalu meminta supirnya berhenti sejenak.


"Pak, berhenti sebentar! Saya ingin turun dan labrak mereka!" pinta Martin pada supirnya.


"Baik tuan!" ucap sang supir melipir sejenak.


Disaat Martin hendak turun, Kiara bergegas menahan Martin untuk tidak keluar dari dalam sana karena menurutnya itu sangat bahaya.


"Tuan, tolong jangan keluar! Ini bahaya tau, bisa aja mereka cuma pancing kita supaya kita keluar dan mereka bakal langsung rampok barang berharga kita!" ucap Kiara panik.


"Kamu tidak usah cemas, Kiara! Saya ini Martin, dan saya tidak takut apapun!" ujar Martin.


"Iya tuan, tapi ini beda. Orang-orang di luar itu anak berandalan yang gak pandang bulu, mereka bisa serang siapapun!" ucap Kiara.


Martin menatap Kiara secara intens, menangkup wajah gadis itu lalu mengusapnya lembut.


"Tidak perlu mencemaskan saya, saya tahu yang harus saya lakukan. Kamu diam aja disini ya Kiara, saya pasti baik-baik aja kok!" ucap Martin.


"Tapi tuan..."


"Sssttt sudahlah Kiara! Saya janji sama kamu kalau saya akan baik-baik saja, dan saya akan kembali kesini lagi nanti! Kamu tenang saja cantik, jangan panik ya!" potong Martin.


Kiara mengangguk pelan, Martin mengecup sekilas bibirnya sebelum turun dari mobil.


Tampak Kiara terus melihat ke luar dengan raut cemasnya, ia khawatir Martin akan terluka.


"Duh, tuan kenapa ngeyel banget sih?!" batinnya.


Sementara Martin sekarang sudah berhadapan langsung dengan para pemotor yang tadi menyerang mobilnya itu.


"Hey! Siapa dan mau apa kalian? Berani sekali kalian serang mobil saya, apa kalian tidak tahu saya ini siapa?! Saya bisa bikin kalian semua bertekuk lutut di hadapan saya!" ujar Martin.


"Hahaha, gausah mimpi deh lu! Udah cepat serahin semua uang lu ke kita, atau kita bakal bikin lu babak belur!" ujar salah seorang dari mereka.


Martin menyipitkan matanya, melihat tanda di jaket orang-orang itu yang sepertinya pernah ia lihat.


"Logo itu sepertinya saya pernah lihat, tapi dimana ya...??" gumam Martin dalam hati.


"Woi tua! Buruan serahin uang lu ke kita, jangan cari gara-gara sama geng kita! Asal lu tahu ya, kita ini penguasa di jalanan!" ujar orang itu lagi.


"Iya tuh, ayo cepet serahin!" sahut yang lain.


"Saya gak akan serahkan uang saya pada kalian, silahkan cari saja di tempat lain!" ucap Martin.


"Wah bener-bener minta dibantai ya lu! Guys, kita serang dia!" ucap pemuda itu.


"Ayo gas!" sahut yang lainnya.


Segerombolan pemotor itu langsung menyerang Martin dengan membabi buta, namun berhasil ditangani oleh Martin dengan sangat tenang.


Bahkan, justru mereka yang tampak gentar saat Martin mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.


"Waduh! Gawat bro, dia punya pistol! Bisa mati kita kalo terus-terusan ada disini, mending kita cabut aja yuk!" ucap salah seorang dari mereka.


"Iya deh, gue juga ngeri bro!" ujar yang lain.


Akhirnya anak geng motor itu langsung pergi dari sana dengan motor mereka masing-masing.


"Hahaha, segitu doang mental kalian? Dasar anak-anak geng cupu!" ucap Martin tertawa puas.


Setelahnya, Martin pun kembali ke dalam mobilnya dan menemui Kiara yang tampak lega karena Martin baik-baik saja.


Tanpa basa-basi, Kiara langsung memeluk Martin dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada sang kekasih untuk menetralkan kepanikan yang tadi sempat melanda dirinya.


******


"Kamu mau aku suapin gak?" Willy menawarkan diri untuk menyuapi Aurora saat mereka tengah menikmati makanan di kantin.


Sontak saja gadis itu tampak tersipu, dirinya melirik ke segala arah untuk memastikan apakah ada yang memperhatikan mereka atau tidak.


Willy tersenyum melihat ekspresi Aurora saat ini, ia raih satu tangan gadis itu dan digenggamnya erat sehingga membuat Aurora terkejut, lalu reflek menatap ke arahnya.


"Wil, jangan pegang-pegang ah!" protes Aurora.


"Gapapa dong, abisnya gue tanya lu eh lu nya malah diem aja. Jelas aja gue kesel dong, kan gue pengen ngobrol sama lu!" ujar Willy.


"Eee iya sorry, gue minta maaf! Tadi gue gak fokus," ucap Aurora masih terus gugup.


"Lu nyariin siapa sih? Si Max yang selalu deketin lu itu, ha?" tanya Willy curiga.


"Ah bukan, gue gak nyariin dia. Lagian buat apa juga gue nyariin dia? Lu jangan salah paham gitu lah, gue tuh cuma takut aja kalau ada yang perhatiin kita dan mereka ngerasa risih atau gak suka gitu lihat kita begini." jawab Aurora.


"Kenapa? Lu gausah lah mikirin orang lain, biarin aja mereka mau kayak gimana kek! Toh kita begini juga gak ganggu mereka, ya kan? Namanya orang pacaran ya wajar-wajar aja lah," ucap Willy.


"Wil, tapi kita kan—"


"Sssttt gak ada tapi tapi! Bagi gue, kita udah bukan pura-pura lagi kok." potong Willy.


"Apa??" Aurora terkejut mendengar itu.


Willy hanya terkekeh, melepas genggaman tangannya lalu meminum minuman miliknya.


Aurora sedikit memajukan wajahnya untuk berbisik pada Willy.


"Maksud lu apa? Kita kan cuma pura-pura, bukan beneran!" ucap Aurora dengan suara pelan.


"Gue pengennya beneran, kenapa?" jawab Willy.


"Ish, lu udah gak waras ya Wil! Nyesel deh gue biarin bokap lu buat daftarin lu sekolah disini," ucap Aurora kembali mundur dan cemberut.


"Hahaha, kok nyesel sih? Bukannya lu suka ya ada gue disini?" goda Willy.


"What? Sejak kapan gue bilang kayak gitu? Justru gue ngerasa risih tau ada lu disini, gue jadi gak bisa bebas gerak kemana-mana." ucap Aurora.


"Oh jelas dong, niat gue pindah kesini kan emang buat jagain lu. Jadi, lu harus sama gue terus selama di sekolah ini!" ujar Willy.


"Kenapa harus gitu?" tanya Aurora bingung.


"Karena gue kan pacar lu, jadi gue berhak buat jagain lu dan gak bolehin lu buat kemana-mana sendiri! Lu juga harus nurut sama gue, jangan ngebantah!" tegas Willy.


"Ya ya ya, mentang-mentang gue mau jadi murid lu terus lu bisa bertindak seenaknya gitu sama gue? Dengar ya Wil, gue itu juga berhak buat putusin apa yang mau gue lakuin. Lu gak bisa dong larang gue kayak gini!" protes Aurora.


Willy manggut-manggut saja tanpa menjawab perkataan Aurora barusan.


Tentu Aurora tampak kesal karena dicuekin oleh pria di hadapannya, ia langsung mencubit lengan Willy dengan kasar dan membuat pria itu menjerit.


"Sayang, kamu kalo mau begituan nanti aja dong di rumah. Jangan disini tau, malu!" ucap Willy sengaja ingin mempermalukan gadisnya.


"Ish, apaan sih?! Emang gue ngapain? Kan gue cuma cubit lu," ujar Aurora.


******


Saat pulang sekolah tiba, Willy dengan cepat menghampiri Aurora yang masih membereskan barang-barang miliknya disana.


Pria itu terduduk di atas meja dan memandangi wajah Aurora sambil tersenyum, membuat gadis itu salah tingkah.


"Lu ngapain sih?" tanya Aurora heran.


"Ngeliatin lu," jawab Willy santai.


"Wil, jangan duduk di meja kayak gini! Nanti kalau dilihat guru pasti lu dimarahin!" ucap Aurora.


"Gapapa, kan tadi gurunya udah keluar. Lagian cuma duduk kan gak masalah," ucap Willy.


"Lu susah banget sih dibilangin! Anak baru itu harus nurut sama anak lama!" ujar Aurora.


"Ohh gitu ya..??" ledek Willy.


"Ish dasar nyebelin!" cibir Aurora.


"Haha, udah buruan masukin tuh semua barang lu ke tas! Abis itu kita pulang bareng," pinta Willy.


"Rora, gue duluan ya?" ucap Clara pamitan.


"Eh iya iya.." balas Aurora.


"Hati-hati lu!" ucap Willy sambil tersenyum.


Clara hanya tersenyum tipis, lalu pergi dari sana meninggalkan sepasang anak muda yang tengah menjalani masa pendekatan itu.


Sementara Elsa serta Cindy juga pamitan pada Aurora dan Willy disana, mereka tidak ingin mengganggu dua sejoli tersebut.


"Aurora, Willy, kita berdua pamit dulu ya?" ucap Elsa mewakili sohibnya.


"Oh oke! Kalian juga hati-hati! Tenang aja, Aurora aman kok sama gue!" ucap Willy tersenyum.


"Sip!" ucap Elsa dan Cindy bersamaan.


"Bye semua!" dua gadis itu melambaikan tangan ke arah Willy serta Aurora kemudian melangkah pergi dari sana.


Sementara Willy turun dari meja, lalu memaksa untuk duduk di samping Aurora walau gadis itu jelas-jelas melarangnya.


"Ih lu ngapain sih?!" protes Aurora.


"Sssttt gue cuma mau dekat sama lu kok!" ucap Willy tersenyum manis.


"Apaan sih?!" ucap Aurora tak suka.


Willy malah merangkul pundak Aurora dan mendekapnya erat sembari mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.


Cupp!


Pria itu mengecup kening serta pipi Aurora berkali-kali, padahal di kelas itu masih terdapat cukup banyak murid alias teman sekelas mereka.


"Wil, jangan kayak gini ah!" pinta Aurora.


"Gapapa, gue pengen mesra-mesraan sama lu. Tolong jangan tolak gue ya cantik!" ucap Willy.


"Ta-tapi Wil—"


"Gue sayang sama lu, gue pengen terus dekat sama lu Aurora! Ayolah, gausah malu-malu begitu cantikku!" potong Willy.


"Iye iye, tapi gue beres-beres dulu ini. Abis itu kita balik bareng, nah lu bisa deh bebas deketin gue kalau di luar sekolah. Oh ya, sekalian juga lu mau ajarin gue ilmu jalanan kan." kata Aurora.


"Iya sih, yaudah sini gue bantu beresin barang-barang lu ya?" ucap Willy.


Aurora mengangguk setuju, mereka pun memasukkan semua barang milik Aurora ke dalam tas gadis itu.


Setelah selesai, tentu saja Willy tak mau berlama-lama lagi. Ia langsung menarik Aurora secara paksa dan membawanya keluar kelas.


Sepanjang perjalanan, mereka juga terus bergandengan tangan dengan Willy yang masih mendekap erat gadisnya itu.


"Wil, kita mau kemana sekarang?" tanya Aurora.


"Gue bakal bawa lu ke markas the darks yang baru, abis itu kita senang-senang disana bareng mereka. Gue jamin deh lu pasti suka banget ada disana!" jawab Willy.


"Eee berarti gue cewek sendiri dong?" tanya Aurora agak ragu.


"Iya, emang kenapa? Lu takut bakal kita apa-apain?" ucap Willy.


Aurora terdiam dan seketika wajahnya memerah.


******


Anak-anak geng yang sebelumnya menyerang Martin, kini telah tiba di markas mereka.


Ya mereka tak lain adalah anggota baru geng black jack yang sedang dites oleh Ilham selaku ketua mereka untuk menilai apakah mereka pantas berada disana atau tidak.


Tampak kelima anak geng baru tersebut turun dari motor mereka masing-masing dan menghadap ke arah Ilham sambil melipat kedua tangan di depan.


"Ham, mereka udah balik tuh!" ujar Billy.


Ilham mengalihkan pandangan ke arah mereka sambil tersenyum tipis, ia pun berdiri dan mendekati mereka semua.


"Hahaha, gimana tes yang gue kasih ke kalian? Dapet berapa duit kalian, ha?" tanya Ilham.


"Eee ini Ham, kita cuma bisa dapat uang segini. Itu juga dari para pedagang yang ada di pinggir jalan, maaf banget ya kalo cuma sedikit!" jawab salah seorang dari mereka menyerahkan sejumlah uang kepada Ilham.


"What? Payah banget sih kalian, disuruh malak masa cuma dapet segini?! Gimana kalian bisa ikut gabung ke geng black jack? Ini mah kurang banyak tau!" ujar Ilham.


"Sorry Ham! Sebenarnya tadi kita sempat hampir berhasil ngebegal orang kaya di jalan, tapi ternyata kita salah pilih korban karena orang itu punya senjata api." ucap Angga (calon anggota baru).


"Iya Ham, jelas aja kita langsung kabur dari sana. Kita gak berani lawan dia," sahut Sean.


"Ah ya udah lah, gausah dibahas lagi yang udah lewat mah! Masih ada kesempatan dua hari lagi buat kalian cari uang sebanyak mungkin, perluas wilayah kekuasaan black jack dan kasih tahu sama seluruh orang bahwa black jack adalah penguasa jalanan!" ucap Ilham.


"Siap Ham!" ucap mereka serentak.


"Oh ya, untuk sementara ini kalian pakai terus jaket the darks itu! Supaya identitas kita gak diketahui sama polisi, tapi tetap kalian bakal pakai jaket black jack suatu saat nanti!" ucap Ilham.


"Oke Ham! Kita ngerti kok!" ucap Angga.


Ilham tersenyum smirk sembari menyerahkan uang di tangannya kepada Choky.


"Setelah ini, gue yakin orang-orang pasti bakal banyak banget yang benci sama geng the darks! Mereka semua gak mungkin mau terima geng the darks dibangkitkan lagi, dan kita black jack akan muncul untuk mengambil simpati masyarakat supaya mereka percaya sama kita!" ucap Ilham.


"Strategi lu emang cerdas, Ham! Bisa-bisanya lu bikin replika jaket anak-anak the darks, emang keren lu!" ucap Geri memuji ketuanya.


"Ini belum seberapa, masih ada yang perlu kalian lihat lagi nanti. Sekarang kita nikmati dulu hasil hari ini, gue yakin the darks semakin terpuruk dan gak mungkin bisa bangkit lagi!" ucap Ilham.


"Hahaha, bener tuh! Biarin dah mereka pada bubar selamanya!" ujar Billy tertawa puas.


Mereka semua pun tampak berpesta disana, Ilham menyuruh Billy dan Geri membeli beberapa minuman alkohol sebagai pelengkap pesta mereka.


Bersambung...