My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 116. Martin vs Rimba



My love is sillie


Episode 116



"Bagus deh! Terus, sekarang kalian gak pada mau traktir gue apa? Gue kan baru kali ini kumpul sama kalian lagi," ucap Aurora.


"Hah? Idih enak aja lu kalo ngomong! Diantara kita bertiga yang paling kaya itu lu, masa lu malah minta traktir sama kita?!" cibir Elsa.


"Tau tuh, harusnya lu yang traktir kita bukan sebaliknya!" sahut Cindy.


"Hehe, gue lagi bokek tau sekarang.. makanya gue lebih sering bareng Willy, selain suka ya karena gue juga ditraktir sama dia," ujar Aurora.


"Yeh dasar lu! Kasihan dong si Willy cuma dimanfaatin sama lu!" ucap Cindy.


"Hus, kalo ngomong sembarangan! Gue kan juga cinta sama Willy, ngada-ngada aja lu!" tegur Aurora.


"Iya iya, gue bercanda kok. Yaudah, ayo gas ke kantin! Untuk kali ini gapapa deh gue yang traktir lu," ucap Cindy.


"Serius?" tanya Aurora.


Cindy hanya mengangguk tanda iya.


"Waw keren lu Cindy! Terus, gue ditraktir juga kan?" tanya Elsa.


"Dih apaan? Duit gue cuma cukup buat traktir Aurora doang, lu mah bayar sendiri lah!" tegas Cindy.


"Iya iya, santai dong gausah ngegas gitu ngomongnya!" kesal Elsa.


"Hey, udah lah! Kalian apa sih? Kenapa malah pada ribut coba? Ayolah kita ke kantin, gue udah lapar nih!" ucap Aurora.


"Siap bos Aurora yang cantik!" ucap Cindy dan Elsa dengan kompak.


Aurora terkekeh lebar, lalu melangkah bersama kedua sahabatnya menuju kantin.


Akan tetapi, mereka justru berpapasan dengan Max yang berdiri tepat di hadapan mereka.


"Tahan dulu guys, gue mau bicara sebentar sama gadis cantik di tengah itu!" ucap Max menunjuk ke arah Aurora.


"Ngapain lu nunjuk-nunjuk gue? Lo mau bicara apa emang sama gue?" tanya Aurora ketus.


"Sayang, ikut aku sebentar yuk ke atap! Aku mau sampaikan sesuatu sama kamu," jelas Max.


"Kalo lu mau ngomong sama gue, ngomong aja disini gausah di atap segala! Gue gak mau cuma ngobrol berdua sama lu, nanti yang ada lu malah modus ke gue," ujar Aurora.


"Iya tuh, udah Max lu bicara aja disini sih sama Aurora! Kita gak akan ikut campur kok," ucap Cindy.


"Diem lu Cindy!" tegur Max.


Cindy dan Elsa saling melirik satu sama lain, menggeleng pelan saat Max membentak mereka.


"Udah cepetan, lu mau ngomong apa sama gue?!" ujar Aurora penasaran.


"Gue cuma mau ngomong kalau dua gadis di sebelah lu itu pergi dari sini, karena gue pengen bicara berdua sama lu," ucap Max.


"Gue kan tadi udah bilang, gue gak mau bicara sama lu kalau cuma berdua. Sekarang semua terserah lu, mau bicara silahkan gak mau bicara juga gue gak perduli," ucap Aurora.


"Kamu kok gitu sih sayang? Ayolah, sebentar aja kok kita bicara di rooftop! Aku janji gak akan apa-apain kamu deh!" bujuk Max.


"Udah deh Max, mending lu jangan ganggu Aurora lagi! Dia itu udah punya Willy, jadi stop deketin dia!" ucap Elsa membela sohibnya.


Max hanya tersenyum smirk, ia memberanikan diri mendekat dan mencengkeram lengan Aurora.


"Ih lepasin!" kaget Aurora.


******


"Willy!" Kiara berteriak keras memanggil lelaki yang sedang terduduk santai bersama teman-temannya disana itu.


Sontak Willy terkejut mendengar suara Kiara, ia menoleh dan menatap santai ke arahnya.


Willy pun tersenyum lebar, seketika ia penasaran saat melihat ekspresi cemas dari Kiara.


"Ada apa Kiara? Kenapa kamu panggil aku dengan wajah panik kayak gitu?" tanya Willy terlihat penasaran.


"Gawat Wil! Kamu harus segera ke lorong sekarang, disana Aurora lagi dipaksa sama Max buat bicara!" jelas Kiara.


"Hah? Serius kamu??" tanya Willy kaget.


"Iyalah Willy, buat apa aku bohong? Kalau kamu gak percaya, kamu datang aja sendiri kesana!" jawab Kiara.


"Sialan tuh cowok! Masih aja dia berani buat deketin Aurora, emang minta dikasih pelajaran!" Willy menggeram kesal sembari mencengkram gelas minuman miliknya.


"Santai dulu Wil! Lo gak boleh kepancing emosi, inget ini di sekolah!" ucap Akram.


"Gimana gue bisa sabar? Tuh anak makin berani aja sentuh cewek gue, dia harus dikasih pelajaran biar gak kayak gitu terus!" kesal Willy.


"Iya Wil, kita ngerti gimana kesalnya lu. Tapi, lu harus bisa tahan emosi!" ucap Akram.


"Ah udah lah gue gak perduli! Kiara, kamu ikut aku sekarang dan kasih tahu dimana Aurora sama si Max itu!" ucap Willy.


"I-i-iya Wil.." ucap Kiara.


Willy bangkit dan menggandeng lengan Kiara, keduanya mulai melangkah menghampiri Aurora dengan emosi.


"Wil, lepasin aku Wil! Bisa gawat kalau sampai Aurora lihat kamu lagi pegang tangan aku!" pinta Kiara sembari menarik-narik tangannya.


"Kamu diam aja Kiara! Kamu cukup kasih tau aja kemana arahnya, jangan berontak!" tegas Willy.


"Tapi Wil, Aurora pasti marah nanti dan dia bisa salah paham lihat kita. Aku gak mau kena masalah dalam hubungan kalian ya," ucap Kiara.


"Kamu kenapa sih Kiara? Semudah itu ya kamu lupain aku? Gak ingat apa dulu kita gimana sewaktu pacaran?" tanya Willy dengan kecewa.


"Iya aku ingat, tapi itu semua kan udah masa lalu. Sekarang kamu jangan begini lagi!" ucap Kiara.


"Kamu diam aja deh Kiara! Kalau kamu ngomong terus, kapan kita sampainya? Nanti keburu si Max itu apa-apain Aurora, aku gak mau itu sampai terjadi!" tegas Willy.


"Ya tapi lepasin dulu tangan aku, aku gak mau ada salah paham lagi nantinya! Kamu tolong ngertiin aku dong!" ucap Kiara.


"Diam!" bentak Willy.


Kiara benar-benar tak mengerti mengapa Willy tidak mau melepas tangannya, padahal sudah berkali-kali ia meminta untuk dilepaskan.


"Kiara, dimana Aurora?" tanya Willy sambil celingak-celinguk.


"Eee itu dia disana!" jawab Kiara menunjuk ke depan.


******


"Tahan dulu guys, gue mau bicara sebentar sama gadis cantik di tengah itu!" ucap Max menunjuk ke arah Aurora.


"Ngapain lu nunjuk-nunjuk gue? Lo mau bicara apa emang sama gue?" tanya Aurora ketus.


"Sayang, ikut aku sebentar yuk ke atap! Aku mau sampaikan sesuatu sama kamu," jelas Max.


"Kalo lu mau ngomong sama gue, ngomong aja disini gausah di atap segala! Gue gak mau cuma ngobrol berdua sama lu, nanti yang ada lu malah modus ke gue," ujar Aurora.


"Iya tuh, udah Max lu bicara aja disini sih sama Aurora! Kita gak akan ikut campur kok," ucap Cindy.


"Diem lu Cindy!" tegur Max.


Cindy dan Elsa saling melirik satu sama lain, menggeleng pelan saat Max membentak mereka.


"Udah cepetan, lu mau ngomong apa sama gue?!" ujar Aurora penasaran.


"Gue cuma mau ngomong kalau dua gadis di sebelah lu itu pergi dari sini, karena gue pengen bicara berdua sama lu," ucap Max.


"Gue kan tadi udah bilang, gue gak mau bicara sama lu kalau cuma berdua. Sekarang semua terserah lu, mau bicara silahkan gak mau bicara juga gue gak perduli," ucap Aurora.


"Kamu kok gitu sih sayang? Ayolah, sebentar aja kok kita bicara di rooftop! Aku janji gak akan apa-apain kamu deh!" bujuk Max.


"Udah deh Max, mending lu jangan ganggu Aurora lagi! Dia itu udah punya Willy, jadi stop deketin dia!" ucap Elsa membela sohibnya.


Max hanya tersenyum smirk, ia memberanikan diri mendekat dan mencengkeram lengan Aurora.


"Ih lepasin!" kaget Aurora.


"Woi! Sialan banget lu pegang-pegang tangan temen gue, lepasin dia!" Cindy dan Elsa kompak berusaha membantu Aurora lepas dari genggaman pria itu.


"Heh! Kalian gausah ikut campur deh, atau tangan Aurora ini gue patahin!" ancam Max.


"Hah? Gila lu ya Max, jangan macam-macam deh! Lo pengen digeprek sama Willy ya?!" ujar Cindy.


"Hahaha, yaudah kalian diem aja dan jangan bantu Aurora! Gue cuma mau ngobrol sama dia, jadi kalian jangan ikut campur!" ucap Max.


"Kurang ajar lu Max!" geram Elsa.


"Max, lepasin gue! Gue gak mau ngobrol sama lu!" ujar Aurora kesal.


"Ayo kamu ikut aja sayang!" paksa Max.


Max terus menarik paksa lengan Aurora untuk ikut dengannya, Cindy dan Elsa juga masih berusaha membantu sohib mereka itu tetapi gagal.


"Sayang!" Max dan yang lainnya terkejut, mereka kompak menoleh ke asal suara.


"Lepasin pacar gue, jangan bikin gue emosi!" bentak Willy.


******


Anak-anak the darks kembali ke markas dengan kondisi terluka akibat perkelahian mereka melawan Martin serta anggota black jack.


Mereka tampak emosi, lebam di wajah mereka tampak cukup banyak. Bahkan Zafran masih tak terima dengan kekalahan mereka kali ini.


"Aaarrgghh sial! Tuh si Martin makan apaan sih? Kuat banget gila gak kalah-kalah!" geram Arif.


"Gak tahu, gue juga heran sama tuh anak. Kayaknya kita harus lapor Willy deh!" ujar Leo.


"Tapi, Willy bukannya baru sembuh? Emang dia bisa lawan Martin sekarang?" tanya Jeki.


"Itu urusan dia, yang penting kita udah lapor kalau kita diserang sama anak black jack," jawab Arif.


"Tunggu dulu guys! Kita lapor ke Willy pas dia ada disini aja, jangan sekarang!" ucap Zafran.


"Kalau dia gak kesini gimana? Kan lu tahu sendiri si Willy suka sibuk sama cewenya," ujar Arif.


"Sesibuk-sibuknya Willy sama pacarnya, pasti dia bakal tetap datang kesini," ucap Zafran.


"Betul tuh! Kita tunggu aja dulu, pasti si Willy bakal datang kok!" sahut Syakur.


Arif dan yang lainnya manggut-manggut saja, mereka memilih sabar menunggu sampai Willy datang ke markas itu.


Tak lama kemudian, Tedy datang bersama Thoriq ke markas the darks. Hal itu membuat Zafran serta anggota lainnya cukup terkejut.


"Halo guys!" sapa Tedy dan Thoriq.


"Wih Thoriq! Lo dateng lagi nih? Mau kumpul sama kita-kita lagi ya?" ujar Zafran.


"Sebenarnya enggak bro, gue tadi gak sengaja ketemu aja sama Tedy di jalan," jelas Thoriq.


"Loh kok bisa?" tanya Arif penasaran.


"Nanyanya nanti-nanti dulu lah, gue sama Thoriq pegel nih pengen duduk. Masa kita gak disuruh duduk?" protes Tedy.


"Hehe, iya iya ayolah lu berdua pada duduk sini! Abis itu cerita sama kita, kenapa kalian bisa pas ketemu di jalan!" ucap Arif.


Tedy dan Thoriq mengangguk, lalu duduk di tempat mereka bersama-sama.


"Nah kan udah duduk nih, jadi lu berdua mau cerita mulai darimana nih? Soalnya gue udah penasaran banget," ujar Arif.


"Iya, gue juga sama penasarannya kayak Arif. Cerita dong Riq, Ted!" sahut Zafran.


"Oke oke, biar Thoriq aja yang ceritain deh! Gue haus nih mau minum dulu," ucap Tedy.


"Yeh sekalian beliin buat gue dong!" pinta Thoriq.


"Iya iya.." Tedy menurut, ia bangkit dari duduknya dan membeli minuman di warung dekat sana.


Sementara Thoriq tetap disana untuk menceritakan semuanya.


"Ayo Riq, cerita dong cerita!" ujar Zafran.


"Jadi gini guys, tadi itu gue ketemu sama Tedy waktu dia dikerumuni anak-anak thunder di jalan," jawab Thoriq.


"Hah??" mereka semua kompak terkejut.


******


"Geng thunder!"


Sekumpulan orang yang sedang asyik berkumpul itu dibuat terkejut dengan kedatangan anak-anak black jack di tempat mereka.


Ya mereka adalah geng thunder, musuh bebuyutan the darks yang sedang dicari-cari oleh Martin serta anggota black jack saat ini.


"Akhirnya kita bisa temuin kalian juga, udah kesana-kemari eh ternyata kalian disini," ujar Martin.


"Siapa kalian? Mau apa kalian nyariin kita?" tanya Rimba si ketua geng thunder.


"Kenalin, gue Martin. Gue sama teman-teman gue mau ajak kalian kerjasama," jawab Martin.


"Kerjasama? Dalam hal apa?" tanya Rimba penasaran.


"Kita tahu kalian benci banget sama the darks dan Willy, untuk itu kita mau ajak kalian kerjasama buat abisin mereka," jelas Martin.


"Cih! Kita gak perlu kerjasama sama kalian cuma buat kalahin Willy dan anak the darks, itu terlalu mudah buat kita," tolak Rimba.


"Heh, jangan sombong deh lu!" geram Billy.


Martin menahan Billy yang hendak maju itu, "Sabar Bil, lu gak boleh emosi! Biar gue yang hadapi mereka," cegah Martin.


"Iya bang, sorry!" ucap Billy menurut.


"Hahaha, itu emang kenyataan kok. Kita ini udah kuat, jadi kita gak perlu bantuan dari kalian untuk abisin anak-anak the darks," ucap Rimba.


Martin tersenyum dan kembali menatap seluruh anggota geng thunder itu.


"Gue tahu kalian hebat, tapi mengalahkan the darks gak semudah yang kalian kira. Apa salahnya kita kerjasama? Bukannya itu lebih memudahkan kita untuk menghancurkan mereka?" ujar Martin.


Rimba menatap seluruh anggotanya, mereka berdiskusi sejenak memikirkan tawaran Martin.


"Kita udah diskusi, dan kita tetap gak mau kerjasama sama kalian. Gue sama anak-anak pengennya bisa kalahin the darks tanpa bantuan orang luar, lu harus ngerti soal itu!" ucap Rimba.


"Oke! Berarti tandanya kalian tantang kita, sekarang kalian semua bakal kita abisin supaya kalian gak bisa lakuin niat kalian itu!" ucap Martin.


"Banyak gaya lu!" kesal Rimba.


"Seraaaangg!!" Martin berteriak keras, seluruh anggota black jack pun maju menyerang Rimba serta kawan-kawannya disana.


Martin tak mau kalah, dia juga turut menyerang geng thunder secara membabi buta.


Serangan demi serangan dilayangkan Martin ke tubuh Rimba, membuat Rimba kesulitan untuk meladeninya.


Bruuukkk...


Bersambung....