
My love is sillie
Episode 144
•
"Ohh gitu..." tanpa aba-aba, Willy menarik tengkuk Aurora dan mencium bibirnya cukup lama.
"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora coba berontak tetapi gagal.
Perlahan Willy mulai mendorong tubuh Aurora hingga menempel di tembok, memperdalam ciumannya sambil terus memaksa lidahnya untuk masuk.
Aurora yang tak mampu melawan, akhirnya membuka mulutnya dan memberi akses bagi Willy untuk bermain disana.
Merasa Aurora mulai kehabisan nafas, Willy pun melepas sejenak tautan mereka dan itu langsung dimanfaatkan Aurora untuk mengambil nafas.
"Haaahhh haaahhh.."
"Kamu benar-benar gak waras ya Willy!" kesal Aurora pada kekasihnya.
"Hahaha..."
"Ish malah ketawa, gak lucu tau! Aku sebel banget pokoknya sama kamu!" kesal Aurora.
"Hey, iya iya aku minta maaf!" ujar Willy sembari memeluk gadisnya itu dan mengusapnya lembut.
"Tadi itu aku terlalu naf-su sama kamu, jadinya aku lupa buat lepas ciumannya dan bikin kamu susah nafas. Maafin aku ya Aurora yang cantik jelita!" bujuk Willy.
Aurora hanya memutar bola mata malas, Willy pun menangkup wajahnya dan kembali mengecup bibir manis yang menjadi candu baginya itu.
Cup!
"I love you Aurora sayang!" ucap Willy.
"Willy, nak Aurora!" panggil Bu Ani.
Seketika Aurora dan Willy kompak terkejut melihat keberadaan Bu Ani serta Sasha disana.
"Hah ibu??" kaget Willy.
"Duh duh duh, kalian ini dilihat-lihat makin dekat dan mesra aja sih! Ibu jadi iri deh lihatnya, semoga kalian berdua langgeng terus ya!" ucap Bu Ani.
"Hehe, iya Bu aamiin! Insyaallah abis lulus aku bakal nikahin Aurora!" ujar Willy.
"Hah??" Aurora terkejut bukan main.
"Eh, kamu kenapa kayak gak senang gitu Aurora? Kamu gak mau dinikahin sama aku?" tanya Willy.
"Bu-bukan gitu Willy, tapi kan kamu udah janji buat nungguin aku lulus kuliah dulu," jawab Aurora.
"Iya juga sih," lirih Willy.
"Lagian ngapain sih kamu mau buru-buru nikahin nak Aurora? Takut diambil orang lain ya?" ujar Bu Ani sambil terkekeh kecil.
"Itu salah satu alasannya Bu, soalnya Aurora ini kan cantiknya bukan main. Aku gak mau lah ada cowok lain yang embat dia," jawab Willy.
"Ngomong apa sih kamu? Mana ada yang berani rebut aku dari kamu? Yang ada mereka nanti bakal dihajar dan dibikin masuk ke UGD sama kamu," ucap Aurora.
"Hahaha, iyalah itu yang bakal aku lakuin kalau sampai ada yang deketin kamu!" kekeh Willy.
"Udah udah, ngobrolnya disambung sambil makan aja! Ini udah mau siang loh, nanti kalian telat sekolah gimana?" potong Bu Ani.
"Oh iya, keasyikan ngobrol sama cewek cantik sih Bu jadi lupa waktu!" ucap Willy sambil menatap wajah Aurora.
Seketika Aurora kembali tersipu mendengar ucapan yang dilontarkan Willy.
"Cie cie mukanya merah cie," goda Willy.
"Apa sih kamu? Malu tau ada ibu sama teman kamu!" sentak Aurora.
"Gausah malu, mereka mah gak akan masalahin itu kok. Ya kan Bu? Sasha?" kekeh Willy.
"Eee..." Sasha tampak gugup dan bingung.
"Hahaha, udah lah kalian jangan mesra-mesraan terus! Yuk kita sarapan mumpung masih ada waktu!" ujar Bu Ani.
"Tau nih Willy, malah godain aku terus!" cibir Aurora.
******
"Sssttt udah diem aja sayang! Kamu nyaman kan diginiin?" goda Randi.
"Gak nyaman, yang ada aku malah deg-degan takut ada yang lihat kita. Udah lah Randi, cepet lepasin tangan kamu!" sentak Ayna.
"Kalau aku gak mau gimana?" ucap Randi yang kini malah mengecup ceruk leher Ayna.
"Ahh.." de-sah Ayna tak tertahankan saat pria itu mengendus lehernya dengan mesra.
Tangan Randi bergerak semakin dalam, menyentuh bagian intim wanitanya dengan lembut yang membuat sang empu makin gelisah.
"Akh Ran, please!" lirih Ayna.
"Kamu suka kan? Nanti abis dari sini, kamu ke rumah aku ya? Supaya kita berdua bisa bebas ngapain aja," ucap Randi.
"Maksud kamu apa? Kamu mau ngapain ajak aku ke rumah kamu?" tanya Ayna.
"Gak ngapa-ngapain kok sayang, aku cuma pengen kenalin kamu sama rumah aku. Emang salah ya kalau aku bawa pacar aku ini ke rumah aku?" jawab Randi sambil tersenyum miring.
"Ya enggak sih, tapi beneran kan gak mau ngapa-ngapain? Awas loh ya kalau kamu mesum lagi disana!" ancam Ayna.
"Iya iya, gak bakal kok sayang," ucap Randi seraya mencubit hidung gadisnya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan membuat keduanya terkejut.
"Ehem ehem, misi pak bos!" sapanya.
Seketika Randi langsung mendongakkan wajahnya ke arah si pelayan, ia tersenyum tanpa menjauhkan tangannya dari inti Ayna.
"Ada apa sih? Saya kan belum panggil kamu, kenapa kamu udah datang?" tegur Randi.
"Eee..."
"Yeh malah bengong, ditanya sama bosnya itu dijawab bukan diam aja!" potong Randi.
"Maaf bos! Saya cuma mau tawarin makan atau minum aja gitu," ujar si pelayan.
"Hadeh, yaudah saya pesan coffe latte satu!" sentak Randi.
"Baik pak bos! Makanannya?" ucap si pelayan.
"Umm, nanti saya pikir-pikir dulu. Kamu buatin aja kopinya dan jangan ganggu saya!" ucap Randi.
"Eh sayang, aku belum pesen tau. Masa cuma kamu doang yang pesan minuman? Kan aku juga haus," ucap Ayna dengan nada manja.
"Oh iya ya, sampe lupa aku kalau ada kamu. Yaudah, kamu mau pesan apa cantik?" ujar Randi.
"Aku mau cappucino nya satu ya?" ucap Ayna pada si pelayan.
"Baik, ditunggu ya!" ucap si pelayan.
Lalu, pelayan itu pun pergi dan Randi serta Ayna kembali melanjutkan obrolan mereka.
"Kamu kok galak banget sih?" tanya Ayna.
"Gapapa, itu wajar." Randi menjawab dengan senyuman.
"Wajar darimana? Terus kamu bakal galak juga sama aku gitu dan bilang kalau itu wajar?" sentak Ayna dengan wajah betenya.
"Kok jadi ke kamu? Ya beda lah sayang," ucap Randi sambil tersenyum.
******
Kiara yang masih di dalam mobil, merasa bingung dan cemas melihat Martin serta Max berkelahi dengan geng motor itu. Ia khawatir jika salah satu diantara mereka akan terluka.
"Duh, aku harus gimana ya buat bubarin mereka? Apa aku telpon polisi aja?" gumam Kiara.
"Iya non, ada baiknya kita hubungi polisi non. Supaya tuan Martin juga bisa selamat," sahut sang supir.
"Eee i-i-iya deh pak, tapi bapak turun dong bantu tuan Martin lawan orang-orang itu!" ujar Kiara.
"Waduh! Saya bukan gak mau bantu tuan Martin non, kalau saya turun nanti non Kiara gimana?" ucap supir itu.
"Halah alasan aja kamu! Yaudah, saya mau telpon polisi dulu?" ucap Kiara.
"Siap non!" ucap si supir.
Kiara pun mulai menghubungi polisi.
Sementara itu, Martin terlihat mulai kehabisan tenaga karena harus melawan cukup banyak orang sekaligus disana.
Tak hanya Martin, bahkan Max pun sudah menjadi bulan-bulanan geng motor itu dan hampir pingsan karena tak mampu melawan lagi.
Bughh
Bughh
"Aakhhh ampun! Tolong hentikan gue gak kuat!" ucap Max memohon ampun pada mereka sambil terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Heh! Lo gak mau mati di tangan kita kan?" ujarnya.
Max menggeleng dengan tubuh gemetar.
"Yaudah, lu nurut sekarang sama kita dan ikut kita atau gue habisin lu sama temen lu itu!" ancamnya.
"Oke oke, gue mau ikutin kemauan kalian. Sekarang lepasin gue dan jangan serang bang Martin lagi!" ucap Max mengalah.
"Bagus!" ucap pria itu singkat.
Akhirnya orang-orang itu berhenti menyerang Martin sesuai kemauan Max.
"Uhuk uhuk! Max, kenapa lo malah suruh mereka berhenti dan serahin diri lo? Apa lo mau mati, ha?" tanya Martin pada Max.
"Sorry bang! Gue justru gak mau lu mati gara-gara bantuin gue!" jawab Max.
Deg!
"Lo jangan ngeremehin gue Max! Gue sanggup hadapi mereka walau sendiri!" ujar Martin.
"Enggak bang, jangan maksa!" ucap Max melarang Martin agar tidak nekat.
"Udah lo diem aja! Kalau lo masih maksa, kita abisin lu dan kirim lu ke kuburan!" ancam salah satu anggota geng tersebut.
"Gue gak takut sama ancaman lu! Kalian itu pengecut, beraninya keroyokan!" tantang Martin.
"Ohh nantangin? Mau mati lu? Iya?" mereka kembali mendekati Martin.
Dan disaat mereka hendak memukul Martin, tiba-tiba suara teriakan mengacaukan niat mereka.
"Berhenti!!!"
Suara itu berasal dari Kiara, sang kekasih Martin yang sudah turun dari mobil dan mendekati mereka disana.
******
"Bohong! Alasan macam apa kayak gitu? Tempat kuda aja gak ada di dekat sini, jangan ngarang deh kalian!" tegur si pria.
"Ya mending kalian ngaku aja kalau mau berbuat mesum!" sahut pria yang lain.
"Apa sih bang? Mana ada kita mesum disini? Kalaupun iya, kenapa kita begituan siang-siang coba kan bisa malam biar enak?!" sangkal Thoriq.
"Iya juga ya.."
"Yaudah kita percaya sama alasan kalian, tapi emang kalian ini siapa dan tinggal dimana?" tanya pria itu pada Thoriq.
"Kenalin bang, saya Thoriq dan ini pacar saya namanya Mia!" ucap Thoriq seraya mengulurkan tangan ke arah pria itu.
"Gue Jamal, terus ini teman gue Ujang. Kita pemburu disini dan setiap hari kita selalu kesini buat tangkap buruan kita, gak nyangka juga kita bisa ketemu kalian sekarang," jawab pria bernama Jamal itu.
"Ohh, salam kenal ya bang Jamal, bang Ujang!" ucap Thoriq agak grogi.
Jamal dan Ujang hanya mengangguk pelan disertai senyum tipis, lalu mereka menyudahi sesi salaman itu dan kembali berbincang.
"Kalian mau keluar dari hutan ini kan?" tanya Jamal.
"I-i-iya bang, abang berdua bisa bantu kita keluar dari sini?" jawab Thoriq.
"Ya bisa lah, itu mah hal kecil buat kita. Tapi sebelumnya, gue minta kalian temenin gue dulu buat cari mangsa di sekitar sini!" ucap Jamal.
"Mangsa? Mangsa apa maksudnya bang?" tanya Thoriq tak mengerti.
"Ya hewan buruan lah, gimana sih lo?!" jawab Jamal ketus.
"Hehe.."
"Ta-tapi bang, kita gak ngerti caranya cari hewan buruan. Berburu aja kita gak pernah, ya kan sayang?" ucap Mia.
"Eee i-i-iya, betul itu bang!" sahut Thoriq dengan sedikit gugup.
"Lu berdua tenang aja, kita pasti kasih tau caranya nanti! Yang penting sekarang kalian ikut aja dulu sama kita!" ucap Jamal.
"Oke deh bang! Tapi, bener kan kalian bakal bantu kita buat keluar dari hutan ini?" ujar Thoriq.
"Iya, yah elah kagak percayaan amat! Gue mah udah hafal sama daerah sini," ucap Jamal.
Thoriq manggut-manggut saja, ia pun terpaksa mengikuti kemauan Jamal dan Ujang, meski ia sedikit merasa ragu.
"Sayang, kamu yakin?" bisik Mia.
"Kamu tenang aja!" balas Thoriq singkat.
Mia mengangguk menurut dengan apa yang diucapkan Thoriq, memang tak ada pilihan lain bagi mereka selain mengikuti dua orang pemburu tersebut agar bisa lepas dari hutan itu.
"Bang, kita mau berburu hewan apa sih? Daritadi cuma muter-muter doang gak jelas," ujar Thoriq.
"Heh! Makanya lu bantu cari hewan yang bisa kita buru dong!" sentak Jamal.
"Hah??" kaget Thoriq.
******
"Hah??!" kaget Ilham. "Serius lo bro?" sambungnya terkejut bukan main.
"Ya iyalah, semakin banyak orang yang kita kumpulin, semakin besar juga kemungkinan kita buat abisin anak-anak the darks! Mereka itu punya Willy, jadi kita harus waspada!" ucap Rimba.
"Kelihatannya lu takut banget sama Willy, lu udah pernah tarung sama dia terus kalah ya?" ledek Ilham.
Braakkk...
"Lo jaga kata-kata lo anjir!!" bentak Rimba emosi sembari menggebrak meja disana.
"Bro sabar bro, rileks! Lo kenapa jadi emosi kayak gini? Lo lupa kalau lo sekarang lagi ada di markas kita?" ujar Ilham tersenyum miring.
Rimba melirik ke sekeliling, terlihat para anggota black di sekitarnya menatapnya dengan tajam.
"Lo harus jaga sikap disini bro, kalau gak mau kita hajar sampai lu masuk UGD!" ucap Ilham sekali lagi mengingatkan Rimba.
"Oke, gue minta maaf!" ucap Rimba mengalah.
"Hahaha, takut juga ya lo ternyata sama ancaman kita?" kekeh Ilham.
"Ya iyalah Ham, dia kan cuma sendiri disini. Kalau dia ngelawan, bisa jadi ayam geprek dia!" timpal Billy.
"Hahaha..." anggota black jack lainnya pun ikut tertawa.
"Jangan ketawain gue kayak gitu kalian! Kita ini kan mau kerjasama, gak boleh lah saling mengejek!" ucap Rimba.
"Ya ya, makanya lain kali lu jaga sopan santun kalau ada di wilayah kita!" ucap Ilham.
"Siap salah! Gue minta maaf!" ucap Rimba.
"Oke kita maafin, tapi awas ya kalo lain kali lu begitu lagi!" ucap Ilham.
Rimba menunduk saja tanpa bicara apapun.
Drrttt
Drrttt
Ponsel milik Ilham berdering, dia pun bangkit dan mengangkatnya sejenak.
Sementara Rimba serta para anggota black jack yang lain hanya terduduk diam disana.
"Heh! Kira-kira siapa yang telpon Ilham?" tanya Rimba pada mereka.
Namun, mereka hanya menaikkan kedua bahu.
"Kenapa kalian gak coba nguping dan dengerin pembicaraan Ilham di telpon? Siapa tahu dia ada bisnis lain kan?" usul Rimba.
Mereka semua pun saling pandang.
"Gak mungkin si Ilham begitu, dia kalau ada apa-apa pasti kasih tahu kita kok. Mungkin sekarang dia butuh privasi, kita gak perlu juga tau urusan pribadi dia!" ucap Billy.
"Iya, lagian kenapa lu kepo banget sih? Gausah ikut campur urusan orang!" timpal Choky.
"Galak amat, gue kan cuma nebak-nebak! Abisnya si Ilham terima telpon pake menjauh segala," ucap Rimba.
"Halah udah lu diem aja deh!" ujar Billy.
"Kurang ajar ya lu emang! Untung gue orangnya sabar, jadi gue gak mau ladenin kalian semua!" kesal Rimba.
"Hahaha, bilang aja lu takut sama kita-kita! Udah deh lu gausah banyak bicara!" ucap Billy.
Tak lama kemudian, Ilham kembali setelah selesai menerima telponnya. Ia sedikit heran melihat ketegangan diantara teman-temannya itu.
"Ada apa nih? Kenapa lu semua pada tegang kayak gitu?" tanya Ilham.
"Tanya aja tuh sama si ketua thunder yang sok jago!" jawab Billy.
"Hah??!" Ilham spontan menoleh ke arah Rimba dengan wajah kaget.
Bersambung....