
My love is sillie
Episode 41.
•
Saat pulang sekolah tiba, Aurora cukup terkejut lantaran Willy sudah menanti di parkiran tempatnya berada saat ini sambil tersenyum renyah menatap ke arahnya.
Aurora pun menghampiri Willy disana masih dengan perasaan herannya, tanpa tahu bahwa Max terus menguntit dari belakangnya.
Sementara Willy sendiri bangkit dari motornya, dan turut mendekat ke arah Aurora sambil terus tersenyum manis.
"Hai cantik!" ucap Willy menyapa gadis itu.
"Wil, lu ngapain disini?" tanya Aurora heran.
"Gue mau jemput lu dong, kan lu pacar gue. Masa iya gue biarin lu pulang sendirian?" jawab Willy dengan santainya.
"Hah? Lu ngomong apa sih Wil? Gue udah biasa pulang sendiri, gausah lebay deh!" ujar Aurora.
"Lagian gue itu juga bawa motor, jadi gimana bisa gue bareng sama lu?" sambungnya.
"Gampang aja, biarin motor lu disini. Pasti aman kan? Besok pagi tinggal diambil lagi deh, atau kalo perlu lu suruh aja supir lu buat kemari dan ambil tuh motor!" usul Willy.
"Haish, ribet amat sih! Paling gampang itu gue pulang sendiri pake motor gue, dan lu juga pulang sana!" ucap Aurora menolak usulan Willy.
"Kenapa sih sayang? Lu kok dianterin pulang sama pacar sendiri malah nolak? Emang lu gak sayang apa sama gue?" ucap Willy mendekat sembari mengusap rambut Aurora dengan perlahan.
Nampaknya Willy mengetahui jika Max mengikuti Aurora dari belakang, itu sebabnya ia berlaku manis pada Aurora kali ini.
"Wil, lu apa-apaan sih?!" protes Aurora.
"Ayolah sayang, pulang bareng gue aja ya!" pinta Willy sembari meraih dua tangan Aurora.
"Gak bisa Wil, gue udah bawa motor." kata Aurora.
"Kan gue udah bilang tadi, tinggalin aja motor lu disini sayang! Pokoknya lu harus bareng gue, kali ini gak ada penolakan sama sekali!" paksa Willy.
"Iya iya, gue mau bareng sama lu. Yaudah, sekarang lepasin tangan gue dong!" ucap Aurora.
"Kita jalan dulu ke motor gue, baru nanti gue lepas tangan lu. Udah yuk!" ucap Willy tersenyum.
Aurora mengangguk saja, mau tidak mau ia terpaksa mengikuti kemauan pria itu karena saat ini tangannya digenggam oleh Willy.
Max yang masih mengikuti Aurora, hanya bisa terdiam sembari mengepalkan tangannya dan menahan emosi saat melihat Willy serta Aurora tampak romantis.
Willy pun melepas tangan Aurora dari genggamannya, lalu memberikan helm kepada gadis itu.
"Ini helmnya," ucap Willy singkat.
Aurora memakai helm tersebut di kepalanya, namun ia cukup kesulitan saat harus mengaitkan tali helm tersebut.
"Susah? Sini gue bantu," ucap Willy langsung sigap membantu Aurora memasangkan tali helm itu.
"Nah udah, masa gitu aja gak bisa sih? Oh atau lu sengaja ya biar gue bantuin lu?" goda Willy.
"Apa sih? Ini tuh emang helm lu aja yang beda sama helm gue, jadinya gue susah pakenya." ujar Aurora mengelak.
"Halah alasan!" cibir Willy.
"Ish, udah deh jangan kebanyakan ngomong! Gue mau pulang sekarang!" pinta Aurora.
"Oke cantik!" ucap Willy tersenyum sembari mencolek pipi gadis itu.
Aurora hanya memalingkan wajahnya dengan ekspresi cemberut, sedangkan Willy masih terkekeh dan naik ke motornya.
"Yuk naik!" perintah Willy.
Aurora mengangguk, lalu naik ke atas motor Willy sesuai perintah pria tersebut.
"Pegangan dong sayang, peluk gitu!" pinta Willy.
"Gausah ngada-ngada deh, cepet jalan!" ujar Aurora menepuk punggung Willy.
"Ahaha, masih malu-malu dia.." ujar Willy tertawa.
"Udah lah Wil, mau sampai kapan sih lu begini terus? Gue capek tau!" ujar Aurora.
"Kenapa capek? Bukannya suka ya? Ayo cepet peluk pinggang gue, kalo lu gak mau yaudah kita gak bakal jalan sampai Maghrib nanti!" ancam Willy.
"Haish, ribet ah banyak maunya lu! Gue mending turun aja terus pulang sendiri, daripada harus sama lu yang bawel!" cibir Aurora.
Aurora pun turun dari motor Willy karena kesal, namun dengan cepat ditahan oleh Willy dan kembali mencengkeram lengan gadis itu.
"Eh eh tunggu!" teriak Willy.
"Wil, apaan sih?! Gue mau pulang!" ucap Aurora.
"Iya iya, gue anterin lu pulang deh. Buruan naik lagi dan peluk gue!" ujar Willy.
"Yaudah cepet!" ucap Aurora kesal.
Willy tersenyum, lalu mendekat dan mengecup kening Aurora dengan lembut.
Cupp!
Setelahnya, Willy mengusap bekas kecupannya di kening Aurora dan membuat gadis itu reflek terpejam.
"Enak ya dielus-elus gini?" goda Willy.
"Hah? Udah deh jangan godain gue terus!" protes Aurora.
"Hahaha..." Willy tertawa lepas sebelum kembali naik ke motornya.
******
Keesokan harinya, Willy datang ke sekolah dengan statusnya sebagai murid baru di sekolah tersebut.
Cukup ramai murid-murid yang terpesona dengan Willy saat motor pria itu tiba di halaman sekolah.
Bahkan, beberapa dari mereka ada yang menyempatkan diri untuk memfoto atau memvideokan Willy saat turun dari motornya.
Willy pun mulai membuka helm yang ia kenakan, tentu saja hal itu mengundang perhatian dari para wanita yang berdiri disana.
"Wah ganteng banget!"
"Eh gila sih, tuh cowok bener-bener cool deh!"
"Keren banget!"
Begitulah kata-kata yang didengar oleh telinga Willy, dan membuat pria itu terkekeh kecil.
Lalu, rombongan wanita disana pun datang mendekati Willy dan mengerumuni pria tersebut sambil meminta berkenalan dengannya.
"Hai ganteng! Kenalan yuk sama kita! Nama aku Saskia, nama kamu siapa?" ucap gadis itu.
"Kalo aku Almira," sahut yang lain.
"Eee guys, mohon maaf nih ya! Tapi, gue gak bisa kenalan sama kalian satu-satu kayak gini. Jadi, gue mau perkenalkan diri gue aja supaya kalian bisa langsung tahu nama gue." kata Willy.
"Oh boleh deh, tapi abis itu kita foto berdua ya ganteng?" ujar Saskia.
"Tergantung, kalo misal ada waktu pasti gue sempetin kok buat foto sama lu." jawab Willy.
"Yeay asyik! Jadi, siapa nama kamu ganteng?" ucap Saskia.
"Oh iya, nama gue Willy. Salam kenal ya buat kalian semua! Gue murid baru disini, jadi mohon bimbingannya!" ucap Willy mengenalkan diri.
"Waduh, tenang aja my Willy yang ganteng dan tampan! Aku pasti siap kok buat bimbing kamu!" ucap Saskia dengan genit.
"Aku juga kok," sahut yang lainnya.
Willy tersenyum saja, kemudian hendak pamit pada gadis-gadis yang mengerumuninya itu.
"Yaudah ya, gue mau ke dalam dulu?" ujar Willy.
"Yah kok buru-buru banget sih? Kita belum foto-foto tau, ayolah foto dulu sama aku ya!" ucap Saskia.
"Eee sorry sorry! Gue gak bisa foto sekarang, soalnya gue udah ditunggu di ruang kesiswaan. Kalau telat, nanti gue malah gak bisa sekolah disini." kata Willy.
"Eh gitu ya? Yaudah deh, kamu boleh pergi kok. Yang penting kamu bisa sekolah disini, jadinya setiap hari kita bisa ketemu deh!" ujar Saskia.
Disaat Willy hendak melangkah pergi, tiba-tiba saja ia dicegat oleh rombongan pria yang dipimpin oleh Max alias pria paling tampan di sekolah itu.
"Ohh jadi lu sekolah disini?" ujar Max.
"Iya dong, mulai sekarang kita bakal jadi teman satu sekolah." ucap Willy tersenyum.
"Cih! Jangan mimpi lu! Gue sama lu itu beda kelas, gue gak mungkin mau anggap lu jadi temen gue. Jangan harap juga lu bakal punya banyak teman di sekolah ini!" ucap Max ketus.
"Gue gak perduli, di sekolah ini kan gue niatnya mau belajar, bukan berteman. Walaupun gue gak punya teman disini, itu gak masalah buat gue." ucap Willy dengan santai.
Max terdiam memalingkan wajahnya sambil sesekali berdecak kesal.
"Yaudah ya, gue permisi dulu!" ucap Willy pamit.
Willy pun melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Max disana bersama para gadis-gadis yang tadi mengerumuninya.
"Kalian ngapain masih pada disini? Udah sana bubar!" bentak Max pada gadis-gadis itu.
******
Aurora bersama kedua temannya tengah duduk di pinggiran lorong sekolah sembari menikmati kue hangat yang mereka beli dari kantin.
Namun, tampaknya Aurora benar-benar tidak bisa fokus karena sedari tadi gadis itu terus saja celingak-celinguk kesana-kemari.
Dua temannya, yakni Cindy dan Elsa pun merasa bingung dengan sikap Aurora itu. Mereka coba menegur Aurora dan bertanya langsung padanya.
"Rora, lu cari siapa sih? Daritadi kita perhatiin lu celingak-celinguk mulu," tanya Elsa.
"Eh eee enggak kok, gue gak cari siapa-siapa." jawab Aurora berbohong.
"Masa sih? Udah deh lu jujur aja sama kita, lu itu gak bisa bohongin kita Rora!" ucap Elsa.
"Iya tuh, kelihatan kok kalo lu lagi cari seseorang." sahut Cindy.
"Oh, atau jangan-jangan lu itu lagi nyariin pacar lu ya yang kemarin nongol di sekolah itu? Bener gak?" ucap Elsa coba menebaknya.
"Hah? Apa sih? Enggak lah, bukan!" elak Aurora.
"Yah elah pake ngeles segala, udah lah ngaku aja kali Aurora!" ujar Elsa.
"Apaan sih? Emang bukan dia kok!" ucap Aurora.
"Terus lu nungguin siapa?" tanya Cindy bingung.
"Udah jelas lah, Aurora itu daritadi nungguin gue datang kesini.." tiba-tiba saja suara berat muncul dan mengagetkan ketiga gadis itu.
Mereka reflek menoleh, melihat sosok Max berdiri di dekatnya sambil tersenyum.
Sontak saja hal itu membuat Cindy serta Elsa seakan tak mampu bergerak.
"Oh my God! Ya ampun Max, lu kok bisa ganteng banget kayak gitu sih?! Gue benar-benar terpesona loh sama lu!" ucap Elsa.
"Iya Max, ah i love you..." sahut Cindy.
"Haha, bisa aja kalian." ujar Max singkat.
"Eh Rora, jadi benar yang lu tunggu tuh si Max?" tanya Elsa kepada Aurora.
"Hah? Enggak lah, yakali gue nungguin dia. Apa gunanya coba?" jawab Aurora.
"Terus, lu nungguin siapa dong?" tanya Elsa heran.
"Udah lah Sa, gausah dibahas itu mah! Gue gak nungguin siapa-siapa kok, lagian lu ngada-ngada aja deh ah!" ujar Aurora kesal.
"Iye iye.." ucap Elsa menurut lalu duduk kembali.
"Eee Aurora, aku boleh kan ikut duduk disini sama kamu?" tanya Max meminta izin pada Aurora.
"Gak! Lu cari aja tempat lain sana!" tolak Aurora.
"Ih Aurora, lu kok gitu sih sama Max? Udah sih biarin aja Max ada disini sama kita, kan lumayan tau buat cuci mata. Kalaupun lu gak mau, masih ada kita berdua tau!" ucap Elsa.
"Iya tuh, gue setuju sama yang dibilang Elsa barusan!" sahut Cindy.
"Ish, yaudah terserah kalian aja! Tapi, gue mau cabut dari sini!" ujar Aurora langsung berdiri dan hendak pergi dari sana.
"Aurora tunggu!" Max dengan cepat menahan Aurora untuk tetap disana sembari mencekal lengan gadis itu.
"Kamu disini aja ya!" pinta Max.
"Apaan sih? Lepasin tangan gue! Jangan pernah pegang-pegang tangan gue lagi!" bentak Aurora sembari menghentakkan tangannya.
"Iya iya, aku ngerti kok. Tapi, kamu tolong jangan pergi ya Aurora!" ucap Max memohon.
"Gue gak bakal pergi, asalkan lu mau pergi dari sini!" ucap Aurora ketus.
"Oh gitu, iya deh oke aku bakal pergi dari sini. Kamu silahkan aja duduk lagi bareng teman-teman kamu, selamat bersenang-senang ya Aurora!" ucap Max memilih mengalah dan pergi.
"Hum.."
******
Kriiinggg.. Kriiinggg...
Bel telah berbunyi, Aurora dan kedua temannya juga sudah masuk ke kelas mereka untuk bersiap menyambut jam pelajaran pertama.
"Huh belajar lagi deh!" ujar Elsa.
"Ahaha, gapapa lah Sa. Jam pertama kan pelajarannya pak Sumanto, dia mah gak terlalu serius lah kalo ngajar. Jadi, kita bisa sambil tiktokan deh!" ucap Cindy.
"Setuju! Eh Rora, nanti lu ikut kita berdua tiktokan ya!" ujar Elsa pada Aurora.
"Iya, kabarin aja!" ucap Aurora tersenyum.
Ya posisi tempat duduk mereka memang berdekatan, biarpun Cindy serta Elsa duduk berdua dan Aurora duduk bersama orang lain.
"Eh tapi tumben deh, pak Sumanto kok lama banget ya masuknya?" tanya Elsa heran.
"Iya nih, gue jadi penasaran. Jangan-jangan terjadi sesuatu lagi sama dia!" ujar Cindy.
"Hus, jangan bilang gitu ah gak baik! Mungkin aja pak Sumanto masih di jalan," tegur Aurora.
"Hehe iya iya.." ujar Cindy nyengir.
Tak lama kemudian, guru yang ditunggu-tunggu oleh mereka akhirnya tiba.
"Selamat pagi semua!" ucap pak Sumanto menyapa muridnya sambil berjalan masuk ke kelas.
"Selamat pagi pak!" jawab mereka serentak.
"Tuh kan pak Sumanto datang, apa gue bilang!" ucap Aurora.
"Iya, lu paling bener dah Aurora!" ucap Elsa.
"Oh ya murid-murid... sebelum mulai belajar, pagi ini ada pengumuman penting dulu buat kalian semua. Kelas kita tercinta ini kedatangan murid baru, dan kalian bisa langsung bertemu sama dia sebentar lagi." ucap pak Sumanto.
"Murid baru? Siapa pak?" tanya Cindy dengan wajah herannya.
Pak Sumanto tersenyum, lalu menatap ke arah pintu kelas dan meminta seseorang di luar sana untuk segera masuk.
"Ayo masuk kamu!" pinta pak Sumanto.
"Baik pak!" ucap seseorang di luar sana.
Mendengar itu, Aurora merasa tidak asing dengan suara yang muncul di telinganya.
"Itu siapa ya? Gue kayak pernah denger," batinnya.
Lalu, seorang pria tampan pun melangkah masuk ke dalam kelas tersebut disertai jaket kebanggaan miliknya yang melekat di tubuh.
Sontak seluruh kelas merasa terkagum-kagum dengan kehadiran pria itu, termasuk Aurora yang langsung dibuat menganga oleh pria itu.
"Hai semua!" ucap pria itu menyapa mereka.
"Hah? Lu..." ujar Aurora syok.
Bersambung....