
My love is sillie
Episode 120
•
"Randi!" lelaki yang sedang melamun itu terkejut, ia menoleh ke arah Ayna, matanya membulat lebar melihat kecantikan gadis di hadapannya itu.
"Ayna?" ucap Randi tak percaya.
"Hai Ran, pagi!" sapa Ayna dengan lembut.
"Hey, pagi juga Ayna! Kamu cantik banget sih pagi ini, aku sampe pangling deh lihat kamu!" ucap Randi terpukau dengan kecantikan gadis itu.
"Ah bisa aja kamu, aku jadi malu tau," ucap Ayna.
Melihat ekspresi Ayna yang malu-malu, Randi semakin gemas padanya.
"Kamu lucu banget deh!" ujar Randi.
"Udah udah, kita langsung berangkat aja yuk! Kak Geri lagi gak ada di rumah, dia tadi udah pergi pagi-pagi gitu. Jadi, kita aman buat jalan berdua sekarang," ucap Ayna.
"Boleh, tapi emang kamu mau dibonceng pake motor aku yang butut ini?" tanya Randi ragu.
"Hah? Butut kamu bilang? Motor sebagus ini dibilang butut? Aku emang gak tahu jenis motor ya, tapi aku yakin harga motor ini pasti di atas seratus juta," protes Ayna.
"Hahaha, tapi tetap aja ini motor. Kamu bakal kepanasan atau kehujanan kalau naik ini," ucap Randi.
"Gapapa, udah ada yang jemput aja aku senang banget. Belum pernah tau aku ngerasain dijemput cowok kayak gini," ucap Ayna.
"Sama dong," ucap Randi singkat.
"Apanya yang sama?" tanya Ayna bingung.
"Aku juga baru kali ini jemput cewek, dan ceweknya itu secantik kamu," jawab Randi sembari mencolek dagu Ayna.
"Ih masih pagi udah gombal terus!" ujar Ayna mencibirkan bibirnya.
Randi tersenyum, tangannya terus bergerak mengusap lembut wajah mulus Ayna. Baru kali ini dia benar-benar terpesona pada wanita.
"Ohh, jadi ini yang lu lakuin di belakang gue, Ran?" Randi dan Ayna kompak terkejut mendengarnya.
Keduanya menatap ke asal suara, menangkap sosok Tedy tengah berdiri menghadap ke arah mereka dengan tatapan emosi.
"Hah? Tedy??" Randi terkejut bukan main saat melihat Tedy sahabatnya ada disana.
Tedy mendekat, menatap Randi dan Ayna dengan tajam secara bergantian. Tangannya mengepal kuat, dia benar-benar emosi menyaksikan sahabatnya sendiri tengah bermesraan dengan wanita yang dia cintai.
"Kenapa lu lakuin ini ke gue, Ran? Lo udah gak anggap gue sebagai sohib lu lagi?" tanya Tedy.
"Ted, jangan salah paham dulu! Gue bisa jelasin semuanya sama lu, gue gak—"
"Ah cukup! Gue gak butuh penjelasan apa-apa dari lu, karena semuanya udah jelas!" potong Tedy.
"Belum Ted, ini cuma salah paham. Semuanya gak seperti yang lu pikirin," ucap Randi.
"Sekeras apapun lu berusaha bilang ini salah paham, tetap gue gak akan percaya. Gue lihat sendiri gimana kalian berdua saling pandang dan mesra-mesraan disini," ucap Tedy.
Ayna mengambil alih dan maju mendekati Tedy.
"Kalau aku sama Randi mesra-mesraan, emangnya kenapa? Masalah buat kamu? Apa kita berdua gak boleh ngelakuin itu?" tanya Ayna.
"Jelas masalah dong, aku ini suka sama kamu dan aku mau kamu jadi pacar aku! Tapi, si biadab ini malah nikung aku dari belakang!" jawab Tedy.
"Aku gak suka sama kamu, aku juga bukan pacar kamu! Jadi, terserah aku dong mau pilih siapa!" tegas Ayna.
Deg!
******
Mia yang sedang asyik berlari mengitari taman itu, dikejutkan dengan kehadiran Choky serta Geri yang tak lain adalah anggota black jack.
Kedua lelaki itu langsung mendekati Mia, berusaha menggoda Mia dengan rayuan maut mereka.
"Ehem ehem, cantik amat neng!" goda Choky.
"Iya, apalagi keringetan begitu, uhh tambah seksi deh tubuhnya. Dilihat dari jauh aja udah enak, apalagi dekat," sahut Geri.
Mia diam saja tak memperdulikan ucapan kedua pria tersebut, ia terus mempercepat langkahnya bermaksud menghindari mereka berdua.
"Hey, pelan-pelan dong cantik! Kamu juga jangan diem aja, jawab kita lah! Oh atau kamu bisu ya gak bisa ngomong? Pasti enggak dong, masa cantik-cantik bisu?" ujar Choky.
"Kalian itu siapa sih?! Gue lagi fokus olahraga, jangan gangguin gue!" kesal Mia.
"Kita gak ganggu loh, kita cuma mau kenalan sama kamu. Kamu jangan sombong lah, ayolah kasih tau siapa nama kamu ke kita!" ujar Geri.
"Apaan sih? Gue gak mau kenalan sama kalian! Mending kalian pergi deh, sebelum gue teriak dan kalian bakal dihajar sama cowok gue!" ancam Mia.
"Hah? Emang siapa sih cowok lu? Mana panggil sini, kita kagak takut!" tantang Geri.
"Ih dasar cowok aneh!" umpat Mia kesal.
Disaat Mia hendak pergi, Geri dan Choky kompak mencekal lengan gadis itu sehingga Mia tidak bisa kemana-mana.
"Eits, mau kemana cantik??" ujar Choky.
"Ish lepasin gue! Tolong!!" teriak Mia.
Thoriq yang tengah duduk santai, tak sengaja mendengar suara teriakan wanitanya.
"Mia??!" Thoriq langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju asal suara dengan wajah panik, dia benar-benar khawatir saat ini.
Dilihat lah Mia yang saat ini tengah berkutat dengan dua orang pria di depan sana, membuat Thoriq menggeram penuh emosi.
"Sial!" umpatnya pelan.
Tanpa basa-basi lagi, Thoriq bergegas mendekati mereka agar bisa menolong kekasihnya.
"Ih lepasin, kalian jangan kurang ajar ya sama gue!" Mia terus berontak minta dilepaskan.
"Hahaha, gak akan sayang!" ujar Geri.
Bughh...
Mereka terkejut saat tiba-tiba satu tendangan mengarah tepat ke punggung Geri hingga pria itu terhuyung dan hampir jatuh.
"Akh! Sial! Siapa itu?!" umpat Geri.
Choky dan Mia menoleh ke si penendang, mereka melihat sosok Thoriq berdiri disana.
"Lo lagi ternyata," ucap Choky.
"Heh! Jangan pernah kalian berani ganggu cewek gue! Atau kalian akan gue abisin satu persatu!" geram Thoriq.
"Ohh, jadi gadis manis yang seksi ini cewek lu? Waw kalo gitu boleh dong kita berdua cicipi dia?!" ucap Choky sengaja menggoda Thoriq.
"Kurang ajar! Mati lu sialan!" Thoriq yang kesal akhirnya maju menyerang Choky.
******
Ciiitttt...
Tiba-tiba saja, Ridho menginjak rem secara mendadak dan membuat Aurora terkejut.
"Ada apa pak?!" ucap Aurora panik.
"Eee itu non, di depan ada yang cegat mobil kita. Kayaknya dia emang sengaja deh non," jawab Ridho sembari menunjuk ke depan.
"Hah? Mana??" Aurora coba melihat ke depan untuk memastikan siapa orang yang dimaksud supirnya. Dan begitu terkejutnya ia saat melihat Max berdiri disana menatap ke arahnya.
"Ih itu kan si Max, ngapain lagi sih dia kesini? Cari masalah aja deh!" ujar Aurora.
"Jadi gimana non? Apa saya turun aja terus usir orang itu?" tanya Ridho.
"Jangan pak! Percuma juga dia diusir, gak akan mau pergi. Biar saya aja yang turun temui dia, bapak tunggu disini ya!" jawab Aurora.
"Baik non!" ucap Ridho menurut.
Akhirnya Aurora turun dari mobilnya, dia berjalan menghampiri Max dengan wajah datar. Sedangkan Max disana tampak tersenyum lebar ke arahnya.
"Halo sayang, selamat pagi! How are you?" ucap Max menyapa dengan ramah.
"Gausah basa-basi, langsung ke intinya aja! Lo mau apa cegat mobil gue disini?" ketus Aurora.
"Lo bisa gak sih sehari aja jangan ganggu gue?! Gue kan udah bilang, gue itu punya pacar dan lu sendiri tau itu! Kenapa lu masih gak bisa terima kenyataan sih?" Aurora bertambah kesal dengan ulah Max saat ini.
"Gak bisa sayang, gak tahu deh kenapa aku selalu aja kepikiran kamu. Ayolah, kamu mau ya jadi pacar aku dan putusin aja si Willy!" ucap Max.
"Dasar gila! Sampai kapanpun, gue gak akan pernah mau jadi cewek lu!" tegas Aurora.
Max tersenyum tipis, melangkah perlahan untuk mendekati Aurora.
Disaat pria itu hendak memegang tangan Aurora, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di dekat mereka.
"Aurora??!" mereka berdua kompak menoleh ke arah lelaki yang baru turun dari mobil itu.
"Hah? Siapa itu?" lirih Max.
Aurora benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini, mulutnya menganga ketika menyadari pria tersebut sudah berada di dekatnya.
"Hai Aurora! Benar kan ini kamu? Aku Fabio, kamu masih ingat kan sama aku?" ucap pria itu.
"Eee..."
"Asal kamu tahu, aku kangen banget loh sama kamu! Aku senang kita akhirnya bisa ketemu disini, setelah bertahun-tahun kita berpisah. Apa boleh aku peluk kamu?" potong pria bernama Fabio itu.
Fabio langsung mendekat dan mengambil ancang-ancang untuk memeluk Aurora.
Namun, tindakannya itu dihentikan oleh Max yang menahan bahunya.
"Jangan sembarangan lu!" ujarnya.
******
TOK TOK TOK...
Mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar sana, pak Gunawan pun bangkit dan hendak membuka pintu.
"Eh pak, mau kemana?" tanya Willy.
"Pake nanya lagi, buka pintu lah!" jawab pak Gunawan.
"Biar aku aja pak," pinta Willy.
"Yaudah sana!" ketus pak Gunawan.
Willy langsung beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Ceklek...
"Hai Willy, morning!" Willy terkejut hebat mendengar dan melihat seorang wanita berdiri di depannya sambil tersenyum manis.
"Sasha? Ngapain lu dateng ke rumah gue? Perasaan gue gak ngundang lu deh," tanya Willy.
"Emang enggak, tapi gue mau ketemu sama lu sekalian kasih ini buat lu," jawab Sasha sembari menyodorkan tas tenteng ke arah Willy.
"Eh apa ini?" tanya Willy penasaran.
"Ini gue sengaja buatin kue, semoga lu suka ya! Soalnya ini percobaan pertama gue," jelas Sasha.
"Hah? Wah enak nih, thanks banget ya!" ucap Willy langsung mengambil tentengan itu.
"Sama-sama, dimakan ya!" ucap Sasha.
"Pasti. Masa iya gue gak makan pemberian lu? Kan jarang-jarang lu bikinin gue kue kayak gini," ucap Willy sambil tersenyum tipis.
"Hehe, iya nih Wil, gak tahu kenapa gue tiba-tiba pengen belajar bikin kue. Ya semoga aja lu suka sama rasanya ya!" ucap Sasha.
Willy mengangguk lalu berkata, "Yaudah, masuk yuk! Ibu gue kebetulan juga pengen ketemu sama lu katanya."
"Oh ya? Gue juga kangen sih sama nyokap lu, udah lama kan kita gak ketemu," ucap Sasha.
"Nah pas tuh, ayo masuk!" Willy mengajak Sasha masuk ke rumahnya, ia menyingkir memberi jalan bagi gadis itu untuk bisa melangkah.
"Oke!" Sasha menurut saja, dia memang ingin kembali dekat dengan keluarga Willy, meskipun tak bisa memiliki lelaki itu.
"Eh, nak Sasha??" Bu Ani amat kaget melihat kehadiran Sasha disana, ia dan pak Gunawan sampai langsung berdiri menyambut gadis tersebut.
"Assalamualaikum, pagi om, tante!" sapa Sasha dengan ramah, ia mencium tangan kedua orang tua Willy itu sambil mengembangkan senyumnya.
"Waalaikumsallam sayang, duh tante benar-benar gak nyangka ternyata kamu yang datang! Baru aja tadi tante minta Willy buat ajak kamu lagi kesini, eh kamu malah udah datang duluan," ucap Bu Ani.
"Ahaha, iya nih tante. Kebetulan aku lagi belajar buat kue gitu, makanya aku datang kesini buat kasih kue buatan aku. Siapa tahu tante, om sama Willy suka sama kue itu," jelas Sasha.
"Oh ya? Wah pasti enak kalau bikinan kamu mah sayang!" ujar Bu Ani.
"Ah ibu bisa aja," ujar Sasha malu-malu.
******
Martin keluar dari kamarnya, menuruni tangga sembari melipat lengan kemeja panjangnya untuk menghampiri Kiara di bawah sana.
Kiara sendiri memang sudah lebih dulu turun dan menikmati sarapan paginya, dia juga telah bersiap mengenakan seragam sekolahnya.
"Morning sayang!" sapa Martin. Ia tersenyum mendekati Kiara, jari jemarinya juga membelai lembut rambut sampai wajah gadis itu. "Kamu cantik banget sih Kiara!" lanjutnya.
"Iya, morning too tuan Martin kesayangan! Makasih atas pujian paginya!" ucap Kiara.
Martin menarik kursi, lalu duduk di samping gadisnya. Ia terus memandangi wajah Kiara dari samping dengan senyum manisnya.
"Tuan kenapa sih? Mau aku bikinin roti juga?" tanya Kiara.
"Oh boleh, roti bikinan kamu itu kan luar biasa enaknya!" jawab Martin bersemangat.
"Siap deh tuan! Sebentar ya?" ucap Kiara. Martin mengangguk pelan sembari mengusap puncak kepala gadisnya itu.
Kiara mengambil sepotong roti, mengolesi selai blueberry di atasnya sesuai permintaan Martin.
"Kamu cantik banget deh!" Martin terus memuji gadisnya, membelai rambut Kiara yang halus itu dan sesekali mengecupnya.
Cup!
Kiara tersenyum saat Martin mendaratkan bibirnya di wajah mulus miliknya.
"Tuan ih, main cium-cium aja!" ujar Kiara.
"Ahaha, abisnya aku gak tahan lihat wajah kamu yang cantik dan mulus ini. Kamu makin hari makin tambah cantiknya tau!" ucap Martin.
"Ah tuan paling bisa deh bikin aku malu! Udah, nih roti buat tuan, selamat makan ya tuanku yang tampan!" ucap Kiara menyodorkan roti selai blueberry itu ke arah Martin.
"Sip, makasih banyak ya gadisku yang manis dan cantik!" ucap Martin.
Cup!
Martin menaruh bibirnya sekilas di bibir ranum Kiara, lalu mulai memakan rotinya dengan lahap.
"Mmhhh enak sayang!" ujar Martin.
"Pelan-pelan tuan, gausah buru-buru gitu nanti keselek loh!" ucap Kiara sedikit terkekeh.
"Iya iya sayangku cintaku.." Martin tersenyum dan mengelus wajah gadisnya.
Ting nong ting nong...
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, Martin yang sedang asyik makan itu terkejut lalu memerintahkan asisten rumah tangganya untuk membuka pintu.
"Tuan, siapa ya kira-kira yang datang pagi-pagi begini ke rumah kamu?" ujar Kiara.
"Gak tahu sayang, aku kan daritadi disini terus sama kamu," ucap Martin.
"Iya sih, hehe.." Kiara tersenyum lebar.
Tak lama kemudian, asisten rumah tangganya tadi kembali ke meja makan menemui Martin.
"Permisi tuan!" ucapnya.
"Ya, ada apa? Siapa yang datang bik?" tanya Martin.
"Eee anu tuan, ada perempuan di depan yang katanya mau ketemu tuan.."
"Hai Martin!" sela seorang wanita yang tiba-tiba muncul dan menyapa Martin.
Bersambung....