My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 47. Di parkiran



My love is sillie


Episode 47



"Sebentar aja kok, gue cuma mau bilang kalau gue ini sayang sama lu. Terus, gue pengen minta izin ke bokap lu buat anterin lu sekolah." kata Willy.


"Oh begitu.." mereka berdua sama-sama terkejut saat mendengar suara berat yang muncul.


Keduanya pun menoleh ke asal suara, dan terlihat Johan muncul sembari melangkah mendekati mereka berdua.


"Jadi, kamu mau antar putri saya ke sekolahnya?" tanya Johan pada Willy.


Willy terlihat gugup saat berhadapan langsung dengan sang ayah dari gadisnya itu, tapi ia mencoba untuk tetap tenang apalagi setelah mendapat kode mata dari Aurora.


"Ah iya om. By the way, salam kenal ya om saya Willy teman sekolahnya Aurora!" ucap Willy mengenalkan diri sembari menyodorkan tangan ke arah Johan.


"Ya ya ya, oke Willy salam kenal juga!" ucap Johan santai dan meraih tangan Willy.


Mereka pun berjabat tangan disana.


"Pah, jadi gimana? Apa aku boleh berangkat bareng sama Willy? Kasihan dia pah, udah datang jauh-jauh buat jemput aku!" tanya Aurora pada papanya.


Johan tersenyum sembari mengusap rambut putrinya.


"Boleh deh, tapi papa mau tanya satu hal dulu nih sama kalian berdua." kata Johan.


"Apa itu pah?" tanya Aurora penasaran.


"Kalian cuma teman, atau ada hubungan khusus nih? Masa iya kalau teman sekolah biasa, sampai datang kesini buat jemput kamu?" ucap Johan.


"Hah? Eee kita emang beneran cuma teman kok, pah. Papa jangan salah paham ya!" ucap Aurora.


"Oh gitu, sebenarnya kalau lebih dari teman juga gapapa. Itu kan hak kalian, toh kamu juga sudah besar Aurora." kata Johan.


"Iya pah," ucap Aurora pelan.


"Oh ya Willy, motor kamu keren! Kapan-kapan boleh ya saya coba naik motor kamu?" ujar Johan.


"Om mau coba naik motor saya? Wah dengan senang hati pasti saya perbolehkan om, mau selama mungkin juga gapapa kok!" ucap Willy.


"Ahaha, bisa aja kamu. Yasudah, om titip anak om ini sama kamu ya!" ucap Johan.


"Siap om! Saya pasti bakal jagain Aurora sebaik mungkin!" ucap Willy tersenyum.


"Bagus! Aurora, kalo gitu papa berangkat ke kantor dulu ya? Kamu yang rajin belajarnya, pacaran boleh tapi jangan sampai nilai kamu turun!" ucap Johan pada putrinya.


"Iya pah, lagian aku juga belum punya pacar. Papa hati-hati ya ke kantornya!" ucap Aurora.


"Kamu juga," ucap Johan.


Aurora mencium tangan papanya, disusul oleh Willy melakukan hal yang sama.


Setelahnya, Johan pun berbalik sembari melambaikan tangan dan kembali ke mobilnya.


Sementara Willy serta Aurora masih tetap berada disana, hingga mobil Johan tak terlihat lagi.


Lalu, barulah Willy menghampiri Aurora dan meraih kedua tangan gadis itu.


Cupp!


Willy mendaratkan kecupan di kening Aurora sembari mengarahkan tangan gadis itu ke dua pundaknya.


"Wil, lu mau ngapain?" tanya Aurora heran.


"Gak kok, gue cuma pengen lihat muka lu dari jarak dekat aja. Soalnya lu kelihatan makin cantik kalo kayak begini, gue juga jadi semakin love love deh sama lu!" jawab Willy tersenyum lebar.


"Haish, ada-ada aja lu ah! Bisa gak sih sehari aja jangan gombal?" ucap Aurora tersipu.


"Gak bisa, gue gak akan berhenti gombalin lu. Lu itu cantik banget Rora, jadi sayang kalo gak digodain kan?" ucap Willy.


"Apaan sih?" Aurora menarik tangannya turun dari pundak Willy.


Namun, tentu saja lelaki itu kembali menarik lengan Aurora dan menaruhnya di atas pundaknya sambil terus mendekat ke arah Aurora, membuat gadis itu deg-degan.


"Jangan macam-macam deh Wil!" pinta Aurora.


Willy diam saja, kemudian menahan pinggul Aurora agar gadis itu berhenti bergerak dan mulai menerkam bibirnya yang lembut itu.


******


Tiiinnnn...


Kiara dikagetkan oleh suara klakson panjang yang dibunyikan dari belakangnya, ia reflek bergeser ke samping dan melihat siapa yang datang.


"Heh! Jalan itu jangan di tengah-tengah kayak gitu! Emang lu kata jalanan ini punya nenek moyang lu?!" ujar pria yang tak lain adalah Max.


"Ma-maaf aku gak tahu kalau ini suka dipake buat jalanan motor juga!" ucap Kiara gugup.


Max terkejut melihat rupa dari gadis di hadapannya, seketika ia tersenyum lebar dan terus menatap Kiara penuh arti.


"Lu murid baru ya disini?" tanya Max.


"Eee iya, aku baru masuk hari ini. Sekali lagi aku minta maaf ya! Aku gak sengaja, aku benar-benar gak tahu kalau ini jalanan dipake juga buat motor lewat." ucap Kiara gugup.


"Gapapa kok, santai aja! Gue juga minta maaf ya tadi karena udah bentak lu!" ucap Max.


"Iya, kamu gak salah kok. Kan aku yang jalannya di tengah-tengah begini," ucap Kiara.


"Kamu juga gak salah, kan kamu belum tahu. Kecuali kalau lain kali kamu masih begitu, baru deh itu namanya kamu salah." kata Max.


"Ah iya, makasih ya kamu udah mau ngertiin!" ucap Kiara terus menunduk.


Max pun turun dari motornya, lalu menghampiri Kiara sambil tersenyum renyah.


"Nama aku Max, aku cowok paling tampan di sekolah ini dan banyak cewek-cewek pada suka sama aku. Kalau nama kamu siapa?" ucap Max mengenalkan diri di hadapan Kiara sembari menyodorkan telapak tangannya.


"Duh, gimana ya? Kalau aku kenalan sama cowok ini terus nanti tuan Martin tau, pasti tuan Martin bakal marah besar sama aku! Tapi, gak enak juga lah kalo didiemin aja." batin Kiara.


"Halo! Hey! Kamu bisa dengar aku kan?" ucap Max mengipas-ngipas tangannya di depan Kiara.


"Ah iya, ma-maaf aku kurang fokus! Tadi nama kamu siapa?" ucap Kiara gugup.


"Gapapa, udah biasa kok cewek-cewek begitu tiap kali berhadapan sama aku. Namaku Max, kamu sendiri siapa?" ucap Max dengan pedenya.


"Aku Kiara," jawab Kiara meraih tangan Max.


"Waw nama yang cantik, secantik orangnya!" ucap Max tersenyum lebar.


"Terimakasih!" ucap Kiara gugup.


Kiara melepas tangannya dari genggaman Max, sedangkan Max tampak mencium telapak tangannya sendiri dan merasakan harum bekas sentuhan tangan Kiara.


"Uhh wanginya!" ucap Max spontan.


"Eh ya, kamu masuk kelas berapa?" tanya Max pada Kiara.


"Kelas 12 L," jawab Kiara tersenyum.


"Wah kita seangkatan ternyata, yaudah biar aku anterin aja yuk ke dalamnya! Kebetulan aku tahu semua ruangan di sekolah ini," ucap Max.


"Eee gausah deh Max, aku bisa sendiri kok. Kamu kan juga harus parkir motor kamu," ucap Kiara.


"Hah? Gapapa kok, parkir motor mah gampang. Yang penting kamu mau aja dulu aku anterin," ucap Max membujuk Kiara.


Kiara langsung berbalik dan pergi dari sana meninggalkan Max, ia tidak ingin jika Martin mengetahui bahwa ada lelaki yang mendekatinya.


"Yah gue ditolak lagi!" ucap Max.


Max cukup kesal dengan kepergian Kiara, ia memukul angin dan kembali ke motornya.


"Lihat aja, gue pasti gak akan lepasin lu gitu aja Kiara! Selagi ada kesempatan, gue juga bakal terus pepet Aurora. Ya jadi semisal gue gak dapat Kiara, masih ada Aurora. Begitu juga sebaliknya, jadi gue gak perlu bingung deh." gumamnya.


******


Willy dan Aurora tiba di sekolah, Aurora langsung turun dari motor Willy sembari melepas helm di kepalanya itu.


Willy menatap wajah Aurora, ia tersenyum tipis melihat rambut gadis itu yang berantakan dan berinisiatif untuk merapihkan nya.


Willy pun menggerakkan tangannya ke arah rambut Aurora, namun gadis itu justru menepisnya karena mengira Willy hendak berbuat mesum.


"Ih lu mau ngapain Willy?! Jangan macam-macam ya, ini di sekolah tau!" ucap Aurora panik.


"Rambut lu berantakan tuh, gue rapihin sini biar enak dilihatnya!" ucap Willy santai.


Mendengar jawaban Willy, membuat Aurora agak lega dan membiarkan pria itu melakukan apa yang dia ingin lakukan.


Ya Willy pun mengusap rambut Aurora hingga rapih seperti semula, Aurora langsung deg-degan karena saat ini jaraknya dengan Willy cukup dekat.


Cupp!


Tiba-tiba saja Willy mengecup bibir Aurora sekilas, sontak Aurora reflek membuka mulutnya lebar disertai mata yang melotot sempurna.


"Ih masih aja ya lu cari kesempatan dalam kesempitan, emang dasar mesum!" ucap Aurora.


"Ahaha, gapapa dong Aurora. Bibir lu itu candu banget sih, gue kan jadi gak bisa tahan kalau lihat bibir lu dari dekat kayak gini." kata Willy terkekeh.


"Udah deh, makanya lu jangan dekat-dekat sama gue! Kan bisa lu rapihin rambut gue dari jauh, yang gerak itu kan tangan lu, kenapa muka lu ikut-ikutan maju sih?" ucap Aurora.


"Ya namanya reflek, kalo tangan gue gerak kan otomatis kaki gue ikutan gerak sama kayak wajah." ucap Willy ngeles.


"Halah alasan aja lu! Bilang aja lu emang pengen modus ke gue, gausah pake alasan mau benerin rambut segala!" ucap Aurora.


"Kok tahu sih?" ujar Willy.


"Ya tahu lah, kan lu emang biasa kayak gitu." jawab Aurora ketus.


"Ohh, cie yang udah mulai mengerti sikap gue. Makin sayang deh ah!" goda Willy seraya mencolek dagu Aurora.


"Hah? Ngaco aja lu! Gue itu bisa ngerti karena lu ngelakuin itu hampir tiap hari," elak Aurora.


"Ya sama aja, artinya kan lu udah mulai mengenal gue lebih dekat. Gue jadi makin sayang sama lu, Aurora! Pacaran real aja yuk!" ucap Willy.


"Lu jangan bercanda deh! Ngajak pacaran udah kayak ngajak nonton film biru aja, gampang banget!" ucap Aurora.


"Film biru film biru, emang lu pernah nonton gituan? Atau lu mau nonton bareng gue nanti pulang sekolah? Ayo aja gue mah!" ujar Willy.


"IH WILLY APAAN SIH?! DASAR GAK JELAS!" teriak Aurora.


Willy sampai harus menutup dua telinganya saat Aurora berteriak, ya teriakan Aurora memang sangat keras sampai-sampai membuat burung yang sedang terbang jatuh ke tanah.


"Lu teriaknya jangan kekencangan gitu dong sayang, kuping gue jadi sakit nih! Ya walau gue suka sama suara lu yang imut ini, tapi tetep aja telinga gue juga masih normal cantik. Jangan begitu lagi ya!" ucap Willy lembut.


"Hehe iya iya maaf! MAKANYA LU JANGAN MODUS TERUS JADI COWOK!" ucap Aurora kembali berteriak diakhir kalimat.


Aurora pun berbalik dan pergi meninggalkan Willy, sedangkan Willy sendiri masih terus menutup telinganya jaga-jaga kalau Aurora berteriak lagi.


"Buset dah itu cewek, suaranya udah kayak mercon di kondangan!" ucap Willy geleng-geleng kepala.


******


Willy pun mengejar Aurora yang berjalan cepat menuju ke dalam sekolah, ia berhasil menyusul Aurora dan langsung menarik gadis itu hingga mepet dinding disana.


"Akh!" Aurora terkejut saat tiba-tiba ada yang menarik dan mencengkeram lengannya.


"Willy?" Aurora melongok saat mengetahui Willy sudah berada di depannya saat ini.


"Lu mau kemana sih? Lu gak bisa pergi dari gue, cantik!" ucap Willy seraya mengelus wajah mulus Aurora itu dengan telunjuknya.


Aurora hanya bisa merasa geli sedikit ketika jari Willy mengelus bagian lehernya, ya saat ini ia tak dapat bergerak banyak karena dua tangannya dicengkeram erat oleh Willy dan tubuhnya juga dipepet oleh pria itu hingga hampir sesak nafas.


"Wil, lu jangan kayak gini dong di sekolah! Kalo ada guru atau siapapun yang lewat sini gimana?" ucap Aurora panik mengetahui Willy semakin bringas tak perduli dimanapun tempatnya.


"Gapapa, gue gak perduli. Lagian ini masih area parkir, belum masuk halaman sekolah." kata Willy.


"Tetap aja Wil, ini kan parkiran sekolah. Lagian lu mau ngapain sih? Lu mau cium bibir gue lagi? Kan tadi udah di rumah gue," ujar Aurora.


"Iya, kenapa?" jawab Willy santai.


"Haish, lu itu ya—mmpphh.." ucapan Aurora terpotong lantaran Willy langsung melumatt bibirnya tanpa ampun.


Aurora terus berusaha melepaskan diri, namun Willy menahannya cukup kuat sehingga Aurora hanya bisa pasrah dan lama-kelamaan menikmati ciuman Willy yang juga berubah menjadi lembut.


"Hah! Hah! Hah!" Aurora mengambil nafas panjang saat Willy sudah melepas pagutannya.


"Manis banget!" ujar Willy tersenyum.


"Udah puas lu? Lu mau bunuh gue ya?!" geram Aurora.


"Hahaha, enggak lah sayangku. Gue tadi kebawa suasana aja," jawab Willy terkekeh.


"Gak lucu!" ucap Aurora kesal.


"Hahaha.." Willy justru makin keras tertawa.


"Udah ah lepasin gue!" pinta Aurora.


"Iya iya, cantik banget sih pacarku ini!" goda Willy seraya mencolek pipi Aurora.


"Ehem ehem, enak banget sih ciuman bibir di parkiran sekolah kayak gitu!" mereka berdua terkejut saat ada suara orang lain yang muncul disana.


"Max?" ucap Aurora saat mendapati Max sudah berada di dekatnya.


Spontan Aurora menjauh dari Willy, karena tak mau Max berpikir yang tidak-tidak dan melaporkan semua kejadian tadi pada pihak kesiswaan.


"Lu jangan salah sangka dulu! Tadi itu—" lagi-lagi ucapan Aurora terpotong karena Willy langsung mendekapnya erat.


"Ya emang enak banget, bibir Aurora juga manis. Lu pasti iri ya dan pengen cobain bibir dia? Makanya bro, cari pacar sana!" ujar Willy sengaja memancing Max.


"Wil, lu kenap—"


"Sssttt diem baby! Biar aku aja yang urus si cowok gak jelas ini!" potong Willy sembari menaruh jari telunjuknya di bibir Aurora.


"Lu bisa bersenang-senang sekarang, tapi lihat aja apa yang terjadi setelah gue laporin kegiatan kalian tadi ke pihak kesiswaan!" ancam Max.


"Ohh, lu ngancam gue? Silahkan aja lu laporin, gue gak takut sama sekali!" Willy justru menantang Max tanpa rasa takut sedikitpun.


Keira sangat terkejut dengan ucapan Willy, ia melongok menatap pria itu disertai tatapan heran.


Sementara Max tersenyum saja, ia sadar bahwa Willy tidak mudah diancam dengan kata-kata.


Willy pun pergi membawa Aurora di rangkulannya, lalu beranjak dari parkiran tersebut meninggalkan Max yang masih terdiam.


Saat memasuki lobi, Willy dibuat tercengang ketika menyadari ada seorang wanita yang terasa tak asing di matanya.


"Loh, i-itu kan.." ucapnya tertahan.


Bersambung....