My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 122. Suka sama siapa?



My love is sillie


Episode 122



"Hah? Tedy??" Randi terkejut bukan main saat melihat Tedy sahabatnya ada disana.


Tedy mendekat, menatap Randi dan Ayna dengan tajam secara bergantian. Tangannya mengepal kuat, dia benar-benar emosi menyaksikan sahabatnya sendiri tengah bermesraan dengan wanita yang dia cintai.


"Kenapa lu lakuin ini ke gue, Ran? Lo udah gak anggap gue sebagai sohib lu lagi?" tanya Tedy.


"Ted, jangan salah paham dulu! Gue bisa jelasin semuanya sama lu, gue gak—"


"Ah cukup! Gue gak butuh penjelasan apa-apa dari lu, karena semuanya udah jelas!" potong Tedy.


"Belum Ted, ini cuma salah paham. Semuanya gak seperti yang lu pikirin," ucap Randi.


"Sekeras apapun lu berusaha bilang ini salah paham, tetap gue gak akan percaya. Gue lihat sendiri gimana kalian berdua saling pandang dan mesra-mesraan disini," ucap Tedy.


Ayna mengambil alih dan maju mendekati Tedy.


"Kalau aku sama Randi mesra-mesraan, emangnya kenapa? Masalah buat kamu? Apa kita berdua gak boleh ngelakuin itu?" tanya Ayna.


"Jelas masalah dong, aku ini suka sama kamu dan aku mau kamu jadi pacar aku! Tapi, si biadab ini malah nikung aku dari belakang!" jawab Tedy.


"Aku gak suka sama kamu, aku juga bukan pacar kamu! Jadi, terserah aku dong mau pilih siapa!" tegas Ayna.


Deg!


Tedy tersentak kaget mendengar ucapan Ayna barusan, dia sungguh sakit hati karena ternyata gadis yang dicintainya itu tak memiliki rasa apapun terhadapnya.


"Please Tedy, kamu jangan berlagak jadi pacar aku! Aku itu cuma anggap kamu teman," ucap Ayna.


"Ayna, kamu kok tega banget sih sama aku?" ujar Tedy.


"Tega apanya sih? Aku gak cinta sama kamu, masa iya aku harus maksa buat jadiin kamu pacar aku?!" ucap Ayna heran.


"Terus, kenapa setiap kita ketemu kamu selalu bikin aku salah tingkah? Sikap baik kamu ke aku itu seakan kamu kasih harapan sama aku, tapi nyatanya kamu cuma anggap aku teman," ucap Tedy tampak bersedih.


Randi merasa tak tega melihat sahabatnya itu patah hati, dia coba mendekati Tedy dan menaruh tangannya di pundak Tedy.


Akan tetapi, dengan cepat Tedy justru menepis tangan Randi darinya. "Jangan pegang-pegang gue! Gue gak sudi disentuh sama lu!" ujarnya.


"Please lah Ted! Tolong lu jangan kayak gini cuma gara-gara salah paham! Gue sama Ayna juga gak ada apa-apa kok, kita cuma teman biasa aja. Lo harus dengerin penjelasan gue!" bujuk Randi.


Kali ini giliran Ayna yang merasa sakit hati mendengar ucapan Randi.


"Teman biasa?" batinnya.


Namun, tetap saja Tedy tak perduli dengan perkataan Randi barusan. Dia masih mengira Randi memiliki hubungan spesial dengan Ayna.


"Halah gue gak percaya sama kata-kata lu! Kalau emang kalian cuma teman, kenapa tadi kalian kelihatan mesra banget? Pake acara pegang pipi segala lagi, mungkin kalo gue gak datang kalian bisa-bisa udah ciuman," ujar Tedy.


"Gila lu ya Ted! Jangan sembarangan kalo ngomong! Gue sama Ayna gak mungkin begitu, ngaco aja!" elak Randi.


"Iya Tedy, kamu jangan kira aku ini perempuan murahan yang mau begituan ya!" sahut Ayna ikut merasa kesal.


******


Max tersenyum tipis, melangkah perlahan untuk mendekati Aurora.


Disaat pria itu hendak memegang tangan Aurora, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di dekat mereka.


"Aurora??!" mereka berdua kompak menoleh ke arah lelaki yang baru turun dari mobil itu.


"Hah? Siapa itu?" lirih Max.


Aurora benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini, mulutnya menganga ketika menyadari pria tersebut sudah berada di dekatnya.


"Hai Aurora! Benar kan ini kamu? Aku Fabio, kamu masih ingat kan sama aku?" ucap pria itu.


"Eee..."


"Asal kamu tahu, aku kangen banget loh sama kamu! Aku senang kita akhirnya bisa ketemu disini, setelah bertahun-tahun kita berpisah. Apa boleh aku peluk kamu?" potong pria bernama Fabio itu.


Fabio langsung mendekat dan mengambil ancang-ancang untuk memeluk Aurora.


Namun, tindakannya itu dihentikan oleh Max yang menahan bahunya.


"Jangan sembarangan lu!" ujarnya.


"Maaf! Anda siapa ya?" tanya Fabio pada Max.


"Gue pacarnya Aurora, gue gak bakal biarin lu sentuh cewek gue sedikitpun!" jawab Max asal.


Sontak Aurora langsung terbelalak menatap Max.


"Ohh, jadi kamu sekarang udah punya pacar baru ya Rora? Dan cowok berandalan ini pacar kamu?" Fabio terkekeh sembari menatap tubuh Max dari atas sampai bawah.


"Kurang ajar lu!" Max emosi, dia langsung mengarahkan tinjunya ke wajah Fabio.


"Hentikan!!" Aurora berteriak cukup keras untuk menghentikan perkelahian itu.


Max mengurungkan niatnya, menatap wajah Aurora seakan heran mengapa wanita itu menghalanginya.


"Kamu kenapa halangi aku sih sayang? Dia udah hina aku dan dia hampir aja lecehin kamu, harusnya kamu biarin aku buat hajar dia!" ujar Max.


"Lo gausah ngarang cerita dan ngaku-ngaku jadi pacar gue deh! Lo itu bukan pacar gue, gue juga gak mau anggap lu pacar! Dan satu lagi, Fabio ini sahabat gue, lu gak bisa seenaknya aja main pukul dia!" geram Aurora.


Max terdiam menahan malu, apalagi Fabio nampak terkekeh setelah mendengar penjelasan Aurora.


"Jadi, cowok ini bukan pacar kamu Rora?" tanya Fabio kepada Aurora.


"Bukan lah, mana mau aku pacaran sama dia! Pacar aku lebih ganteng dan gak berandalan kayak dia," jawab Aurora.


"Hahaha, dasar tukang halu! Tapi, kamu kenal sama dia?" tanya Fabio lagi.


"Ya kenal sih, dia soalnya teman sekolah aku. Dia emang selalu ngarep jadi pacar aku, padahal dia sendiri tahu kalau aku udah punya pacar. Wajar sih namanya juga orang aneh," jelas Aurora.


"Yaudah, kamu bareng aku aja yuk! Biar kamu gak diganggu lagi sama dia," ucap Fabio.


"Eee boleh deh, thanks ya Bio!" ucap Aurora sambil tersenyum.


"Sama-sama, yuk ke mobil!" ujar Fabio.


Aurora mengangguk setuju, lalu mengikuti Fabio masuk ke mobilnya dan meninggalkan Max sendirian disana.


"Sial! Siapa sih tuh cowok? Ganggu aja gue lagi pdkt sama Aurora!" umpat Max.


******


Willy turun dari motornya, menghampiri Sasha dan menangkup wajah gadis itu. Ia menatapnya dari jarak dekat, menimbulkan perasaan tak karuan di jantung Sasha saat ini.


"Lo gak perlu sedih gini, lu harus terbiasa tanpa gue Sasha! Lagian bukannya masih ada si Aziz ya? Dia kan sohib kita juga tuh," ujar Willy.


"Ih apaan?! Aziz mah gak ada asyik-asyiknya tau, yang ada dia malah selalu bikin gue kesel!" cibir Sasha.


"Ahaha, btw gue jadi kangen sama si Aziz. Kemana ya tuh anak, kok belum nongol juga daritadi?" ujar Willy sembari celingak-celinguk.


"Mana gue tau! Dah ah, gue mau masuk dulu! Lo kalo masih pengen disini nungguin Aziz terserah aja, tapi gue gak bisa nemenin lu!" ucap Sasha.


"Ngapain juga gue nungguin Aziz? Gue kan harus sekolah, ya gue pasti pergi lah dari sini. Udah, lu semangat aja belajarnya dan jangan ngeluh terus!" ucap Willy sambil mengusap wajah Sasha.


"Gue sekolah dulu ya? Sampai ketemu lagi!" ucap Sasha melambaikan tangannya.


"Oke, bye!" balas Willy singkat.


Setelah Sasha masuk ke dalam, Willy terdiam sejenak di tempatnya menatap bangunan sekolah yang dia rindukan itu.


"Huh kangen banget rasanya sama sekolah ini! Banyak kenangan gue disini dulu," gumam Willy.


"Heh!" Willy tersentak ketika seseorang menegurnya dari samping, dia menoleh dan melihat Ilham muncul di dekatnya.


"Ngapain lu disini? Lo kan udah bukan murid sini, apa jangan-jangan lu pengen bikin rusuh ya?!" tegur Ilham dengan mata melotot.


"Gue ngerusuh? Sembarangan aja lu kalo ngomong!" elak Willy.


"Ya terus lu mau apa?!" bentak Ilham yang semakin mendekati Willy dan menggeram emosi.


"Suka-suka gue dong, gue mau ngapain kek itu terserah gue. Emangnya ini sekolah punya nenek moyang lu ya?" jawab Willy.


"Kurang ajar lu ya!" geram Ilham.


"Hey hey, berhenti!" suara teriakan satpam penjaga di sekolah itu berhasil membuyarkan keributan antara kedua lelaki tersebut.


Ilham dan Willy pun menatap ke arah suara, sedangkan si satpam sudah mendekati mereka sembari membawa pentungan.


"Kalian mau ngapain tadi, ha? Mau cari ribut ya disini?" tegur si satpam.


"Eh pak Jajang? Ya ampun, udah lama banget kita gak ketemu pak! Saya sampai pangling loh sama bapak, makin keren aja nih!" ujar Willy.


"Loh loh, Willy? Ini beneran kamu?" ujar si satpam bernama Jajang itu.


"Iyalah pak, ini saya. Apa kabar nih pak Jajang?" ucap Willy sambil tersenyum.


"Wah ya saya sih gini-gini aja, gak ada perubahan. Kamu sendiri gimana?" ujar Jajang.


"Saya baik kok," jawab Willy.


"Bagus deh! Saya kira tadi siapa, maklumlah udah lama kita gak ketemu, jadi saya sedikit lupa sama wajah kamu," ucap Jajang.


"Hahaha, iya pak.." Willy tertawa lepas.


Ilham yang jengah, akhirnya memutuskan pergi begitu saja dari tempat itu.


"Lah, ngapa tuh anak ya?" ujar Willy.


"Gak tahu deh, aneh!" kekeh Jajang.


******


"Aku gak suka sama kamu, aku juga bukan pacar kamu! Jadi, terserah aku dong mau pilih siapa!" tegas Ayna.


Deg!


Tedy tersentak kaget mendengar ucapan Ayna barusan, dia sungguh sakit hati karena ternyata gadis yang dicintainya itu tak memiliki rasa apapun terhadapnya.


"Please Tedy, kamu jangan berlagak jadi pacar aku! Aku itu cuma anggap kamu teman," ucap Ayna.


"Ayna, kamu kok tega banget sih sama aku?" ujar Tedy.


"Tega apanya sih? Aku gak cinta sama kamu, masa iya aku harus maksa buat jadiin kamu pacar aku?!" ucap Ayna heran.


"Terus, kenapa setiap kita ketemu kamu selalu bikin aku salah tingkah? Sikap baik kamu ke aku itu seakan kamu kasih harapan sama aku, tapi nyatanya kamu cuma anggap aku teman," ucap Tedy tampak bersedih.


Randi merasa tak tega melihat sahabatnya itu patah hati, dia coba mendekati Tedy dan menaruh tangannya di pundak Tedy.


Akan tetapi, dengan cepat Tedy justru menepis tangan Randi darinya. "Jangan pegang-pegang gue! Gue gak sudi disentuh sama lu!" ujarnya.


"Please lah Ted! Tolong lu jangan kayak gini cuma gara-gara salah paham! Gue sama Ayna juga gak ada apa-apa kok, kita cuma teman biasa aja. Lo harus dengerin penjelasan gue!" bujuk Randi.


Kali ini giliran Ayna yang merasa sakit hati mendengar ucapan Randi.


"Teman biasa?" batinnya.


Namun, tetap saja Tedy tak perduli dengan perkataan Randi barusan. Dia masih mengira Randi memiliki hubungan spesial dengan Ayna.


"Halah gue gak percaya sama kata-kata lu! Kalau emang kalian cuma teman, kenapa tadi kalian kelihatan mesra banget? Pake acara pegang pipi segala lagi, mungkin kalo gue gak datang kalian bisa-bisa udah ciuman," ujar Tedy.


"Gila lu ya Ted! Jangan sembarangan kalo ngomong! Gue sama Ayna gak mungkin begitu, ngaco aja!" elak Randi.


"Iya Tedy, kamu jangan kira aku ini perempuan murahan yang mau begituan ya!" sahut Ayna ikut merasa kesal.


"Tenang Ayna! Tedy mungkin emosi, makanya dia bicara begitu tadi," ucap Randi menenangkan.


"Udah lah Ran, kita pergi aja yuk dari sini! Aku males ladeni cowok kayak dia, omongannya gak bisa difilter banget!" kesal Ayna.


"Sabar Ayna! Kamu—"


"Ayo Ran, bawa aku pergi! Kamu gausah takut sama Tedy, dia juga kan bukan siapa-siapa aku! Dia gak berhak larang kamu buat deketin aku," potong Ayna sembari memegang tangan Randi.


Randi semakin dibuat bingung, dia tak tahu harus memilih Ayna atau persahabatannya dengan Tedy.


"Ayna, maafin aku ya! Aku gak ada maksud buat nyakitin hati kamu, aku minta maaf sama kamu!" ucap Tedy merasa bersalah.


"Kamu gak perlu minta maaf, cukup jauhi aku dan jangan pernah ganggu aku lagi!" pinta Ayna.


Tedy terbelalak mendengar ucapan Ayna, seketika jantungnya berhenti berdetak tak menyangka jika Ayna akan meminta itu padanya.


"Ayo Ran!" Ayna menggandeng tangan Randi dan mengajak pria itu pergi.


"Eee i-i-iya, sorry ya Ted! Gue sama Ayna harus pergi dulu, permisi!" ucap Randi.


"Ayna, tunggu dulu Ay! Kamu dengerin aku dulu!" pinta Tedy.


Namun, semuanya terlambat karena Ayna sudah terbawa emosi. Gadis itu melangkah pergi bersama Randi, menaiki motor Randi dan meminta Randi segera melaju.


"Cepetan Ran!" ujar Ayna.


Randi mengangguk pelan, lalu mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah itu.


Tedy hanya bisa terdiam lesu menyaksikan kepergian Ayna dan Randi, dia sangat kesal bahkan sampai tak mampu berbuat apa-apa.


"Randi harus diberi pelajaran! Dia udah rebut Ayna dari gue, awas aja lu Ran!" geram Tedy.



Singkat cerita, Randi menghentikan motornya di pinggir jalan untuk berbincang sejenak dengan Ayna.


"Loh kok berhenti? Ada apa Randi?" tanya Ayna.


"Aku mau bicara sebentar sama kamu, bisa kan?" jawab Randi.


"Iya boleh, bicara aja!" ucap Ayna.


"Kamu sebenarnya suka atau enggak sama Tedy sih?" tanya Randi.


"Hah? Kenapa kamu nanya begitu? Aku kan udah bilang tadi, aku gak suka sama dia," jawab Ayna.


"Terus, kamu sukanya sama siapa?" tanya Randi.


"Sama kamu," jawab Ayna cepat sambil tersenyum menggoda, membuat Randi salah tingkah.


Bersambung....