
My love is sillie
Episode 67
•
Willy sudah bersiap untuk mengantar Aurora pergi dari rumahnya, entah mengapa ia memiliki firasat bahwa Martin akan segera datang kesana dan menjemput Aurora.
Untuk itu Willy ingin membawa Aurora pergi dari sana sebelum Martin lebih dulu datang dan ia malah akan semakin sulit untuk bertemu dengan Aurora lagi nantinya.
"Sayang, kamu udah siap kan? Ayo kita pergi sekarang!" ajak Willy.
"Wil, tapi kamu ini sebenarnya kenapa sih? Kok tiba-tiba aja kamu ajak aku buat pergi? Kamu mau usir aku ya?" tanya Aurora heran.
"Ya ampun, enggak lah sayang! Aku begini karena aku gak mau kehilangan kamu! Sebentar lagi Martin akan datang buat jemput kamu, jadi aku harus lebih dulu bawa kamu pergi dan amanin kamu!" jawab Willy.
"Hah? Kak Martin mau kesini? Yang bener Wil? Emang dia tahu rumah kamu?" tanya Aurora.
"Dia gak tahu, tapi Kiara tahu." jawab Willy.
Aurora terdiam mendengar jawaban Willy.
"Kok malah diem sih? Ayo cepat kita pergi! Gak ada barang kamu yang ketinggalan kan?" ucap Willy menggandeng tangan Aurora.
"Enggak kok, kan aku cuma bawa diri sewaktu kemarin datang kesini. Ini aja aku pake baju yang dibeliin sama kamu barusan," ucap Aurora.
"Oh iya, kok aku baru sadar kalau kamu pakai baju baru dari aku? Pantas aja kamu kelihatan lebih cantik, anggun lagi!" ucap Willy memuji kecantikan Aurora.
"Udah deh gausah gombal! Tadi katanya suruh cepetan, eh malah kamunya yang lama!" ujar Aurora.
"Hehe, abis kamu cantik banget bikin aku gak tahan buat godain kamu." kata Willy.
"Udah udah ah! Sekarang aku mau pamit dulu sama bapak dan ibu kamu, gak enak lah kalau main pergi gitu aja!" ujar Aurora.
"Iya sayang, itu mah pasti dong." ucap Willy.
Willy pun menarik tangan Aurora keluar dari kamarnya seraya membawa tas berisi barang-barang milik gadis itu.
Mereka berdua melangkah bersamaan menuju ruang tamu dimana pak Gunawan serta Bu Ani berada untuk pamitan pada keduanya.
"Misi pak, Bu!" ucap Willy sambil tersenyum.
Pak Gunawan dan Bu Ani yang sedang fokus menonton pun dibuat terkejut dengan itu, apalagi Willy serta Aurora tampak rapih seperti hendak pergi dari sana.
"Loh, ini kalian pada mau kemana sih? Kok udah rapih begini? Pake bawa-bawa tas segala udah kayak mau pergi aja," ujar Bu Ani.
"Kan emang kita mau pergi Bu," jawab Willy sambil nyengir menunjukkan gigi-giginya.
"Hah??" Bu Ani terkejut.
"Kalian beneran mau pergi? Pergi kemana sih malam-malam begini?" tanya Bu Ani.
"Iya Bu, jadi tadi Aurora bilang dia mau pulang aja ke rumah katanya. Aku gak mungkin dong Bu tahan dia disini dan halangin dia buat pulang, jadi ya aku anterin aja dia sekarang." jawab Willy berbohong.
"Oalah, tapi kenapa harus malam-malam begini nak Aurora? Kan masih bisa besok kamu pulangnya, ini sudah malam loh." ujar Bu Ani.
"Iya Aurora, kenapa kamu gak nginep lagi disini satu malam? Besok baru deh kamu boleh pulang diantar sama Willy," sahut pak Gunawan.
"Gak bisa pak, Bu. Aurora udah dicariin sama papanya, dan dia diminta buat pulang sekarang. Kalau Aurora gak segera pulang, aku takut dia malah makin dimarahin nanti." kata Willy.
"Iya, itu benar pak, Bu. Maaf ya pak, Bu! Aku harus pulang sekarang, terimakasih atas tumpangannya selama ini!" ucap Aurora.
"Sama-sama nak Aurora, kalau kamu mau balik lagi kesini nantinya, kabarin aja ya! Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu," ucap Bu Ani.
"Iya Bu, makasih banyak!" ucap Aurora.
Aurora pun mencium tangan kedua orang tua Willy itu secara bergantian, lalu berpelukan sejenak dengan Bu Ani yang terlihat sedih dengan kepergian Aurora saat ini.
******
Singkat cerita, Willy dan Aurora sudah tiba di sebuah hotel yang cukup mewah.
Aurora pun sangat heran mengapa Willy justru membawanya kesana bukan ke rumahnya.
"Eee Wil, kok kita kesini sih?" tanya Aurora.
"Emangnya kamu mau kemana sayang? Pulang ke rumah beneran? Kalau kamu pengen, yaudah ayo aku antar kamu kesana!" ujar Willy.
"Ish, ya enggak gitu juga. Tapi, sejak kapan kamu check-in disini? Kok aku gak tahu sih?" ujar Aurora masih bingung.
"Dari tadi setelah kamu selesai obatin luka aku, aku sengaja pesan kamar disini buat kamu supaya pas Martin datang kamu udah gak ada di rumah aku deh." jelas Willy.
"Ohh, terus ini biayanya berapa? Biar aku ganti aja uang kamu itu," tanya Aurora.
"Gausah sayang, anggap ini hadiah dari aku buat kamu. Simpan aja uang kamu itu buat kebutuhan yang lainnya ya!" ujar Willy.
"Tapi Wil, aku gak enak lah. Lagian ini pasti kan mahal banget, secara hotel bintang delapan. Terus tadi kamu juga udah beliin aku pakaian lumayan banyak, biar aku ganti aja ya!" ucap Aurora.
"Enggak sayang, aku gak mau. Udah deh, kamu nurut aja sama aku ya! Jangan maksa aku buat terima uang kamu!" ucap Willy.
"Beneran nih?" tanya Aurora.
"Iya sayang, udah yuk aku bantu kamu buat beberes!" ucap Willy.
"Okay, thanks ya Wil!" ucap Aurora.
"You're welcome, cantik!" balas Willy.
Aurora tersenyum lebar saat Willy mencolek pipinya, mereka pun melangkah sedikit ke depan memasuki kamar hotel itu lebih dalam.
Tampak sebuah kasur yang cukup luas disana disertai televisi dan beberapa barang mewah lainnya yang membuat Aurora kagum.
"Waw kamar ini mewah banget!" ucap Aurora.
"Iya, aku jadi pengen ikut tidur disini." kata Willy.
"Yaudah, kamu tidur aja!" ucap Aurora.
"Boleh nih aku ikut tidur disini sama kamu?" tanya Willy penuh harap.
"Hah? Kok disini? Ya jangan lah Willy! Kita kan belum nikah, mana boleh tidur satu kamar? Maksud aku, kamu pesan lagi kamar yang lain buat kamu!" jelas Aurora.
"Ohh, kirain boleh gitu. Kalo disuruh pesan lagi mah aku gak mau, lagian uang aku gak bakal cukup sayang." kata Willy.
"Yaudah, berarti kamu gak bisa tidur disini." ucap Aurora.
"Ahaha, iya iya... tapi, aku bisa kan temenin kamu sebentar disini?" ucap Willy seraya merengkuh pinggang gadisnya.
"Hah?" Aurora terkejut dibuatnya.
Willy tersenyum sembari menyingkirkan rambut dari wajah Aurora, ia terus memandangi wajah gadis itu dan perlahan mendekatkan wajahnya ke bibir Aurora.
Cupp!
Satu kecupan berhasil mendarat di bibir Aurora, gadis itu tampak melongok dan masih menatap wajah Willy dengan syok.
Cupp!
Willy kembali melakukan aksinya, namun kali ini bukan sekedar kecupan tapi juga lumatann.
Aurora berusaha melepaskan diri dari aktivitas itu, tetapi tenaganya kalah kuat dibanding Willy.
"Mmppphhh.."
Willy mendorong tubuh Aurora secara perlahan hingga mereka terbaring di atas ranjang dengan posisi Willy menindih Aurora.
Pria itu terus memperdalam ciumannya dan mengunci tubuh Aurora di bawah kungkungan nya, sehingga Aurora tak mampu berbuat apa-apa.
Ciuman Willy berpindah dari bibir ke leher jenjang Aurora setelah gadis itu kehabisan nafas, ia membuat banyak tanda disana.
******
Disisi lain, benar saja dugaan Willy karena ternyata Martin dan Kiara datang ke rumahnya dalam rangka untuk mencari Aurora disana.
Martin pun turun dari mobilnya bersama Kiara yang selalu ia gandeng, mereka melangkah menuju pintu depan sambil saling tersenyum.
Kiara masih belum yakin untuk datang kesana, entah mengapa perasaannya tidak bisa tenang jika Martin ingin bertemu dengan Willy.
"Sayang, benar ini rumah Willy? Kamu gak ada bohongin saya kan?" tanya Martin.
"Iya tuan, ini rumahnya Willy. Buat apa juga aku bohongin tuan kan?" jawab Kiara.
"Baguslah, kalo gitu ayo kita masuk ke dalam dan cari Aurora!" ujar Martin.
"Tapi tuan, kalau Aurora gak ada disini gimana? Bisa aja dia lagi nginep di rumah teman sekolahnya yang lain atau di tempat penginapan kayak hotel gitu," ujar Kiara.
"Gak mungkin Kiara, saya yakin banget Aurora pasti ada disini sama Willy!" ucap Martin.
"Kenapa tuan bisa seyakin itu?" tanya Kiara.
"Entahlah, feeling aja. Udah lah, untuk pembuktian ayo kita langsung ketuk pintunya!" ucap Martin.
"I-i-iya tuan.." ucap Kiara menurut.
"Semoga aja feeling tuan Martin gak benar, supaya gak akan terjadi keributan disini!" batin Kiara.
Mereka pun tiba di depan pintu, Martin langsung mengetuk pintunya dengan cepat dan memanggil-manggil nama Willy.
TOK TOK TOK...
"Willy, keluar kamu Willy!" ucap Martin.
"Tuan, kalau bertamu ke rumah orang itu yang sopan dong! Gak enak tau semisal didengar orang lain nantinya!" tegur Kiara.
"Gapapa, buat apa saya sopan sama Willy! Dia aja udah kurang ajar sama saya, bisa-bisanya dia bawa kabur Aurora kesini!" ujar Martin.
"Tapi tuan, di rumah ini bukan cuma ada Willy. Ada juga ayah dan ibunya Willy, jadi tuan gak boleh kayak gitu dong!" ucap Kiara.
"IYA SEBENTAR..." suara balasan dari dalam.
"Tuh kan, apa aku bilang tadi." ucap Kiara pada Martin.
"Iya iya, saya salah!" ujar Martin mengalah.
Ceklek...
Pintu pun terbuka, Bu Ani langsung syok saat melihat Kiara datang ke rumahnya bersama seorang laki-laki yang tak dikenalnya.
"Eh nak Kiara? Kamu akhirnya datang lagi ke rumah ini sayang!" ucap Bu Ani.
"Iya Bu, assalamualaikum. Ibu apa kabar? Sehat-sehat aja kan?" ucap Kiara mencium tangan Bu Ani.
"Waalaikumsallam, Alhamdulillah ibu baik-baik aja kok sayang!" jawab Bu Ani sambil tersenyum.
"Ohh, syukurlah Bu!" ucap Kiara.
"Eee ini siapa nak Kiara?" tanya Bu Ani sembari melihat ke arah Martin.
"Eee..."
"Saya Martin Bu, saya kekasih Kiara." Martin langsung memotong ucapan Kiara dan juga mencium tangan Bu Ani.
"Oalah, jadi kamu sudah punya pacar sekarang?" tanya Bu Ani pada Kiara.
"Iya Bu, sebentar lagi kami juga akan menikah. Ya kan sayang?" jawab Martin sembari merengkuh pinggang Kiara di depan Bu Ani.
"Ah iya," ucap Kiara agak ragu.
"Wah Alhamdulillah, selamat ya buat kalian! Semoga hubungan kalian langgeng terus sampai tua nanti dan tidak ada masalah diantara kalian!" ucap Bu Ani.
"Aamiin!" ucap Martin dan Kiara bersamaan.
"Eh iya, ayo ayo kalian masuk dulu! Kita lanjut bicaranya di dalam aja biar enak!" ucap bu Ani.
"Terimakasih Bu! Tapi, kami kesini sebetulnya mau cari seseorang." kata Martin.
"Hah? Seseorang siapa?" tanya Bu Ani kaget.
Martin pun mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Aurora kepada Bu Ani.
"Ini bu," ucap Martin.
Bu Ani menganga lebar saat melihat foto itu, tentu ia sangat mengenali seseorang di dalam foto tersebut yang tidak lain adalah Aurora.
******
Bruuukkk...
Aurora mendorong tubuh Willy hingga terjatuh dari atas kasur menggunakan kedua kakinya.
"Awhh aduh!" rintih Willy.
Aurora pun terduduk di ranjang dengan nafas terengah-engah, menatap Willy yang masih tersungkur sembari merapihkan pakaiannya.
"Aduh! Aurora sayang, kamu kenapa dorong aku kayak gitu sih? Sakit tau!" ujar Willy.
"Biarin. Suruh siapa kamu mesum banget jadi cowok?!" geram Aurora.
"Yah elah, baru juga cium bibir sama leher udah dibilang mesum." kata Willy sembari bangkit dan berdiri semula.
"Ish, emang kamu cuma cium bibir sama leher aku. Tapi, tangan kamu itu megang kemana-mana tau!" ujar Aurora.
"Hehe, iya iya maaf ya sayang! Tadi itu reflek aja kebawa suasana, kamu kayak gak tahu aja sensasi ciuman kayak gimana." kata Willy.
"Ah udah lah, mending kamu keluar deh dari sini! Aku gak mau kamu khilaf nanti dan malah ajakin aku buat begituan!" ucap Aurora.
"Begituan apa?" tanya Willy pura-pura polos.
"Kamu gausah sok polos deh! Aku yakin kamu juga ngerti apa yang aku maksud, jadi kamu keluar sekarang ya!" ucap Aurora.
"Kalau aku gak mau gimana?" goda Willy.
"Ih, yaudah nanti aku bakal kasih tahu ibu sama bapak kamu. Mereka pasti syok berat kalau tau anaknya ini mesum banget dan suka lecehin perempuan," ucap Aurora.
"Eh eh, jangan begitu dong! Parah nih mainnya bawa-bawa orang tua, gak adil tau!" ujar Willy.
"Makanya kamu keluar sekarang, aku juga pengen istirahat tau! Lagian kamu emangnya gak ada tugas apa dari sekolah?" ucap Aurora.
"Enggak. Eh ya, kamu besok mau sekolah apa enggak?" tanya Willy sambil duduk kembali di ranjang itu.
Aurora menggeleng seraya menggeser posisi duduknya menjauh dari Willy.
"Gausah pake ngejauh segala kali! Aku gak bakal apa-apain kamu kok, tadi aku udah lumayan puas bisa cium bibir sama leher kamu. Tuh lihat aja di leher kamu, udah ada mahakarya aku yang amat keren!" ucap Willy sambil terkekeh kecil.
"Hah? Kamu bikin jejak?" ujar Aurora terkejut.
"Hehe, iya dong. Supaya orang-orang tahu kalau kamu itu milik aku," ucap Willy dengan santai.
"Ish kamu mah! Ini kalau dilihat papa atau kak Martin gimana? Mereka pasti tambah benci sama kamu Willy!" ujar Aurora sambil memukul paha Willy dengan telapak tangannya.
"Kamu tenang aja cantik! Aku bakal buat tanda yang lebih banyak lagi di leher kamu, bahkan di dada sama perut kamu juga." ujar Willy.
"Ih emang udah gak waras ya kamu!" umpat Aurora.
Gadis itu pun maju mendekati Willy dan menghujani tubuh Willy dengan berbagai pukulan dari tangan atau tasnya.
Bersambung....