
My love is sillie
Episode 70
•
"Haish, ini gue kenapa susah fokus gini sih?! Apa gara-gara Aurora dibawa balik sama bokapnya? Harusnya kan gue gak perlu cemas, toh gue masih bisa ketemu dia besok disini." gumam Willy.
Tiba-tiba saja, Willy berpapasan dengan Bu Sundari selaku bagian kesiswaan di sekolah itu.
"Willy!" panggil Bu Sundari.
"Eh iya Bu, selamat pagi! Ada apa ya?" ucap Willy seraya mencium tangan Bu Sundari.
"Kamu sudah ditunggu di ruang kepala sekolah, mari ikuti saya!" ucap Bu Sundari.
"Eee tapi, ada apa ya Bu?" tanya Willy bingung.
"Sudahlah, kamu tidak perlu banyak bertanya! Ayo ikut saja dengan saya ke ruangan kepsek! Kamu gak mau kan bikin pak kepala sekolah kita ngamuk?" ucap Bu Sundari.
"I-i-iya Bu.." ucap Willy pasrah saja.
Akhirnya Willy pergi bersama Bu Sundari menuju ruangan kepala sekolah.
"Ada apa ya ini?" batin Willy.
Willy hanya bisa menebak-nebak di dalam kepalanya mengenai apa yang akan dibicarakan oleh kepala sekolah padanya nanti.
Ada sedikit rasa cemas yang ia rasakan, pasalnya kemarin baru saja terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan di sekolah itu tentang dirinya.
Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, Willy dan Bu Sundari langsung masuk ke dalam dengan perlahan dan berhati-hati.
Tampak pak kepala sekolah sudah terduduk disana dengan dingin menunggu kehadiran Willy yang memang ia cari-cari sedari tadi.
"Permisi pak! Saya sudah membawa Willy kesini," ucap Bu Sundari.
"Ah iya, terimakasih Bu!" ucap kepala sekolah.
"Eee kalau begitu saya mohon izin permisi dulu, pak!" ucap Bu Sundari pamitan.
"Ya, silahkan!" ucap kepala sekolah.
Bu Sundari pun berbalik, namun sebelum itu ia sempat membisikkan sebuah kalimat terlebih dahulu di telinga Willy.
"Wil, udah sana duduk!" bisik Bu Sundari.
"Iya Bu," balas Willy pelan.
Setelah Bu Sundari keluar, kepala sekolah menatap Willy dan meminta pria itu untuk duduk di depannya.
"Silahkan duduk Willy!" pinta kepala sekolah.
"Baik pak!" ucap Willy singkat.
Willy menarik kursi, lalu duduk di hadapan kepala sekolah dengan wajah menunduk.
"Ada apa ya pak?" tanya Willy penasaran.
"Saya sudah diskusikan ini dengan pihak kesiswaan dan guru-guru lainnya disini, mengenai keputusan kami untuk memberi skors bagi kamu atas apa yang terjadi kemarin." jawab kepala sekolah.
"Hah? Skors pak? Kok gitu sih? Kemarin kan saya udah jalanin hukuman bersihin toilet sama musholla, kenapa saya harus diskors?" protes Willy.
"Kamu tidak usah protes, ini sudah keputusan mutlak dari pihak sekolah!" tegas pak kepsek.
"Tapi pak, berapa lama saya harus diskors?" tanya Willy.
"Berdasarkan keputusan bersama, kami sepakat bahwa kamu harus diskors selama satu Minggu penuh." jawab pak kepsek.
"Apa? Seminggu pak? Yang benar aja dong pak, masa satu Minggu sih? Itu mah kelamaan pak, saya gak terima lah!" ujar Willy.
"Kalau kamu protes, saya akan tambah lagi waktu skorsing untuk kamu." kata pak kepsek.
"Yah jangan dong pak! Yaudah deh iya, saya terima keputusan sekolah dengan lapang dada." ucap Willy pasrah.
"Baguslah, kalau begitu kamu boleh keluar! Hari ini hari terakhir kamu, karena besok kamu sudah mulai diskors." ucap pak kepala sekolah.
"Iya pak, saya ngerti kok." ucap Willy lesu.
Willy pun bangkit dari duduknya, meraih tangan kepala sekolah dan mencium punggung tangannya seraya berpamitan.
"Pak, saya permisi dulu!" ucap Willy.
"Ya silahkan!" ucap pak kepsek singkat.
Willy langsung berbalik dan melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan jengkel, ia sebenarnya masih tidak terima pada keputusan kepala sekolah yang memberi hukuman skorsing untuknya.
"Haish, kenapa jadi gini sih? Perasaan kemarin gak ada kabar mau diskors, kok tiba-tiba malah gue diskors seminggu?" batin Willy.
Ya Willy menaruh curiga dengan keputusan yang diambil oleh pihak sekolah untuk memberi hukuman skorsing padanya.
******
Selama di sekolah, Willy selalu murung dan tidak banyak bicara tak seperti biasanya.
Willy masih merasa heran sekaligus tidak puas dengan keputusan sekolah menskors dirinya.
Biar bagaimanapun, ini semua memang bukan murni kesalahannya. Willy sendiri pun tidak mau dan tak mengira jika anak-anak black jack akan datang ke sekolahnya kemarin.
Braakkk...
Tiba-tiba Willy menggebrak meja, membuat isi kantin terkejut dan melihat ke arahnya secara bersamaan.
Salah seorang wanita datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya, itu adalah Kiara sang kekasih dari Martin yang juga merupakan mantan Willy.
"Willy, kamu kenapa? Lagi ada masalah berat ya?" tanya Kiara penasaran.
"Ngapain sih kamu kesini? Nanti kalau pacar kamu lihat kita berduaan, dia bakal marah besar sama kamu. Mending kamu jauh-jauh deh dari aku, lagian aku juga gak ada masalah apa-apa kok! Aku ini cuma lagi pusing aja," ucap Willy ketus.
"Pusing kenapa? Pasti karena ada masalah kan? Udah deh Willy, kamu cerita aja sama aku! Aku siap kok dengerin curhatan kamu! Kamu gak perlu takut soal tuan Martin, aku bisa atasi itu." ucap Kiara.
"Aku yang gak siap, aku juga malas cerita-cerita ke kamu!" ujar Willy dingin.
Kiara pun heran, tak biasanya Willy secuek itu padanya. Ia berinisiatif untuk menenangkan Willy dengan cara meraih satu tangan pria itu.
Willy yang kaget langsung menatap ke arah Kiara dan menarik tangannya, namun tidak bisa karena sudah lebih dulu digenggam oleh Kiara.
"Kamu apa-apaan sih? Lepasin gak?!" pinta Willy.
"Enggak, aku gak mau lepasin sebelum kamu ceritain apa masalah kamu! Apa ini terkait tuan Martin?" ujar Kiara.
"Bukan itu, ini gak ada sangkut pautnya sama Martin. Jadi, kamu gak perlu tau tentang masalah aku!" ucap Willy.
"Tapi Wil, aku tahu kamu lagi bermasalah dan butuh tempat buat curhat. Aku sebagai sahabat, pengen bantu kamu aja supaya perasaan kamu bisa lebih tenang gitu." ucap Kiara.
"Aku diskors selama satu Minggu sama pihak sekolah, puas kamu?" ucap Willy ketus.
"Hah? Apa? Kok bisa? Emang kamu ngelakuin kesalahan apa sampai diskors kayak gitu?" tanya Kiara kaget bukan main.
"Tadi pak kepsek bilang, katanya aku diskors karena kemarin musuh-musuh aku datang ke sekolah dan bikin banyak kerusakan. Jujur aku sendiri gak terima dengan keputusan ini, karena aku aja gak pengen mereka datang kesini!" jawab Willy.
"Yang sabar ya Wil! Aku tahu ini berat buat kamu, tapi aku yakin kamu pasti bisa lewati ini semua kok! Kamu semangat terus ya, jangan pernah berpikir untuk menyerah!" ucap Kiara.
"Thanks! Yaudah, kalo gitu kamu bisa pergi sekarang! Aku gak pengen cari masalah sama si Martin lagi!" ucap Willy.
"Eee i-i-iya.." ucap Kiara gugup.
Dengan perlahan Kiara melepaskan tangan Willy dari genggamannya, lalu menatap wajah pria itu sambil tersenyum tipis.
"Iya, aku gak ngelamun kok." ucap Willy.
Kiara pun bangkit dari duduknya, ia terpaksa pergi dari sana walau sebenarnya ia masih ingin ada di samping Willy saat ini.
"Huh kenapa sih aku rasanya berat banget buat pergi dari Willy?" batin Kiara.
******
"Hah? Kok cuma seminggu sih, pak? Itu mah kurang song buat seorang Willy, minimal sebulan atau dua bulan lalu pak!"
Max tengah berbincang dengan kepala sekolah di depan ruangannya, ia nampaknya tak terima karena kepala sekolah hanya menskors Willy selama seminggu.
"Itu sudah keputusan dari pihak sekolah, kita hanya ingin memberi Willy pelajaran. Jika nantinya Willy kembali berbuat ulah, baru kami akan menambah waktu skorsingnya." ucap kepala sekolah.
"Tapi pak, harusnya sekarang ini bapak kasih skors sebulan dong ke Willy!" ujar Max.
"Sudahlah Max, kamu sudah minta bapak untuk menghukum ulang Willy dan bapak sudah menurutinya, jadi kamu tidak bisa mengatur-atur bapak lagi! Menurut bapak, itu sudah cukup untuk Willy menjalani hukumannya." ucap kepala sekolah.
"Cukup darimana sih pak? Seminggu mah paling dia malah leha-leha di rumah, dia gak akan kapok pak!" ujar Max.
"Ini sudah keputusan mutlak pihak sekolah, dan tidak bisa diganggu gugat lagi! Tolong kamu mengerti Max, jangan terus-terusan protes seperti ini!" ucap kepala sekolah mulai jengah.
"Aduh pak! Apa gak bisa dikaji ulang keputusannya?" tanya Max.
"Tidak bisa Max, lebih baik kamu pergi sekarang atau kamu akan saya hukum juga!" ucap kepsek.
"Hah? Masa saya malah ikut-ikutan dihukum sih pak?" protes Max.
"Yasudah, kalau kamu tidak mau dihukum sudah sana pergi dan jangan banyak protes!" ujar kepsek.
"I-i-iya pak iya.." ucap Max ketakutan.
Kepala sekolah pun menggelengkan kepalanya, kemudian melangkah pergi dari sana meninggalkan Max yang masih terdiam.
Max masih belum puas dengan keputusan yang diambil pihak sekolah, ia ingin Willy dihukum lebih berat bukan hanya satu Minggu skorsing.
"Ah elah, gagal deh gue buat bujuk pak kepsek!" batin Max.
Disaat Max hendak berbalik dan pergi, tanpa sengaja ia malah berpapasan dengan Kiara yang sedang berjalan.
"Max? Kamu ngapain disini?" tanya Kiara bingung.
"Eh Kiara cantik?" ujar Max terkejut.
"Aduh mampus! Kira-kira Kiara dengar gak ya tadi ucapan gue sama pak kepsek?" batin Max.
Melihat ekspresi kaget dari seorang Max, membuat Kiara justru semakin penasaran dan curiga pada pria itu.
"Kamu kenapa? Ada yang salah?" tanya Kiara.
"Hah? Eee enggak kok, gak ada apa-apa Kiara cantik." jawab Max sambil tersenyum lebar.
"Ohh, terus ngapain kamu disini? Dipanggil sama kepsek?" tanya Kiara.
"I-i-iya, tadi aku dipanggil pak kepsek. Tapi, sekarang udah selesai dan aku mau pergi lagi." jawab Max berbohong.
"Oalah, kirain kamu lagi ngapain disini. Yaudah, aku duluan ya?" ucap Kiara.
"Eh, gak mau bareng aku aja? Kebetulan aku juga pengen ke kantin, gimana kalau kita pergi sama-sama?" usul Max.
"Masalahnya aku gak mau ke kantin, orang barusan aja aku abis dari sana kok." ucap Kiara.
"Kirain kamu mau ke kantin, terus kamu ini mau kemana dong?" tanya Max.
"Aku mau ke perpus, bosen juga kalo cuma keliling sekitar sekolah." jawab Kiara.
"Oh mau ke perpus? Yaudah, aku temenin aja gimana?" ucap Max.
"Emangnya kamu mau ke perpus juga?" tanya Kiara.
"Iya dong, boleh kan?" ucap Max.
"Ya boleh lah, yaudah yuk!" ucap Kiara.
Max tersenyum senang, lalu melangkah bersama Kiara menuju perpustakaan.
******
Setelah pulang sekolah, Willy langsung menemui para anggota the darks di markas mereka.
Tampak Randi beserta anak-anak the darks lainnya pun telah berkumpul disana siang ini.
"Nah, itu si Willy datang." ujar Tedy.
Mereka semua langsung berdiri menghadap ke arah Willy dengan wajah serius.
Willy pun turun dari motornya, melangkah lebih dekat menuju teman-temannya berada.
"Wil, gimana rencana lu sekarang? Randi udah dua kali dikejar-kejar, beruntung dia masih selamat. Tapi, tetap aja kita gak bisa tenang kalau masalah teror ini belum terselesaikan!" ucap Syakur.
"Iya Wil, kita daritadi aja was-was terus dan gak berani pulang ke rumah sendirian. Pengeroyok itu kejam-kejam Wil," sahut Tedy.
"Santai guys! Gue udah ada rencana buat tangkap mereka semua, jadi kalian gausah panik lagi!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Hah? Apa rencana lu?" tanya Randi penasaran.
"Sebelumnya gue mau kasih tahu ke kalian, hari ini kita ada dua agenda. Yang pertama, kita cari dan tangkap para pengeroyok itu. Yang kedua, kita serbu markas black jack dan habisin mereka semua!" ucap Willy penuh kekesalan.
"Kenapa lagi sama anak black jack, Wil? Mereka bikin masalah?" tanya Randi.
"Iya, kemarin mereka datang ke sekolah gue dan bikin gue diskors selama seminggu. Gue jelas gak terima, makanya gue mau kita semua serang mereka nanti!" jawab Willy.
"Oke Wil! Kita juga sebenarnya masih dendam sama mereka, setelah kejadian pembakaran jaket itu. Kita harus habisin mereka dan bakar juga jaket mereka!" ucap Syakur.
"Ya, itu yang bakal kita lakuin nanti. Untuk sekarang, kita cari dulu para pengeroyok itu supaya kita bisa hidup tenang!" ucap Willy.
"Tapi Wil, gimana caranya kita bisa tangkap mereka?" tanya Tedy.
"Kita pancing mereka," jawab Willy singkat.
"Hah? Kayak gimana sih maksudnya?" tanya Tedy tak mengerti.
"Iya, kita akan gunakan salah satu diantara kita buat jadi pancingan. Dia harus jalan sendiri di jalanan, sampai tuh orang-orang pengeroyok muncul. Kalau mereka udah muncul, baru deh kita sikat mereka sampai bersih!" jelas Willy.
"Terus, siapa yang bakal jadi pancingannya Wil?" tanya Tedy.
"Lu boleh, atau yang lain juga boleh." jawab Willy.
"Hah? Waduh, jangan gue dong Wil! Gue gak berani ah, nanti gue babak belur lagi sama mereka!" ucap Tedy menolak.
"Yah elah Ted, lemah amat sih lu! Lu itu cuma dijadiin pancingan, gausah takut lah!" ujar Arif.
"Oke, Arif yang bakal jadi pancingannya. Kita berangkat sekarang!" ujar Willy.
"Hah? Eh eh, kenapa jadi gue Wil? Tadi kan kata lu si Tedy, kok malah gue?" ujar Arif kebingungan.
"Udah gapapa, gue lihat-lihat lu pemberani dibanding Tedy. Ayo guys kita cabut sekarang!" ucap Willy langsung naik ke motornya.
"Siap Wil!" ucap mereka bersamaan.
"Eh eh ntar dulu, gue belum siap ini!" ujar Arif.
Namun, seluruh anggota the darks disana memaksa Arif untuk segera berangkat dan akhirnya Arif pun terpaksa menurut.
Bersambung....