
My love is sillie
Episode 129
•
"Tuan, aku—"
"Iya saya sudah dengar, tadi kan kamu bicara di sebelah saya. Ini saya mau hubungi montir kenalan saya buat bantu Max," potong Martin.
"Terimakasih ya tuan! Ternyata tuan itu baik banget sih, aku jadi makin sayang deh!" ucap Kiara.
"Kalau saya gak baik, kamu gak mungkin ada disini. Bisa jadi kamu lagi jalan kaki menuju sekolah, karena saya gak mau antar kamu," ujar Martin.
"Ahaha, tuan bisa aja! Jadi gimana nih, montirnya bisa kesini apa enggak?" ucap Kiara.
"Eee bisa kok, kamu bilang aja sama si Max buat tunggu karena sebentar lagi montirnya bakal datang!" jawab Martin.
"Iya tuan," ucap Kiara singkat.
Lalu, Kiara pun kembali menatap Max untuk menyampaikan apa yang dikatakan Martin tadi.
"Max," panggil Kiara.
"Ah iya Kiara? Kenapa?" tanya Max.
"Montirnya udah dalam perjalanan, kamu tunggu aja sebentar ya!" jawab Kiara.
"Oh gitu, iya iya makasih ya Kiara! Sampaikan terimakasih aku juga ke Martin ya!" ujar Max.
"Iya Max," ucap Kiara singkat.
"Sama-sama Max, sekarang kamu naik aja ke mobil saya dan kita berangkat bareng ke sekolah!" sahut Martin.
"Hah? Yang bener nih Martin?" ujar Max terkejut.
"Iya, biar kamu gak telat juga. Sudah ayo masuk, motor kamu pasti akan kok disini!" ajak Martin.
"Iya Martin, makasih ya!" ucap Max tersenyum senang.
"Sama-sama," balas Martin singkat.
Disaat Max hendak masuk ke mobil, tiba-tiba saja rombongan geng motor muncul mengelilinginya dan meneriakinya.
"WOI SINI LO ANJENG!!"
Kiara yang melihat serta mendengar itu tampak ketakutan, dia menoleh ke arah Martin bermaksud meminta bantuannya.
"Tuan, bagaimana ini? Orang-orang itu siapa?" tanya Kiara khawatir.
"Saya gak tahu, mungkin mereka musuh Max. Sudahlah, kita kan tidak ada urusannya dengan mereka! Jadi, kamu gak perlu takut!" jawab Martin.
"Tapi tuan, kalau mereka melukai Max gimana? Kita kan ada disini juga, masa kita mau diam aja?" tanya Kiara.
"Tenang ya! Kita pantau aja dulu, siapa tahu mereka cuma mau ngobrol sama si Max," jawab Martin menenangkan gadisnya.
"I-i-iya tuan," ucap Kiara mengangguk singkat.
Sementara itu, Max terlihat heran dengan kedatangan gerombolan geng motor di depannya itu. Ia menatap mereka satu persatu, namun tetap tak ada yang ia kenali.
"Kalian siapa? Kenapa kalian hadang gue? Apa masalah kalian sama gue?" tanya Max.
"Gausah banyak omong lo! Serang dia!!" teriak si ketua geng.
"Hiyaaa...!!"
Sontak Kiara tampak histeris ketika geng motor tersebut menyerang Max secara membabi buta, ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada pria itu.
"Tuan, bagaimana ini? Max diserang sama mereka, kita harus bantu dia!" ujar Kiara cemas.
"Hey hey, tenang Kiara sayang! Saya akan turun temui mereka dan bubarkan mereka, kamu diam aja disini jangan kemana-mana ya!" ujar Martin.
"Iya tuan, cepetan tuan turun dan bantu Max ya! Aku takut dia terluka parah!" ucap Kiara.
Martin mengangguk pelan, dia turun dari mobil untuk membantu Max yang sedang berkelahi dengan geng motor disana.
Max tampak kewalahan, hampir saja dia terkena pukulan jika Martin tak datang.
"Hey hentikan!!" teriaknya.
******
"Ada apa Sasha??" tanya Willy.
"Eee anu itu..." Sasha gugup dan bingung saat hendak menjawab.
"Willy, sayang ini aku!" potong Aurora dari luar.
"Hah? Pacar? Itu kamu??" Willy terkejut, ia melangkah lebih dekat ke depan untuk memastikan apakah benar yang ia lihat adalah Aurora.
"Iya sayang, masa kamu gak ngenalin pacar kamu sendiri?" ucap Aurora.
"Duh duh, iya aku kenal kok sayang. Kamu ngapain pagi-pagi kesini?" ucap Willy mendekat dan langsung memeluk kekasihnya itu.
"Emang gak boleh aku ke rumah pacarku sendiri?" tanya Aurora.
"Boleh dong sayang, tapi aku cuma heran aja gitu. Biasanya kan kamu jarang ke rumahku pagi-pagi begini," jelas Willy.
"Ohh, iya iya tadi aku niatnya mau ajak kamu jalan bareng. Eh tapi, ternyata di rumah kamu malah ada perempuan lain itu," ujar Aurora.
Willy beralih menatap Sasha, ia dapat merasakan kecemburuan kekasihnya pada Sasha.
"Ngapain dia disini sayang?" tanya Aurora lagi.
Willy mengeratkan pelukannya, mencium kedua pipi serta hidung Aurora dan mencolek dagunya dengan gemas.
"Aku juga baru tahu Sasha kesini, soalnya tadi aku masih di kamar," jawab Willy.
"Iya Wil, gue tadi bawain sarapan buat lu sama nyokap bokap lu," sela Sasha.
"Oh gitu, waduh pake repot-repot segala sih Sya! Terimakasih ya!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Sama-sama Wil, yaudah lu masuk aja dulu terus sarapan! Tadi sih nyokap lu katanya mau siapin sarapan di meja makan," ujar Sasha.
"Iya, nanti gue masuk." ucap Willy singkat.
"Sayang, aku juga bawain sandwich loh buat kamu. Gimana dong?" ucap Aurora tiba-tiba.
Willy kembali menatap gadisnya, melihat kotak bekal yang dibawa sang kekasih di tangannya itu kemudian mengambilnya.
"Mmhhh ini pasti enak sih sandwich buatan pacar aku tersayang!" ujar Willy.
"Iyalah, itu aku buat sendiri loh spesial untuk kamu. Tapi, kamu malah udah dibawain sarapan sama orang lain. Berarti sandwich aku gak bakal kemakan dong," ucap Aurora tampak bersedih.
"Hey, kamu jangan sedih gitu dong sayang! Aku makan kok sandwich kamu, rugi lah kalo gak dimakan mah!" bujuk Willy seraya menangkup wajah Aurora.
"Gak dimakan juga gapapa, kan bisa aku bawa balik," ketus Aurora.
Cup!
Willy mengecup bibir Aurora secara tiba-tiba, Sasha yang melihatnya amat terkejut tak menyangka jika Willy berani melakukannya disana.
"Jangan ngambek lah! Aku pasti makan kok sandwich kamu ini, sekarang kita masuk dulu yuk!" ucap Willy sambil tersenyum.
Entah mengapa Aurora luluh, dia pun mengiyakan ajakan Willy dan tidak jadi marah pada kekasihnya itu.
******
Tiba-tiba saja, seseorang datang ke markas mereka dan berhenti tepat di dekat mereka.
"Siapa tuh?" tanya Syakur heran.
"Gak tahu, kita samperin aja!" jawab Zafran.
Mereka pun bangkit dan melangkah mendekati pria yang baru datang itu.
"Woi! Siapa lo?" tegur Zafran.
Seketika Zafran dan yang lainnya terkejut begitu melihat siapa yang ada di depan mereka saat ini, sedangkan orang itu masih tetap tersenyum.
"Chalvin? Ini beneran lo??" ujar Zafran dengan wajah tak percaya.
"Iyalah bro, masih ingat kan lo sama gue?" jawab si pria bernama Chalvin itu.
Chalvin turun dari motornya, menghampiri Zafran serta anggota the darks lainnya dengan terus tersenyum.
"Pasti ingat lah, gimana gue bisa lupa sama lo?!" ujar Zafran sambil tersenyum.
"Hahaha, mantap lah!" ucap Chalvin sembari melakukan tos dengan para anggota the darks.
"Ayo duduk dulu bro, biar nanti dibeliin minum sama si Jeki!" ajak Zafran.
"Siap!" Chalvin menurut saja, lalu ikut terduduk di kursi yang tersedia bersama yang lainnya.
"Eh Zaf, dia siapa? Gue baru kali ini ngeliat dia di markas the darks, apa dia teman lo?" tanya Arif pada Zafran.
"Yah elah bro, dia itu si Chalvin mantan anak the darks juga. Dulu Chalvin yang jadi wakil ketua di geng kita, sebelum akhirnya dia putusin buat keluar dan tinggal di luar negeri," jelas Leo.
"Nah, udah dijelasin tuh sama si Leo. Lo ngerti kan sekarang Rif?" timpal Zafran.
"Hehe, iya iya ngerti gue. Sorry ya bang, gue anak baru soalnya!" ucap Arif.
"Santai aja! Gue kan udah lama gak kumpul disini, ternyata banyak anak-anak baru ya yang masuk the darks?" ujar Chalvin.
"Iya gitu deh," jawab Zafran menganggukkan kepala.
"Oh ya, omong-omong ini si Willy kemana dah? Gue pengen ketemu dan ngobrol lagi sama dia," tanya Chalvin sambil celingak-celinguk.
"Dia mah datang kesini nya gak nentu, kadang siang sehabis pulang sekolah, tapi kadang juga malam-malam baru datang. Kalau pagi-pagi begini, dia pasti masih asyik pacaran sama ceweknya," jawab Zafran.
"Betul tuh, si Willy udah jarang banget kumpul sama kita! Ya mungkin dia lagi dimabuk cinta, wajar sih ceweknya cakep banget udah kayak bidadari khayangan," sahut Leo.
"Hahaha, masa sih? Gue jadi penasaran sama ceweknya si Willy yang sekarang," ujar Chalvin.
"Tunggu aja bro, dia kadang suka kesini bareng ceweknya. Ya tapi gue juga gak tahu kapan sih," ucap Zafran.
"Okelah!" ucap Chalvin singkat.
******
"Gimana? Kamu senang gak sayang naik kuda bareng aku?" tanya Thoriq pada kekasihnya.
"Hahaha, senang banget sayang! Tadinya aku kira kamu mau ajakin aku main kuda-kudaan di kasur, eh ternyata malah naik kuda beneran," jawab Mia.
"Hahaha, makanya pikiran kamu tuh dibersihin dulu sayang biar gak ngeres!" ujar Thoriq.
"Ih kamu mah bikin sebel! Yang ngeres itu bukan aku, tapi kamu tau!" cibir Mia.
"Lah kok aku? Padahal tadi kan kamu yang mikirnya kotor, orang aku mau ajak kamu berkuda, eh kamu malah mikir yang lain," goda Thoriq.
"Tau ah kamu emang nyebelin!" kesal Mia.
"Hahaha, udah udah jangan cemberut begitu! Lama-lama aku makan nih bibir kamu disini!" ujar Thoriq.
"Emang berani?" tantang Mia.
"Dih, siapa takut?! Kayaknya enak deh ciuman di atas kuda begini," ucap Thoriq.
"Tuh kan, emang kamu yang mesum!" cibir Mia.
"Iya iya, aku mesum iya. Kalo gitu boleh kan aku makan bibir pacar aku yang cantik ini sambil pegang-pegang gunung kamu?" ucap Thoriq sensual.
"Boleh, tapi kamu hati-hati loh sayang! Jangan sampai kudanya lepas dan kita malah jatuh nanti!" peringat Mia.
"Santai aja sayang, aku ini ahli berkuda dan kita pasti gak bakal jatuh kok! Kamu peluk aja aku yang kuat, terus nikmati penyatuan bibir kita!" ucap Thoriq.
Mia mengangguk saja dan menuruti semua perkataan Thoriq.
Lalu, mereka mulai saling melu-mat satu sama lain dengan panas dan intens. Tangan Thoriq juga bergerak pelan menyentuh bukit kembar Mia.
Sangking asyiknya berciuman, mereka sampai tak sadar kalau kuda yang mereka tunggangi sudah bergerak melewati batas.
Akhirnya mereka menyudahi momen panas itu, seketika Mia dan Thoriq panik menyadari mereka tersesat.
"Hah? Kita dimana sayang??!" ujar Mia panik.
Thoriq mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan itu, dalam sekejap saja mereka sudah masuk kesana tanpa disadari.
"Duh, gimana ini sayang? Aku gak mau tersesat disini cuma sama kamu!" rengek Mia.
"Tenang cantik! Selama ada aku di sebelah kamu, aku pasti bakal jagain kamu!" ucap Thoriq.
"Iya iya, tapi sekarang gimana ini caranya kita buat keluar dari hutan ini? Aku gak mau ya lama-lama ada disini, aku pengen keluar!" ujar Mia.
"Sabar ya sayang! Kita cari jalan keluar di sekitar sini, aku janji sama kamu kalau kita pasti bisa keluar dari tempat ini!" ucap Thoriq.
"Aku percaya sama kamu, tolong kamu bawa aku keluar ya dari sini!" ucap Mia.
"Iya, sekarang coba deh kamu cek hp kamu! Siapa tahu kita bisa minta bantuan dari orang pemilik kuda," suruh Thoriq.
"Iya sayang," Mia menurut dan membuka ponselnya.
"Hah??!
******
Willy beralih menatap Sasha, ia dapat merasakan kecemburuan kekasihnya pada Sasha.
"Ngapain dia disini sayang?" tanya Aurora lagi.
Willy mengeratkan pelukannya, mencium kedua pipi serta hidung Aurora dan mencolek dagunya dengan gemas.
"Aku juga baru tahu Sasha kesini, soalnya tadi aku masih di kamar," jawab Willy.
"Iya Wil, gue tadi bawain sarapan buat lu sama nyokap bokap lu," sela Sasha.
"Oh gitu, waduh pake repot-repot segala sih Sya! Terimakasih ya!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Sama-sama Wil, yaudah lu masuk aja dulu terus sarapan! Tadi sih nyokap lu katanya mau siapin sarapan di meja makan," ujar Sasha.
"Iya, nanti gue masuk." ucap Willy singkat.
"Sayang, aku juga bawain sandwich loh buat kamu. Gimana dong?" ucap Aurora tiba-tiba.
Willy kembali menatap gadisnya, melihat kotak bekal yang dibawa sang kekasih di tangannya itu kemudian mengambilnya.
"Mmhhh ini pasti enak sih sandwich buatan pacar aku tersayang!" ujar Willy.
"Iyalah, itu aku buat sendiri loh spesial untuk kamu. Tapi, kamu malah udah dibawain sarapan sama orang lain. Berarti sandwich aku gak bakal kemakan dong," ucap Aurora tampak bersedih.
"Hey, kamu jangan sedih gitu dong sayang! Aku makan kok sandwich kamu, rugi lah kalo gak dimakan mah!" bujuk Willy seraya menangkup wajah Aurora.
"Gak dimakan juga gapapa, kan bisa aku bawa balik," ketus Aurora.
Cup!
Willy mengecup bibir Aurora secara tiba-tiba, Sasha yang melihatnya amat terkejut tak menyangka jika Willy berani melakukannya disana.
"Jangan ngambek lah! Aku pasti makan kok sandwich kamu ini, sekarang kita masuk dulu yuk!" ucap Willy sambil tersenyum.
Entah mengapa Aurora luluh, dia pun mengiyakan ajakan Willy dan tidak jadi marah pada kekasihnya itu.
Mereka langsung melangkah masuk ke dalam, sedangkan Sasha masih terdiam di tempatnya dan menatap ke arah mereka dengan tatapan tak suka.
"Ish, Willy malah jadi mesra-mesraan sama Aurora! Padahal niat gue kesini kan karena gue pengen deket lagi sama Willy, eh tapi si perusuh malah datang!" batin Sasha.
Willy dan Aurora tak sengaja berpapasan dengan Bu Ani yang baru selesai menyiapkan sarapan.
"Loh loh, ada nak Aurora??" ujar Bu Ani.
Bersambung....