My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 28. Kiara datang lagi



My love is sillie


Episode 28



"Willy..." Aurora menyebut nama pria itu dengan lembut sembari perlahan melangkah mendekati Willy yang masih terbaring disana.


Sontak Willy terkejut dan menoleh ke asal suara, ia terbelalak saat melihat Aurora datang kesana bersama kedua temannya.


"Lu?" ucap Willy terheran-heran.


"Wil, kita ajak dia kesini karena katanya dia kenal sama lu. Terus, dia juga bilang kalau dia pengen ketemu sama lu." ucap Randi.


"Iya Willy, gue gak nyangka lu bisa kayak gini. Pantas aja gue tungguin lu dari kemarin, tapi lu gak datang-datang juga." kata Aurora.


"Sorry ya! Gue gak bisa tepatin janji gue buat datang temuin lu," ucap Willy.


"Gapapa Wil, gue paham kok sama situasinya. Lu kan lagi sakit sekarang, justru gue cemas banget sama lu. Oh ya, kondisi lu gimana sekarang? Udah membaik belum?" ucap Aurora.


"Gue baik-baik aja kok, lu gak perlu cemas!" jawab Willy tersenyum tipis.


"Syukurlah!" ucap Aurora.


Randi dan Thoriq saling melirik satu sama lain saat melihat Willy serta Aurora sama-sama canggung disana.


"Umm... gue boleh tahu gak, kenapa sih lu bisa jadi kayak gini?" tanya Aurora penasaran.


"Jadi gini Rora, Willy itu—"


"Heh! Yang ditanya itu Willy, bukan lu. Udah, lu gausah sok jelasin ke Aurora! Biar Willy sendiri aja yang ceritain semuanya," potong Randi saat Thoriq hendak berbicara.


"Hehe sorry sorry.." ujar Thoriq nyengir.


"Iya Aurora, gue sempat dipukulin sama anak geng black jack. Mereka itu musuh bebuyutan the darks, geng kita." ucap Willy menjelaskan pada Aurora.


"Ohh... berarti seru dong ya geng kalian punya musuh kayak gitu, gue jadi pengen gabung deh sama kalian." kata Aurora.


"Hah? Buset dah yang kayak gitu dibilang seru, lu salah makan apa gimana sih!" ujar Thoriq heran.


"Wajar aja Riq, Aurora ini kan emang pengen jadi anak jalanan kayak kita. Dia minta sama gue buat ajarin banyak hal supaya dia bisa jadi ratu jalanan," ucap Willy tersenyum.


"Waw keren juga!" ucap Thoriq.


"Gue belum keren, kan gue belum bisa wujudin mimpi gue itu." kata Aurora.


"Tenang aja! Sudah dapat dipastikan kalau saudara Willy ini akan mengajarkan kamu semua tentang jalanan, dan dalam waktu singkat pasti lu bisa jadi bringas sama seperti kita." ujar Thoriq.


"Iya tuh, kalau masalah itu mah Willy jagonya!" sahut Randi memuji Willy.


"Apaan sih kalian, dasar lebay!" ujar Willy.


"Bagus deh! Tapi, lu harus sembuh dulu Wil baru bisa ajarin gue!" ucap Aurora.


"Itu mah pasti lah, lagian bentar lagi juga gue bakal sembuh dan keluar dari sini." kata Willy.


"Tapi Wil, biaya rumah sakit ini gimana? Emang lu udah bisa bayarnya?" celetuk Thoriq.


Willy langsung melirik tajam ke arah Thoriq, sedangkan Aurora merasa terkejut mendengar itu dan turut menatap wajah Thoriq karena tak menyangka jika Willy belum bisa membayar biaya rumah sakit itu.


******


Pak Gunawan pun melangkah ke dekat pintu meninggalkan Bu Ani disana, dia menarik handle pintu dan membukanya lebar.


Pak Gunawan cukup terkejut melihat seorang wanita berdiri membelakanginya disana.


Seketika wanita itu berbalik menunjukkan wajahnya saat mendengar suara pintu dibuka.


Ya pak Gunawan semakin terkejut saat menyadari siapa wanita yang ada di hadapannya kini, bahkan mulutnya sampai terbuka lebar.


"Kamu...??" ujarnya.


"Waalaikumsallam, saya baik." ujar pak Gunawan gugup saat wanita itu mencium tangannya.


"Ka-kamu bagaimana bisa ada disini? Bukannya kata Willy kamu sudah dibawa oleh rentenir?" tanya pak Gunawan terheran-heran.


Ya wanita yang ada di hadapan pak Gunawan saat ini adalah Kiara, sosok perempuan yang dicintai oleh Willy.


"Itu memang betul, pak. Tapi, saya sekarang sudah kembali kesini." kata Kiara.


"Lalu, untuk apa kamu datang kesini lagi? Bukankah kamu sudah berbahagia dengan rentenir itu?" tanya pak Gunawan bingung.


"Saya hanya ingin silaturahmi, pak. Saya tahu saya punya banyak salah dengan Willy. Maka dari itu, saya datang lagi kemari untuk menebus semua kesalahan saya." jelas Kiara.


"Kamu terlambat, Willy sudah tidak ada disini. Jadi, kamu tidak bisa bertemu dengan dia!" ucap pak Gunawan.


"Apa? Bapak tidak sedang membohongi saya kan? Ayolah pak, saya cuma mau bertemu dengan Willy dan bicara sebentar sama dia!" ucap Kiara.


"Mau sekeras apapun kamu memohon sama saya, tetap saja kamu tidak bisa bertemu dengan Willy. Kan sudah saya bilang, Willy itu tidak ada disini!" tegas pak Gunawan.


"Tapi pak, memangnya Willy kemana sekarang?" tanya Kiara.


"Saya pun tidak tahu, sampai saat ini saya dan Bu Ani juga terus melakukan pencarian terhadap Willy. Tapi, kami belum mendapat kabar sama sekali." jawab pak Gunawan.


Kiara terdiam merunduk, niatnya untuk bertemu kembali dengan Willy pupus seketika karena Willy ternyata tidak ada di rumahnya.


******


Sasha, Aziz dan Ratih sampai di lokasi terakhir kali Willy berada. Alamat itu sesuai dengan yang diberitahu oleh Ilham sebelumnya.


Namun, Sasha cukup bingung harus mencari Willy kemana karena di sekitar sana sudah tak mungkin ada Willy.


"Sya, ini tempatnya?" tanya Aziz cemas.


"Iya Ziz, menurut penuturan Ilham, Willy ada disini terakhir kali." jawab Sasha.


"Apa? Ilham??" Aziz terkejut mendengarnya.


"Maksudnya, Ilham yang udah keroyok Willy gitu?" sambung Aziz bertanya pada Sasha.


"Eee ya gitu deh," jawab Sasha asal.


"Bener-bener tuh anak!" geram Ilham.


"Ya ampun! Terus, gimana ya kondisi Willy sekarang? Sumpah deh gue cemas banget!" ujar Ratih menggigit jari-jarinya.


"Hadeh, lu gausah lebay deh! Bukan lu aja yang panik disini, gue sama Aziz juga! Dan kita ini sama-sama gak tahu Willy ada dimana!" ujar Sasha kesal dengan sikap Ratih itu.


"Iya Sya, gue kan cuma cemas aja. Lu gausah ngomel-ngomel gitu kali!" ucap Ratih.


"Hey, udah lah jangan pada ribut! Mending sekarang kita tanya ke warga di sekitar sini, siapa tahu mereka pernah ngeliat Willy." usul Aziz.


"Nah bener tuh, kalo gitu kita berpencar sekarang supaya lebih cepat. Lu sama Ratih coba tanya ke pedagang di sekitar sana, biar gue disana." ucap Sasha mengatur strategi.


"Oke Sya!" ucap Aziz menurut.


Sasha pun mulai bergerak untuk bertanya pada orang-orang disana mengenai Willy.


"Ziz, Sasha tuh kenapa sih?" ujar Ratih.


"Hah? Kenapa apanya?" tanya Aziz heran.


"Ya itu tadi, dia kelihatan gak suka gitu sama gue. Padahal gue kan cemas banget sama Willy, eh dia malah ngomel gitu!" ujar Ratih.


"Udah lah, gausah baper! Sasha kan lagi panik, jadi wajar aja kalo dia begitu!" ucap Aziz.


"Yuk mending kita tanya sekarang ke pedagang disana!" sambung Aziz.


"Iye iye..." Ratih menurut lalu ikut bersama Aziz menuju tempat para pedagang yang sedang berkumpul di depan sana.


Bersambung.....