My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 68. Bu Ani bersedih



My love is sillie


Episode 68



"Eh iya, ayo ayo kalian masuk dulu! Kita lanjut bicaranya di dalam aja biar enak!" ucap bu Ani.


"Terimakasih Bu! Tapi, kami kesini sebetulnya mau cari seseorang." kata Martin.


"Hah? Seseorang siapa?" tanya Bu Ani kaget.


Martin pun mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Aurora kepada Bu Ani.


"Ini bu," ucap Martin.


Bu Ani menganga lebar saat melihat foto itu, tentu ia sangat mengenali seseorang di dalam foto tersebut yang tidak lain adalah Aurora.


"Gimana Bu? Ibu pernah lihat cewek ini apa enggak?" tanya Martin.


"Eee jelas pernah dong, dia ini kan nak Aurora temannya anak ibu si Willy." jawab Bu Ani.


"Nah pas banget bu, terus ibu tahu gak cewek ini ada dimana sekarang?" tanya Martin.


"Ya kalau itu ibu gak tahu, emang kenapa toh?" jawab Bu Ani.


"Aurora ini sepupu saya, dan ayahnya minta saya buat cari dia. Soalnya dia udah gak pulang dari semalam, tolong ibu bantu saya untuk cari Aurora! Ibu jawab jujur, apa Aurora ada di dalam atau enggak?!" ucap Martin.


"Oalah, ya emang semalam itu nak Aurora nginep disini. Tapi, sekarang dia udah enggak ada disini. Barusan aja dia pergi diantar sama Willy," ucap Bu Ani sambil tersenyum.


"Hah? Berarti bener Bu kalau Aurora nginep disini semalam?" tanya Martin.


"Iya, bukannya nak Aurora udah ngabarin ke ayahnya ya semalam?" ucap Bu Ani.


"Enggak Bu, Aurora gak ada kasih kabar apa-apa ke ayahnya atau ke saya. Itu dia yang bikin ayahnya Aurora cemas sampai sekarang," ucap Martin.


"Waduh! Masa iya sih? Tapi, semalam itu ibu udah minta nak Aurora buat kabarin ayahnya loh dan dia juga bilang kalau udah kasih kabar ke ayahnya. Eh ternyata belum ya, berarti nak Aurora bohong dong sama ibu?" ucap Bu Ani.


"Begitulah Bu, ini pasti karena ajaran anak ibu si Willy itu. Dulu Aurora gak pernah berani kayak gini, nginep di rumah orang lain tanpa kasih kabar papanya. Apalagi sampai bohongin orang termasuk papanya sendiri," ucap Willy.


"Tuan, jangan bicara begitu di depan Bu Ani!" ucap Kiara menegur Martin.


"Kenapa? Ini kenyataan kok dan bu Ani harus tau gimana sikap anaknya," ucap Martin.


"Tuan cukup!" ujar Kiara.


Bu Ani tampak bersedih dan matanya telah mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Martin tadi, sungguh ia tidak terima dengan apa yang dikatakan Martin mengenai putranya.


"Maaf ya nak Kiara, Martin! Ibu mau masuk dulu ke dalam, kalau kalian masih mau cari Aurora silahkan saja! Ibu gak bisa bantu apa-apa, karena ibu juga gak tahu Aurora ada dimana sekarang. Udah ya, ibu masuk dulu!" ucap Bu Ani.


"Bu, tunggu Bu jangan masuk dulu!" ucap Kiara berusaha menahan Bu Ani.


"Ada apa lagi nak Kiara? Apa kalian masih mau menjelekkan Willy lagi di depan ibu?" ujar Bu Ani.


"Enggak Bu, gak gitu. Aku minta maaf ya Bu atas perkataan tuan Martin tadi, dia gak bermaksud jelekin Willy kok!" ucap Kiara.


"Iya, gapapa. Yaudah ya, ibu masuk dulu! Permisi!" ucap Bu Ani.


Braakkk....


Bu Ani langsung menutup pintu dengan keras dan membuat Kiara memejamkan mata karena terkejut dengan suara itu.


"Kiara, kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu pake minta maaf segala tadi?" ujar Martin.


"Tuan yang apa-apaan?! Tuan gak punya perasaan apa gimana sih? Yang tadi itu orang tua loh, tuan udah bikin dia sakit hati gara-gara ucapan tuan. Gak seharusnya tuan bicara begitu di depan Bu Ani, itu jahat banget tau!" geram Kiara.


"Kamu kenapa jadi salahin saya? Kan saya cuma bicara fakta, supaya Bu Ani tau gimana kelakuan putranya." kata Martin.


"Tuan emang udah gak bisa dikontrol lagi!" ujar Kiara langsung pergi begitu saja.


"Kiara tunggu!" Martin berteriak dan berusaha mengejar Kiara agar gadis itu tidak semakin emosi.


******


Keesokan harinya, Willy hendak berangkat sekolah seperti biasa dan akan pamitan pada kedua orangtuanya disana.


Namun, tampak kalau Bu Ani masih saja belum bisa melupakan perkataan Martin semalam mengenai Willy yang tidak dapat ia terima.


Willy pun terheran-heran melihatnya, ia langsung saja menghampiri ibunya itu dan duduk di samping sang ibu dengan penuh kecemasan.


"Bu, ibu kenapa toh?" tanya Willy penasaran.


"Eh kebetulan kamu udah bangun Willy, cepat kamu katakan sama bapak kemana kamu bawa nak Aurora! Bapak sudah gak tahan lagi lihat ibu kamu terus-terusan begini," ucap pak Gunawan.


"Pak, sabar dulu dong pak! Aku aja gak tahu ibu kenapa kayak gini, coba bapak jelasin dong ke aku supaya aku bisa ngerti! Terus, kenapa juga dihubungkan sama Aurora coba?" ujar Willy.


"Jelas aja ini ada hubungannya sama nak Aurora, karena ibu kamu begini itu setelah dia ketemu sama sepupunya nak Aurora semalam. Coba aja kamu tanya langsung ke ibu kamu!" ujar pak Gunawan.


Willy pun menatap wajah ibunya dan meraih satu tangan Bu Ani untuk digenggam.


"Bu, ibu ini sebenarnya kenapa? Apa yang dikatakan sama Martin semalam sampai ibu jadi begini? Ibu cerita aja sama aku, gak perlu takut atau cemas!" ucap Willy dengan lembut.


"Semalam itu Martin bilang ke ibu, kalau kamu sudah mengajarkan yang tidak benar sama nak Aurora sampai nak Aurora berani berbohong pada orangtuanya sendiri. Ibu jelas gak terima dong Willy, makanya ibu sedih." ucap Bu Ani.


Willy langsung dibuat geram setelah mendengar penjelasan ibunya, rahangnya bergetar menahan emosi di dalam dirinya.


"Eee ibu tenang aja ya! Kata-kata Martin mah gausah didengar, dia itu emang gak suka sama aku makanya dia selalu bicara yang buruk tentang aku." ucap Willy.


"Tapi, itu semua gak benar kan Willy? Kamu gak menghasut Aurora?" tanya Bu Ani.


"Ya jelas enggak lah Bu, ibu percaya kan sama aku? Buat apa juga aku hasut Aurora? Gak ada untungnya sama sekali," jawab Willy tegas.


"Syukurlah kalau memang begitu! Ibu percaya kamu memang gak mungkin menghasut nak Aurora seperti yang dikatakan Martin!" ujar Bu Ani.


"Iya Bu, itu gak benar kok." kata Willy.


Bu Ani pun tersenyum tipis sembari mengelus punggung tangan putranya.


Willy langsung memeluk ibunya dari samping sambil mengusap-usap pundak sang ibu.


"Udah ya Bu, jangan sedih lagi!" ucap Willy.


"Iya nak, ibu gak sedih lagi kok." ucap Bu Ani.


Pak Gunawan tersenyum lebar melihat putranya mampu membuat Bu Ani tersenyum kembali.


"Oh ya, kamu mau berangkat sekarang? Ini kan masih jam lima sayang, tumben kamu cepat banget siapnya." tanya Bu Ani keheranan.


"Eee iya Bu, aku mau samperin Aurora dulu sekalian kasih sarapan buat dia. Ibu udah masak apa belum nih?" jawab Willy.


"Yah belum sayang, maaf ya! Kamu kan tadi tahu sendiri kalau ibu masih sedih mikirin kata-kata nak Martin, jadi ibu belum sempat masak." kata Bu Ani.


"Oh, yaudah gapapa Bu. Nanti biar aku beli di luar aja sarapannya," ucap Willy.


"Emangnya nak Aurora sekarang dimana, Wil? Kamu bilang semalam mau antar dia pulang, tapi kenapa dia belum pulang juga ke rumahnya?" tanya Bu Ani penasaran.


"Ah iya Bu, itu karena Aurora sendiri yang gak mau pulang. Jadinya aku bawa dia ke hotel deh, tapi ini bukan karena hasutan aku bu." jawab Willy.


"Yang benar? Kamu gak hasut nak Aurora?" tanya pak Gunawan menaruh curiga pada putranya.


"Udah udah, jangan ribut!" ucap Bu Ani.


"Iya Bu, kalo gitu aku berangkat sekarang ya Bu?" ucap Willy mencium tangan ibu dan bapaknya.


"Iya, hati-hati ya Willy!" ucap Bu Ani tersenyum tipis.


"Iya Bu, assalamualaikum.." ucap Willy.


"Waalaikumsallam," jawab Bu Ani dan pak Gunawan.


Willy pun beranjak dari duduknya dan pergi keluar rumah dengan cepat.


Saat ia hendak naik ke motornya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


Pukkk...


Willy langsung menoleh ke belakang, ia syok melihat kehadiran Martin disana yang tengah menatapnya sambil tersenyum.


"Halo Willy!" ucap Martin.


******


Disisi lain, Thoriq sudah bisa bangkit dan duduk di atas ranjangnya setelah beberapa hari ini ia hanya berbaring akibat rasa sakitnya.


Kedua orangtuanya yang berada disana pun tampak tersenyum bahagia melihat putra mereka semakin membaik kondisinya.


"Thoriq, good morning sayang!" ucap Mutia.


"Eh mama, morning too mah! Mama abis darimana?" ucap Thoriq.


"Ohh, ini mama tadi ke toilet sebentar. Kamu takut ya ditinggal sama mama papa?" ucap Mutia.


"Enggak mah, aku cuma penasaran aja." kata Thoriq.


"Halah, bilang aja kalau kamu takut Riq! Sudah besar kok masih takut," ledek Jaka.


"Papa apaan sih? Aku gak takut loh," elak Thoriq.


"Yaudah, kamu mau sarapan sekarang sayang?" tanya Mutia.


"Eee nanti aja deh mah," jawab Thoriq.


"Kok nanti sih? Sekarang dong, biar kamu cepat sembuh itu luka-lukanya!" ucap Jaka.


"Apa hubungannya pah luka aku sama sarapan? Walau aku sarapan sekarang, emangnya aku bakal langsung sembuh?" ucap Thoriq.


"Ya enggak juga sih," ujar Jaka.


"Yeh si papa malah bercanda," cibir Thoriq.


"Kalau kamu emang belum mau makan sekarang, yaudah gapapa mama gak maksa. Tapi, kamu istirahat dulu ya Thoriq sayang!" ucap Mutia.


"Iya mah, aku istirahat kok. Nah pah, gitu dong kayak mama lembut dan perhatian ke aku! Jangan malah galak-galak terus!" ucap Thoriq.


"Heh! Emangnya sejak kapan papa galakin kamu? Jangan adu domba deh!" ujar Jaka.


"Hehe.." Thoriq nyengir sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


"Eh ya pah, mah. Kondisi teman-teman aku yang lain gimana? Kayak si Jeki, Farrel sama Leo?" tanya Thoriq penasaran.


"Mereka sudah dipindahkan ke kamar rawat masing-masing, tapi khusus Farrel dia dibawa dari rumah sakit ini sama mama papanya." jawab Mutia.


"Hah? Kenapa Farrel harus dibawa pindah rumah sakit, mah?" tanya Thoriq heran.


"Mama juga gak tahu, tapi katanya sih supaya Farrel gak ketemu dan bergaul lagi sama kamu atau anak-anak the darks lainnya. Kayaknya orang tua Farrel trauma deh, karena putranya babak belur dihajar orang." jawab Mutia.


"Waduh! Berarti Farrel gak bakal gabung sama geng the darks lagi dong? Yah makin berkurang deh anggota the darks!" ujar Thoriq.


"Iya Thoriq, dan kamu juga harus keluar dari geng gak jelas itu! Papa gak mau kejadian kayak gini terulang lagi sama kamu, papa kan sudah bilang berkali-kali sama kamu buat keluar tapi kamu selalu gak mau. Jadi begini kan kamu sekarang, bandel sih!" ucap Jaka.


"Loh pah, masa aku ikut-ikutan keluar sih? Aku gak bisa lakuin itu pah, aku sama the darks udah kayak keluarga dan kami gak bisa dipisahkan!" ucap Thoriq menolak permintaan papanya.


"Pokoknya kamu harus keluar dari geng kamu itu dan jangan pernah gabung-gabung lagi ke geng motor atau semacamnya!" tegas Jaka.


"Tapi pah—"


"Thoriq, udah ya jangan debat dulu! Kita bisa bicarakan ini lain waktu, kalau kamu sudah benar-benar pulih nantinya." potong Mutia.


"Mas, kamu juga tahan emosi kamu dong! Thoriq ini kan masih sakit, gak seharusnya kamu bahas itu sekarang!" sambung Mutia menegur suaminya.


"Iya iya, aku minta maaf!" ucap Jaka.


"Mah, pah, aku boleh gak jengukin Jeki sama Leo?" tanya Thoriq pada kedua orangtuanya.


"Kamu ini bicara apa sih? Ya jelas gak boleh, kamu aja masih sakit kok sok-sokan mau jenguk orang lain!" jawab Jaka ketus.


"Iya Thoriq, jengukin teman kamunya nanti-nanti dulu ya kalau kamu udah pulih!" sahut Mutia.


"Yah yaudah deh, aku juga gak bisa maksa kalau emang gak boleh mah." kata Thoriq pasrah.


"Nah gitu dong, sekali-sekali kamu nurut sama papa dan mama!" ucap Jaka.


Thoriq memutar bola mata dan menghembuskan nafas kasarnya, ia masih memikirkan kondisi Jeki dan Leo yang juga mengalami nasib yang sama seperti dirinya.


******


Aurora terbangun di pagi hari yang indah ini, ia membuka matanya dan duduk di ranjang sambil mengucek-ngucek mata seraya meluruskan kedua tangannya ke atas.


Gadis itu melihat ke arah jam, waktu masih menunjukkan pukul lima pagi lebih sedikit. Ia pun merasa malas untuk beranjak dari kasur dan masih ingin berbaring sejenak disana.


"Duh, masih jam segini ternyata. Willy kira-kira udah bangun apa belum ya?" gumam Aurora.


Aurora pun mengambil ponselnya, ia nyalakan ponsel itu dan melihat banyak pesan juga panggilan tak terjawab dari papanya.


"Huh benar kan, papa pasti nyariin gue dari semalam." ucapnya.


Disaat ia hendak mengirim chat ke nomor Willy, tiba-tiba saja bel pintu kamarnya berbunyi dan membuat ia terheran-heran.


Ting nong ting nong...


"Itu siapa ya? Apa jangan-jangan Willy?" ujarnya.


"Iya kali ya, gue cek aja deh!" sambungnya.


Aurora bergegas turun dari ranjang dan menuju ke pintu, ia begitu ceria lantaran mengira yang datang adalah Willy.


Ting nong ting nong....


"Iya sebentar!" teriak Aurora dari dalam.


Ceklek...


Pintu terbuka, baru saja mulut Aurora hendak terbuka dan memanggil Willy, namun ternyata yang datang bukanlah Willy.


"Pap—papa...??"


Bersambung....