My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 50. Bawa aja jaket gue



My love is sillie


Episode 50.



Aurora telah kembali dari toilet, ia tersenyum melihat Willy masih setia menunggunya di tempat duduk yang tak jauh dari toilet itu.


"Ayo Wil, kita pulang!" ucap Aurora tersenyum renyah ke arah Willy.


Namun, Willy tampaknya belum sadar jika Aurora telah kembali. Pria itu masih asyik melamun sambil memegangi dagunya dan menatap ke arah lain.


Aurora pun duduk di samping Willy, memandangi wajah pria itu sembari mengipas-ngipas tangannya di depan muka Willy.


"Ih kok gak sadar-sadar sih? Lu ngelamunin apa sih Willy?" ujar Aurora kesal dan reflek memukul bahu Willy dengan keras.


"Awhh!!" Willy yang terkejut spontan mencengkram lengan Aurora hingga gadis itu merintih.


"Sa-sakit Wil... lu kok kasar banget sih sama gue?" ucap Aurora meringis.


"Aurora?" Willy akhirnya melepas tangan Aurora dan merasa menyesal, ia mendekati gadis itu lalu mengusap rambutnya lembut.


"Maafin gue ya! Tadi gue kira orang lain yang mukul gue, lagian lu ngapain sih begitu ha? Bikin gara-gara aja deh!" ucap Willy.


"Ish, gue tadi udah nyapa lu baik-baik. Tapi, lu malah diem aja gak nyaut." kata Aurora cemberut.


Willy tersenyum dan langsung merangkul Aurora yang tampak memanyunkan bibirnya itu, ia usap lengan Aurora dengan lembut dan mendaratkan kecupan manis di lengan serta keningnya.


Cupp!


"Gimana? Masih sakit gak?" tanya Willy pelan.


Aurora justru terdiam menatap wajah Willy, entah mengapa ia merasa tersihir dan tidak mampu berkata apapun pada pria itu.


"Hahaha, lu kok diem aja? Pengen dicium lagi?" tanya Willy sambil tertawa kecil.


Cupp!


Tanpa menunggu jawaban Aurora, Willy langsung saja mengecup kening gadis itu.


"Ish, kok main cium aja sih?" protes Aurora.


"Kenapa? Salah? Bukannya lu suka ya gue cium kayak gitu? Makanya kalo ditanya tuh jawab, ini masih sakit apa enggak?!" ujar Willy.


"Iya iya, udah enggak kok." ucap Aurora.


"Gara-gara gue cium kan? Sekali lagi gue minta maaf ya sama lu! Gue gak ada maksud bikin lu terluka kayak tadi, gue tuh reflek doang gara-gara kaget." ucap Willy.


"Iya, gapapa Willy. Asalkan lain kali lu jangan begitu lagi! Sakit banget tau cengkraman tangan lu!" ucap Aurora.


"Ahaha, jelas lah kan gue jagoan. Itu tadi juga gak terlalu keras loh," ucap Willy.


"Gak terlalu keras mata lu! Rasanya hampir putus tau gak urat nadi gue gara-gara lu remes begitu!" ucap Aurora kesal.


"Itu dia sayang, kalo keras banget bisa sampe patah beneran malah." kata Willy.


"Au ah gelap! Yaudah, kita pulang aja yuk!" ucap Aurora mengajak Willy pulang.


"Kok pulang?" tanya Willy.


"Lah, terus kemana kalo gak pulang? Ini kan udah waktunya pulang sekolah, dan gue gak ada jadwal ekskul. Jadi, ya gue mau langsung pulang lah." ujar Aurora beranjak dari tempat duduknya.


"Ya lu emang gak ada, tapi gue mau latihan futsal setengah jam lagi. Ini kan hari pertama gue latihan, masa gue bolos?" ucap Willy.


"Terus hubungannya sama gue apa? Kalo lu mau latihan yaudah latihan aja sana! Gue bisa pulang sendiri naik angkot atau taksi," ucap Aurora.


"Eh jangan!" Willy langsung berdiri cepat menahan tangan Aurora agar tidak pergi. "Masa bidadari mau naik angkot sih? Lu pokoknya gak boleh pulang sendiri, harus bareng sama gue!" sambungnya.


"Apaan sih? Lu kan harus latihan, gimana caranya lu bisa antar gue coba?" tanya Aurora bingung.


"Lu tunggu gue selesai latihan, baru nanti kita balik bareng. Gimana, setuju gak?" jawab Willy.


"Dih, pala lu berjidat! Males amat gue harus nungguin lu selesai latihan, lama tau! Mending gue balik sendiri aja!" ucap Aurora melepas tangan Willy dan hendak pergi.


"Akh!" pekik Aurora saat Willy kembali menariknya.


"Lu ikut gue, paham?!" tegas Willy.


Aurora mengangguk setuju dan akhirnya ikut dengan pria itu.


***


Mereka kini berada di lapangan futsal dalam sekolah, tampak dari kejauhan sudah banyak orang di sekitar sana yang tengah bersiap-siap melakukan pemanasan.


"Nah, lu terserah mau tunggu disini atau ikut masuk ke dalam. Gue pengen ganti baju dulu, tolong lu jagain tas gue ya!" ucap Willy.


"Oke!" ucap Aurora menurut saja.


Willy menyerahkan tasnya kepada Aurora, lalu pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Entah mengapa Aurora tampak pasrah mengikuti semua perkataan Willy saat ini.


"Gue kok nurut aja ya sama tuh cowok? Berasa babu gue jadinya!" gumamnya.


Lalu, Aurora pun duduk di tempat yang tersedia sambil terus memegangi tas milik Willy. Tanpa sadar, Aurora memeluk tas tersebut dan tersenyum hingga tidak mengetahui jika sudah ada dua temannya di dekatnya.


"Cie cie.." Aurora terkejut mendengar itu, ia reflek menoleh ke kanan dan kirinya yang mana sudah terdapat Cindy serta Elsa disana.


"Cindy? Elsa? Sejak kapan kalian disini? Terus, ngapain kalian cie cie begitu?" tanya Aurora heran.


"Ahaha, cie yang lagi kasmaran cie... sampai-sampai tas si Willy lu peluk-peluk gitu, nyaman ya?" ujar Cindy.


"Hahaha, bener tuh!" sahut Elsa.


"Apaan sih? Gue tuh disuruh jagain tas ini sama Willy, dia soalnya lagi ganti baju ke toilet. Daripada kotor gue taruh di jalan, makanya gue peluk aja. Gausah pada ghibah deh!" ucap Aurora.


"Yaelah pake ngeles segala lu! Eh by the way, Willy emang ngapain ganti baju?" tanya Elsa.


"Dia mau latihan futsal, gue disuruh nungguin dia disini sampai selesai. Kalian berdua juga ngapain pada disini?" jawab Aurora.


"Hah? Si Willy ikut ekskul futsal juga? Wah bakal seru dong nih, kita bisa lihat cogan cogan lagi hari ini!" ucap Cindy terkekeh.


"Hadeh, jadi kalian sering pulang telat karena suka nontonin cogan latihan futsal?" tanya Aurora.


"Iya dong, seru tau lihatnya sekalian cuci mata. Apalagi nanti ada cowok lu, beuh—" Elsa menghentikan ucapannya saat menyadari Aurora menatapnya tajam.


"Hehe, jangan marah Rora! Gue bercanda kok, gue sama Cindy gak ngeliatin cowok lu deh serius." ujar Elsa sambil nyengir dan mengangkat dua jarinya.


"Santai elah!" ucap Aurora singkat.


"Ish, jangan nakut-nakutin dong Cindy! Aurora, gue minta maaf ya! Serius loh, tadi gue cuma bercanda. Gue gak bakal lihatin cowok lu kok, suer deh!" ucap Elsa merasa cemas.


"Apaan sih? Gue gak marah kok, santai aja! Mau lu lihatin Willy atau enggak, bukan masalah buat gue!" ucap Aurora.


"Ah masa? Tapi, kok tadi muka lu jutek gitu dan kayak kesel sama gue?" ujar Elsa.


"Itu mah firasat lu aja, gue gak marah kok. Gue itu kesel banget sama si Willy, dia lama banget dah ganti baju doang!" ucap Aurora.


"Cie, pasti lu udah gak sabar ya mau lihat cowok lu pake baju futsal?" goda Elsa.


"Haish, nyesel gue bilang gitu ke kalian!" ujar Aurora langsung memalingkan wajahnya.


"Hahaha.." dua gadis itu kompak menertawakan Aurora yang tampak memerah.


***


Willy yang baru selesai berganti pakaian, kini hendak kembali ke lapangan dan menemui Aurora yang sudah menunggu disana.


Akan tetapi, Willy justru dicegat oleh Max beserta teman-temannya. Sontak Willy terkejut, karena tiba-tiba rombongan pria itu ada di depannya.


"Hahaha, mau kemana lu?" ujar Max.


"Yah elah nih anak lagi. Ngapain sih kalian? Mau ngajakin gue ribut? Ayo sini satu lawan satu, jangan beraninya keroyokan kayak gini! Lu laki atau banci sih?!" ujar Willy.


"Lu tenang aja Wil! Kita gak ada niat cari ribut kok, kita cuma mau kasih tahu sesuatu ke lu. Tolong ya, lu itu kan anak baru disini. Gue minta sama lu buat jangan sok jagoan disini! Kalau enggak, kita bakal kirim lu ke UGD!" ucap Max mengancam.


"Kenapa cuma ke UGD? Gak sekalian ke kuburan aja? Apa kalian gak bisa?" tanya Willy menantang.


"Wah kurang ajar dia Max! Yang kayak gini nih harus diberi paham sih, kita hajar aja dia disini Max!" ucap Billar alias teman Max.


"Tahan tahan! Kita gak bisa main hajar aja di sekolah, yang ada kita bisa dikasih surat cinta sama guru BK. Kita sabar aja dulu, kita lihat apa dia masih bisa seberani ini di luar sekolah nanti." kata Max.


"Jadi, kalian mau keroyok gue di luar sekolah? Saran gue, mending jangan deh! Gue gak tahu nasib kalian bakal gimana nanti, kasihan juga gue sama orang tua kalian!" ucap Willy terkekeh.


"Cih! Berasa jadi jagoan lu? Lu belum tahu siapa gue, kelar lu!" ujar Max.


Max memberi tatapan tajam ke arah Willy, lalu pergi dari sana bersama teman-temannya.


"Lah, udah nih gitu doang? Payah banget sih kalian, ah dasar cupu!" ujar Willy meledek mereka.


"Woi Willy!" Willy terkejut saat muncul teriakan dari belakangnya.


"Eh Nu, kenapa?" tanya Willy kepada Zabnu (teman sebangkunya di kelas).


"Lu udah siap kan? Ayo buruan ke lapangan, coach kita udah datang tuh! Lu kan anak baru, ada sesi perkenalan dulu jadinya. Sekalian lu kasih unjuk skill lu ke coach nanti," ucap Zabnu.


"Oh gitu, oke gue udah siap kok!" ucap Willy.


"Cakep! Kalo gitu ayo kita ke lapangan! Semuanya juga udah pada ngumpul kok, termasuk cewek-cewek yang biasa tontonin kita. Mereka pasti bakal makin heboh pas tahu lu gabung ke tim futsal," ucap Zabnu.


"Hahaha, gue gak perduli sama mereka bro. Gue itu lebih senang kalau gue didukung sama Aurora, pacar gue." kata Willy.


"Siap deh bro! Yaudah, yuk lah kita cabut ke lapangan!" ujar Zabnu menepuk pundak Willy.


"Gas!" ucap Willy mengangguk setuju.


Mereka pun langsung melangkah menuju lapangan dengan saling merangkul, namun tetap saja Willy masih memikirkan perkataan Max tadi.


"Si Max kayaknya benci sama gue, mungkin karena dia tahu kalau gue pacarnya Aurora. Hahaha, kita lihat aja nanti, apakah si Max itu masih berani bilang kayak tadi setelah tahu siapa gue ini? Atau justru, dia malah lari terbirit-birit.." batin Willy.


Tanpa sadar, Willy yang tengah cengengesan itu diperhatikan oleh Zabnu. Ya pria itu pun menegurnya dengan cara menampar pipi Willy sambil tertawa kecil.


******


Hari sudah gelap, Willy mengantar Aurora pulang ke rumahnya setelah menemaninya latihan futsal dan menikmati santap sore bersama di sebuah restoran mewah.


Aurora turun dari motor Willy, melepas jaket yang diberikan pria itu dan hendak mengembalikannya kepada Willy. Ya Willy memang sempat memberi jaket itu padanya, agar Aurora tidak kedinginan.


"Wil, ini jaket lu. Thanks ya udah pinjemin gue jaket!" ucap Aurora.


"Loh kok dibalikin? Udah, gausah dibalikin! Itu lu simpan aja, siapa tahu nanti malam atau kapan lu tiba-tiba kangen sama gue tapi lagi gak bisa ketemu gue. Nah, lu bisa dah tuh peluk atau cium jaket ini buat ngilangin rasa kangen lu ke gue!" ucap Willy.


"Hah? Lu stres apa gimana sih? Gak mungkin lah gue kangen sama lu, udah gila kali! Nih ah terima aja jaketnya!" ujar Aurora.


"Gausah sayang, ini buat kamu aja cantik. Dengerin dong kata-kata pacar kamu!" ucap Willy.


Deg!


Aurora seketika mematung mendengar perkataan Willy yang begitu lembut padanya, ia tak bisa lagi menahan rasa malunya dan wajahnya pun sudah tampak memerah.


"Ahaha, kamu makin manis deh sayang kalau lagi malu-malu begitu! Aku suka!" goda Willy seraya mencolek dagu Aurora dan terus tersenyum.


"Wil, cukup ya gombalnya! Ini jaket jadinya mau lu terima lagi atau enggak?" ucap Aurora.


"Tadi kan gue udah bilang, itu lu simpan aja. Kenapa sih lu masih ngeyel? Emang lu gak suka ya sama jaket gue, ha?" ucap Willy agak kesal.


"Suka kok, eh maksudnya eee.." Aurora keceplosan dan akhirnya kebingungan sendiri.


"Cie cie, tuh kan suka. Yaudah, lu simpan aja ya jaket gue di kamar lu! Kalo gitu gue mau balik dulu, makasih atas waktunya hari ini!" ucap Willy mengusap puncak kepala gadisnya.


"Eee lu gak mau mampir dulu ke dalam? Minum dulu atau apa gitu, pasti kan lu juga capek. Masuk aja yuk!" ucap Aurora.


"Gausah, nanti malah gue gak mau pulang." kata Willy menolak ajakan Aurora.


"Ohh yaudah, lu hati-hati aja ya pulangnya! Jangan ngebut-ngebut!" ucap Aurora tersenyum tipis.


"Pasti!" Willy mencubit pipi Aurora sambil terkekeh kecil dan langsung melajukan motornya pergi dari rumah gadis itu.


Aurora masih senyum-senyum disana sambil terus memeluk dan menghirup aroma jaket milik Willy yang kini ada di tangannya.


"Duh, kok gue jadi salting gitu ya tiap kali dekat sama Willy? Apa gue..."


"Ah enggak-enggak, gak mungkin! Masa iya gue jatuh cinta? Ngaco aja!" gumamnya.


Aurora pun masuk ke dalam rumahnya, membawa jaket itu dengan raut gembira menyelimuti wajahnya yang manis dan cantik.


Namun, tiba-tiba namanya disebut oleh seorang pria yang tak lain dan tidak bukan adalah Martin, sepupunya yang agak galak itu.


"Aurora!" ucap Martin.


"Kak Martin?" Aurora terkejut karena Martin ada di rumahnya dan menatap tajam ke arahnya.


Bersambung....