
My love is sillie
Episode 40.
•
Willy pun membawa Aurora pergi dari tempat itu, ia masih terus mendekap gadis tersebut bahkan cukup erat seakan tak ingin melepasnya.
Aurora terdiam saja, tubuhnya seperti tidak bisa digerakkan saat sedang dicengkeram oleh Willy seperti ini.
"Wil, lu—"
"Hey sssttt diam dulu! Kita ini masih dekat sama tuh cowok, nanti kalau ketahuan gimana?" potong Willy menempelkan telunjuknya di bibir Aurora.
"Tapi Wil, lu itu apa-apaan sih?! Ngapain coba lu pake ngaku kayak gitu di depan Max?" ujar Aurora.
"Ohh jadi laki-laki kurang ajar yang udah berani nyentuh lu itu namanya Max? Sial banget tuh orang, lihat aja bakal gue abisin dia nanti karena dia udah berani pegang-pegang lu!" ucap Willy.
"Lu kenapa sih Wil? Ingat ya, kita bukan pacar beneran. Lagian lu kenapa masih akting coba sampe sekarang? Si Max juga udah jauh tuh, dia gak ngejar kita." kata Aurora.
"Ya gapapa dong, abisnya enak sih peluk-peluk lu kayak gini. Jadinya gue pengen akting terus deh jadi pacar lu," ucap Willy tersenyum manis.
"Haish, dasar mesum!" cibir Aurora.
"Loh kok mesum? Gue ini udah nolongin lu loh, justru si cowok tadi tuh yang mesum. Buktinya dia pegang-pegang tangan lu dan paksa lu buat ikut sama dia, ya kan?!" ucap Willy.
"Ah sama aja kayak lu, ini malah lu lebih parah sampe peluk-peluk gue segala!" ujar Aurora.
"Kalo gue mah gapapa lah, kan gue ini guru lu. Emang lu lupa kalau mulai sekarang lu bakal jadi murid gue?" ucap Willy.
"Guru mana ada yang berani peluk-peluk muridnya sih?" tanya Aurora.
"Ada lah, ini contohnya gue. Udah lah Aurora, lu gausah sok nolak gitu! Padahal gue tahu banget, lu suka kan gue peluk begini?!" ucap Willy.
"Idih, kepedean banget deh lu!" cibir Aurora.
"Udah ah lepasin!" Aurora coba berontak dan akhirnya berhasil melepaskan diri dari cengkraman Willy.
Namun, Willy tak membiarkan Aurora berlama-lama bebas darinya. Ia langsung saja memeluk gadis itu kembali hingga membuat Aurora merasa jengkel.
"Ahaha, lu gak boleh lama-lama jalan sendiri kayak gitu. Harus gue peluk lu!" ucap Willy.
"Apaan sih? Gue mau ke kantin, lu mending pulang deh sana!" ujar Aurora.
"Gue bakal pulang kok, tapi setelah gue pastiin lu aman dan gak akan dideketin lagi sama cowok yang tadi. Gue gak mau ya kalo lu deket lagi sama dia!" ucap Willy.
"Jadi, lu mau temenin gue terus gitu?" tanya Aurora pada Willy.
"Kalo boleh sih," jawab Willy sambil tersenyum.
"Boleh boleh aja, sekalian deh gue mau ajak lu keliling sekolah supaya besok lu gak nyasar lagi." kata Aurora.
"Nah gitu dong, itu baru namanya pacar yang bener!" ucap Willy.
"Pacar? Kita ini murid dan guru, bukan pacar. Lu jangan ngada-ngada deh!" protes Aurora.
"Lah kan bener, kita pacaran tiap kali lu ketemu sama cowok yang tadi. Ya supaya dia kapok aja gitu, dan gak bakal deketin lu lagi." kata Willy.
"Kalo dia gak kapok-kapok gimana?" tanya Aurora.
"Selamanya kita bakal terus kayak gini," jawab Willy dengan santainya.
"Hah?" Aurora sangat terkejut dengan itu.
Willy hanya senyum-senyum ketika Aurora masih terdiam dengan wajah kagetnya.
Mereka pun terus melangkah menuju kantin sesuai tujuan utama dari gadis itu.
******
Tanpa diduga oleh Aurora, rupanya ada pak Gunawan yang ikut datang ke sekolahnya bersama Willy.
Sontak saja Aurora reflek melepas pelukan Willy saat melihat pak Gunawan di depan matanya.
Namun bukannya melepas pelukannya, Willy justru mempererat dekapannya dan membuat Aurora semakin salah tingkah.
"Wil, lepasin ah!" rengek Aurora.
"Sssttt diem aja! Biarin papa lihat kalau kita itu semakin akrab Aurora, jadi papa bakal senang!" ucap Willy.
"Loh, kenapa senang?" tanya Aurora heran.
"Karena bapak sama ibu aku itu pengen banget lihat kita dekat tau, biarin ajalah mereka senang dengan kedekatan kita berdua. Lagipun, gak ada salahnya juga kan?" jawab Willy.
"Ya emang gak salah, tapi gue risih tau kalo dipeluk terus kayak gini!" ucap Aurora.
"Risih atau malu karena ada bapak? Perasaan tadi lu nyaman-nyaman aja tuh gue peluk," ucap Willy.
"Pala lu nyaman!" ujar Aurora.
"Yaudah, kita samperin bapak yuk!" ucap Willy.
"Tapi Wil, gue malu ah kalau pelukan begini di depan bokap lu!" ujar Aurora.
"Gapapa," ucap Willy singkat.
Aurora tak memiliki pilihan lain selain mengikuti saja kemauan Willy, mereka pun kembali melangkah menghampiri pak Gunawan disana.
Tampak pak Gunawan langsung tersenyum begitu melihat putranya tengah memeluk Aurora sambil berjalan ke arahnya.
Pak Gunawan juga beranjak dari tempat duduknya, lalu menghadap ke arah mereka berdua sambil tersenyum lebar.
"Wah wah, baru ketemu udah langsung pelukan aja. Bapak jadi senang lihatnya!" ucap Gunawan.
"Ahaha, iya dong pak. Aurora ini katanya pengen banget dipeluk sama aku, yaudah deh aku turutin aja kemauannya." kata Willy.
"Ih dasar tukang fitnah!" protes Aurora sembari mencubit pinggang pria itu.
"Awhh!! Kamu kok cubit aku sih? Udah aku peluk loh ini sesuai kemauan kamu tadi, masa masih marah-marah juga?!" ujar Willy.
"Apaan sih ih?!" Aurora tampak semakin kesal.
"Hey, jangan ribut dong gak enak dilihatnya! Kan kalau kalian damai kayak tadi, itu bagus tau!" ucap pak Gunawan tersenyum.
"Tau nih pak, dia malah cubit aku. Mungkin dia malu kali pak karena tahu ada bapak disini," ucap Willy sambil nyengir.
"Oh iya kali ya, jadi kalian berdua ini mau kemana sekarang?" tanya pak Gunawan.
"Aku mau antar Aurora ke kantin, pak. Bapak kalau mau pulang duluan, pulang aja. Nanti aku nyusul setelah temenin Aurora." jawab Willy.
"Oalah, yasudah bapak pulang duluan ya? Kalian selamat bersenang-senang disini!" ucap pak Gunawan tampak bahagia.
"Pasti dong pak!" ucap Willy tersenyum.
Setelahnya, pak Gunawan pun pergi dari sana meninggalkan Willy dan aurora.
Sementara Aurora kembali melepas pelukan Willy darinya, lalu menatap pria itu dengan jengkel.
"Gausah sok lembut deh! Gue bingung deh sama lu, kenapa sih lu kayak gini sama gue? Lu suka ya sama gue?" ucap Aurora.
"Hah??" Willy tercengang dan mengangkat satu tangannya untuk mengusap rambut Aurora sambil tersenyum.
"Kenapa lu duga begitu?" tanya Willy heran.
"Ya abisnya lu segitunya sama gue, lu juga pengen peluk-peluk gue terus. Apa namanya itu kalau bukan suka?" jawab Aurora.
"Kege'eran banget sih lu! Gue tuh cuma pengen selamatin lu dari cowok yang tadi," ujar Willy.
"Halah alasannya itu-itu terus daritadi! Ngaku aja kali kalo suka mah!" ucap Aurora.
Willy terdiam dengan sedikit senyuman di bibir tipisnya itu, kemudian berbalik dan mengalihkan pandangannya dari Aurora.
******
Martin dan Kiara tengah pergi bersama, mereka tanpa sengaja melewati jalanan di depan sekolah yang cukup ramai.
Entah mengapa Kiara merasa iri dengan para murid sekolahan tersebut, itu karena ia ingin sekali merasakan duduk di bangku sekolah lagi.
Kiara pun terus memandang ke luar, raut wajahnya berubah sedih seakan ingin kembali bersekolah seperti orang-orang di luar sana.
Martin yang menyadarinya, langsung berupaya menenangkan Kiara dengan cara mengusap puncak kepala gadis itu perlahan.
"Hey! Kamu kenapa sayangku?" tanya Martin dengan lembut.
"Eee gapapa tuan, aku cuma keinget masa-masa dulu sewaktu aku masih sekolah. Rasanya dulu itu aku bahagia banget dan gak pusing mikirin ini itu," jawab Kiara sambil tersenyum tipis.
"Oh soal itu, kamu rindu ya sama sekolah? Mau sekolah lagi setelah kamu lihat orang-orang itu?" tanya Martin.
"Iya tuan, aku pengen banget." jawab Kiara.
"Baiklah, saya akan usahakan untuk masukin kamu ke sekolah lagi. Kamu tinggal bilang aja sama saya, kamu mau masuk ke sekolah mana?!" ucap Martin.
"Tuan serius?" tanya Kiara penasaran.
"Tentu saja saya serius, masa iya saya bohongin kamu?" jawab Martin mantap.
"Tapi tuan, kenapa tuan mau sekolahin aku lagi?" tanya Kiara bingung.
"Karena saya gak mau kamu sedih begitu, saya kan ingin yang terbaik untuk kamu." jawab Martin.
"Terimakasih tuan!" ucap Kiara tersenyum.
"Sama-sama, kamu sabar aja ya! Gak lama lagi kamu pasti bisa sekolah seperti dulu, saya janji sama kamu!" ucap Martin.
"Tuan, tapi emang tuan gak kenapa-napa kalau aku sekolah lagi?" tanya Kiara pada tuannya.
"Enggak dong, kan saya yang pengen kamu sekolah lagi. Ya tapi tetap aja, kamu gak boleh kegatelan di sekolah nanti! Kamu itu udah jadi milik saya, dan kamu gak boleh macam-macam disana!" ucap Martin.
"Mana mungkin aku macam-macam, tuan? Apalagi tuan itu yang udah sekolahin aku, pasti aku bakal jaga kepercayaan tuan." kata Kiara.
"Baguslah, saya akan terus mengawasi kamu selama di sekolah. Jadi, saya bisa tahu apapun yang kamu lakukan disana. Dan kamu gak bisa bohongi saya," ucap Martin.
"Iya tuan," ucap Kiara singkat.
Martin tersenyum tipis sembari mengusap rambut gadisnya yang juga ikut tersenyum itu.
"Oh ya, emang tuan mau sekolahin aku dimana?" tanya Kiara penasaran.
"Tentunya di sekolah paling elit disini, saya gak mau dong kamu sekolah di tempat yang biasa-biasa aja, apalagi jelek. Saya kan maunya kamu dapat pendidikan yang terbaik!" jawab Martin.
"Terimakasih ya tuan! Aku gak nyangka tuan sebaik ini sama aku, padahal dulu awalnya aku pikir tuan itu orang yang jahat loh. Ternyata aku salah, karena tuan benar-benar baik!" ucap Kiara.
"Ah kamu bisa aja!" ujar Martin tersipu.
"Tuan, kita ini sebenarnya mau kemana sekarang? Kok daritadi tuan cuma muter-muter kayak gak punya tujuan?" tanya Kiara keheranan.
"Oh iya ya, hahaha saya jadi gak fokus nih gara-gara bicara soal sekolah kamu.." ucap Martin sambil tertawa.
"Itu dia tuan, makanya aku bingung daritadi lihatnya." ucap Kiara sedikit terkekeh.
Mereka berdua sama-sama tertawa, suasana yang tadinya sempat hening dan sedikit haru kini berubah menjadi ceria.
******
Thoriq dan anak-anak the darks lainnya berkumpul di tempat biasa, mereka saat ini sudah tidak mengenakan jaket the darks lagi yang kemarin dibakar oleh anggota black jack.
Mereka semua berencana untuk membalas perbuatan anggota black jack dan melakukan apa yang mereka lakukan sebelumnya.
"Riq, apa rencana lu buat balas dendam ke geng black jack?" tanya Jeki dengan wajah kesalnya.
"Iya Riq, selagi gak ada Willy kan lu yang berkuasa disini. Jadi, lu harus bisa cari cara buat balas dendam ke mereka! Biar gimanapun, kita gak bisa diam aja karena mereka udah injak-injak harga diri geng the darks!" sahut Leo.
"Sabar guys! Gue juga sama kok kayak kalian, siapa coba yang terima kalau kita diinjak-injak begitu? Apalagi jaket yang kita banggakan itu dibakar sama mereka, di depan kita lagi!" ucap Thoriq.
"Jadi, apa rencana lu Riq?" tanya Jeki.
"Gue belum tahu, otak gue gak seencer Willy kalau disuruh berpikir. Kita coba pikirin ini bersama-sama saja!" jawab Thoriq.
"Oke!" ucap Jeki mengangguk pelan.
Randi yang sedari tadi diam terduduk di atas motornya, kini turun dan menghampiri Thoriq.
Pukkk...
Randi menepuk pundak Thoriq, membuat Thoriq menoleh ke arahnya.
"Kenapa Ran? Lu ada ide?" tanya Thoriq bingung.
"Bukan itu, gue cuma pengen kasih tahu lu buat jangan balas dendam ke geng black jack!" ucap Randi dingin.
"Hah? Apa? Lu bilang apa barusan? Jangan balas dendam? Yang bener aja bro, lu terima kita diinjak-injak sama geng black jack?!" geram Thoriq.
"Tau lu Ran, maksud lu apa sih bilang kayak gitu? Dimana jiwa the darks lu bro?" sahut Jeki.
"Bukan gue gak perduli atau terima dengan perbuatan geng black jack kemarin, tapi gue cuma gak mau aja kalau kita terus-terusan bermusuhan kayak gini! Kalau kita balas lagi perbuatan mereka, terus pasti mereka bakal balas dendam lagi dan begitu aja terus sampai akhir dunia. Gak akan ada selesainya bro!" jelas Randi.
"Emang kenapa kalo kita musuhan terus sama mereka? Lu takut? Dengar ya bro, sampai kapanpun juga kita bakal terus musuhan sama black jack dan kita gak akan mungkin berdamai sama mereka!" ujar Thoriq.
"Bukan begitu Riq, gue cuma gak mau masalah itu terus berlanjut. Karena pasti resikonya bakal besar banget!" ucap Randi.
"Udah deh Ran, bilang aja kalo lu takut dan gak berani ngelawan tuh anak-anak black jack. Pake segala bawa-bawa resiko, emang dasar pengecut lu!" ujar Jeki.
"Heh! Gue bukan pengecut, kalau emang gue pengecut buat apa gue masuk sini ha!" tegas Randi.
"Yaudah, kalo gitu lu bantu kita dong buat balas perbuatan anak-anak black jack!" pinta Jeki.
"Iya tuh, kalo lu gak mau berarti tandanya lu gak setia kawan bro dan lu juga bukan anggota the darks sejati lagi!" sahut Leo.
"Kesetiaan bukan dinilai dari cara seperti ini, justru gue gak mau kalian kenapa-napa, makanya gue halangin kalian buat balas dendam!" ucap Randi.
Namun, mereka semua tidak ada yang mau mendengarkan ucapan Randi dan memilih tutup kuping seolah tak memperdulikannya.
Bersambung....