
My love is sillie
Episode 93.
•
Randi yang tengah melaju di jalanan seorang diri dengan motornya, tak sengaja melihat seorang gadis berdiri di pinggir jalan dan tampak kebingungan.
Tanpa berpikir panjang, Randi langsung melipir sejenak ke pinggir menghampiri gadis itu. Ia menghentikan motornya, lalu menyapa si wanita sambil tersenyum.
"Hai!" sapa Randi.
"Iya?" gadis itu menoleh menatap wajah Randi, membuat Randi merasa terkejut.
"Loh kamu kan..." ucapan Randi terhenti saat gadis itu memotongnya lebih dulu.
"Kamu temannya Tedy yang waktu itu bantu aku kan?" serobot gadis itu.
"Ah iya, kamu..."
"Aku Ayna, kalau kamu lupa." potong gadis itu mengenalkan diri pada Randi.
"Nah itu dia, sekarang aku ingat. Kamu lagi ngapain disini sendirian Ayna? Mobil kamu mana?" tanya Randi pada gadis itu.
"Eee iya mobil aku lagi di bengkel, ini aku mau pulang, tapi pesan ojek online gak dapat-dapat." jawab Ayna.
"Ohh, yaudah bareng aku aja yuk! Kebetulan aku lagi gak ada tujuan, bisa lah cuma anterin kamu doang mah." ucap Randi.
"Beneran nih? Ngerepotin kamu gak?" tanya Ayna.
"Iya Ayna, masa cuma anterin kamu doang aja aku harus ngerasa direpotin? Aku justru senang kalau kamu mau diantar sama aku," jawab Randi.
"Yaudah, makasih ya! Eh btw, nama kamu siapa? Soalnya dari kemarin aku belum tahu nama kamu, baru tahu nama Tedy aja." ujar Ayna.
"Oh iya iya, nama aku Randi." ucap Randi mengenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.
"Ayna." balas gadis itu sembari meraih tangan Randi dan bersalaman dengannya.
Ayna merasa cukup nyaman merasakan sentuhan tangan Randi, entah mengapa Ayna seakan tak mau melepaskan tangannya dari pegangan Randi.
"Eee yaudah, kita langsung berangkat aja yuk!" ucap Randi melepas genggaman tangannya.
"Ah oke!" ucap Ayna tersenyum tipis seraya membelai rambutnya.
Randi pun memberikan helmnya kepada Ayna, gadis itu memakainya dan langsung naik ke atas motor Randi.
"Udah?" tanya Randi menoleh ke belakang.
"Iya udah," jawab Ayna sambil tersenyum.
"Pegangan dong biar gak jatuh!" pinta Randi.
"Oke!" Ayna menurut saja dan melingkarkan tangannya di pinggang Randi, ia juga memberanikan diri menaruh wajahnya pada punggung pria itu.
Randi cukup terkejut dengan perlakuan Ayna itu, pasalnya ia belum pernah dipeluk begitu oleh perempuan manapun.
"Gila! Rasanya canggung banget gue dipeluk sama cewek cantik kayak gini!" batin Randi.
Tanpa basa-basi lagi, Randi langsung tancap gas dan pergi mengantar Ayna pulang ke rumahnya.
Setibanya di depan rumah Ayna, Randi pun menghentikan motornya dan menatap ke arah Ayna.
"Bener ini rumah kamu?" tanya Randi.
"Iya Ran, bener kok. Kemarin Tedy juga udah main kesini, kamu mau masuk dulu gak? Aku bisa kasih kamu minum sebagai ucapan terimakasih karena kamu mau antar aku pulang," ucap Ayna.
"Eee boleh sih, kebetulan aku haus." ucap Randi sambil tersenyum.
"Oke, sebentar ya!" Ayna pun turun dari motor Randi dan melepas helmnya.
"Ini helmnya, aku mau buka gerbang dulu!" ucap Ayna.
"Iya," jawab Randi singkat.
Gadis itu membuka gerbang dan mempersilahkan Randi untuk masuk.
"Yuk masuk!" ucap Ayna.
Randi mengangguk saja, kemudian turun dari motor dan melangkah menghampiri Ayna.
"Motornya gak dibawa sekalian?" tanya Ayna.
"Emang boleh?" Randi terlihat bingung.
"Ya boleh dong, kalau ditaruh disitu aja takut ilang. Maklumlah disini sepi kalau siang begini, justru ramainya pas malam." ucap Ayna.
"Oh, oke oke!" ucap Randi menurut.
Disaat Randi hendak membawa masuk motornya, tiba-tiba sebuah motor juga datang kesana dan berhenti di dekatnya.
Ayna tersenyum menghampiri pemotor tersebut, membuat Randi terheran-heran sekaligus penasaran siapa yang datang itu.
"Itu kan anak black jack, apa hubungan Ayna sama dia?" batin Randi.
"Kak Geri!" sapa Ayna.
Sontak Randi terkejut mendengar Ayna menyebut nama itu, apalagi saat pemotor tersebut melepas helmnya dan menunjukkan wajahnya.
"Geri? Sial!" batinnya.
******
Sementara itu, Ilham mengajak Sasha pergi makan siang bersama di sebuah restoran.
Sebetulnya Sasha sangat malas pergi berdua dengan Ilham, tapi ia tak memiliki pilihan lain.
"Sya, kamu mau makan apa?" tanya Ilham.
"Gue lagi kepengen makan kepiting, tolong pesenin kepiting saus tiram ya buat gue!" jawab Sasha sambil bersandar pada kursi dan tersenyum.
"Oh oke, sebentar ya cantik!" ucap Ilham yang dengan sengaja mencolek pipi Sasha bermaksud menggoda gadis itu.
Ilham memanggil pelayan disana, mengatakan pesanannya lalu kembali menatap Sasha.
"Makasih ya Sya, karena kamu udah mau terima ajakan aku buat makan siang bareng disini! Aku bisa jamin deh, makanan disini itu enak-enak banget!" ucap Ilham sambil tersenyum.
"Sama-sama, gak mungkin gue tolak kalau ditraktir sama orang. Kan lumayan gue bisa makan gratis, hemat pengeluaran juga." ucap Sasha.
"Ya, makanya kamu besok-besok kalau mau makan sama aku aja ya!" ucap Ilham.
"Boleh, tapi emang lu gak bangkrut kalau traktir gue makan terus kayak gini?" tanya Sasha.
"Enggak lah, soal uang mah mana mungkin aku bisa kehabisan. Aku justru senang kalau bisa traktir cewek yang aku sayang," jawab Ilham.
"Oke deh!" ucap Sasha singkat.
"Oh ya, aku mau tanya deh. Kamu itu kan dulunya pembalap ya, kenapa sih kamu malah ngundurin diri? Kenapa gak dilanjut aja profesi kamu itu? Kan lumayan kalau kamu jadi pembalap, pasti bisa terkenal dan dapat banyak uang!" ujar Ilham.
"Panjang ceritanya, intinya gue udah malas balapan motor lagi. Gue pengen fokus ke pendidikan gue untuk saat ini dan manjain hidup gue, lagian jadi pembalap gak ada untungnya." jawab Sasha.
"Okelah, alasan yang masuk akal. Tapi, lain waktu kamu punya pikiran gak buat balik lagi jadi pembalap?" tanya Ilham.
"Gak, gak akan!" jawab Sasha mantap.
Ilham manggut-manggut saja mendengar jawaban Sasha, pria itu mengusap wajahnya berusaha mencari topik pembicaraan yang lain.
"Eee aku.." ucapan Ilham terhenti karena pelayan sudah datang membawa pesanan mereka.
"Permisi! Ini kak pesanannya, silahkan dinikmati!" ucap pelayan itu.
"Ah iya, terimakasih!" ucap Ilham.
"Kamu suka sama kepiting ya?" tanya Ilham.
"Ya begitulah," jawab Sasha singkat.
"Kalau sama aku gimana?" tanya Ilham lagi.
"Hah? Maksudnya??" Sasha sedikit kaget plus pura-pura tidak mengerti.
"Ya itu tadi, kamu kan suka sama kepiting, nah kalau sama aku suka juga gak?" jelas Ilham.
"Ohh, tergantung." jawab Sasha.
"Tergantung gimana??" Ilham tampak kebingungan.
"Ya tergantung, emang lu mau disamain sama kepiting?" ucap Sasha sambil terkekeh kecil.
"Hah??" Ilham hanya bisa garuk-garuk kepala dan meminum minumannya.
"Eh ya, gue mau ke toilet dulu ya? Titip makanan gue sebentar!" ucap Sasha.
"Oh oke!" ucap Ilham.
Sasha pun beranjak dari kursinya, lalu berjalan menuju toilet di restoran itu.
Sementara Ilham tetap disana, ia terus memandang ke arah Sasha yang perlahan menjauh.
Ilham kembali mengusap wajahnya, coba berpikir keras bagaimana caranya agar membuat Sasha mau membuka hati untuknya.
"Aaarrgghh!! Sampai kapan sih kayak gini terus? Ayolah Ilham, lu itu harus gentle dan jadi laki-laki sejati! Taklukkan hati Sasha!!" ucap Ilham menyemangati dirinya sendiri.
******
Thoriq tengah berkumpul bersama Farrel dan juga kekasih keduanya di sebuah taman.
Mereka tampak membicarakan mengenai the darks yang merupakan mantan geng mereka.
Thoriq dan Farrel terlihat sangat sedih karena mereka harus keluar dari geng the darks.
"Rel, lu sedih gak sih karena kita jadi jarang kumpul bareng anak the darks? Padahal dulu kita semua itu dekat banget loh," ujar Thoriq.
"Ya begitulah Riq, sedih sih jelas gue sedih banget. Tapi mau gimana lagi? Orang tua kita kan gak kasih izin kita buat kumpul bareng mereka," ucap Farrel.
"Iya itu dia, kira-kira apa kita bisa lagi gak ya buat kumpul bareng mereka suatu saat nanti? Jujur aja Rel, mereka itu udah gue anggap seperti saudara sendiri, gue gak bisa jauh-jauh dari mereka kayak gini." ucap Thoriq.
"Entahlah, kayaknya bakal sulit sih. Soalnya ortu kita sama-sama kompak buat awasin kita dan pastiin kita gak gabung lagi sama the darks," ucap Farrel.
"Ah elah! Ini semua gara-gara si Martin sialan itu! Kalau dia gak suruh orang buat hajar kita, pasti kita masih bisa sama-sama bareng mereka lagi saat ini Rel!" ucap Thoriq sedikit emosi.
Mia selaku kekasih Thoriq pun berusaha menenangkannya untuk tidak emosi.
"Sabar sayang! Kamu jangan kebawa emosi gitu dong ngomongnya, biasa aja!" ucap Mia sembari mengusap punggung kekasihnya.
"Iya sayang, maaf ya!" ucap Thoriq.
"Ohh, sekarang lu jadi bucin juga ya Riq kayak si Willy? Perasaan dulu gak ada tuh yang bisa nyuruh lu berhenti kayak gini, eh sekarang mah udah beda ya." ledek Farrel.
"Ah gausah ngeledek gue lu! Lu sendiri kan juga sama, buktinya tuh lu bawa cewek di sebelah lu. Itu tandanya kan lu bucin juga sama kayak gue!" cibir Thoriq.
"Hahaha, kalo gue mah wajar dong. Gue kan bukan panglima tempur the darks," ujar Farrel.
"Ya ya ya, udah lah lu gausah bahas itu lagi! Semua itu kan masa lalu, gue yang sekarang mah cuma Thoriq biasa sama kayak orang lain." ucap Thoriq.
"Siap Riq! Walau gue rindu banget sih sama Thoriq si panglima tempur yang ganas dan serem," ucap Farrel sambil tersenyum.
"Sama sih, gue juga rindu si Farrel yang pengecut dan paling cinta damai itu." balas Thoriq.
"Hahaha..." akhirnya mereka tertawa bersama sembari saling merangkul.
Mia dan Dara kekasih mereka pun ikut tertawa, memang untuk saat ini kedua pria itu hanya bisa berkumpul disana setelah orangtuanya melarang mereka bergabung kembali dengan the darks.
Biarpun sebenarnya di lubuk hati yang paling dalam, Thoriq dan Farrel sangat ingin kembali ke geng the darks seperti dulu lagi.
"Sayang, beli bakso cuanki yuk!" pinta Mia.
"Hah? Mana? Emang ada?" tanya Thoriq sambil celingak-celinguk.
"Itu disana, aku lagi kepengen makan yang hangat-hangat nih." jawab Mia.
"Ohh, yaudah yuk kita kesana! Eh Rel, lu sama cewek lu mau ikut juga gak?" ucap Thoriq.
"Eee gimana baby?" tanya Farrel pada pacarnya.
"Boleh deh, kebetulan aku juga pengen makan bakso." jawab Dara.
"Yaudah, kita ikut Riq!" ucap Farrel pada Thoriq.
"Gas lah!" mereka pun melangkah menuju tukang bakso cuanki itu dan membelinya.
******
Aurora tersenyum lebar ketika melihat Willy masih setia menunggunya di lobi, padahal gadis itu sudah meminta Willy untuk pulang lebih dulu karena ia harus latihan paduan suara.
Tentu saja Aurora langsung menghampiri Willy dan duduk di sebelahnya, ia terus memandangi wajah tampan pria itu sambil tersenyum dan menopang dagunya tanpa berkedip.
"Heh! Kamu ngapain ngeliatin aku kayak gitu? Terpesona ya?" goda Willy.
"Iya, aku terpesona sama kamu. Abisnya aku suruh pulang eh gak taunya malah masih nunggu disini, so sweet deh kamu!" ucap Aurora.
"Hahaha, iya dong sayang aku kan gak mungkin mau tinggalin kamu sendirian disini." ucap Willy.
"Makasih ya Willy sayang! Kamu itu emang pacar aku yang paling perhatian deh!" ucap Aurora.
Willy tersenyum dan mendekati Aurora sembari mencubit dua pipi gadis itu, "Sama-sama sayangku yang cantik." ucapnya.
"Ih sayang, jangan cubit-cubit!" pinta Aurora.
"Hahaha, maaf sayang! Kamu gemesin banget sih, aku jadi gak tahan pengen cium sama cubit pipi kamu itu! Kita pulang sekarang yuk! Biar aku bisa bebas ciumin kamu," ucap Willy.
"Dih, emangnya kamu berani ciumin aku di rumah? Gak takut gitu dimarahin papa?" tanya Aurora.
"Ya takut lah, tapi kan maksudnya pas papa kamu udah pergi gitu." jawab Willy.
"Yeh dasar! Aku mau makan dulu ah, lapar tau sayang abis latihan nyanyi tadi." ucap Aurora.
"Oh gitu, yaudah kita makan ya. Tapi, ini keringat kamu dilap dulu deh biar lebih nyaman nanti kamu pas makan." ucap Willy.
Aurora mengangguk setuju, Willy pun mengambil sapu tangan miliknya dan mulai membersihkan keringat di wajah serta leher gadis itu.
"Kayaknya enak nih buat dijilat, aku jilat ya?" goda Willy seraya menggigit telinga gadisnya.
"Ahh.." Aurora terkejut lantaran Willy langsung menjilat lehernya tanpa menunggu jawaban darinya.
"Wil, kamu apa-apaan sih? Aku kan belum bilang boleh, kenapa kamu main jilat aja? Jorok banget sih kamu!" protes Aurora.
"Salahnya dimana sih? Keringat kamu itu bikin kamu tambah seksi tau gak? Aku jadi gak tahan pengen jilatin ini lagi," ucap Willy yang sudah bergairah sekali.
"Udah udah ah, nanti ada yang lihat bisa gawat tau! Mending kalau cuma murid sini, kalau sama guru gimana?" ujar Aurora mendorong tubuh Willy.
"Aduh! Kamu gausah pake dorong aku juga dong sayang, sakit tau nih!" ucap Willy.
"Iya iya maaf! Makanya kamu tuh sekali aja jangan mesum gitu loh! Masa di sekolah masih berani berbuat kayak gitu?" ujar Aurora.
"Gapapa dong, abisnya kamu seksi banget jadi cewek." goda Willy mencolek dagu gadisnya.
Aurora memutar bola matanya malas sembari membuang muka, sedangkan Willy langsung merangkul gadis itu dan coba membujuknya.
"I love you Aurora Shantika Luna.." bisik Willy di telinga gadisnya yang membuat Aurora merinding.
Bersambung....