
My love is sillie
Episode 76.
•
Waktu pulang telah tiba, Aurora bergegas menuju tempat parkir sekolahnya untuk menemui Willy yang seperti biasa akan menjemputnya disana.
Ya benar saja, Willy pun sudah tampak ada di depan sana menanti kedatangan Aurora sembari memakan siomay kesukaannya.
"Hai Willy!" Aurora menyapa Willy sambil menepuk pundak pria itu dari belakang.
"Eh sayangku, udah selesai pelajarannya? Gak ada kegiatan lain di sekolah?" tanya Willy.
"Enggak ada kok, aku mau langsung pulang sekarang." jawab Aurora.
"Oh gitu, yaudah syukur deh! Tapi, kita makan siomay dulu yuk! Ini enak banget loh sayang, kamu pesan gih terus kita makan sama-sama disini biar romantis!" ujar Willy.
"Aku udah kenyang sih, tapi kalo kamu mau traktir ya gapapa deh aku pengen." ucap Aurora.
"Iya sayang, udah pasti aku traktir kamu kok. Duduk sini sebelah aku, terus pesan siomay yang kamu mau!" ucap Willy.
"Makasih sayang!" ucap Aurora sambil tersenyum.
Willy pun melotot mendengar ucapan Aurora barusan, ia tak menyangka gadis itu akan memanggilnya dengan sebutan sayang.
Sementara Aurora kini sudah duduk di sebelah Willy, ia memesan satu porsi siomay pada abang penjual yang ada disana.
"Kang, siomaynya satu lagi ya!" pinta Aurora.
"Siap neng!" ucap penjual itu.
Aurora melirik ke arah Willy, ia heran lantaran pria itu masih bengong menatapnya sembari mengunyah siomay.
"Wil, Willy?" Aurora berusaha menyadarkan pria itu dengan cara mengipas-ngipas tangannya.
"Ah iya iya.." Willy tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa sih? Ngelamunin apa hayo?" tanya Aurora penasaran.
"Gapapa kok sayang, aku cuma heran aja tadi kamu panggil aku sayang juga. Kamu kan belum pernah panggil aku kayak gitu," jawab Willy.
"Ohh, yah elah lebay banget sih kamu! Masa baru dipanggil sayang aja udah baper?" ujar Aurora.
"Ya wajar dong, aku kan senang banget karena sekarang kamu udah mau panggil aku sayang. Itu artinya, kamu juga mau dong jadi pacar resmi aku." ucap Willy sambil tersenyum.
"Udah deh, gausah bahas itu lagi! Dari sebelumnya kan aku juga udah iyain permintaan kamu buat jadi pacar resmi," ucap Aurora.
"Iya, tapi kan baru kali ini kamu panggil aku sayang. Coba dong panggil sekali lagi!" ujar Willy.
"Dih malah ketagihan, gak mau ah! Aku juga gak suka kalo disuruh-suruh kayak gitu, pengennya spontan aja ngomong sendiri." ucap Aurora.
"Huft, iya deh terserah kamu aja!" ucap Willy.
Aurora tersenyum manis sambil terus memandangi wajah Willy, membuat Willy gemas dan reflek mencubit pipinya.
"Neng, ini siomaynya!" ucap penjual itu.
"Eh iya, makasih ya kang!" ucap Aurora.
"Sama-sama, neng." ucap penjual itu.
Aurora pun mulai mengaduk-aduk siomay di piring itu dan memakannya.
"Kamu cantik banget sih sayang!" ujar Willy.
"Ih apa sih? Itu dimakan siomaynya Willy, jangan malah gombalin aku! Nanti dilalerin aja baru tau rasa!" ucap Aurora.
"Ahaha, biar aja. Yang penting pacar aku yang satu ini gak dilalerin juga," ujar Willy.
"Ish, emangnya aku sampah apa dilalerin? Sembarangan aja kamu kalo ngomong!" ucap Aurora cemberut.
"Hahaha, duh kamu kalo cemberut gitu makin gemesin tau.." ucap Willy.
"Oh ya, masalah kamu sama Max itu gimana kelanjutannya? Tadi aku coba cari-cari Max buat tanya, tapi gak ketemu. Terus, mau cari kamu juga udah gak ada di sekolah." ucap Aurora.
"Kamu penasaran ya? Pengen tahu?" ujar Willy.
"Iyalah Willy, kamu kasih tahu dong ke aku!" pinta Aurora.
"Tenang aja cantik! Aku pasti cerita kok sama kamu, kan kamu pacar aku." ucap Willy.
"Ih gombal lagi!" cibir Aurora.
"Hahaha, jadi masalah aku sama Max itu udah kelar. Dia mau akui perbuatannya di depan kepala sekolah sama pak Gatot, dan setelah itu Max dikasih hukuman juga sama pihak sekolah buat bersih-bersih halaman sekolah." ucap Willy.
"Hah? Yang bener? Berarti harusnya sekarang dia masih di sekolah dong, tapi kok aku cari-cari tadi gak ketemu?" tanya Aurora.
"Bener kok sayang, ya kalau dia gak ada mungkin aja dia lagi dikasih hukuman lain sama pak Gatot. Intinya sih Max itu seharian ini bakal dihukum terus sama sekolah," jawab Willy.
"Oalah, bagus deh biar dia kapok dan gak berani berbuat kayak gitu lagi!" ucap Aurora.
"Iya, udah kamu lanjut makan lagi siomaynya!" ucap Willy.
"Ntar dulu, kamu belum ceritain nasib kamu gimana. Kamu masih tetap diskors apa udah boleh sekolah lagi?" tanya Aurora.
"Aku masih harus jalani hukuman skorsing itu, karena kan udah keputusan sekolah dan gak bisa diganggu gugat." jawab Willy.
"Yah kok gitu sih?" ucap Aurora.
"Tenang aja! Walau aku dihukum, tapi kan aku masih bisa temenin kamu terus di sekolah. Jangan cemberut gitu dong sayangku!" ucap Willy.
"Iya iya..."
******
Disaat Willy dan Aurora sedang berboncengan motor menuju rumah gadis itu, tiba-tiba saja mereka dihadang oleh rombongan geng motor black jack yang berhenti tepat di hadapan mereka.
Sontak saja Aurora pun dibuat panik melihatnya, ia langsung terbelalak dengan mulut terbuka dan merasa sangat cemas saat dikelilingi oleh para anggota black jack tersebut.
"Wil, gimana ini? Aku takut banget, aku gak mau terluka Wil!" ucap Aurora.
Willy justru tersenyum sembari menoleh ke belakang, ia melihat ketakutan yang amat sangat di wajah gadis itu sampai-sampai tangannya terus mencengkram jaket Willy.
"Kamu gausah panik! Mereka bisa aku beresin kok, tenang aja ya sayang!" ucap Willy.
"Tapi Wil, mereka itu banyak loh. Gimana caranya kamu bisa beresin mereka? Kamu jangan macam-macam deh!" ucap Aurora gemetar.
"Tenang cantik!" ucap Willy sambil tersenyum.
Para anggota black jack itu turun dari motor mereka masing-masing, menghampiri Willy dan Aurora sambil terus tertawa keras.
"Hahaha, hahaha..."
"Willy Willy, lu salah karena udah nyerang markas kita kemarin. Sekarang lu harus terima akibatnya, lu bakal kita bikin babak belur dan masuk ke UGD seperti teman-teman lu itu!" ucap Billy menunjuk Willy dengan telunjuknya.
"Kalian apa-apaan sih? Gue kemarin nyerang markas kalian gak main keroyokan kayak gini, kita jumlahnya imbang. Sekarang kenapa kalian mau keroyok gue?" ujar Willy.
"Lu gausah banyak omong! Bilang aja lu takut kan sama kita! Hahaha..." ujar Geri.
"Kenapa sih Wil? Cewek lu itu kan cewek kita juga, biarin lah dia sama kita supaya hidupnya aman." ucap Billy sambil tersenyum mengejek.
"Lu jangan mimpi! Sekali aja lu sentuh Aurora, gue bakal abisin lu!" ucap Willy.
"Oh, jadi namanya Aurora? Waw cantik ya, secantik orangnya. Kayaknya emang kamu lebih cocok jalan sama aku deh dibanding sama Willy, ya gak guys?" ujar Billy.
"Yoi lah!" sahut anggota geng black jack yang lain.
Lalu, Billy tampak memberanikan diri mendekati Aurora dan hendak mencolek pipi gadis itu.
"Hey cantik, sini yuk sama aku!" goda Billy.
Bughh...
Willy langsung menendang perut Billy hingga pria itu terhuyung ke belakang dan nyari terjatuh.
Ia pun turun dari motor, meminta Aurora mundur menjauh agar dirinya bisa aman.
"Sayang, kamu jauh-jauh ya!" ucap Willy.
"Iya Wil, kamu hati-hati ya!" ucap Aurora.
"Pasti!" ucap Willy singkat.
Aurora pun menjauh dari kerumunan itu, sembari berharap juga ada bantuan yang bisa ia dapatkan agar Willy bisa selamat.
Sementara Willy kembali menatap Billy dan yang lainnya, mereka kini sudah saling bertatapan dari jarak dekat dipenuhi emosi.
"Heh Willy! Berani banget lu tendang gue begitu, mau cari mati lu?!" ujar Billy.
"Lu yang cari mati, ngapain lu mau pegang-pegang cewek gue ha?!" ucap Willy.
"Hahaha, kenapa sih Wil? Cewek lu itu gak cocok sama lu, dia lebih cocoknya sama gue kok. Udah deh, mending lu lepasin dia buat gue!" ujar Billy.
"Itu cuma bisa terjadi di mimpi lu Billy, gue gak akan pernah lepasin Aurora!" tegas Willy.
"Oh oke, sekarang lu rasain akibat dari perbuatan lu malam itu dan juga karena lu gak mau serahin Aurora ke kita! Ayo serang!" ucap Billy.
"Hiyaaa..."
Billy pun memerintahkan seluruh anggota gengnya untuk menyerang Willy, sedangkan Billy sendiri mundur perlahan-lahan menjauhi kerumunan itu sambil mencari dimana Aurora berada.
Willy yang sibuk bertarung menghadapi cukup banyak anggota black jack, tak sadar jika Billy sedang berusaha mendekati Aurora karena sulit tentu baginya melihat hal itu.
"Duh, ini gimana ya caranya supaya mereka berhenti bertarung? Aku gak mau Willy terluka, aku khawatir banget!" gumam Aurora.
"Ehem ehem.."
Aurora sangat terkejut mendengar suara deheman dari seseorang di sampingnya, ia menoleh dan tambah syok melihat Billy sudah berada di dekatnya saat ini.
"Hah??" ucapnya spontan sembari berusaha menjauh dari Billy.
"Kamu gak perlu takut, cantik! Aku gak akan sakitin kamu kok," ucap Billy sambil tersenyum.
"Jangan macam-macam ya lu! Jangan deketin gue!" ucap Aurora merasa takut.
"Aku gak mau macam-macam kok sayang, aku cuma mau kamu ikut sama aku. Lagian ngapain sih kamu pacaran sama Willy?" ujar Billy.
"Ish, ya suka-suka gue lah! Mau gue pacaran sama Willy atau siapapun, itu bukan urusan lu!" ujar Aurora.
Billy tersenyum tipis lalu perlahan mendekat ke arah Aurora yang semakin ketakutan.
******
Kiara mendekati Martin yang sedang melamun sendirian di samping rumahnya.
Gadis itu nampak heran melihat Martin berdiam diri seperti itu, karena tak biasanya memang Martin yang dikenal galak itu malah melamun.
Kiara pun duduk di sebelah kekasihnya, memberikan segelas teh hangat untuk pria itu sambil tersenyum tipis.
"Tuan, ini diminum dulu!" ucap Kiara.
"Ah iya, terimakasih ya Kiara cantik! Kamu emang pengertian banget sih sama saya," ucap Martin.
"Sama-sama, tuan." ucap Kiara.
Martin pun meminum teh hangat pemberian Kiara tadi, ia sedikit merasa tenang setelah meminum itu dan berada di samping Kiara.
"Oh ya, tuan tadi kenapa melamun aja? Ada yang lagi tuan pikirin ya?" tanya Kiara penasaran.
"Eee iya sayang, saya emang lagi banyak pikiran ditambah saya lagi kesal juga." jawab Martin.
"Kalau boleh tahu, tuan lagi mikirin apa? Terus, tuan kesal sama siapa?" tanya Kiara.
"Ini karena si Willy, gak tahu kenapa dia berhasil hasut om Johan supaya berpihak ke dia. Padahal awalnya om Johan itu mau nurut loh sama saya, eh sekarang dia malah dukung Willy buat dekat sama Aurora." jelas Martin.
"Emangnya kenapa sih tuan kalau Aurora dekat sama Willy? Bukannya itu hak dia ya? Lagian kan gak ada salahnya juga kalau mereka deketan," tanya Kiara keheranan.
"Kamu kan tahu sendiri Kiara, si Willy itu anak geng motor yang berandalan. Dia udah pernah masuk penjara gara-gara tawuran di jalan, apa itu gak bikin saya cemas?" ucap Martin.
"Loh, tapi itu kan udah lama tuan. Sekarang ini Willy udah beda kok, sejak kenal Aurora dia udah gak kayak gitu lagi. Coba deh tuan cari tau, kapan terakhir kali Willy tawuran!" ucap Kiara.
"Kamu kata siapa sih? Willy itu ya tetap Willy, dia masih sama seperti dulu." ujar Martin.
"Yaudah deh tuan, mungkin emang aku salah karena aku juga gak tahu lagi kehidupan Willy sekarang ini kayak gimana. Tapi, aku punya saran supaya tuan gak pusing lagi kayak gini karena hubungan Willy dan Aurora." ucap Kiara.
"Hah? Apa itu sayang?" tanya Martin.
"Tuan lebih baik pergi refreshing ke tempat wisata di sekitar sini, lupain dulu masalah yang lagi tuan hadapi sekarang ini dan fokus tenangin diri." jawab Kiara.
"Refreshing? Emangnya kamu mau temenin saya buat refreshing nantinya?" tanya Martin.
"Umm, kalau tuan emang butuh saya dan mau ajak saya ya saya sih mau-mau aja ikut sama tuan." jawab Kiara sambil tersenyum.
"Oke, kalo gitu kita berdua liburan ke Bali aja weekend nanti. Gimana, kamu setuju gak?" usul Martin.
"Aku setuju-setuju aja sih, yang penting itu bisa bikin tuan bahagia dan gak pusing mikirin masalah Willy sama Aurora lagi." jawab Kiara.
"Yaudah, makasih ya sayang karena kamu udah mau bikin aku senang!" ucap Martin.
"Sama-sama tuan, itu udah tugas aku. Kan selama ini tuan juga selalu nyenengin aku. Jadi, gak ada salahnya dong kalo aku mau gantian nyenengin tuan?" ucap Kiara.
"Ahaha, kamu itu emang paling baik dan cantik lagi! Saya gak salah pilih kamu buat jadi pasangan, i love you Kiara!" ucap Martin.
Martin tersenyum sembari memeluk Kiara dengan erat dan mengusap rambutnya lembut.
Kiara menikmati saja momen itu, ia membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih sembari memejamkan mata.
"Love you too, tuan.." balas Kiara.
Martin merasa senang sekali mendengar itu, akhirnya ia dapat mendengar Kiara mengatakan cinta padanya.
"Aku gak tahu apa aku emang udah cinta sama tuan Martin atau belum, tapi yang pasti aku akan terus berusaha untuk mulai mencintai tuan Martin karena hanya dia yang aku punya sekarang." batin Kiara.
Bersambung....