
My love is sillie
Episode 80
•
Max pun turun dari motornya, melihat ke arah rumah untuk memastikan siapa yang datang kesana.
"Waduh!" ucap Max spontan.
Max benar-benar terkejut saat melihat anggota the darks ada di depan rumahnya, ia heran mengapa mereka bisa menemukan alamat tempat tinggalnya.
"Itu kan anak-anak the darks, kok mereka bisa disini ya? Mau ngapain coba?" gumam Max.
"Apa jangan-jangan mereka udah tahu, kalau Aurora itu gue yang culik?" sambungnya.
Tanpa sadar, rupanya Tedy tak sengaja melihat keberadaan Max yang sedang mengintip dari jauh ke arah rumahnya.
"Eh guys, itu siapa ya yang ngintip disitu?" tanya Tedy menunjuk ke arah Max dengan dagunya.
"Hah??" Arif terkejut dan mengarahkan matanya ke tempat yang ditunjuk Tedy.
"Gue gak tahu dia siapa, tapi kok tingkahnya mencurigakan gitu ya?" ujar Zafran.
"Kita samperin aja yuk!" ucap Tedy.
"Gas!"
Namun, Max lebih dulu menyadari itu dan dia pun langsung dibuat panik.
"Gue harus kabur!!" ucap Max.
"WOI MAU KEMANA LU...??!!" teriak Tedy.
Tedy langsung bergerak cepat mendekati Max yang hendak naik ke motornya.
Willy mendengar teriakan Tedy, ia pun menoleh dan coba menahan Arif yang hendak ikut pergi.
"Eh eh, tunggu Rif!" ucap Willy.
"Iya Wil, kenapa?" tanya Arif.
"Itu si Tedy mau kemana?" ucap Willy penasaran.
"Kita mau kejar orang yang tadi ngintip dari jauh, kita curiga kalo itu salah satu anggota black jack. Soalnya gerak-geriknya mencurigakan banget," jelas Arif.
"Apa? Yaudah, lu bantu si Tedy kejar tuh orang!" perintah Willy.
"Oke Wil!" ucap Arif.
"Wil, gue juga ikut ya?" ucap Zafran.
Willy mengangguk memberi izin, lalu Arif dan Zafran pun bergerak cepat menyusul Tedy yang sedang mengejar Max.
Sementara Willy dan Randi tetap diam di depan pintu rumah Catur, mereka menunggu Catur yang tengah berbicara dengan putranya.
Tak lama kemudian, Catur kembali menemui mereka di depan sana.
Tanpa basa-basi lagi, Willy langsung mendekati Catur dan bertanya kepada pria itu mengenai keberadaan Aurora.
"Gimana pak? Mana anak bapak itu?" tanya Willy.
"Maaf mas! Ternyata tadi siang mobil itu gak dibawa sama anak saya yang namanya Dion, tapi sama anak saya yang lain." jawab Catur.
"Terus, dimana anak bapak yang lain itu? Saya mau bicara sama dia!" ujar Willy.
"Maaf lagi mas! Tapi, anak saya ini belum pulang. Saya juga gak tahu dia kemana, padahal dia biasanya gak pernah pulang setelat ini." jawab Catur.
"Sial!" umpat Willy.
"Wil, jangan-jangan cowok yang tadi ngintip dari luar itu anaknya pak Catur?" bisik Randi.
"Bisa jadi," ucap Willy.
"Eh ya pak, nama anak bapak itu siapa ya?" tanya Randi pada Catur.
"Eee namanya Max, dia itu seumuran kalian. Ya dia emang anak bungsu saya, agak sedikit manja sikapnya." jawab Catur sambil tersenyum.
"Max?" Willy terkejut mendengarnya, tangannya langsung terkepal kuat penuh emosi.
"Kenapa Wil? Lu kenal sama orang yang namanya Max?" tanya Randi.
"Iya Ran, gue tahu banget sama dia. Pak, apa Max anak bapak itu sekolah di xxx?" ucap Willy.
"Ah iya, betul sekali. Anak saya memang sekolah disana, kok kamu bisa tahu?" ujar Catur.
"Tuh kan, gak salah lagi. Ini semua emang ulah si Max, gue harus segera temuin dia dan bebasin Aurora!" geram Willy.
Willy berbalik lalu pergi begitu saja.
"Eh eh, Wil tunggu Wil! Lu mau kemana sih?" teriak Randi berusaha mencegah Willy.
"Yah elah susah amat sih dibilanginnya!" ucap Randi.
Randi pun pamit terlebih dahulu kepada Catur dan juga dua orang pekerja di rumahnya itu, ia juga mengucapkan terima kasih pada mereka sebelum pergi mengejar Willy.
Catur masih tampak bingung, ia belum dapat mencerna semua yang tadi dikatakan oleh Willy.
***
Sementara itu, Tedy dan Max terlibat aksi kejar-kejaran di jalan raya.
Tedy terus berusaha mengejar dan menangkap pengendara motor tersebut saat ini.
"WOI BERHENTI LU!" teriak Tedy.
Namun, Max tak perduli dan terus menancap gas melaju sekencang mungkin dari sana.
Tedy tak tinggal diam, ia juga ikut memacu motornya mengejar Max kemanapun dia pergi.
Arif dan Zafran juga masih mengikuti Tedy dari belakang, walau jarak mereka agak jauh.
Bugghhh... /// Tedy berhasil menendang motor Max dari samping hingga pria itu terjatuh ke aspal.
Bruuukkk...
"Aakkkhhh!!" Max memekik kesakitan saat kakinya tertindih badan motor.
Tedy pun turun dari motor dan langsung menghampiri pria itu.
"Heh! Lu siapa, ha?" ujar Tedy.
Max masih terus meringis kesakitan dan berusaha mengangkat motornya agar kakinya tak tertindih lagi.
"Aakkkhhh!! Lu bantu gue dulu, baru nanti gue jawab pertanyaan lu!" ucap Max.
"Gak! Lu pikir gue bodoh apa? Kalo gue bantu lu, nanti lu bakalan kabur dari gue. Mending sekarang lu jawab, sebelum kaki lu keburu tambah parah! Kasih tahu gue, siapa lu sebenarnya!" bentak Tedy.
"Gue Max, kenapa?" jawab Max.
"Max? Apa lu anggota geng black jack?" tanya Tedy.
"Apaan tuh? Gue gak pernah dengar nama geng kayak gitu," elak Max.
"Gausah bohong lu, ngaku aja!" bentak Tedy.
"Ngaku gimana? Gue emang gak tahu geng itu, boro-boro gue bisa jadi anggotanya. Lu jangan nuduh sembarangan deh!" ujar Max.
"Terus, ngapain tadi lu ngintip dari jauh sewaktu gue sama teman-teman gue lagi bicara sama pak Catur?" tanya Tedy.
"Heh! Asal lu tahu ya, gue ini anaknya pak Catur. Gue tadi mau pulang ke rumah, tapi gue bingung karena banyak anak-anak motor di depan rumah gue. Wajar aja dong kalo gue ngintip, kan gue penasaran." jawab Max.
"Lu anaknya pak Catur? Apa lu tau tentang Aurora yang diculik?" tanya Tedy curiga.
"Apaan sih? Aurora siapa lagi? Gue gak tahu apa-apa bro, gue cuma pengen pulang ke rumah. Tolonglah lu bantu angkat motor gue, sakit banget tau!" ujar Max.
Tak lama kemudian, Arif dan Zafran pun tiba disana. Mereka langsung menghampiri Tedy yang tengah berbincang dengan Max.
"Oke, gue bantu lu!" ucap Tedy.
"Tedy!" teriak Arif saat Tedy hendak membantu mengangkat motor milik Max.
"Eh kalian, kok kalian kesini juga?" tanya Tedy.
"Iya Ted, kita disuruh Willy buat susulin lu. Terus, gimana sama orang yang tadi ngintipin kita dari jauh itu?" ujar Arif.
"Iya, gue anaknya pak Catur. Buruan kalian bantu gue dong!" ucap Max.
"Iye iye.." ucap Tedy pasrah.
Akhirnya Tedy dan Arif sama-sama membantu mengangkat motor milik Max itu.
Sementara Zafran masih memandang curiga ke arah Max dengan kedua tangan di dagu.
"Nah udah, kaki lu gak ngapa-ngapa kan?" tanya Arif pada Max.
"Sakit dikit sih, tapi gapapa lah." jawab Max.
"Yaudah, biar gue yang antar lu balik." ucap Tedy.
"Gausah, gue bisa sendiri." ucap Max menolak.
Disaat Max hendak naik ke motornya dan pergi, tiba-tiba saja suara teriakan terdengar keras dari belakangnya.
"WOI MAX!"
Sontak mereka semua langsung menoleh ke belakang secara bersamaan, semuanya terkejut termasuk Max yang merasa ketakutan saat melihat Willy datang kesana.
"Willy?" ucap mereka berempat spontan.
***
Disisi lain, Johan masih sibuk mencari-cari keberadaan Aurora putrinya di sekeliling jalan raya.
Johan tampak sangat panik lantaran Aurora tak kunjung memberi kabar padanya hingga kini.
"Duh, Aurora kamu dimana sayang?" ujar Johan.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil berhenti di dekatnya. Itu adalah Martin yang sebelumnya dimintai pertolongan oleh Johan untuk membantunya.
"Om!" ucap Martin sembari menghampiri Johan.
"Ah nak Martin, untung aja kamu cepat datang! Om udah bingung dan gak tahu lagi mau cari Aurora kemana, hampir semua tempat udah om datangi tapi tetap Aurora gak ketemu." ujar Johan.
"Eee om udah coba hubungi Willy dan tanya ke dia? Siapa tahu Aurora ada sama dia," tanya Martin.
"Udah nak, masalahnya daritadi telpon om itu gak diangkat-angkat sama Willy. Om kan jadi khawatir, takutnya terjadi sesuatu sama Aurora!" ujar Johan.
"Itu dia om yang saya takuti dari awal, kenapa juga om pake izinin Aurora buat dekat sama Willy? Sekarang semuanya jadi begini kan, gimana semisal Aurora dibawa ke tempat yang gak bener sama Willy?" ucap Martin.
"Saya kan udah bilang sama om, Willy itu bukan orang yang baik dan dia bisa bawa pengaruh buruk untuk Aurora. Tapi apa, om malah bela si Willy dan biarin mereka buat deketan. Ya begini lah resikonya, coba aja dari awal om dengerin saya pasti gak akan kayak gini!" sambungnya.
"Iya Martin, om benar-benar merasa bersalah sama kamu. Om gak nyangka semuanya akan seperti ini, om kira ucapan kamu itu salah dan Willy gak seperti yang kamu katakan." ucap Johan.
"Yaudah lah om, penyesalan emang datang terlambat alias paling akhir. Untuk sekarang kita cari aja Aurora dulu," ucap Martin.
"Iya iya, om khawatir sama dia!" ucap Johan.
"Eee pertama, kita coba aja dulu datengin rumah si Willy. Siapa tahu Aurora dibawa kesana sama dia kayak waktu itu," ucap Martin.
"Boleh boleh, kamu tahu kan rumah Willy?" tanya Johan.
"Tenang aja om, saya masih ingat kok!" jawab Martin.
"Yasudah, antarkan saya ke rumah Willy! Saya pengen tahu apa Aurora ada disana atau enggak," ucap Johan.
"Iya om, mari!" ucap Martin.
Johan mengangguk, lalu mereka pun pergi bersama menuju rumah Willy.
Sesampainya di rumah Willy, mereka berdua langsung turun dari mobil dan mengetuk pintu.
TOK TOK TOK...
"Permisi, selamat malam!" ucap Johan sedikit berteriak.
"Misi!" sahut Martin.
Karena tak kunjung ada jawaban, Johan pun berpikir kalau orang di dalam sudah pada tidur.
"Apa orang-orangnya udah pada tidur, ya?" ujar Johan.
"Entahlah om, coba aja diketuk lagi!" ucap Martin.
TOK TOK TOK...
"Permisi!!" teriak Johan.
"Iya sebentar...!!" balas seseorang dari dalam.
Ceklek...
Akhirnya pintu terbuka, memperlihatkan pak Gunawan keluar dari dalam menemui mereka.
"Iya, ada apa ya ini?" tanya pak Gunawan heran.
"Eee saya papanya Aurora, nama saya Johan. Saya datang kesini sama keponakan saya, karena saya mau cari anak saya itu." jawab Johan.
"Ohh, jadi anda ini papanya nak Aurora. Tapi maaf, nak Aurora nya gak ada disini. Satu hari ini juga dia gak ke rumah saya kok," ucap pak Gunawan.
"Yang benar pak? Aurora gak pulang-pulang daritadi loh, dan terakhir kali itu dia perginya sama Willy. Itu sebabnya saya datang kesini, karena saya kira Aurora dibawa kesini sama Willy." kata Johan.
"Nah itu dia pak, masalahnya dari pagi juga Willy belum pulang ke rumah. Saya gak tahu dah tuh dia kemana, saya sama istri saya juga coba telpon ke nomornya tapi gak diangkat-angkat." ucap pak Gunawan.
"Aduh! Kemana ya itu si Willy? Pasti dia juga ajak anak saya Aurora," ujar Johan.
"Bisa jadi sih begitu pak, tapi gak tahu juga. Yaudah, bapak sabar aja ya! Kita sama-sama tunggu kabar dari Willy! Insyaallah kalau sama Willy, nak Aurora pasti aman!" ucap Gunawan.
"Maaf om! Kita gak bisa diem aja disini, kita harus cari mereka! Mending kalau Aurora baik-baik aja, kalo dia kenapa-napa gimana?" ujar Martin.
Johan langsung panik lagi mendengar ucapan Martin, begitupun dengan pak Gunawan yang juga ikut merasa cemas.
***
Willy berhasil memaksa Max untuk membawanya ke tempat Aurora berada.
Max memang tak bisa berbuat apa-apa, karena dia sudah tertangkap oleh Willy dan yang lainnya.
Mereka pun kini tiba di ruko, tempat persembunyian anak black jack yang baru.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh para anggota black jack yang ada di luar sana.
"Eh Max, bener ini tempatnya? Disini lu sekap Aurora?" tanya Willy pada Max.
"Kalo lu gak percaya, lu masuk aja dan cek sendiri di dalam!" jawab Max.
"Oke! Lu ikut sama gue, biar orang-orang itu gak cari masalah ke kita!" ucap Willy.
"Ish, gue gak mau! Lu aja semua yang pada masuk, urus aja mereka sendiri! Gue pengen pulang, jangan paksa gue!" ucap Max.
Willy menahan tangan Max dan tak membiarkan Max pergi dari sana.
"Lu gak bisa pergi dari sini, lu harus bawa gue sampai gue bisa ketemu sama Aurora!" tegas Willy.
Akhirnya mau tidak mau, Max terpaksa menuruti kemauan Willy.
Mereka pun turun dari motor, menghampiri Billy serta yang lainnya di depan sana.
"Heh Willy! Mau ngapain lu kesini?" tanya Billy.
"Serahin Aurora ke gue! Gue tahu dia ada di dalam, cepat bawa dia keluar atau Max bakal gue abisin di depan kalian!" jawab Willy.
"Max? Kenapa lu bisa ketangkap sama mereka?" tanya Billy pada Max.
Max hanya diam menunduk, pikirannya kacau karena lagi-lagi rencananya gagal.
"Tanyanya nanti aja! Sekarang cepat bawa gue ketemu sama Aurora!" ucap Willy sambil menarik-narik jaket Max.
"Gausah tarik-tarik gue!" bentak Max.
"Yaudah cepet jalan!" balas Willy.
Mereka pun masuk ke dalam tempat itu secara bersamaan.
"Aku akan temui kamu, Aurora!" batin Willy.
Bersambung....