
My love is sillie
Episode 117
•
"Udah cepetan, lu mau ngomong apa sama gue?!" ujar Aurora penasaran.
"Gue cuma mau ngomong kalau dua gadis di sebelah lu itu pergi dari sini, karena gue pengen bicara berdua sama lu," ucap Max.
"Gue kan tadi udah bilang, gue gak mau bicara sama lu kalau cuma berdua. Sekarang semua terserah lu, mau bicara silahkan gak mau bicara juga gue gak perduli," ucap Aurora.
"Kamu kok gitu sih sayang? Ayolah, sebentar aja kok kita bicara di rooftop! Aku janji gak akan apa-apain kamu deh!" bujuk Max.
"Gue gak mau, paham gak sih lu?!" bentak Aurora.
"Udah deh Max, mending lu jangan ganggu Aurora lagi! Dia itu udah punya Willy, jadi stop deketin dia!" ucap Elsa membela sohibnya.
Max hanya tersenyum smirk, ia memberanikan diri mendekat dan mencengkeram lengan Aurora.
"Ih lepasin!" kaget Aurora.
"Woi! Sialan banget lu pegang-pegang tangan temen gue, lepasin dia!" Cindy dan Elsa kompak berusaha membantu Aurora lepas dari genggaman pria itu.
"Heh! Kalian gausah ikut campur deh, atau tangan Aurora ini gue patahin!" ancam Max.
"Hah? Gila lu ya Max, jangan macam-macam deh! Lo pengen digeprek sama Willy ya?!" ujar Cindy.
"Hahaha, yaudah kalian diem aja dan jangan bantu Aurora! Gue cuma mau ngobrol sama dia, jadi kalian jangan ikut campur!" ucap Max.
"Kurang ajar lu Max!" geram Elsa.
"Max, lepasin gue! Gue gak mau ngobrol sama lu!" ujar Aurora kesal.
"Ayo kamu ikut aja sayang!" paksa Max.
Max terus menarik paksa lengan Aurora untuk ikut dengannya, Cindy dan Elsa juga masih berusaha membantu sohib mereka itu tetapi gagal.
"Sayang!" Max dan yang lainnya terkejut, mereka kompak menoleh ke asal suara.
"Lepasin pacar gue, jangan bikin gue emosi!" bentak Willy.
"Willy?" Max terlihat panik begitu melihat kedatangan Willy disana.
"Sial lah! Ngapain sih si Willy pake dateng segala?! Ganggu urusan orang aja!" batin Max.
Willy berhasil menyingkirkan tangan Max dan memberi pukulan keras di wajah pria itu secara tiba-tiba.
Bugghhh..
"Aaaaa!!" cewek-cewek disana berteriak histeris menyaksikan hal itu.
"Jangan kurang ajar sama cewek gue! Mau lu gue bikin jadi perkedel?!" bentak Willy.
Max yang tersungkur di lantai hanya bisa memegangi wajahnya, sedangkan Willy terlihat sangat emosi dan hendak memukul Max lagi.
Namun, sebuah tangan menghalangi niat Willy untuk memukul Max. Ya dialah Aurora si cantik yang juga merupakan kekasih Willy.
"Tahan Willy! Aku gak mau kamu dihukum lagi gara-gara mukulin Max!" ucap Aurora.
"Tapi sayang, dia udah kurang ajar sama kamu! Aku sebagai pacar kamu gak terima dong!" kesal Willy.
"Iya aku ngerti, tapi udah lah biarin aja! Toh dia juga udah kena pukulan kamu kan?" ucap Aurora.
"Aku belum puas buat hajar dia, karena laki-laki kayak dia harus dikasih pelajaran!" ujar Willy.
"Jangan Willy! Kamu nurut dong sama aku!" tegas Aurora terus menahan kekasihnya.
"Haish, yaudah aku nurut. Kamu sekarang ikut aku! Aku gak akan biarin kamu pergi tanpa aku lagi!" ucap Willy.
Aurora hanya bisa mengangguk pasrah, Willy langsung menarik tangannya dan membawanya pergi dari sana.
•
•
"Cih! Kita gak perlu kerjasama sama kalian cuma buat kalahin Willy dan anak the darks, itu terlalu mudah buat kita," tolak Rimba.
"Heh, jangan sombong deh lu!" geram Billy.
Martin menahan Billy yang hendak maju itu, "Sabar Bil, lu gak boleh emosi! Biar gue yang hadapi mereka," cegah Martin.
"Iya bang, sorry!" ucap Billy menurut.
"Hahaha, itu emang kenyataan kok. Kita ini udah kuat, jadi kita gak perlu bantuan dari kalian untuk abisin anak-anak the darks," ucap Rimba.
Martin tersenyum dan kembali menatap seluruh anggota geng thunder itu.
"Gue tahu kalian hebat, tapi mengalahkan the darks gak semudah yang kalian kira. Apa salahnya kita kerjasama? Bukannya itu lebih memudahkan kita untuk menghancurkan mereka?" ujar Martin.
Rimba menatap seluruh anggotanya, mereka berdiskusi sejenak memikirkan tawaran Martin.
"Kita udah diskusi, dan kita tetap gak mau kerjasama sama kalian. Gue sama anak-anak pengennya bisa kalahin the darks tanpa bantuan orang luar, lu harus ngerti soal itu!" ucap Rimba.
"Oke! Berarti tandanya kalian tantang kita, sekarang kalian semua bakal kita abisin supaya kalian gak bisa lakuin niat kalian itu!" ucap Martin.
"Banyak gaya lu!" kesal Rimba.
"Seraaaangg!!" Martin berteriak keras, seluruh anggota black jack pun maju menyerang Rimba serta kawan-kawannya disana.
Martin tak mau kalah, dia juga turut menyerang geng thunder secara membabi buta.
Serangan demi serangan dilayangkan Martin ke tubuh Rimba, membuat Rimba kesulitan untuk meladeninya.
Bruuukkk...
Akhirnya Rimba terjatuh karena ulah Martin, membuat Martin menunjukkan smirk nya dan mendekati Rimba disana.
Martin langsung menarik tubuh Rimba dan mencekik leher pria itu dari belakang, ia mengancam anggota thunder lainnya untuk berhenti bertarung.
"WOI BERHENTI!!" Martin berteriak cukup keras hingga semua orang disana menoleh ke arahnya.
"Hah? Rimba??" ujar salah seorang anggota thunder, sebut saja Icang.
"Lepasin Rimba!" teriak Gondo, anggota thunder.
Sedangkan anak-anak black jack terlihat menyunggingkan senyum saat mengetahui itu.
"Gue bakal lepasin ketua geng kalian ini, asalkan kalian mau nurut sama gue. Ayo kita kerjasama buat abisin geng the darks dan si Willy itu! Gimana? Setuju?" ujar Martin.
Mereka tampak saling melirik satu sama lain dengan bingung.
"Semua keputusan ada di tangan Rimba, dia pemimpin kita dan dia yang berhak ambil keputusan," ucap Gondo.
"Oke! Cepat jawab ajakan gue tadi!" ucap Martin pada Rimba sembari menekan cekikan di leher pria itu.
"I-i-iya, gue setuju!" ucap Rimba terbata-bata.
"Setuju apa?!" bentak Martin.
"Gu-gue maksudnya kita, bakal kerjasama sama lu buat abisin the darks," jelas Rimba.
******
"Halo guys!" sapa Tedy dan Thoriq.
"Wih Thoriq! Lo dateng lagi nih? Mau kumpul sama kita-kita lagi ya?" ujar Zafran.
"Sebenarnya enggak bro, gue tadi gak sengaja ketemu aja sama Tedy di jalan," jelas Thoriq.
"Loh kok bisa?" tanya Arif penasaran.
"Nanyanya nanti-nanti dulu lah, gue sama Thoriq pegel nih pengen duduk. Masa kita gak disuruh duduk?" protes Tedy.
"Hehe, iya iya ayolah lu berdua pada duduk sini! Abis itu cerita sama kita, kenapa kalian bisa pas ketemu di jalan!" ucap Arif.
Tedy dan Thoriq mengangguk, lalu duduk di tempat mereka bersama-sama.
"Iya, gue juga sama penasarannya kayak Arif. Cerita dong Riq, Ted!" sahut Zafran.
"Oke oke, biar Thoriq aja yang ceritain deh! Gue haus nih mau minum dulu," ucap Tedy.
"Yeh sekalian beliin buat gue dong!" pinta Thoriq.
"Iya iya.." Tedy menurut, ia bangkit dari duduknya dan membeli minuman di warung dekat sana.
Sementara Thoriq tetap disana untuk menceritakan semuanya.
"Ayo Riq, cerita dong cerita!" ujar Zafran.
"Jadi gini guys, tadi itu gue ketemu sama Tedy waktu dia dikerumuni anak-anak thunder di jalan," jawab Thoriq.
"Hah??" mereka semua kompak terkejut.
"Terus, nasib kalian gimana? Kok kalian pada bisa kabur sih?" tanya Arif penasaran.
"Lo kayaknya pengen banget gue sama Tedy babak belur di tangan thunder ye," geram Thoriq.
"Eh eh, jangan salah paham dulu Riq! Gue kan cuma nanya, gak bermaksud kayak gitu. Gue penasaran aja gimana caranya kalian bisa lepas dari geng thunder," jelas Arif.
"Hahaha, iya gue bercanda doang. Jadi, gue bisa kabur tuh ya keahlian berkendara gue. Gue sengaja mancing anak-anak thunder, supaya Tedy bisa balik ke motornya. Abis itu, kita berdua sama-sama kabur deh kesini," ucap Thoriq.
"Wih emang kelas banget dah panglima tempur kita yang satu ini! Andai lu masih ada di geng kita boy, pasti kita ngerasa aman," puji Leo.
"Ah terlalu berlebihan lu! Emangnya sekarang panglima tempur disini siapa?" tanya Thoriq.
"Tuh si Zafran, tapi kemampuan dia jelas masih jauh di bawah lu. Lawan anak-anak black jack aja dia takut tadi," sindir Leo.
"Heh! Sialan lu ye!" geram Zafran.
"Udah lah, jangan saling ejek gitu! The darks kan dikenal dengan kekeluargaannya yang erat, jadi kita harus saling support!" ucap Thoriq.
Mereka semua mengangguk, kemudian saling melakukan tos khas the darks.
******
Willy membawa Aurora ke belakang sekolah yang sepi dan jarang ada orang datang kesana.
Lelaki itu mengungkung tubuh kekasihnya di tembok seraya mencengkeram kedua tangannya.
Aurora menatap wajah Willy dengan heran, ia tahu bahwa lelaki itu sedang bergairah saat ini.
"Wil, kamu mau berbuat mesum di sekolah? Gimana kalau ada yang lihat dan laporin kegiatan kita ke guru BK nanti?" tanya Aurora cemas.
"Tenang sayang! Gak akan ada yang lihat kita kok, kamu percaya sama aku!" ucap Willy santai dengan senyum tipisnya.
"Ta-tapi— akh!" ucapan Aurora terpotong saat Willy langsung menggigit lehernya dan bernafas disana membuatnya geli.
"Wil, jangan buat tanda!" Aurora berusaha mendorong kepala Willy dari lehernya, tetapi gagal dan pria itu malah semakin menciumnya dalam.
"Ahh.." lenguh Aurora tak bisa tertahan lagi, dia mendongakkan wajahnya sambil memejamkan mata saat Willy bermain di jenjang lehernya.
"Kamu juga suka kan diginiin sayang?" goda Willy yang kini sudah bermain di dada Aurora yang masih terbungkus seragam itu.
"Stop Wil, udah!" pinta Aurora.
"Kamu apa sih sayang?! Udah nikmati aja jangan ngelawan! Aku tahu kamu suka, jadi diam dan nikmati sentuhan aku!" tegas Willy.
"Ih aku gak mau ah, aku takut ada yang lihat kita!" ucap Aurora.
Bukan Willy namanya jika langsung menurut begitu saja dengan ucapan Aurora, ya lelaki itu malah kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher sang kekasih dan memainkan dadanya.
Willy mulai melepas satu persatu kancing baju Aurora hingga menampakkan tanktop hitam miliknya.
"Willy!" kesal Aurora. Ia berusaha menahan Willy melepas semua kancingnya, tetapi usahanya sia-sia karena tenaga Willy lebih besar.
Willy mengembangkan senyumnya, melepas seragam dari tubuh Aurora dan kembali meremass dada sintal wanita itu.
"Mmhhh.." Aurora menahan suaranya dan menutup rapat mulutnya agar tidak ada yang mendengar.
"Lepasin aja sayang, keluarkan suara indah kamu itu, jangan ditahan!" pinta Willy.
Aurora menggeleng. Willy yang kesal akhirnya melahap bibir manis wanita itu dengan brutal sambil menaikkan tanktop kekasihnya.
"Wil, cukuphh!!" ucap Aurora di sela-sela ciuman mereka sambil terus berusaha mendorong Willy.
Willy malah semakin brutal menyentuh tubuhnya, sampai pada intinya lelaki itu membuka seluruh pakaian sang kekasih dan melakukan penyatuan disana selama beberapa menit.
Puncaknya, Willy mendapat pelepasan setelah hampir setengah jam melakukan permainan.
Lelaki itu menumpahkan seluruh lahar panasnya ke dalam rahim sang kekasih hingga lemas.
"Ahh kamu benar-benar nikmat baby!" ujar Willy.
Aurora hanya bisa meneteskan air mata, lagi dan lagi kekasihnya hilang kontrol sampai mengeluarkannya di dalam.
"Apa aku akan hamil?" batin Aurora.
******
Setelah pulang sekolah, Willy mengajak Aurora pergi berdua ke danau yang indah.
Lelaki itu masih berusaha membujuk Aurora yang terus saja cuek padanya.
"Hey! Kamu marah sama aku?" tanya Willy.
"Enggak, aku cuma kesel aja. Lagian kamu itu susah banget dibilanginnya, kalau udah kepengen pasti gak bisa ditahan. Untung aja tadi gak ada yang lihat kita, kalau ada kan bisa gawat!" geram Aurora.
"Iya iya, maaf ya sayang! Tadi itu aku gak bisa kontrol diri karena aku udah tegang, aku juga lagi dalam keadaan emosi gara-gara Max pegang-pegang kamu tadi," ucap Willy.
"Tapi gak gitu juga kali, kamu tadi udah nyakitin aku loh! Kamu kayak orang kesetanan tau, mana keluarin di dalam lagi. Terus nanti kalau aku hamil gimana? Mau tanggung jawab?" kesal Aurora.
"Oh jelas mau, siapa sih yang gak mau nikahin kamu sayang?!" jawab Willy sambil tersenyum.
"Ish, aku yang gak mau nikah sekarang! Kita itu masih sekolah, masa udah mau nikah aja?!" ujar Aurora.
"Gapapa, di novel-novel juga banyak begitu. Lagian apa yang kamu takutin dari pernikahan sih sampai gak mau nikah?" ucap Willy.
"Bukan pernikahannya, tapi kamunya. Belum nikah aja kamu udah kasar gitu tadi, gimana nanti?!" ucap Aurora.
"Gak bakal sayang, aku janji deh!" ucap Willy meyakinkan.
Entah mengapa Aurora selalu luluh dengan kata-kata Willy, apalagi lelaki itu merangkul pundaknya dan mengusap wajahnya lembut, membuat Aurora merasa nyaman.
"Kamu mau kan maafin aku?" tanya Willy.
"Kalau gak mau, gimana?" goda Aurora.
"Yah jangan gitu dong! Aku minta maaf ya cantik, aku bakal beliin apapun yang kamu mau deh! Please, maafin aku ya!" paksa Willy.
"Kenapa sih kamu pengen banget aku maafin gitu?" tanya Aurora heran.
"Ya iyalah, aku kan gak bisa diginiin terus sama kamu," jawab Willy.
"Hilih! Makanya jangan mesum jadi orang!" cibir Aurora.
"Gapapa kali mesum sama cewek sendiri, apalagi kamu calon istri aku," ujar Willy seraya mencolek pipi wanita itu.
"Huh nyebelin!" Aurora mendengus kesal lalu membuang mukanya.
Willy pun menarik wajah Aurora dan mencium bibirnya secara paksa.
Cup!
"Mmppphhh.." Aurora berusaha berontak, tetapi gagal karena Willy mendekapnya cukup kuat.
"Willy!" suara seseorang dari belakang sana mengacaukan momen keduanya disana.
"Si-siapa itu??"
Bersambung....