
My love is sillie
Episode 37
•
Hari-hari berlalu, kini tiba saatnya Willy pulang setelah seminggu berada di rumah sakit.
Pak Gunawan, Bu Ani, serta para anggota the darks sudah datang disana untuk menjemput Willy.
Bahkan, tampak juga Aurora bersama Sasha dan Aziz di rumah sakit itu yang juga ingin mengantar Willy sampai ke rumahnya.
"Willy, akhirnya sebentar lagi kamu bakal pulang dan kembali ke rumah sayang!" ucap Bu Ani.
"Benar itu, bapak sudah rindu sekali melihat kamu ada di rumah. Tapi, kamu beneran kan sudah membaik? Gak ada yang sakit atau kenapa-napa lagi?" sahut pak Gunawan masih cemas.
"Tenang aja pak! Bapak kan dengar sendiri apa yang dokter bilang tadi, aku ini udah pulih benar. Ya walau masih harus minum obat di rumah, tapi kan intinya aku udah gak kenapa-napa." kata Willy.
"Iya sih, yasudah ayo kita pulang! Tapi ingat, di rumah kamu harus istirahat dulu jangan keluyuran kemana-mana!" ujar pak Gunawan.
"Iya bapak," ucap Willy pasrah.
"Nah, kalian semua ini juga dengerin! Jangan ajak Willy main kemana-mana dulu selama beberapa hari ini! Willy masih harus istirahat, udah gitu om juga mau masukin dia ke sekolah yang baru!" ucap pak Gunawan pada anak-anak the darks.
"Sekolah baru pak? Dimana?" tanya Willy penasaran.
"Ada deh, nanti kamu juga tahu." jawab pak Gunawan sengaja merahasiakan itu.
"Yah elah bapak ini pake rahasia-rahasiaan segala sama aku, udah sih pak kasih tahu aja!" ucap Willy sangat penasaran.
"Halah nanti aja di rumah, sekarang kamu pulang dulu biar aman!" ujar pak Gunawan.
"Eee nak Randi, kamu sudah panggilkan taksi untuk mengantar Willy kan?" tanya Bu Ani pada Randi.
"Sudah kok Bu, tapi bukan taksi." jawab Randi.
"Loh, terus apa?" tanya Bu Ani bingung.
"Ini loh tante, tadi sewaktu saya mau cari taksi di depan, eh Aurora datang dan dia nyaranin buat pake mobil dia aja. Jadi, tante sama om gak perlu repot-repot cari taksi buat antar Willy pulang ke rumah." jawab Randi.
"Mobil nak Aurora?" ujar Bu Ani terkejut dan melirik ke arah Aurora.
Gadis itu hanya tersenyum sambil meminggirkan rambutnya, sedangkan Bu Ani tampak bergerak menghampiri Aurora.
"Makasih banyak ya sayang! Lagi-lagi kamu udah mau bantu kita," ucap Bu Ani.
"Sama-sama tante, aku kan udah anggap tante sekeluarga kayak keluarga aku sendiri. Jadi, aku mau bantu kalian aja." kata Aurora sambil tersenyum.
"Makasih ya Rora!" ucap Willy tersenyum.
"Iya Wil, sama-sama." balas Aurora.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain dan tersenyum, membuat orang-orang disana senyum-senyum sendiri menyaksikan itu.
Lain halnya dengan Sasha, ya gadis itu justru merasa jengkel dan tak suka dengan apa yang dilihatnya saat ini.
******
Martin mengajak Kiara pergi, namun ia tidak bilang kemana ia akan membawa gadis itu.
Kiara pun tampak bingung dan coba menerka-nerka kemana agaknya Martin akan membawanya pergi.
"Tuan, sebenarnya tuan mau bawa aku kemana sih? Sampai tuan heboh banget tadi nyuruh aku buat dandan," tanya Kiara bingung.
"Ada deh, pokoknya rahasia dan kamu gak boleh tau!" ucap Martin tersenyum.
"Kok gitu sih tuan? Kasih tau dong! Jangan bikin aku penasaran tuan!" pinta Kiara.
"Tenang aja sayangku! Sebentar lagi kita sampai kok disana, nanti juga kamu tahu sendiri kita mau kemana." kata Martin.
"Tapi tuan, kenapa tuan gak kasih tahu sekarang aja?" tanya Kiara cemberut.
"Ya biar surprise, kalo dikasih tau duluan kan nanti gak seru dong jadinya. Udah lah sayang, kamu sabar dulu aja ya! Ini tinggal beberapa meter lagi juga sampai kok," ucap Martin.
"Masa sih?" ujar Kiara tak percaya.
"Iya sayang," jawab Martin sambil mencolek pipi gadisnya yang tengah cemberut.
Kiara termenung memikirkan kemana kiranya Martin akan mengajak ia pergi.
Sampai saat ini ia masih belum berhasil menebaknya, karena jalanan yang dilewati oleh mereka cukup asing si matanya.
Akan tetapi, Kiara merasa heran lantaran mobil mereka sekarang seperti mengarah menuju rumah sakit tempat sebelumnya ia ingin menjenguk Willy.
"Tuan, ini kita mau kemana sih?" tanya Kiara.
"Kamu kenapa tanya lagi? Saya kan sudah bilang, nanti juga kamu bakal tahu sendiri begitu kita sampai di tempatnya." jawab Martin.
"Tapi tuan, aku penasaran tau!" ujar Kiara.
"Sabar aja! Bentar lagi sampe kok," ucap Martin.
Tak lama kemudian, benar saja dugaan Kiara sedari tadi kalau Martin memang ingin membawanya ke rumah sakit tempat Willy berada.
"Tuan, kok kita kesini? Mau ngapain? Tuan lagi sakit?" tanya Kiara bingung.
Martin menoleh sambil tersenyum, kemudian menghentikan mobilnya tepat di area parkir rumah sakit miliknya itu.
"Enggak, saya ajak kamu kesini karena hari ini Willy keluar dari rumah sakit." jawab Martin.
"Lalu, apa hubungannya sama aku tuan? Buat apa juga tuan bawa aku kesini?" tanya Kiara heran.
"Hahaha... emangnya kamu gak mau ketemu sama Willy untuk lihat kondisi dia? Waktu itu kan kamu sampai rela datang kesini buat jenguk dia, nah sekarang aku mau wujudin keinginan kamu itu." jawab Martin santai.
"Tapi tuan, aku kan lagi berusaha lupain Willy sesuai yang tuan minta. Kenapa tuan malah kayak gini?" ucap Kiara tak mengerti.
"Tenang aja! Kali ini saya yang ajak kamu, jadi kamu gak perlu khawatir ya!" ucap Martin.
Kiara terdiam memalingkan wajahnya, ia belum siap jika harus bertemu Willy saat ini di hadapan Martin.
******
Willy bersama yang lainnya sudah keluar dari rumah sakit, terlihat pak Gunawan dan Bu Ani membantu Willy dengan cara menuntunnya berjalan.
Sementara Aurora dan Sasha tampak saling sikut menyikut agar bisa mendekat ke arah Willy.
Randi serta Thoriq pun terkekeh melihat kelakuan dua wanita di depannya.
"Pak, Bu, sebenarnya bapak sama ibu mau pindahin aku ke sekolah mana sih? Kasih tahu dong pak, Bu!" tanya Willy penasaran.
"Halah kamu ini kepo banget sih!" ujar Gunawan.
"Ahaha, nanti aja ya kita bicaranya di rumah!" ucap Bu Ani tertawa kecil.
"Bukan begitu pak, Bu. Tapi, Willy tuh pengennya satu sekolah lagi sama mereka-mereka ini." ucap Willy.
"Ya tenang aja! Kamu kan tinggal suruh mereka buat ikut pindah ke sekolah kamu!" usul Gunawan.
"Gimana caranya aku suruh mereka, kalau aku sendiri aja gak tahu aku sekolah dimana?" ujar Willy.
"Ya nanti kan kamu bakal tahu juga, udah lah mending kita pulang dulu sekarang!" ucap pak Gunawan.
"Iya deh iya.." ucap Willy pasrah.
"Om, mobil saya yang di depan itu ya!" ucap Aurora menunjuk ke arah mobilnya berada.
"Oh iya, yaudah yuk kita kesana!" ucap Bu Ani.
Willy mengangguk saja, kemudian melangkah ke arah mobil Aurora bersama dengan kedua orangtuanya dan teman-temannya.
Namun, tiba-tiba saja Kiara dan Martin muncul di hadapan mereka dan membuat Willy serta semua orang yang ada disana terkejut melihatnya.
Willy diam saja memandangi Kiara yang saat ini ada di hadapannya, ia sungguh tak menyangka dapat melihat kembali Kiara yang dahulu memang pernah mengisi hatinya.
"Iya hai, aku baik kok!" jawab Willy gugup.
"Om, tante, apa kabar?" Kiara juga menyapa kedua orang tua Willy itu sembari mendekat dan mencium tangan mereka.
"Eee kita baik kok nak Kiara," jawab bu Ani.
Suasana mendadak dingin, entah mengapa perasaan Willy sudah berbeda saat melihat Kiara, ia tidak lagi senang atau bahagia seperti dulu.
"Wil, kamu udah mau pulang ya? Kondisi kamu udah pulih?" tanya Kiara pada Willy.
"Tentu, kamu kan bisa lihat sendiri sekarang aku udah membaik. Pasti kamu tahu kalau aku disini, dari tuan kamu itu ya?" ucap Willy.
"Enggak kok, justru Kiara yang lebih dulu tahu ada kamu disini Willy." ucap Martin menjawabnya.
"Ohh kirain," ucap Willy singkat.
"Yaudah lah Wil, kita pergi aja yuk! Kamu kan masih butuh istirahat," ucap Bu Ani.
"Iya Bu," ucap Willy.
Setelahnya, Willy dan kedua orangtuanya pun pergi menuju mobil Aurora. Mereka meninggalkan Martin serta Kiara yang masih terdiam disana.
******
Singkat cerita, Willy sudah berada di mobil dan tengah dalam perjalanan menuju rumahnya bersama Aurora.
Aurora terlihat masih penasaran siapa wanita yang tadi mereka temui di rumah sakit, karena Aurora baru kali ini melihatnya.
"Eee Willy, cewek yang tadi itu siapa? Kamu kenal sama dia?" tanya Aurora sembari menoleh ke belakang menatap wajah Willy.
Ya Aurora memang duduk di depan bersama supirnya, sedangkan Willy dan kedua orangtuanya ada di kursi belakang.
"Kenapa Aurora? Cemburu ya?" goda pak Gunawan sambil terkekeh kecil.
Sontak Aurora tampak tersipu, wajahnya memerah dan ia mulai salah tingkah.
"Bapak ini, kasihan tuh nak Aurora jadi malu! Harusnya bapak jangan bilang begitu dong, gak enak tau!" ucap Bu Ani.
"Hehe, bapak bercanda kok Bu. Maaf ya nak Aurora!" ucap pak Gunawan sambil nyengir.
"Gapapa om," ucap Aurora tersenyum tipis.
"Sorry ya Rora! Bokap gue emang suka gak jelas kadang-kadang, tapi lu jangan dengerin kata-kata bapak!" ucap Willy.
"Tenang aja!" ucap Aurora singkat.
"Oh ya, tadi lu tanya soal siapa cewek yang datang di rumah sakit itu kan?" ucap Willy.
"Ah iya, bukan kenapa-napa sih aku cuma penasaran aja." kata Aurora.
"Dia itu namanya Kiara, dulu aku sama dia pernah dekat walau cuma sebentar. Nah laki-laki yang datang bareng dia tadi, itu cowoknya yang sekarang." jelas Willy.
"Oh gitu," ucap Aurora sambil mengangguk.
"Lega ya nak Aurora?" ujar pak Gunawan.
"Bapak ih, jangan begitu!" tegur Bu Ani.
Pak Gunawan hanya terkekeh saja sambil menggaruk kepala bagian belakangnya, sedangkan Willy tampak geleng-geleng kepala.
"Oh ya, ini arah ke rumah kamu lewat mana Wil?" tanya Aurora.
"Eee itu belok kanan di depan, abis itu tinggal lurus aja kok." jawab Willy.
"Oh oke!" ucap Aurora.
"Tuh kan pak, harusnya bapak itu duduknya di depan tadi! Biar gak repot ngarahin jalannya," ucap Bu Ani.
"Pengennya sih begitu Bu, tapi kan nak Aurora nya yang mau duduk di depan. Ya bapak gak enak dong kalo maksa-maksa, ini kan mobilnya nak Aurora." ucap pak Gunawan.
"Udah lah Bu, pak, jangan kayak gitu gak enak sama Aurora!" ucap Willy merasa malu.
Pak Gunawan dan Bu Ani kompak tersenyum renyah, sedangkan Willy terus menepuk jidat dengan kelakuan orangtuanya itu.
"Rora, jangan didengerin ya!" ucap Willy.
"Eh eee iya Wil, aku juga tahu kok kalau om sama tante ini bercanda doang." kata Aurora.
"Baguslah!" ucap Willy tersenyum.
******
Sesampainya di rumah, Willy langsung masuk ke dalam bersama kedua orangtuanya dan juga Aurora yang diajak olehnya.
Mereka duduk bersama di sofa, Bu Ani sengaja membiarkan putranya dengan Aurora duduk berdua disana selagi ia membuatkan minum.
"Sebentar ya, ibu buatin minum dulu. Kalian tunggu disini aja!" ucap Bu Ani.
"Iya tuh, bapak juga ke kamar mandi dulu." sahut pak Gunawan.
"Iya Bu, pak." ucap Willy singkat.
Setelah kedua orangtuanya pergi, Willy kini beralih menatap Aurora yang sedang menunduk dan menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah Aurora secara perlahan.
"Ehem ehem..." Willy berdehem pelan hingga membuat Aurora terkejut dan menoleh.
"Iya, kenapa Wil?" tanya Aurora bingung.
"Lu kok bisa baik banget sih sama gue? Apa alasan lu sering bantu gue?" ucap Willy menatap Aurora dengan wajah penasaran.
"Eee aku..." Aurora tampak gugup dan gemetar.
Willy tersenyum lebar, meraih satu tangan Aurora dan menggenggamnya.
"Kok sekarang lu jadi sering gugup gitu sih tiap kali ngobrol berdua sama gue? Udah gitu kata-kata lu juga banyak berubah, biasanya kan lu gak pernah ngomong pake aku-kamu." ucap Willy.
"Wil, gausah pegang-pegang ya! Gak enak nanti kalau dilihat bapak atau ibu kamu, kayak waktu itu di rumah sakit!" ucap Aurora ketakutan.
"Kenapa sih, ha?" tanya Willy sembari menarik Aurora lebih dekat dengannya.
Kini wajah mereka saling berdekatan, Willy mengusap rambut Aurora dengan perlahan dan membuat gadis itu semakin gugup.
"Wil, kamu—"
"Sssttt diam dulu! Gue tuh mau tau jawaban lu, kenapa lu jadi kayak gini?" potong Willy.
Willy mendekap tubuh Aurora dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih terus mencengkram tangan Aurora.
Jantung Aurora semakin berdebar-debar tak karuan akibat ulah Willy, ia tak mengerti apa sebenarnya maksud dari pria itu.
"Nyaman gak?" tanya Willy pada Aurora.
"Hah??" Aurora terkejut dan menganga lebar.
"Lu kok bisa cantik banget sih?" ucap Willy masih terus mengusap punggung Aurora dan menaruh dagunya pada puncak kepala gadis itu.
"Wil, lepasin gue!" pinta Aurora berusaha mendorong tubuh Willy, tetapi gagal.
"Hey, udah udah diem! Lu jangan banyak gerak, mumpung gak ada bokap sama nyokap gue mah gapapa kali! Emangnya lu gak suka apa gue peluk kayak gini, hm?" ucap Willy.
"Gue mohon Wil, lu jangan—mmppphhh.."
Ucapan Aurora terpotong lantaran Willy langsung mencium bibirnya dengan kasar dan menuntut sembari menekan tengkuk gadis itu.
"Enak juga nih bibir!" batin Willy.
Bersambung....