
My love is sillie
Episode 133
•
Willy dan Aurora tak sengaja berpapasan dengan Bu Ani yang baru selesai menyiapkan sarapan.
"Loh loh, ada nak Aurora??" ujar Bu Ani.
"Ah iya Bu, assalamualaikum!" Aurora langsung menyala Bu Ani dan mencium tangan sang ibu dari kekasihnya itu.
"Dari kapan kamu kesini? Kok ibu gak dengar sih?" tanya Bu Ani.
"Barusan aja Bu, tadi yang buka pintunya itu Sasha. Terus baru deh Willy datang dan bolehin aku masuk," jelas Aurora.
"Oh iya, nak Sasha nya kemana sekarang?" tanya Bu Ani kebingungan.
"Ada di depan kok Bu," jawab Willy.
"Loh kenapa gak diajak masuk kesini juga?" tanya Bu Ani.
"Iya maaf Bu, aku lupa. Tadi kan juga Sasha udah di dalam, ngapain disuruh masuk lagi?" ujar Willy.
"Yaudah, biar ibu yang ke depan. Kamu ajak aja Aurora ke meja makan ya!" ucap Bu Ani.
"Siap Bu! Yuk sayang!" ucap Willy.
Aurora mengangguk sambil tersenyum, Willy merengkuh pinggangnya dan mulai melangkah menuju meja makan.
"Wil, emang Sasha masih sering datang ke rumah kamu ya?" tanya Aurora.
"Eee gak juga sih, baru kemarin sama hari ini. Emangnya kenapa? Kamu cemburu?" jawab Willy.
"Ah eee enggak lah ngapain?!" elak Aurora.
"Masa sih? Kelihatan loh dari wajah kamu, pasti kamu cemburu kan? Udah sayang, ngaku aja kali kalo kamu cemburu!" ucap Willy.
"Apa sih?! Kamu gausah kege'eran deh, aku gak cemburu! Aku tuh cuma tanya dan penasaran aja, ngapain gitu Sasha masih datang ke rumah kamu. Aku gak ada maksud lain," ucap Aurora.
"Iya iya sayangku, aku percaya aja deh sama kamu mah!" ucap Willy seraya memeluk kekasihnya.
"Jangan peluk-peluk ah gak enak tau kalo diliat ibu atau bapak kamu!" ujar Aurora berontak.
"Gapapa, tenang aja!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Iya nak Aurora, gak perlu malu di depan bapak mah." keduanya sama-sama kaget mendengar suara seorang lelaki yang muncul dari arah dapur mendekati mereka.
"Hah bapak??!" Aurora tersentak kaget, ia coba melepas pelukan Willy tetapi gagal karena pria itu malah menahannya.
"Ih Willy lepas, malu tau ada bapak kamu!" ujar Aurora coba berontak.
"Kamu kenapa sih? Bapak aku perasaan biasa-biasa aja gak marah, ya kan pak?" ucap Willy dengan santai.
"Iya, udah gapapa nak Aurora namanya juga anak muda. Dulu bapak sama ibunya Willy juga begitu kok," ucap pak Gunawan.
Aurora terbelalak mendengarnya.
"Pantas aja anaknya begini," batin Aurora.
Melihat Aurora terdiam, Willy malah dengan santainya mengecup pipi gadis itu di hadapan sang ayah.
Cup!
"Ih Willy!" protes Aurora.
"Abisnya kamu kenapa diem aja? Terpesona ya sama ketampanan aku?" goda Willy yang tak berhenti mengendus leher Aurora.
"Willy, kamu jangan kayak gini di depan bapak kamu! Aku gak enak tau!" bisik Aurora.
"Iya iya, aku bicara sama bapak dulu ya?" ucap Willy kemudian beralih menatap pak Gunawan. Aurora yang mendengar itu dibuat sangat kaget.
"Wil, kamu mau ap—"
"Pak, bapak gak mau kemana gitu pak? Aurora malu katanya kalau ada bapak," ucapan Aurora terpotong oleh perkataan tidak sopan Willy kepada bapaknya sendiri.
******
"Mana berani aku macam-macam sama kamu sayang? Kita kan baru pacaran sehari, masa iya aku udah lancang aja?" ujar Randi.
"Terus tadi itu apa? Kamu kan sentuh-sentuh puncak aku," kesal Ayna.
"Eee iya itu tadi aku gak tahan aja sayang, abisnya punya kamu kenyal banget sih. Mending sekarang kamu cepat deh ganti baju, biar aku bisa tahan diri!" ucap Randi.
"Iya iya, kamu tunggu aja di kasur gih! Kalau kamu mau tiduran juga boleh kok," ucap Ayna.
"Oke sayang!" ucap Randi menurut.
Pria itu memajukan bibirnya, kembali mengecup singkat bibir ranum Ayna dan mengusap rambutnya.
Cup!
"Bibir kamu enak banget, aku kayaknya kecanduan sama bibir kamu deh!" goda Randi.
"Bisa aja kamu, udah ah sana jauh-jauh!" usir Ayna.
"Hahaha.." Randi tertawa kecil sembari memundurkan langkahnya menuju ranjang empuk milik Ayna.
Ayna pun mulai mengganti pakaiannya di hadapan Randi, terlihat gadis itu malu-malu saat melakukannya, sedangkan Randi sendiri justru mengamati dengan serius.
Setelah selesai, kini keduanya kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Tak terjadi apapun di dalam kamar itu, karena Randi juga tidak berani melakukan hal buruk pada Ayna.
"Sayang, kamu gak marah kan karena tadi aku masuk kamar kamu gitu aja?" tanya Randi.
"Enggak kok sayang, buat apa aku marah? Lagian mana bisa sih aku marah sama kamu?" jawab Ayna.
"Makasih ya sayang! Berarti kapan-kapan boleh dong aku masuk kamar kamu lagi?" ujar Randi.
"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.
"Hahaha, bercanda kok sayang. Tapi, kalau emang dibolehin sih gapapa. Aku ngerasa nyaman ada di kamar kamu kayak tadi," ucap Randi.
"Boleh boleh aja, asalkan gak ada kak Geri mah. Udah ah jangan bahas itu terus, yuk kita jalan ke luar!" ujar Ayna.
"Kamu mau pergi kemana emang sayang?" tanya Randi seraya mendekap tubuh gadisnya.
"Umm, kemana aja asalkan sama kamu deh." jawab Ayna sembari menaruh wajahnya di dada sang kekasih.
Randi tersenyum lebar, mencium pipi Ayna serta mengusap rambutnya.
Mereka pergi dari rumah itu, Randi sengaja membawa Ayna ke cafe nya lebih dulu untuk sekedar sarapan.
"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.
"Oke!" Ayna mengangguk singkat.
Mereka duduk berdampingan di cafe itu, Randi terus menatap wajah gadisnya dan tersenyum.
"Kamu cantik banget sih!" goda Randi.
"Ah kamu bisa aja!" ucap Ayna.
Randi semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka dengan tangan yang terus mengusap rambut sang wanita.
"Ka-kamu mau apa? Jangan dekat-dekat Randi, malu!" ucap Ayna.
"Rileks sayang!" bisik Randi sensual.
******
Sementara itu, Max terlihat heran dengan kedatangan gerombolan geng motor di depannya itu. Ia menatap mereka satu persatu, namun tetap tak ada yang ia kenali.
"Kalian siapa? Kenapa kalian hadang gue? Apa masalah kalian sama gue?" tanya Max.
"Gausah banyak omong lo! Serang dia!!" teriak si ketua geng.
"Hiyaaa...!!"
"Tuan, bagaimana ini? Max diserang sama mereka, kita harus bantu dia!" ujar Kiara cemas.
"Hey hey, tenang Kiara sayang! Saya akan turun temui mereka dan bubarkan mereka, kamu diam aja disini jangan kemana-mana ya!" ujar Martin.
"Iya tuan, cepetan tuan turun dan bantu Max ya! Aku takut dia terluka parah!" ucap Kiara.
Martin mengangguk pelan, dia turun dari mobil untuk membantu Max yang sedang berkelahi dengan geng motor disana.
Max tampak kewalahan, hampir saja dia terkena pukulan jika Martin tak datang.
"Hey hentikan!!" teriaknya.
Sontak mereka menghentikan pertarungan itu, wajah Max sudah berdarah sedikit akibat pukulan dari orang-orang itu.
"Bang, tolongin gue bang! Mereka gak jelas banget tiba-tiba serang gue, padahal gue gak kenal dan gak ngerasa punya urusan sama mereka. Ketemu juga baru kali ini," ucap Max ngos-ngosan.
"Heh! Lo gausah ikut campur, ini masalah kita sama tuh orang!" bentak si ketua geng.
"Masalah apaan? Gue aja gak kenal sama kalian, jangan ngarang deh!" elak Max.
"Bener-bener lu ya, udah bawa kabur uang kita terus sekarang pura-pura gak kenal segala!" geram si ketua geng.
"Hah??!" Max terkejut bukan main, dia benar-benar bingung setelah dituduh seperti itu.
"Bawa kabur uang kalian? Apa benar begitu Max?" tanya Martin menatap ke arah Max.
Max terdiam, dia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Itu tidak benar Martin, gue gak pernah bawa kabur uang mereka! Gue aja baru kali ini ketemu sama mereka, gimana bisa gue ambil uang mereka?!" elak Max.
Martin sama sekali tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Max, dia bisa tahu kalau lelaki itu sedang jujur.
"Ah maling mana ada yang mau ngaku! Sekarang lo serahin duit itu, atau kita bakalan hajar lo berdua sampai masuk rumah sakit!" teriak si ketua geng mengancam Max.
"Bang Martin, gimana ini bang??" tanya Max panik.
"Kita hadapi mereka bersama, lo gak boleh jadi laki-laki pengecut!" sentak Martin.
"Ta-tapi bang.."
"Maju Max!" potong Martin.
Mau tidak mau, Max pun terpaksa ikut menyerang geng motor tersebut bersama Martin.
******
Chalvin turun dari motornya, menghampiri Zafran serta anggota the darks lainnya dengan terus tersenyum.
"Pasti ingat lah, gimana gue bisa lupa sama lo?!" ujar Zafran sambil tersenyum.
"Hahaha, mantap lah!" ucap Chalvin sembari melakukan tos dengan para anggota the darks.
"Ayo duduk dulu bro, biar nanti dibeliin minum sama si Jeki!" ajak Zafran.
"Siap!" Chalvin menurut saja, lalu ikut terduduk di kursi yang tersedia bersama yang lainnya.
"Eh Zaf, dia siapa? Gue baru kali ini ngeliat dia di markas the darks, apa dia teman lo?" tanya Arif pada Zafran.
"Yah elah bro, dia itu si Chalvin mantan anak the darks juga. Dulu Chalvin yang jadi wakil ketua di geng kita, sebelum akhirnya dia putusin buat keluar dan tinggal di luar negeri," jelas Leo.
"Nah, udah dijelasin tuh sama si Leo. Lo ngerti kan sekarang Rif?" timpal Zafran.
"Hehe, iya iya ngerti gue. Sorry ya bang, gue anak baru soalnya!" ucap Arif.
"Santai aja! Gue kan udah lama gak kumpul disini, ternyata banyak anak-anak baru ya yang masuk the darks?" ujar Chalvin.
"Iya gitu deh," jawab Zafran menganggukkan kepala.
"Oh ya, omong-omong ini si Willy kemana dah? Gue pengen ketemu dan ngobrol lagi sama dia," tanya Chalvin sambil celingak-celinguk.
"Dia mah datang kesini nya gak nentu, kadang siang sehabis pulang sekolah, tapi kadang juga malam-malam baru datang. Kalau pagi-pagi begini, dia pasti masih asyik pacaran sama ceweknya," jawab Zafran.
"Betul tuh, si Willy udah jarang banget kumpul sama kita! Ya mungkin dia lagi dimabuk cinta, wajar sih ceweknya cakep banget udah kayak bidadari khayangan," sahut Leo.
"Hahaha, masa sih? Gue jadi penasaran sama ceweknya si Willy yang sekarang," ujar Chalvin.
"Tunggu aja bro, dia kadang suka kesini bareng ceweknya. Ya tapi gue juga gak tahu kapan sih," ucap Zafran.
"Okelah!" ucap Chalvin singkat.
"Eh ya, ini perasaan gue doang atau emang geng the darks makin sepi? Si Randi, Thoriq sama Farrel pada kemana dah?" tanya Chalvin heran.
"Eee Thoriq sama Farrel udah keluar dari the darks bro," jawab Zafran.
"Hah? Kenapa??" Chalvin terkejut bukan main.
"Waktu itu geng the darks diincar sama orang-orang bayaran, mereka hajar satu persatu anggota kita, termasuk Thoriq dan Farrel. Sejak itu, orang tua mereka gak setuju kalau mereka balik lagi kesini," jelas Zafran.
"Apa??!" kaget Chalvin.
"Iya bro, makanya sekarang kita kehilangan anggota. Dan sampai saat ini, kita belum temuin pengganti mereka," ucap Zafran.
"Duh, berat juga ya?" ujar Chalvin.
******
"Dimana leader kalian? Siapa tuh namanya? Martin ya?" tanya Rimba.
"Ah iya, bang Martin belum datang. Mungkin agak siangan dia baru kesini," jawab Ilham.
"Ohh, tapi lo semua ngerti kan yang harus dibahas?" tanya Rimba.
"Santai aja!" jawab Ilham.
"Kalau begitu, kita harus gimana nih dan rencana kalian buat abisin geng the darks kayak apa? Pasti udah ada kan rencananya?" tanya Rimba.
"Eee sebenarnya kita juga belum tahu sih, kita masih nunggu bang Martin. Karena kita gak berani buat rencana tanpa sepengetahuan dia, biar gimanapun dia kan leader kita," jawab Ilham.
"Yah berarti percuma dong gue datang kesini, karena gak ada si Martin?" ujar Rimba.
"Sabar bro! Mungkin sebentar lagi bang Martin bakal datang kesini," ucap Ilham menenangkan.
"Iya bro, lo tunggu aja dulu sambil minum!" sahut Billy.
Rimba mengangguk-angguk saja, lalu meminum minuman yang sudah disediakan oleh anggota black jack untuknya.
"Gue mau tanya deh sama lo, sebenarnya masalah lo sama anak the darks tuh apa?" tanya Rimba.
"Hah? Lo nanya begitu ke gue bro? Asal lu tahu ya, black jack dan the darks itu musuh bebuyutan! Kita gak akan pernah damai sama mereka sampai kapanpun, karena Willy udah bikin kita sengsara!" jelas Ilham dengan keras.
"Oh begitu, pantas aja lo kelihatan emosi banget. Gue suka nih yang begini, anak-anak the darks emang harus dikasih pelajaran supaya mereka gak semena-mena terus sama kita!" ucap Rimba.
"Iya tuh, kita harus abisin mereka!" timpal Billy.
"Gue punya saran buat kumpulin seluruh geng di Jakarta, gue bakal minta bantuan ke mereka untuk menghabisi anak-anak the darks," usul Rimba.
"Hah??!" kaget Ilham. "Serius lo bro?" sambungnya terkejut bukan main.
"Ya iyalah, semakin banyak orang yang kita kumpulin, semakin besar juga kemungkinan kita buat abisin anak-anak the darks! Mereka itu punya Willy, jadi kita harus waspada!" ucap Rimba.
"Kelihatannya lu takut banget sama Willy, lu udah pernah tarung sama dia terus kalah ya?" ledek Ilham.
Braakkk...
"Lo jaga kata-kata lo anjir!!" bentak Rimba emosi sembari menggebrak meja disana.
"Bro sabar bro, rileks! Lo kenapa jadi emosi kayak gini? Lo lupa kalau lo sekarang lagi ada di markas kita?" ujar Ilham tersenyum miring.
Rimba melirik ke sekeliling, terlihat para anggota black di sekitarnya menatapnya dengan tajam.
"Lo harus jaga sikap disini bro, kalau gak mau kita hajar sampai lu masuk UGD!" ucap Ilham sekali lagi mengingatkan Rimba.
"Oke, gue minta maaf!" ucap Rimba mengalah.
Bersambung....