My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 92. Pasangan pesta



My love is sillie


Episode 92



Hari telah berganti, Willy kembali ke sekolah bersama Aurora yang dibonceng olehnya.


Mereka pun sama-sama turun dari motor, tak lupa Willy membantu Aurora melepas helmnya disana.


"Duh, pacarku cantik amat sih!" ucap Willy.


Aurora tersenyum saja mendapat pujian dari kekasihnya, wajahnya memerah seketika saat Willy merapihkan rambutnya yang berantakan dan sedikit mengusap pipinya.


"Udah yuk kita masuk! Rambut kamu udah rapih lagi, pipi kamu juga udah mulai merah tuh. Pokoknya penampilan kamu jos deh!" ucap Willy.


"Ah bisa aja kamu! Yaudah, ayo kita masuk! Kali ini kamu harus gandeng tangan aku! Supaya orang-orang disini tahu, kalau kamu udah gak marah lagi sama aku." pinta Aurora sambil tersenyum.


"Loh, emang sebelumnya mereka semua tahu kalau kita lagi berantem?" tanya Willy heran.


"Gak tahu juga sih, kan jaga-jaga aja. Soalnya kemarin kamu itu sikapnya dingin banget sih sama aku, sampai-sampai kamu cuekin aku. Udah gitu di kelas kamu juga gak perduli tuh sama aku, padahal aku digodain sama cowok-cowok." jawab Aurora.


"Ya itu kan salah kamu sendiri, suruh siapa kamu diantar sama Martin gak bilang-bilang dulu sama aku? Jadinya kan aku marah, coba kalo kamu bilang atau izin dulu." ujar Willy.


"Iya iya aku salah, aku ngaku." ucap Aurora.


"Hahaha, duh gemesin banget sih pacarku satu ini!" Willy sangat gemas dengan ekspresi wajah kekasihnya itu, ia tak bisa berhenti mencubit dan mengelus pipi gadisnya.


"Ah udah ih! Lama-lama pipi aku bisa makin gede gara-gara dicubitin terus sama kamu!" protes Aurora.


"Gapapa dong, aku malah makin suka. Jadinya aku bisa cubit pipi kamu terus deh," ucap Willy.


"Haish, kamu benar-benar ngeselin ya! Kamu itu selalu bikin aku kesel tau gak??!" ucap Aurora memanyunkan bibirnya.


"Tapi, kamu sayang kan sama aku?" goda Willy.


"Ya iya sih, namanya juga sama pacar sendiri." jawab Aurora tanpa ragu.


"Wih mantap! Akhirnya kamu mengakui kalau kamu sayang sama aku, emang deh pacar aku ini makin hari makin tambah luar biasa dan bikin aku kesemsem terus!" ucap Willy.


"Ya ya ya, terserah kamu aja mau ngomong apa! Udah yuk kita masuk sekarang! Aku soalnya pengen ke toilet dulu nih," ucap Aurora langsung menyelipkan tangannya di sela-sela lengan Willy.


"Mau ngapain ke toilet? Panggilan alam?" tanya Willy pada gadisnya.


"Enggak, itu mah udah tadi di rumah. Aku mau dandan dulu dong, biar nanti di kelas jadi kelihatan cantik." jawab Aurora.


"Ohh, emangnya mau dandan biar dilihat siapa sih? Jangan genit deh, ingat kamu udah punya aku!" ucap Willy posesif.


"Gak ada yang genit sayang, aku justru mau dandan buat kamu. Kan nanti di kelas kamu duduk di sebelah aku, jadi aku harus kelihatan cantik terus dong Willy sayang." ucap Aurora.


"Ah masa? Yakin nih buat aku? Bukan buat Zabnu atau pak Silas?" goda Willy.


"Ish, apaan sih?! Yakali buat Zabnu, apalagi pak Silas, ngaco aja deh kamu!" ucap Aurora.


"Hehe, maaf ya sayang! Aku cuma bercanda kok, makasih ya karena kamu udah perduli sama aku! Kamu sampai mau dandan segala buat aku, duh jadi makin sayang deh!" ucap Willy merapatkan tubuhnya dengan Aurora dan mencolek wajah gadis itu.


Aurora tersenyum saja dengan perlakuan hangat Willy padanya, membuat Willy semakin gemas dan terus menciumi wajah serta leher gadisnya.


"Ahh Willy udah!" pinta Aurora.


Namun, Willy tak mendengarkan itu. Ia malah terus menciumi Aurora dan sesekali menekan dadanya membuat gadis itu melenguh.


***


Mereka kini sudah berada di dalam sekolah, Willy masih terus merangkul gadisnya seolah tak membiarkan Aurora lepas darinya.


Aurora sedikit merasa risih dengan perlakuan posesif Willy padanya, apalagi saat banyak murid melihat ke arah mereka dengan sinis.


"Wil, lepasin Wil! Aku gak enak tau dilihatin begitu sama orang-orang!" ucap Aurora.


"Ah udah diem! Kamu nurut aja sama aku! Biarin mereka pada ngeliatin kita, biar mereka makin iri sama kita sayang!" ucap Willy.


"Jangan gitu Wil! Kalau sampai nanti kita kepergok sama guru-guru gimana?" ucap Aurora.


"Ya biarin ajalah, kayak mereka gak pernah muda aja." ucap Willy santai.


"Ish, kamu kenapa santai banget sih jadi orang? Ayolah Willy, lepasin aku ya!" ucap Aurora.


"Sekali lagi kamu bilang kayak gitu, aku bakal marah besar sama kamu!" ancam Willy.


"Ih iya iya deh, yaudah gapapa kamu bebas mau peluk atau rangkul aku sampai pulang sekalian!" ucap Aurora pasrah.


"Nah gitu dong!" ucap Willy merasa senang.


Willy semakin merapatkan tubuhnya dengan Aurora, berjalan menuju kelas mereka sambil terus tersenyum renyah.


Tanpa diduga, mereka justru berpapasan dengan rombongan Akram dan teman-temannya saat hendak berbelok ke toilet wanita.


"Wih bos! Masih pagi udah lengket aja nih, enak banget!" goda Akram.


"Hah? Bos? Emang kamu udah jadi bos sekarang sayang?" tanya Aurora keheranan.


"Eee aku..." Willy terlihat bingung menjawabnya, ia hanya bisa menggaruk kepala bagian belakangnya sambil berpikir keras.


"Iya Aurora, kita semua udah sepakat nunjuk Willy buat jadi bos kita. Soalnya sekolah ini kan perlu pemimpin seperti Willy, selain jago berantem dia juga punya leadership yang kuat. Itu alasan kita tunjuk Willy jadi ketua untuk angkatan kita," jawab Akram menjelaskan pada Aurora.


"Loh, kamu kok gak bilang sama aku sih? Sengaja ya biar aku gak tahu kalau kamu udah jadi ketua disini? Supaya kamu bisa bebas deketin cewek lain di belakang aku, ya kan?" ujar Aurora.


"Ya ampun, enggak lah sayang! Aku mah setia sama kamu, aku gak mungkin selingkuh! Lagipun, kamu juga kan bakal jadi ratu di sekolah ini, karena kamu pacar aku." ucap Willy.


"Yakin kamu mau jadiin aku ratu? Bukan si Keisya atau Gracia? Kan mereka kelihatannya suka banget tuh sama kamu," ujar Aurora.


"Apaan sih? Ya enggak lah!" elak Willy.


"Ah masa? Emang kamu gak suka juga sama mereka? Bukannya mereka itu cantik-cantik ya?" goda Aurora.


"Kamu kenapa sih? Nanti giliran aku tergoda, kamu marah-marah. Udah lah sayang, gausah bahas itu lagi ya! Bagi aku, yang paling cantik disini ya cuma kamu sayangku!" ucap Willy.


"Uhuk uhuk bucin terus.." sindir Akram dan yang lain sambil terbatuk-batuk.


"Halah kalian pada diem deh! Ini kayak gini juga gara-gara kalian tahu gak!" sewot Willy.


"Yeh kok malah jadi nyalahin kita si bos? Kan kita cuma nyapa tadi," ucap Akram.


"Ah udah lah, ayo sayang katanya mau ke toilet biar aku temenin!" ucap Willy sambil tersenyum.


Aurora mengangguk setuju dan menuruti saja perkataan kekasihnya, mereka pun melangkah sesudah pamit pada Akram serta teman-temannya.


"Sayang, kamu gak marah kan sama aku? Beneran kok, aku ini cuma sayang sama kamu." ujar Willy.


"Iya iya sayang, aku percaya sama kamu. Tadi itu aku cuma sengaja aja, mau tau respon kamu kayak gimana." ujar Aurora.


"Yeh dasar kamu!" ucap Willy.


******


Tanpa berpikir panjang, Willy langsung saja menghampiri gadis itu dan terduduk di sebelahnya seraya menyapanya.


"Hai! Sendirian aja nih, gak mau gabung sama yang lain di kantin?" ujar Willy.


"Eh Willy, kamu ngapain disini? Kenapa gak bareng sama Aurora? Dimana dia?" tanya Kiara.


"Yeh ditanya malah nanya balik, aneh ih kamu!" ujar Willy sambil mencolek pipi Kiara.


"Apa sih Wil? Jangan kayak gitu ah! Nanti kalau dilihat sama orang gak enak tau, apalagi sama Aurora. Kamu itu kan pacarnya Aurora, jadi kamu harus jaga perasaan dia dong!" tegur Kiara.


"Kenapa dah? Salahnya dimana? Orang aku cuma colek pipi kamu, emang salah ya?" tanya Willy.


"Jelas salah lah! Kamu gak bisa sembarangan sentuh tubuh orang kayak gitu, disaat kamu posisinya udah punya pacar!" jelas Kiara.


"Oh gitu, iya deh maaf!" ucap Willy menurut.


"Jangan minta maaf sama aku!" ucap Kiara.


"Loh, terus sama siapa dong?" tanya Willy.


"Ya sama Aurora lah, karena kamu kan udah sempat khianati dia." jawab Kiara.


"Khianati gimana??" tanya Willy tak mengerti.


"Itu tadi barusan, kamu kan sentuh-sentuh pipi aku. Itu sama aja kamu mengkhianati Aurora tau, paham kan?!" jelas Kiara.


"Ya ya ya, oke deh aku nurut aja sama kamu!" ucap Willy pasrah.


"Yaudah, terus ngapain lagi kamu masih disini? Udah sana samperin Aurora aja!" ujar Kiara.


"Ntar dulu dong Kiara, aku masih mau bicara sama kamu disini." ucap Willy.


"Bicara soal apa?" tanya Kiara penasaran.


"Jadi, malam Minggu besok tuh mau ada party kecil-kecilan di rumah Akram, anak IPS itu. Kamu tahu kan?" jelas Willy.


"Oh iya iya, tahu kok. Terus, hubungannya sama aku apa?" tanya Kiara.


"Ya kamu diundang sama dia buat datang, karena dia mau seluruh angkatan kelas dua belas tahun ini datang ke pestanya." jawab Willy.


"Umm, aku gak tahu deh bakal bisa datang apa enggak. Kamu kan tahu sendiri tuan Martin orangnya kayak gimana," ucap Kiara.


"Santai aja! Kalaupun kamu gak bisa datang juga gapapa kok, yang penting aku udah sampein kabar ini ke kamu sekarang." ucap Willy.


"Iya Wil, makasih ya!" ucap Kiara tersenyum.


"Oh ya satu lagi, kalau kamu mau datang, dress code nya warna-warna yang gelap gitu ya. Jangan terang!" ucap Willy.


"Oke!" Kiara mengangguk kecil disertai senyum manisnya.


"Yaudah, kalo gitu aku cabut ya? Semoga kamu dibolehin dateng sama si Martin! Ya supaya masa SMA kamu ada warnanya lah, gak cuma begitu-begitu aja." ucap Willy.


"Aamiin!" ucap Kiara mengaminkan.


Setelahnya, Willy pun bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Kiara sendirian.


Kiara masih terus memandangi punggung Willy yang perlahan menjauh darinya, entah kenapa Kiara suka sekali melihatnya.


"Dari dulu sampai sekarang, aku masih belum bisa lupain kamu Willy. Setiap malam, wajah kamu selalu muncul di pikiran aku. Aku juga selalu berpikir, apakah mungkin kita bisa bersatu lagi suatu saat nanti?" batin Kiara.


Namun, Kiara segera membuang jauh-jauh pikiran itu sembari menggelengkan kepalanya.


"Ih enggak enggak, ayolah Kiara jangan mikir kayak gitu! Sadar Kiara sadar!!" ucap Kiara.


***


Saat Kiara tengah berjalan seorang diri di lorong sekolah, ia dikejutkan dengan Max yang tiba-tiba menarik lengannya dari samping.


"Eh eh!" Kiara sangat terkejut dan hampir saja memukul Max, beruntung Max dapat menghentikan gerakan gadis itu.


"Sabar Kiara sabar! Ini aku Max, kamu jangan mukul aku kayak gitu dong!" ujar Max.


"Ya ampun! Kamu lagian ngapain sih ngagetin aku kayak gitu? Mau apa kamu?" tanya Kiara.


"Gak ada kok, aku cuma pengen tanya sama kamu. Besok malam kamu datang kan ke pestanya si Akram?" ucap Max.


"Eee belum tahu juga sih, emangnya kenapa?" ucap Kiara kebingungan.


"Kalau kamu datang, bareng aku aja ya! Soalnya di pesta itu harus ada pasangannya, nah aku kan gak punya pasangan nih, jadi kita barengan aja ya?" jelas Max.


"Loh, tapi tadi Willy gak bilang gitu tuh. Emangnya iya ya kita harus bawa pasangan?" ucap Kiara.


"Iya Kiara, mungkin si Willy lupa kali bilangnya. Jadi gimana, kamu mau kan pergi bareng sama aku besok?" ucap Max.


"Nanti dulu ya, aku mau pikir-pikir dulu!" ucap Kiara.


"Kenapa begitu sih? Ayolah Kiara, kamu datang aja ya ke pesta besok! Selain biar hidup kamu lebih berwarna, aku juga butuh pasangan buat di pesta itu." rengek Max.


"Ya aku ngerti, tapi tetap aku harus minta izin sama pacar aku juga. Apalagi aku datangnya sama kamu, jadi harus seizin dia dong." ujar Kiara.


"Hadeh, ngapain sih pake izin segala?! Dia itu kan baru pacar kamu, belum suami kamu. Lagian kalau kamu minta izin sama dia, yang ada kamu gak bakal diizinin buat pergi tau!" ucap Max.


"Tetap aja aku harus hargai dia, udah ya Max aku gak bisa lama-lama sama kamu!" ucap Kiara.


"Okelah, aku gak maksa kamu buat pergi besok. Tapi, kamu kabarin aku ya jadi atau gak jadinya!" ucap Max.


"Iya, pasti aku kabarin kok!" ucap Kiara.


Max mengangguk kecil, sedangkan Kiara hanya tersenyum menatap wajah Max.


"Yaudah ya, aku permisi!" ucap Kiara.


"Kamu mau kemana? Ke kantin? Bareng aja sama aku yuk!" tanya Max.


"Ah enggak, aku mau ke perpus. Kalau kamu juga mau kesana, ayo boleh!" jawab Kiara.


"Eh eee anu aku..." Max sangat bingung saat ini, ia sejujurnya malas sekali pergi ke perpustakaan karena itu adalah tempat mengerikan baginya.


Namun, Max juga ingin mendekati Kiara agar bisa terus bersama gadis itu.


"Iya deh, aku ikut aja sama kamu ke perpus. Kebetulan udah lama juga aku gak baca buku disana, kangen lah." jawab Max.


"Yakin? Beneran nih mau ikut ke perpus? Emang kamu suka baca buku? Aku kira kamu tuh sukanya main game aja," tanya Kiara.


"Ya iya dong, aku suka. Malahan suka banget! Bagi aku, buku itu udah seperti candu. Sama kayak lihat senyuman kamu," jawab Max.


"Ah bisa aja! Yaudah ayo!" ujar Kiara.


Max mengangguk singkat, kemudian melangkah menuju perpustakaan bersama Kiara dengan berat hati.


Bersambung....