My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 87. Hukuman berakhir



My love is sillie


Episode 87



Billy dan yang lainnya pun tampak bersiap untuk memukuli Tedy serta Arif disana.


"SERAANGGG!!" teriak Billy.


Grrrr...


Ngeeengg...


Tiba-tiba sebuah motor yang melaju dari arah berlawanan datang menghampiri mereka.


"Awas!" teriak Billy berusaha menghindar.


Motor tersebut melaju melewati mereka, sehingga ia berhasil membuat Billy dan yang lainnya melebar menjauh dari Tedy serta Arif.


Beruntung juga Tedy dan Arif berhasil menghindar dari pemotor tersebut.


Ciiitttt...


Motor itu juga berhenti secara mendadak hingga bagian belakangnya terangkat sedikit, si pemotor membalikkan motornya dengan lincah dan menggeber motornya sampai mengeluarkan asap.


"Siapa tuh orang?" tanya Geri bingung.


"Entahlah, tapi yang pasti dia bagian dari the darks. Lihat aja jaketnya!" jawab Choky.


"Ah iya, emang sialan tuh orang!" umpat Geri.


"Kita majuin aja dia!" ujar Choky.


"Gas!"


Saat mereka hendak maju, motor tersebut sudah lebih dulu mendekat dan berputar-putar di sekitar mereka dengan lihainya.


"Emang anjing nih orang!" umpat Billy.


Akhirnya pemotor itu berhenti tepat di tengah-tengah mereka, ia melepas helmnya dan menunjukkan wajahnya pada orang-orang itu.


"Ohh, jadi lo?" ujar Billy setelah mengetahui siapa pemotor tersebut.


"Anjing lu! Kita bakal abisin lu Willy!" geram Geri.


"Hiyaaa..."


"Stop!" tahan Willy dengan menggunakan telapak tangannya.


Willy lalu turun dari motornya, menatap ke sekeliling anak-anak black jack termasuk juga Tedy dan Arif.


"Gue kesini gak mau cari ribut, gue cuma pengen bebasin Tedy sama Arif. Mereka itu sahabat gue, jadi gue gak akan biarin mereka tersiksa disini. Tolong kalian lepasin dia, abis itu masalah ini kelar!" ucap Willy.


"Lo pikir semudah itu buat kita lepasin mereka? Gak akan Wil, mereka udah hajar Ilham sampe hampir sekarat tadi, dan lu pikir kita bakal lepasin mereka gitu aja ha? Gak mungkin!" ucap Billy.


"Iya gue ngerti, tapi daripada kalian susah-susah lawan gue sekarang kan, mending kita selesaikan ini semua secara damai aja. Nanti kalau kalian luka terus masuk UGD, siapa yang susah? Kan kalian sendiri, gak mungkin gue." ucap Willy.


"Kurang ajar! Lu ngeremehin kita?!" geram Billy.


"Enggak, tapi emang itu faktanya. Kalian semua udah pernah gue ratain di basecamp, jadi kalian gak mungkin menang kali ini." ucap Willy.


"Sialan lu ya anjing! Mati aja lu bangs*t!" umpat Billy penuh emosi.


"SERAANGGG!!!" teriak Geri memerintahkan teman-temannya untuk menyerang Willy.


Willy tersenyum saja, kemudian mundur sedikit untuk menghadapi anak-anak black jack seorang diri.


Sementara Tedy dan Arif kini sudah bangkit kembali, mereka berdiri ke pinggir sembari memegangi perut masing-masing.


"Ted, gimana nih? Kita bantuin Willy apa gausah?" tanya Arif kebingungan.


"Kita tunggu aja dulu! Kalau Willy udah gak mampu, baru kita bantu dia!" jawab Tedy.


"Oke! Semoga aja Willy bisa tuntasin mereka semua!" ucap Arif.


"Ya," ucap Tedy singkat.


Dari jauh, tampak Randi tengah mengamati Willy yang tengah menghadapi para anggota black jack di depan sana.


"Benar-benar gak bisa ditebak tuh anak!" ucapnya.


******


Keesokan harinya, Willy datang ke rumah Aurora seperti biasa untuk menjemput gadis itu.


Saat Aurora keluar dari rumahnya dan menemui Willy, gadis itu langsung terkejut melihat kondisi wajah Willy yang penuh lebam serta terdapat perban di bagian leher pria itu.


"Hah? Ka-kamu kenapa lagi sih sayang? Gak bisa apa ya muka kamu ini mulus sehari aja gitu? Kayaknya luka mulu deh," ucap Aurora cemas.


Willy tersenyum dan turun dari motornya menghampiri Aurora.


"Gak perlu panik sayang! Aku baik-baik aja kok, ini cuma luka kecil buatku. Semalam aku harus selamatin teman-teman aku dari kejaran anak black jack, makanya aku terpaksa lawan mereka deh." ucap Willy sambil memegang wajah Aurora.


"Luka kecil gimana? Kamu sampai diperban begini lehernya, terus muka kamu juga lebam-lebam begitu. Kamu mending sekarang jujur deh sama aku, kamu abis berantem sama siapa?!" ucap Aurora cemas.


Willy pun membelai rambut Aurora dan mengecup kening gadis itu.


Namun, Aurora justru menghindar sebelum Willy sempat mengecupnya.


"Hey! Kok ngelak sih?" tanya Willy heran.


"Aku gak mau dicium sama kamu, sebelum kamu ngaku ke aku siapa yang bikin kamu begini!" jawab Aurora tegas.


"Iya iya, aku ngaku. Jadi semalam itu aku abis berantem sama anak-anak black jack, buat selamatin teman-teman aku. Tadi kan aku udah bilang begitu sama kamu," ucap Willy.


"Beneran itu gak bohong? Bukannya kamu cari masalah sama kak Martin?" tanya Aurora.


"Hah? Ngomong apa sih kamu? Buat apa aku cari masalah sama dia? Gak ada urusannya kali sayang, yang aku bilang itu beneran kok." jawab Willy.


"Yaudah iya, aku percaya." ucap Aurora.


"Kalo gitu jangan cemberut lagi dong! Coba senyum buat aku cantik!" ucap Willy.


"Kamu masih sakit?" tanya Aurora.


"Kok malah alihin topik sih? Senyum dulu buat aku, abis itu baru aku jawab pertanyaan kamu." ucap Willy sembari mencolek dagu Aurora.


"Haish, iya iya.." ujar Aurora pasrah.


Aurora pun tersenyum lebar sesuai perintah Willy, sehingga Willy merasa senang dan langsung mencuri kecupan di bibir gadisnya itu.


Cupp!


"Nah gitu dong sayang! Bibir kamu ini selalu manis deh, aku suka!" ucap Willy.


"Ya ya ya, sekarang kamu jawab pertanyaan aku yang tadi!" pinta Aurora.


"Yang mana?" ucap Willy sembari mendekatkan telinganya ke wajah Aurora.


"Kamu masih sakit enggak?" tanya Aurora.


"Udah enggak kok, kan ada kamu disini. Lagian luka begini mah gak terlalu sakit buat aku, kecil lah istilahnya." ucap Willy.


"Bagus deh! Kalo gitu kamu bisa kan anterin aku ke sekolah sekarang?" ucap Aurora.


"Bisa dong sayang, kalo enggak ngapain aku ada disini coba? Kamu mau berangkat sekarang?" ucap Willy sambil tersenyum.


Willy langsung menggandeng tangan Aurora dan memberikan helm kepadanya.


"Nih helmnya!" ucap Willy singkat sambil naik ke atas jok motornya.


"Kok cuma dikasih doang sih? Pasangin juga dong sayang!" pinta Aurora.


"Ohh, pacarku sekarang udah mulai manja ya? Biasanya juga pasang sendiri, kok sekarang minta dipasangin?" goda Willy.


"Ya gapapa dong, sekali-sekali kamu tuh manjain aku gitu. Kamu kan jarang banget pasangin helm di kepala aku," ucap Aurora.


"Yaudah iya iya, sini aku pasangin helmnya baby!" ucap Willy sambil tersenyum lebar.


Aurora pun tersenyum senang, memberikan helm di tangannya kepada Willy untuk dipasangkan di kepalanya.


Ctek..


"Nah udah, yuk naik!" ucap Willy.


"Eee bentar deh sayang! Gimana kalau mulai besok kita ke sekolahnya naik mobil papa aja? Kasihan tuh mobil nganggur terus di dalam gak pernah dipake buat bepergian," ucap Aurora.


"Enggak ah, aku gak biasa naik mobil. Lagian itu bukan mobil punya aku, gak enak lah kalo aku pake gitu aja." ujar Willy menolak tawaran Aurora.


"Yah gapapa kok sayang, kan itu mobil dibeliin papa buat aku. Jadi, kamu bebas kalau mau pake mobil itu." ucap Aurora.


"Aku gak mau, aku lebih suka naik motor ini. Aku sama nih motor tuh udah seperti saudara, kita berdua tuh gak bisa dipisahkan." ucap Willy.


"Yaudah, terserah kamu aja!" ucap Aurora.


Aurora sedikit kecewa dengan keputusan Willy, namun bagaimanapun juga ia tidak boleh memaksa Willy kalau memang Willy tidak mau menggunakan mobilnya.


******


Ilham, Billy dan para anggota black jack lainnya baru keluar dari rumah sakit untuk mengobati luka yang dialami mereka.


Mereka pun tampak masih kesakitan, terutama Billy yang tubuhnya hampir dipenuhi perban dan luka lebam akibat pukulan Willy semalam.


"Aaarrgghh!! Emang sialan tuh Willy! Dia pake jimat apa sih sampe bisa kuat banget kayak gitu? Padahal kita udah berkali-kali coba buat bantai dia, tapi selalu aja gagal. Kira-kira kita harus pake cara apa lagi ya buat abisin dia?" ujar Geri.


"Gak tahu, tuh anak emang kayaknya punya ilmu kebal juga deh. Mungkin kita harus datengin dukun, supaya bisa kalahin si Willy dan kirim dia ke rumah sakit!" sahut Billy.


"Bener tuh! Gue setuju sama ucapan Billy!" ucap Choky.


"Ngapain pake ke dukun segala? Kita cuma butuh orang yang lebih sakti daripada dia, gue yakin si Willy pasti bisa dikalahin." ucap Ilham.


"Iya sih Ham, tapi kita mau cari orang yang lebih sakti dari Willy kemana lagi? Kita mau minta bantuan siapa lagi? Gak gampang nyarinya bro, karena si Willy itu kuat banget." ujar Billy.


"Sekuat-kuatnya Willy, dia pasti punya kelemahan. Kita harus cari tau tentang itu!" ucap Ilham.


"Ham, gue punya kenalan orang sakti. Dia itu guru silat di dekat rumah gue, mungkin kita bisa minta bantuan sama dia." usul Choky.


"Hahaha, lu yakin orang lu itu bisa kalahin Willy? Jangan sampe kita cuma buang-buang waktu aja, seperti kita minta bantuan Max waktu itu!" ucap Geri sambil tertawa.


"Tenang aja! Dia itu guru silat yang sakti kok, buktinya padepokan dia banyak peminatnya. Gue yakin dia bisa lebih kuat daripada Willy dan kalahin si Willy!" ucap Choky.


"Oke! Kita coba aja dulu minta bantuan dia, gak ada salahnya juga." ucap Ilham.


"Yaudah, terus sekarang kita mau kemana Ham? Balik ke markas Max atau ke tempat kita yang dulu?" tanya Billy.


"Mending ke markas yang dulu aja Ham, gue males ketemu Max si lemah itu!" ucap Geri.


"Iya sama, gue juga males. Max ternyata gak bisa diandelin, dia terlalu lemah!" sahut Choky.


"Lu pada jangan ngomong gitu dulu soal Max! Kita kan belum lihat dia satu lawan satu sama Willy, jadi ada kans kalo dia masih lebih hebat dari Willy. Kita sekarang ke markas Max aja, kita masih butuh Max untuk pemasok dana kita." ucap Ilham.


"Iya juga sih, biar gimanapun Max juga berguna buat keuangan kita." ucap Billy.


"Yaudah, ayo kita balik ke markas!" ucap Ilham.


Mereka pun pergi dari rumah sakit dan langsung melaju menuju markas mereka yang baru.


******


Seminggu kemudian...


Willy tiba di sekolahnya untuk kembali bersekolah seperti sebelumnya, ia sudah menyelesaikan waktu hukumannya selama satu Minggu.


Kedatangan Willy disana membuat seisi sekolah merasa gembira, mereka senang lantaran Willy dapat kembali bersekolah.


"Wih akhirnya balik juga lu Wil ke sekolah kita! Selamat ya Wil!" ujar Akram.


"Iya Wil, kita ikut senang lihat lu bisa sekolah lagi kayak sebelumnya!" sahut Faldi.


"Hahaha, iya guys gue juga kangen sama kalian dan gue senang bisa kesini lagi!" ucap Willy.


"Sekolahan sepi tanpa lu Wil, kita kan udah anggap lu pemimpin disini. Semoga dengan kembalinya lu kesini, kita semua bisa happy happy lagi kayak dulu!" ucap Akram.


"Apaan sih? Gue kan baru sekolah beberapa hari disini, masa mau dijadiin pemimpin? Kayaknya ada yang lebih cocok daripada gue deh, gue mah gak bisa." ucap Willy.


"Gapapa Wil, cuma lu yang paling cocok tau buat pimpin kita!" ujar Rezham.


"Gak gak gak, mending kita kumpul kayak biasa aja. Gausah pake acara ada pemimpin segala! Emangnya dari dulu disini ada ketuanya apa?" ucap Willy.


"Yeh lu jangan salah Wil! Pimpinan di Alaska ini udah ada sejak jaman dahulu kala, ambil contoh aja untuk angkatan tahun lalu tuh ada bang Ibra namanya. Ya cuma buat angkatan kita sih belum ada," jelas Akram.


"Maka dari itu Wil, lu harus mau buat jadi pemimpin di Alaska! Sekolah kita butuh sosok seperti lu! Lagian gue dengar-dengar, lu itu ketua salah satu geng motor di jalanan kan?" sahut Rezham.


"Sssttt! Jangan keras-keras ngomongnya! Gue gak mau ada siapapun yang tau tentang itu, apalagi guru atau kepala sekolah! Lu semua jangan ada yang cepu!" ucap Willy.


"Oke Wil!" ucap Akram.


"Yaudah, gue ngikut aja deh kemauan kalian. Tapi, emang biasanya kalian kalo ngumpul di sekolah itu dimana?" tanya Willy.


"Kita punya markas rahasia Wil, ayo kita tunjukin ke lu markas kita!" jawab Akram.


Willy mengangguk setuju, kemudian pergi bersama keenam pria tersebut memasuki area sekolah.


Ada cukup banyak wanita yang turut serta mengikuti mereka, sepertinya wanita-wanita itu amat tertarik pada Willy.


"Eee gue boleh temuin Aurora dulu gak?" tanya Willy saat ia melihat Aurora.


"Hah? Oalah, ya silahkan aja Wil! Kalo lu mau ajak dia buat ikut sama kita juga gapapa, yang penting lu bisa jadi pemimpin kita." jawab Akram.


"Oke! Gue kesana dulu ya samperin dia, kalian tunggu aja disini!" ucap Willy.


"Siap Wil!" ucap mereka menurut.


Willy pun melangkah ke dekat Aurora, mencolek tengkuk gadis itu hingga membuat Aurora sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Hai cantik!" ucap Willy sambil tersenyum.


"Ih kamu, aku pikir siapa tadi. Kamu ngapain kesini Wil? Emangnya kamu udah gak dihukum lagi?" tanya Aurora kebingungan.


"Yeh makanya kamu update dong info tentang pacar kamu, biar gak ketinggalan. Masa hukuman aku kan udah berakhir, jadi aku bisa sekolah lagi sekarang." jawab Willy.


"Oh ya? Wah bagus deh, selamat ya Wil!" ucap Aurora.


"Aku mau tanya satu hal deh sama kamu," ucap Willy seraya mendekatkan tubuh ke arah Aurora.


"Hah? Apa tuh?" ucap Aurora penasaran.


"Tadi kamu diantar Martin kan? Kenapa kamu gak mau berangkat bareng aku?" tanya Willy.


Deg!


Bersambung....