
My love is sillie
Episode 33.
•
Ceklek...
"Waalaikumsallam, eh nak Aziz, nak Ratih?" ucap pak Gunawan cukup terkejut melihat kehadiran dua orang teman Willy itu.
"Ada apa kalian berdua datang kesini? Memangnya kalian gak sekolah?" tanya Bu Ani penasaran.
"Eee ini kita mau ke sekolah kok tante, tapi sebelumnya kita pengen kasih tahu sesuatu dulu sama om dan tante." jawab Aziz.
"Sesuatu apa?" tanya Bu Ani makin penasaran.
"Tentang Willy, tante. Kita tahu sekarang dimana Willy berada, dan kita juga bisa antar om sama tante buat kesana kok." jawab Aziz.
"Apa? Serius kalian? Kalian sudah berhasil temuin keberadaan Willy? Yasudah, cepat kasih tahu ke kita dimana Willy sekarang! Kalian gak perlu antar kita, kan kalian harus sekolah." kata pak Gunawan.
"Iya Aziz, kalian kasih tahu aja sama tante dan om dimana Willy! Biar nanti kami berdua yang datang temuin Willy," sahut Bu Ani ikut ceria.
"Baik om, tante! Tapi, sebelumnya kita mau minta ya sama om dan tante buat gak kasih tahu ke Willy kalau kita yang beritahu ke om dan tante dimana dia sekarang." pinta Aziz.
"Loh, kenapa gitu Aziz?" tanya Bu Ani heran.
"Iya Bu, jadi sebenarnya kita dilarang buat kasih kabar ini ke om ataupun tante. Tapi, karena kita sama-sama ngerasa gak enak dan khawatir kalau om sama tante terus-terusan cemas mikirin Willy, akhirnya kami mutusin buat kesini deh dan kasih tahu ke om sama tante." jelas Aziz.
"Hah? Siapa yang larang kalian buat kasih tahu ke om dan tante dimana Willy?" tanya pak Gunawan.
"Eee Willy sendiri, om." jawab Aziz.
"Apa? Yang benar kalian? Apa alasan Willy menyembunyikan keberadaannya dari kita?" tanya pak Gunawan keheranan.
"Benar om! Katanya sih Willy gak mau bikin om sama tante cemas," jawab Aziz.
"Iya om, Willy itu gak enak karena dia kan udah dikeluarin dari sekolah. Willy gak mau aja kalau om sama tante makin kepikiran," sahut Ratih.
"Memangnya Willy ada dimana sekarang? Dia baik-baik aja kan Aziz, Ratih?" tanya pak Gunawan.
"Eee Willy dirawat di rumah sakit om, tante. Dia sempat kritis karena terluka parah, tapi sekarang kondisinya udah agak mendingan. Ya cuma itu, Willy masih belum bisa keluar dari sana." jelas Aziz.
"Apa? Rumah sakit?" ujar Bu Ani syok.
"Bu, ibu yang tenang! Nak Aziz kan barusan bilang, kondisi Willy sekarang udah membaik. Jadi, ibu gak perlu syok gitu!" ucap pak Gunawan.
"Gimana ibu gak syok pak? Anak ibu satu-satunya masuk rumah sakit karena terluka parah, ibu mau jenguk dia sekarang. Ayo pak, kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Bu Ani histeris.
"Iya Bu. Eee nak Aziz, kalau boleh tahu rumah sakitnya itu dimana ya?" tanya pak Gunawan.
"Willy dirawat di Martin hospital, om. Kalau dari sini, om cukup naik Transjakarta aja yang jurusan Kemayoran. Nanti berhenti tepat di depan rumah sakitnya kok om," jawab Aziz.
"Oalah, iya iya om tahu kok. Makasih ya nak Aziz, nak Ratih! Kalau kalian gak kasih tahu ke kita, mungkin kita sekarang masih panik dan bingung harus cari Willy kemana lagi." kata pak Gunawan.
"Iya Aziz, Ratih, makasih banyak ya! Kalian benar-benar bikin tante sama om merasa lebih lega," ucap Bu Ani sambil tersenyum.
"Sama-sama om, tante. Yaudah, kalo gitu kami berdua permisi dulu ya om, tante? Kita harus pergi sekolah soalnya! Assalamualaikum," ucap Aziz pamit sembari mencium tangan Gunawan dan Ani.
"Waalaikumsallam, hati-hati ya kalian!" ucap pak Gunawan dan Bu Ani bersamaan.
Setelahnya, Aziz dan Ratih pun pergi dari sana dengan mobil milik Ratih yang dikendarai Aziz.
Sementara pak Gunawan dan Bu Ani bergegas menuju rumah sakit untuk menjenguk Willy.
******
"Tapi Wil, gue—"
"Ehem ehem.." ucapan Aurora terpotong dengan deheman dari seseorang yang masuk kesana.
Sontak Willy serta Aurora kompak menoleh ke asal suara dan menemukan sosok Martin disana.
"Martin?" Willy terperangah lebar melihat kehadiran Martin disana.
"Iya Willy, ini saya. Apa kabar kamu, ha?" ucap Martin yang kini sudah mendekat ke arah Willy.
Aurora yang sedari tadi terdiam, menatap wajah Willy dengan penasaran seakan bertanya siapa lelaki yang baru datang tersebut.
"Wil, dia siapp—mmphh.." ucap Aurora tertahan lantaran Willy menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Lu diem dulu ya! Kalau bisa, lu tunggu di luar aja!" ucap Willy.
"Tapi Wil, lu emang gak kenapa-napa? Gue takut lu diapa-apain sama dia!" ucap Aurora cemas.
"Gue bakal baik-baik aja kok! Lu keluar aja, atau lu pergi sekolah gitu! Tapi, nanti siang lu boleh kok balik lagi kesini." kata Willy.
"Eee iya deh, kalo gitu gue keluar ya? Lu hati-hati Wil!" ucap Aurora.
Willy mengangguk pelan disertai senyum manisnya, sedangkan Aurora melangkah pergi keluar dari sana meninggalkan Willy bersama Martin berdua.
Setelah Aurora keluar, Martin mendekati Willy dan tersenyum smirk sembari memandangi kondisi tubuh pria tersebut secara keseluruhan.
"Mau apa lu kesini, ha?" tanya Willy ketus.
"Ini rumah sakit milik saya, Martin hospital. Jadi, saya berhak datang kesini sesuka hati saya. Dan kebetulan, saya tahu kalau kamu dirawat di kamar ini. Makanya saya datang buat jenguk kamu, Willy!" jawab Martin.
"Cih! Lu pikir mudah buat gue percaya sama alasan omong kosong lu itu!" ujar Willy.
"Iya sih, emang itu cuma alasan saya aja. Saya ini sebenarnya datang kesini buat peringatkan kamu, kalau sebaiknya kamu harus cepat pergi dari sini dan jangan terlalu lama!" ucap Martin.
"Kenapa begitu? Gue di rumah sakit ini tuh bayar, bukan numpang apalagi minta belas kasihan. Jadi, lu gak bisa usir gue!" ujar Willy tegas.
"Saya akan kembalikan semua uang kamu, bahkan bisa saya lebihkan. Yang penting kamu cepat keluar dari rumah sakit ini, karena saya gak mau lihat kamu disini!" ucap Martin.
"Gue gak akan keluar, gue masih mau disini!" tegas Willy.
"Jangan main-main dengan saya, Willy! Kalau kamu tidak segera keluar dari sini, maka saya pastikan kamu akan menyesal dan keadaan kamu bisa semakin memburuk!" ucap Martin.
"Gue gak takut sama ancaman lu! Lagian emang apa sih masalah lu, ha? Gue itu disini cuma mau berobat, kenapa lu mesti usir gue!" ujar Willy.
"Kamu gausah banyak tanya! Cepat saja pergi dari sini, atau saya tidak akan segan-segan untuk menghancurkan hidup kamu!" ucap Martin.
"Hahaha... apa jangan-jangan ini ada sangkut pautnya sama Kiara? Dia udah kembali juga ya ke Indonesia? Terus lu takut kalau Kiara temuin gue lagi disini, ya kan? Makanya lu usir gue dari rumah sakit punya lu ini," ucap Willy.
"Dengar ya Martin, gue udah gak perduli lagi sama Kiara! Lu tadi lihat sendiri kan? Gue punya cewek baru yang gak kalah cantik dari Kiara, jadi udah lu ambil aja tuh Kiara! Lu mau apain kek tuh anak terserah lu, gue gak perduli!" ujar Willy.
Martin tersenyum tipis, entah mengapa ia senang saat Willy mengatakan itu karena tanpa disadari oleh Willy rupanya Martin sudah merekam semua perkataan Willy tadi.
******
Pak Gunawan dan Bu Ani akhirnya tiba di rumah sakit tempat Willy dirawat.
Mereka tanpa sengaja bertemu dengan Thoriq, salah seorang anggota the darks yang merupakan sahabat putra mereka.
"Nak Thoriq!" teriak pak Gunawan memanggil Thoriq.
Sontak Thoriq terkejut dan menoleh ke asal suara, ia tambah kaget saat mengetahui bahwa kedua orang tua Willy ada disana.
"Loh, om sama tante kok bisa ada disini? Ada urusan apa ya om, tante?" tanya Thoriq heran sembari mencium tangan mereka.
"Kamu ini gimana? Kita mau jenguk Willy, anak kita. Kenapa kamu gak pernah kasih tahu ke kita kalau Willy dirawat disini? Kita ini orang tua kandung Willy, jadi kita berhak tau kalau Willy masuk rumah sakit dan kritis!" geram Bu Ani.
"Bu, sabar Bu!" ucap pak Gunawan menenangkan.
"Jadi, om sama tante udah tahu kalau Willy ada disini? Siapa yang kasih tahu ke om dan tante?" tanya Thoriq keheranan.
"Itu gak penting, sekarang kita mau ketemu sama Willy! Ayo kamu anterin kita ke ruangan tempat Willy dirawat!" pinta Bu Ani.
"Ba-baik tante! Kalau begitu, mari ikuti saya tante!" ucap Thoriq gugup.
Pak Gunawan dan Bu Ani mengangguk secara bersamaan, lalu berjalan mengikuti Thoriq dengan bergandengan tangan.
Mereka sudah tidak sabar ingin segera menemui Willy, terlebih Bu Ani yang berkali-kali cemas terhadap kondisi putranya itu.
Sesampainya di depan ruangan Willy berada, mereka melihat Randi serta beberapa anak the darks lainnya disana tengah berkumpul.
"Nah om, tante, ini dia tempat Willy dirawat." ucap Thoriq.
"Ohh jadi Willy ada di dalam?" tanya pak Gunawan pada Thoriq.
"I-i-iya om, benar!" jawab Thoriq gugup.
"Yasudah, ayo Bu kita masuk ke dalam buat lihat kondisi Willy!" ucap pak Gunawan menarik tangan Bu Ani.
"Iya pak, ibu juga udah khawatir banget sama Willy!" ucap Bu Ani.
Setelahnya, pak Gunawan dan Bu Ani pun melangkah bersamaan ke dalam ruangan tersebut dengan tergesa-gesa.
Sementara Thoriq tetap disana, merunduk karena ditatap secara intens oleh seluruh anggota the darks yang hadir disana.
"Heh Thoriq! Lu kenapa malah bawa pak Gunawan sama Bu Ani kesini? Lu lupa perkataan Willy waktu itu? Dia kan minta kita supaya rahasiakan ini dari orangtuanya!" ujar Randi.
"Sorry Ran! Tapi, bukan gue yang kasih tahu nyokap dan bokap nya Willy." kata Thoriq.
"Hah? Terus siapa dong yang kasih tahu mereka kalo bukan lu? Mana mungkin pak Gunawan sama Bu Ani datang kesini tanpa ada yang kasih tahu ke mereka!" ujar Randi.
"Iya juga sih, cuma itu dia bro gue gak tahu siapa yang udah kasih tahu pak Gunawan sama Bu Ani. Tapi, ya udah lah ya biarin aja mereka jengukin Willy! Toh mereka kan orangtuanya Willy, gue yakin Willy juga bisa ngerti kok!" ucap Thoriq.
"Yaudah, semoga aja Willy gak marah sama kita karena orangtuanya datang kesini!" ucap Randi mengusap dagunya.
"Aamiin!" ucap Thoriq mengangguk pelan.
******
"Dengar ya Martin, gue udah gak perduli lagi sama Kiara! Lu tadi lihat sendiri kan? Gue punya cewek baru yang gak kalah cantik dari Kiara, jadi udah lu ambil aja tuh Kiara! Lu mau apain kek tuh anak terserah lu, gue gak perduli!"
Martin baru saja selesai menyetel rekaman suara Willy kepada Kiara.
Kiara langsung merasa syok dan tak menyangka dengan apa yang sudah dikatakan oleh Willy.
"Gimana sayang? Kamu masih mau berharap sama orang yang udah gak mengharapkan kamu lagi? Dengar ya sayang, Willy itu sudah punya pengganti kamu sekarang, dan dia udah gak perduli lagi sama kamu. Jadi, buat apa kamu masih terus mikirin dia?" ucap Martin tersenyum smirk.
Kiara terdiam menunduk, tanpa sadar air mata menetes keluar membasahi wajahnya.
Seketika Kiara teringat momen-momen dahulu saat bersama Willy, memang tak lama tapi tetap meninggalkan kesan yang mendalam bagi Kiara.
Memang Kiara juga tahu bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya, dia lebih memilih bersama Martin karena tak ingin membuat Willy terluka.
Kini Kiara baru menyadari kalau perkataannya waktu itu kepada Willy telah melukai hati lelaki itu.
"Willy, maafin aku! Aku benar-benar gak berniat bikin kamu sakit hati, tapi aku cuma gak mau kamu terluka karena tuan Martin!" batin Kiara.
Martin tersenyum, kemudian duduk di pinggir ranjang dan mengusap air mata di wajah Kiara.
"Sudahlah, kamu tidak perlu menangis! Ada saya disini yang akan selalu jaga dan cintai kamu sepenuhnya, jadi kamu sebaiknya lupakan Willy lalu mulailah mencintai diriku!" ucap Martin pelan.
Kiara menoleh ke arah Martin, menatap wajah Martin dengan tatapan kagetnya.
"Iya sayang, kita mulai lembaran baru. Saya akan maafkan kamu, walau kamu sempat membuat saya emosi tadi. Ya tentu saja dengan syarat kamu harus buka hati kamu buat saya, dan melupakan Willy!" ucap Martin.
"Aku gak tahu apa aku bisa, selama ini aku udah coba lupain Willy dari pikiran aku, tapi yang ada aku malah semakin kepikiran sama dia." kata Kiara.
"Itu dia sayang, kamu harus banyak-banyak punya waktu sama saya! Dengan begitu, pasti kamu bisa melupakan Willy dan mulai terbiasa dengan saya!" ucap Martin tersenyum.
"Entahlah, aku akan coba buat pikir-pikir dulu." kata Kiara pelan.
Kiara menunduk dan kembali bersedih, namun Martin menarik dagunya ke atas lalu mengecup bibir Kiara sekilas.
Cupp!
"Aku tunggu jawaban kamu, sayang!" ucap Martin sembari mengusap bekas kecupannya.
Kiara mengangguk sekilas, Martin pun beranjak dari tempat tidur namun masih menatap Kiara dan mengusap rambut gadis itu.
"Saya keluar dulu, istirahat yang cukup ya cantik!" ucap Martin lembut.
Kiara kembali mengangguk dengan perlahan, sedangkan Martin mulai melangkahkan kakinya dan tak lupa mematikan lampu kamar Kiara sebelum keluar dari sana.
"Apa aku bisa mencintai tuan Martin..??" batin Kiara.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...