
My love is sillie
Episode 45
•
"Maaf sayang! Abisnya gue suka banget kalau minum dari botol bekas bibir lu," jawab Willy.
"Cie cie..." seluruh anggota the darks disana kompak menggoda Willy serta Aurora yang semakin romantis itu.
Sementara Aurora sedang sibuk menutupi wajahnya yang merona akibat ulah Willy.
Tiba-tiba saja, kericuhan mereka terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di dekat mereka.
Sontak Willy yang sebelumnya duduk, kini bangkit dan menatap ke arah mobil tersebut.
Matanya menangkap jelas siapa yang turun dari mobil itu, dan seketika ia pun terbelalak.
"Permisi! Saya ingin bertemu dengan anak-anak the darks yang tadi sempat ingin membegal saya, mereka pasti ada disini kan?" ucap orang itu.
Willy dan yang lainnya kompak saling menatap satu sama lain, mereka tentunya tidak mengerti dengan kata-kata orang itu.
"Maksud lu apa? Martin Martin, gausah cari perkara deh di tempat gue!" ucap Willy kesal.
Ya pria yang datang itu tidak lain tidak bukan adalah Martin, rentenir kejam yang sudah membawa paksa Nadira dari Willy.
"Saya tidak akan begini, kalau anggota geng anda ini tidak mencari masalah duluan dengan saya. Mereka sudah membuat kaca mobil saya retak dan ingin membegal saya, itu sama saja kalian mencari gara-gara dengan saya." kata Martin.
"Hah? Lu gak salah bicara kan? Anak the darks gak pernah cari gara-gara duluan sama orang, kita juga gak mau melakukan hal yang lu tuduhkan tadi. Jadi, jangan asal bicara ya!" ucap Willy.
"Saya bicara berdasarkan fakta, tanyakan saja pada anggota anda itu!" ucap Martin tegas.
Willy melirik ke arah teman-temannya, mereka kompak menggelengkan kepalanya.
"Tuh, mereka semua gak ngelakuin itu. Lu jangan asal tuduh deh! Mending lu pergi dari sini, atau gue hajar lu sampai mampus!" ucap Willy kesal.
"Saya kesini hanya ingin memperingati kalian, jangan pernah sekalipun bermain-main dengan saya jika kalian tidak ingin merasakan yang namanya kekejaman dari seorang Martin! Saya bisa habisi kalian semua sekarang juga, tetapi saya masih ingin beri kalian kesempatan untuk merubah gaya hidup kalian itu!" ucap Martin.
"Lu gak punya hak buat atur-atur kita! Gue sama geng the darks gak mungkin juga mau ikuti kata-kata lu, karena kita ini geng motor sejati yang sudah punya aturan sendiri!" ucap Willy.
"Oke, kalau begitu jangan salahkan saya jika nantinya saya akan berantas kalian satu persatu!" ucap Martin tampak tegas.
"Gue gak takut!" tantang Willy.
Martin melangkah maju mendekat ke arah Willy, menatapnya dengan sinis sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Baiklah, itu permintaan kamu. Saya akan berantas geng motor yang suka mencari keributan seperti kalian, supaya tidak ada lagi korban yang berjatuhan nantinya!" ucap Martin.
"Lu bukan polisi, bukan tentara, bukan satpol PP, apalagi gubernur. Lu gak bisa berantas kita gitu aja, paham lu?!" ujar Willy.
"Kita lihat aja, apa kalian bisa bertahan atau tidak." kata Martin seraya tersenyum smirk.
Martin pun membalik tubuhnya, bersiap untuk melangkah pergi dari sana.
Namun, perkataan Willy membuat Martin mengurungkan niatnya dan tetap disana.
"Jangan kira dengan status lu sebagai mafia bisa bikin gue gentar! Setelah lu bawa paksa Kiara dari gue, kali ini gue gak akan biarin lu bertindak semena-mena terhadap geng gue! Anggap aja ini untuk balasan atas perbuatan lu!" ucap Willy.
"Apa maksud anda?" tanya Martin menoleh.
Bukannya menjawab, Willy justru menyerang Martin dengan membabi buta. Aurora serta anak the darks lainnya yang berada disana pun kompak terkejut melihat momen itu.
***
Kiara yang menunggu di dalam mobil, menutup mulutnya saat melihat perkelahian diantara Martin dengan Willy.
Memang inilah yang ia khawatirkan sedari tadi, ia benar-benar bingung saat ini karena kedua pria itu sudah saling menyerang satu sama lain dan ia tak tahu harus bagaimana.
"Duh, tuh kan benar dugaan ku. Kenapa sih tuan Martin harus berantem segala?!" gumamnya.
"Sabar non! Tuan Martin pasti bisa kalahin anak geng motor itu!" ucap Syaiful (supir Martin).
"Iya pak, saya justru khawatir sama yang lagi dilawan tuan Martin!" ucap Kiara.
"Hahaha, benar juga ya non!" ujar Syaiful tertawa.
"Pak, kalo gitu saya mau turun dulu ya? Saya harus pisahkan mereka sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan!" ucap Kiara.
"Tapi non, itu bahaya! Lagipun, tadi tuan Martin kan minta non Kiara tetap disini." kata Syaiful.
"Gapapa pak, saya bakal baik-baik aja kok. Bapak tenang aja dan tetap disini!" ucap Kiara.
"Eee iya non, terserah non Kiara aja." kata Syaiful gugup.
Kiara pun melangkah keluar dari mobil itu, ia langsung bergerak menghampiri Martin serta Willy yang sedang berkelahi disana.
"Berhenti!" teriak Kiara cukup keras.
Sontak Willy dan Martin menghentikan perkelahian mereka begitu mendengar suara tersebut, mereka kompak menoleh ke asal suara dan terkejut melihat Kiara tengah berjalan ke arah mereka.
Willy bahkan sampai terbelalak melihat adanya Kiara disana, ia mengira Martin hanya datang seorang diri dan tidak mengajak Kiara, tapi nyatanya ia salah karena Kiara ada disana.
"Kiara? Kamu kenapa turun dari mobil sayang? Saya kan sudah bilang, kamu di mobil saja." tanya Martin keheranan.
"Aku gak mau kalian berdua ribut kayak gini, semua masalah bisa diselesaikan secara baik-baik!" jawab Kiara tegas.
"Saya tahu Kiara, tapi dia duluan yang memulainya. Dia menyerang saya saat saya mau pergi, padahal dari awal saya juga gak ada niatan buat serang dia." ucap Martin mengarah ke Willy.
"Heh! Lu jangan memutarbalikkan fakta ya! Dengan lu datang kesini dan nuduh geng the darks yang enggak-enggak, itu sama aja lu cari keributan disini!" bentak Willy kesal.
"Anda dengarkan ini ya, saya tidak akan melakukan itu jika anggota geng anda tidak menyerang dan membuat kaca mobil saya pecah. Jadi, anda salahkan saja teman anda itu!" ucap Martin.
"Sekali lagi gue tanya, apa ada orang yang nyerang lu itu disini? Lu bisa tunjukin ke gue sekarang, dan gue bakal habisin dia di depan muka lu juga! Ayo tunjukin!" pinta Willy.
Martin beralih menatap seluruh anggota the darks yang ada disana, mencari tahu apakah orang yang tadi menyerangnya ada atau tidak.
Namun, Martin cukup bingung lantaran orang itu tidak ada disana.
"Tuan, kayaknya tuan salah tuduh deh. Orang tadi yang nyerang kita gak ada disini, mungkin aja tuan salah sangka." bisik Kiara.
"Gak mungkin Kiara, saya lihat jelas kok logo the darks di jaket mereka tadi. Bisa aja Willy udah minta orang-orang itu buat sembunyi, jadi saya gak bisa temuin mereka." balas Martin.
"Gimana? Ada gak??" tanya Willy pada Martin.
"Anda memang pintar Willy, anda pasti sudah menyembunyikan orang itu kan supaya saya tidak dapat menemuinya?" ujar Martin.
"Hahaha, bilang aja kalau lu itu cuma ngarang! Dasar orang aneh!" ujar Willy tertawa lepas.
"Saya tidak sedang mengarang cerita, semua itu benar adanya. Dengar ya, saya pastikan saya akan cari dan temukan orang itu! Lalu, saya bawa dia ke hadapan anda dan habisi dia di depan mata anda secara langsung!" ancam Martin.
Willy terdiam memalingkan wajahnya, tak ada sama sekali rasa takut di dalam hatinya dengan ancaman Martin tersebut.
"Ayo Kiara, kita pergi dari sini!" ucap Martin langsung menarik tangan Kiara.
"I-i-iya tuan.." ucap Kiara menurut.
Sepasang kekasih itu pun pergi dari sana, walau Kiara masih menyempatkan diri untuk melihat ke arah Willy, begitupun sebaliknya.
"Willy, aku sangat-sangat merindukan kamu!" batin Kiara.
Willy mengantar Aurora pulang ke rumahnya setelah hari sudah mulai gelap.
Aurora pun turun dari motor Willy begitu sampai di depan gerbang rumahnya, tampak Willy amat terpukau dengan besarnya rumah Aurora dan agak sedikit canggung untuk datang kesana.
Glekk...
"Waw ini beneran rumah lu, Rora?" tanya Willy.
"Bukan sih, ini rumah bokap gue. Gue cuma numpang tinggal disini, kenapa sih emang?" jawab Aurora.
"Yeh sama aja lah ini rumah lu. Gapapa kok, gue cuma nanya aja buat mastiin. Ternyata lu itu beneran anak orang kaya ya, gak nyangka gue bisa cium bibir anak sultan." ujar Willy.
"Hah? Nama bokap gue itu Johan, bukan sultan." ucap Aurora.
"Gak gitu maksud gue cantik, ah bikin gemes aja lu!" ucap Willy seraya mencubit hidung Aurora.
"Ahaha, iya iya gue tahu kok. Yaudah, lu mau mampir sekalian gak? Biar lu bisa ketemu sama bokap nyokap gue, jadi gak cuma gue aja yang udah kenalan sama ortu lu." ucap Aurora mengajak Willy masuk ke dalam.
"Eee boleh sih, tapi jangan sekarang!" ujar Willy.
"Loh kenapa?" tanya Aurora tampak kecewa.
"Jangan kecewa gitu dong mukanya! Udah gak sabar banget nih kayaknya pengen dilamar sama gue, sampai-sampai kecewa gitu gue gak mau temuin ortu lu sekarang." goda Willy.
"Ish apaan sih?! Siapa yang kecewa? Gue itu cuma nanya kenapa, bukan kecewa!" elak Aurora.
"Iya deh, lu emang paling jago ngeles! Gue itu belum siap buat ketemu calon mertua gue sekarang, besok-besok aja ya." kata Willy.
"Hah? Calon mertua darimana??" ujar Aurora.
"Hahaha, ya iyalah kan lu juga calon istri gue. Otomatis orang tua lu itu calon mertua gue, masa gak paham sih?" jelas Willy.
"Dih dasar gila!" cibir Aurora.
"Gila gila gini juga lu suka kan?" goda Willy.
"Wil, jangan ngaco deh! Udah ah gue mau masuk! Lu hati-hati pulangnya!" ucap Aurora.
"Siap sayang!" ucap Willy patuh.
Aurora pun melambaikan tangan ke arah Willy, lalu melangkah menuju gerbang dan masuk ke dalam rumahnya.
Sementara Willy tetap disana memandangi Aurora dari motornya, tampak Aurora berbalik dan menatapnya sekilas sambil tersenyum.
"Uhh Aurora cantik banget! Gapapa deh kehilangan Kiara, asal penggantinya Aurora." ujar Willy.
Willy memakai kembali helmnya, kemudian melaju pergi dari rumah besar itu dengan kecepatan tinggi seperti biasa.
Aurora menunduk sekilas, mengingat saat Willy melumatt bibirnya secara lembut dan sedikit membuatnya ketagihan tadi.
"Duh, gue kenapa malah jadi keingat sama momen itu sih?" gumam Aurora.
Akhirnya Aurora memutuskan lanjut melangkah, namun langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya dan ia merasa tidak asing pada mobil itu.
"Ini mobil siapa ya? Kok gue kayak gak asing gini?" ujarnya kebingungan.
***
Aurora mencoba melangkah masuk ke dalam untuk memastikan siapakah yang sedang bertamu di rumahnya.
Kebetulan saja, saat ia hendak melangkah masuk ada orang yang keluar dari dalam sana bersama papanya dan mereka tengah mengobrol.
"Ya, jadi begitulah Martin. Kamu sudah paham kan dengan bisnis yang om jelaskan tadi?" ucap papa Aurora dengan seorang pria di sampingnya.
"Iya om, saya paham kok." jawabnya.
"Eh Aurora? Kamu baru pulang sayang?" papa Aurora yang bernama Johan itu terkejut saat melihat putrinya sudah berdiri di depan pintu.
"Umm, iya pah. Tadi aku abis main dulu sama teman di luar," jawab Aurora agak gugup.
Mata gadis itu kini mengarah pada sosok pria di samping papanya, ia tahu betul bahwa pria itu adalah orang yang sama dengan yang ia temui di markas the darks tadi.
"Oh begitu, pantas saja kamu lama sekali pulangnya." ucap Johan.
"Iya pah, tapi dia ini siapa pah?" tanya Aurora menunjuk ke arah orang di samping papanya itu.
"Oh iya benar, kamu pasti belum pernah lihat dia ya? Dia ini keponakan papa, anaknya adik papa. Artinya dia juga sepupu kamu Aurora, ayo kenalan sama dia!" jawab Johan.
"Hah? Sepupu??" ujar Aurora kaget.
"Iya sayang, ayo salaman dong sama Martin!" pinta Johan.
"Eee i-i-iya pah.." ucap Aurora gugup.
Gadis itu mengangkat tangannya dengan sedikit gemetar, lalu mengenalkan dirinya kepada Martin yang sedari tadi hanya senyum-senyum saja.
"A-aku Aurora," ucap Aurora.
"Saya Martin, salam kenal ya!" balas Martin meraih tangan Aurora dan mencengkeramnya kuat.
"Awhh!!" pekik Aurora reflek saat pergelangan tangannya diremas kuat oleh Martin.
"Loh, kamu kenapa sayang?" tanya Johan heran.
Aurora spontan menarik tangannya ketika Martin melepaskan cengkraman itu, ia terlihat kesakitan dan semakin membuat Johan merasa aneh.
"Enggak kok pah, gapapa. Aku tadi kaget aja ternyata tangannya Martin ini—"
"Kak Martin." potong Martin dingin.
"Hah?" Aurora tampak terheran-heran.
"Iya, kamu harus panggil saya kak dong! Saya ini kan lebih tua dari kamu, masa gak paham?" jelas Martin.
"Benar itu Aurora, gak sopan kalau kamu sebut Martin dengan namanya saja." sahut Johan.
"I-i-iya Martin, eh maksud aku kak Martin." ucap Aurora gugup.
"Yasudah, kamu boleh masuk dulu sana terus ganti baju! Abis itu kalau mau makan, udah disiapin di meja ya." ucap Johan.
"Iya pah," ucap Aurora singkat.
Gadis itu hendak melangkah ke dalam, akan tetapi dicekal oleh Martin.
"Tunggu tunggu!" pinta Martin.
"Kenapa lagi kak?" tanya Aurora bingung.
"Om, saya mau bicara berdua sama Aurora. Boleh kan om?" ucap Martin pada Johan.
"Oh gitu, ya boleh kok. Kalian bicara saja di taman samping atau dimana aja terserah," ucap Johan.
"Terimakasih om, yuk Aurora!" ujar Martin.
Aurora pasrah saja saat Martin menarik lengannya untuk ikut dengannya.
Bersambung....