My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 107. Dekat sama kamu terus



My love is sillie


Episode 107



"Wil, tahan Wil! Kamu gak boleh bikin masalah lagi di sekolah ini, aku takut kamu bakal dihukum seperti dulu!" ucap Aurora mengingatkan Willy.


"Tapi sayang, dia udah keterlaluan sama kamu! Berani banget dia sentuh kamu kayak gitu, aku gak terima!" ucap Willy.


"Iya aku ngerti kamu marah, tapi kamu harus bisa tahan diri! Jangan sampai gara-gara emosi, terus kamu malah diskors lagi nantinya!" ucap Aurora.


Willy terdiam sejenak memikirkan ucapan kekasihnya, sampai ia pun sadar bahwa semua itu memang ada benarnya dan ia tidak boleh dihukum karena itu tidak mengenakkan baginya.


"Oke, aku nurut sama kamu!" ucap Willy.


"Makasih ya sayang!" ucap Aurora tersenyum senang.


"Heh Willy! Mana nih yang katanya mau nyerang gue? Kok gak jadi sih? Takut ya?" ujar Max.


"Cih! Lu beruntung karena gue gak jadi nyerang lu, selamat lu kali ini!" ucap Willy.


"Hahaha, bilang aja lu takut Wil Wil.." ledek Max.


Disaat Willy hendak tersulut emosi kembali, Aurora pun memegangi lengan pria itu dan tersenyum ke arahnya.


"Tenang ya Willy sayang!" ucap Aurora.


"Iya cantik, aku selalu tenang kalau lihat senyum kamu yang manis itu." ujar Willy.


"Bagus deh!" ucap Aurora singkat.


"Rora, kenapa sih kamu mau sama dia? Padahal jauh lebih ganteng aku kemana-mana loh, mending kamu sama aku aja!" ucap Max.


"Cukup ya Max! Gue gak mau berdebat lagi sama lu, udah yuk Wil kita masuk aja ke dalam!" ucap Aurora.


Willy mengangguk setuju, lalu mereka pun melangkah pergi meninggalkan Max.


Akan tetapi, Kiara muncul dan memanggil Willy dari belakang sehingga mereka kompak berhenti.


"Willy!" Aurora jadi yang pertama menoleh ke asal suara, sepertinya dia tak suka ada perempuan lain yang memanggil kekasihnya.


Kiara tersenyum lebar dan kini berdiri di hadapan sepasang kekasih itu.


"Hai Willy, hai Aurora!" sapa Kiara.


"Iya, hai juga Kiara!" balas Willy dan Aurora.


"Eee itu tangan kamu masih sakit ya Wil? Maafin mas Martin ya Willy, dia gak punya niat buat bikin kamu kayak gitu kok!" ucap Kiara.


Aurora menatap heran ke wajah Kiara serta Willy.


"Maksudnya apa? Jadi, ini ulah kak Martin?" tanya Aurora.


"Loh, emang Willy gak cerita sama kamu Rora?" Kiara balik bertanya pada wanita itu.


Aurora menggeleng pelan.


"Sayang, kenapa kamu gak bilang kalau ini ulah kak Martin?" tanya Aurora menelisik.


"Apa sih sayang? Aku udah cerita loh, masa kamu lupa sih?" jawab Willy.


"Hah? Emang iya ya?" tanya Aurora tak percaya.


"Iya sayangku cintaku, kamu gak percayaan banget sama aku! Beneran aku udah cerita sama kamu semuanya, makanya kamu tuh fokus dong kalo dengerin aku ngomong!" jawab Willy.


"Ohh, iya iya aku minta maaf! Terus, ngapain kamu pake temuin Willy sekarang, Kiara?" ucap Aurora beralih menatap Kiara.


"Aku cuma mau mewakili mas Martin untuk minta maaf sama Willy," jawab Kiara.


"Biar apa sih kamu kayak gitu? Gausah modus deh! Bilang aja kamu mau dekat kan sama Willy?!" ucap Aurora cemburu.


"Eh enggak, aku gak ada niatan gitu!" elak Kiara.


"Halah!" ucap Aurora tak percaya.


Willy justru tersenyum lebar melihat ekspresi kekasihnya saat ini, sehingga Aurora pun tampak kesal padanya.


"Ish, kamu kenapa malah senyum-senyum? Emang ada yang lucu ya?" tanya Aurora kesal.


"Iya sayang, kamu tuh yang lucu! Kamu kalo lagi cemburu kayak gini, beuh makin imut!" ujar Willy.


Aurora memalingkan wajahnya menahan rasa malu yang mencuat di pipinya, sedangkan Kiara ikut tersenyum senang melihat momen itu.


"Sial emang!" umpat Max dalam hati.


******


Willy dan Aurora sekarang sudah berada di kelas, namun tampak kalau wanita itu masih merengut kesal akibat kejadian tadi.


"Sayang, kamu masih cemburu soal tadi?" tanya Willy dengan lembut.


"Ya kamu pikir aja sendiri! Ngapain coba kamu pake senyum-senyum sama Kiara? Di depan aku lagi, emang gak mikirin banget sih perasaan aku!" ucap Aurora ketus.


"Sabar sayang! Aku minta maaf deh ya, aku janji gak akan ulangi itu lagi!" bujuk Willy.


"Ah bohong! Paling nanti juga kamu mengulangi itu lagi," ucap Aurora.


"Enggak kok sayang, suer aku janji sama kamu!" ucap Willy meyakinkan kekasihnya.


"Yang bener?" tanya Aurora memastikan.


"Huum sayang, beneran aku gak akan begitu lagi! Aku cuma mau senyum sama kamu aja, gimana?" jawab Willy seraya mengusap puncak kepala kekasihnya itu.


"Yaudah, tapi kamu duduk disini aja ya! Aku masih mau dekat-dekat sama kamu, sekalian jagain tangan kamu yang luka ini!" ucap Aurora.


"Kok cuma tangannya aja sih yang diperhatiin? Akunya enggak?" goda Willy.


"Iya, kamunya juga kok. Kamu duduk disini aja ya hari ini?" pinta Aurora.


"Terus, Clara gimana nanti kalau datang?" tanya Willy.


"Biarin aja dia duduk di tempat kamu sama Zabnu, pokoknya kamu disini sama aku!" jawab Aurora.


"Ya ya ya, aku nurut aja deh sama cewek aku yang cantik dan imut ini!" ucap Willy.


Aurora tersenyum lebar, lalu menaruh wajahnya di bahu sang kekasih seraya mengusap-usap bagian tangan Willy yang terluka.


Tak lama kemudian, Clara yang sebelumnya dibicarakan oleh mereka pun tiba bersama Cindy juga Elsa.


"Eh eh, ini ngapain lu duduk disini Willy?" tanya Clara pada Willy.


"Gue kan emang duduk disini, bareng sama pacar gue yang cantik ini." jawab Willy santai.


"Aw aw aw, so sweet deh kalian berdua! Di sekolah aja mesra-mesraan kayak gini, emang couple goals banget kalian ini!" ucap Cindy.


"Ya iya sih mesra, tapi gak rebut tempat duduk gue juga kali!" cibir Clara.


"Ih udah gapapa Clara, kan lu jadi punya kesempatan buat duduk bareng si Zabnu! Siapa tahu kalian berdua itu jodoh dan bisa kayak Willy sama Aurora," celetuk Elsa.


"Nah, gue setuju sama Elsa!" sahut Cindy.


"Matamu anjir! Gue gak mau lah sama dia, selera gue itu yang berkelas kali!" ucap Clara.


"Halah banyak gaya lu!" cibir Elsa.


"Eee Clara, please ya kali ini aja Willy duduk disini sama gue! Gue takut kalau dia kenapa-napa, kan tangannya lagi sakit nih!" pinta Aurora.


"Huh, yaudah deh gue ngalah aja kali ini sama lu. Terpaksa gue harus duduk sama Zabnu, walaupun gue males banget duduk berduaan sama dia!" ucap Clara.


"Hahaha, gapapa Clar siapa tahu jodoh kan!" ledek Cindy disertai tawa puasnya.


"Ah sialan lu emang!" cibir Clara.


Cup!


Aurora tersentak kaget saat Willy tiba-tiba mengecup pipinya.


"Ih nakal ya kamu, ambil kesempatan dalam kesempitan!" ucap Aurora.


"Hahaha, abisnya aku gak bisa tahan!" ujar Willy.


"Ish, tahan dong sayang ini kan di sekolah!" ucap Aurora.


"Ya ya ya.." ucap Willy menurut saja.


******


Braakkk...


"Lo gausah banyak tanya! Cepat bikinin atau gue obrak-abrik nih tempat!" bentak orang itu.


"I-i-iya iya.." ucap si penjual ketakutan.


Melihat itu, Zafran amat kesal dan ingin rasanya ia memberi pelajaran pada geng motor tersebut jika ia sedang tidak bersama kekasihnya saat ini.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Imey curiga.


"Aku gak suka aja sama sikap mereka, gak sopan gitu sama orang tua!" jawab Zafran.


"Sabar ya! Kamu jangan kepancing!" ucap Imey.


Zafran mengangguk sambil sesekali tetap mencuri pandang ke arah orang-orang itu, sampai matanya mendapati sebuah tulisan di jaket mereka yang membuatnya terkejut.


"Thunder? Apa geng ini yang dibicarain sama Willy? Kalau iya, gue dalam bahaya dong!" batin Zafran.


Zafran tampak mempercepat proses makannya, ia tak mau jika sampai orang-orang itu menyadari bahwa dirinya adalah anggota the darks.


"Heh!" Zafran terkejut mendengarnya.


Zafran terkejut saat tiba-tiba segerombolan orang itu sudah berada di dekatnya dan tengah menatap ke arahnya secara tajam.


"Lu kenapa diem aja? Minggir lu, gue sama teman-teman gue mau makan disini!" ujarnya.


"Gue udah duluan disini, jadi gue berhak buat duduk disini." ucap Zafran.


Braakkk...


"Lu jangan ngebantah! Cepat minggir atau lu bakal gue sikat!" ancam pria itu sembari menggebrak meja.


Imey merasa cemas dan takut dengan tindakan orang-orang itu, ia pun mendekat ke telinga Zafran dan berbisik sesuatu padanya.


"Sayang, udah yuk kita pergi aja!" bisik Imey.


"Tenang dulu sayang!" pinta Zafran.


"Tapi aku takut!" ucap Imey sedikit gemetar.


"Gausah takut, kan ada aku!" ucap Zafran seraya menggenggam tangan kekasihnya itu.


"Woi! Malah bisik-bisik, udah cepat sana pergi!" bentak si pria yang tak lain ialah Rimba.


"Sebentar ya sayang!" ucap Zafran pada gadisnya.


Zafran yang tak sabar, akhirnya bangkit dari duduknya dan menatap wajah Rimba dengan sorot mata tajam.


"Kenapa? Lu mau kita bikin bonyok, ha?!" ancam Rimba.


"Gue bakal pergi, asal lu jangan bersikap kayak gini lagi sama pelanggan yang lain!" ucap Zafran.


"Lo siapa berani atur-atur gue? Kita ini geng thunder, penguasa jalanan! Jadi, kita berhak lakuin apapun yang kita mau dan gak ada siapapun yang bisa halangi kita, termasuk lu!" ucap Rimba.


"Dengar ya, mau siapapun lu, gue gak perduli. Adab itu diperlukan dan kalian semua seakan-akan gak pernah diajarin sopan santun sama orang tua kalian, penjual soto ini udah tua loh, sopan sedikit lah! Kalau mau buat onar jangan disini, di depan gedung DPR sana!" ucap Zafran.


"Ah bacot lu! Gausah ngajarin gue soal sopan santun, karena gue gak akan perduli! Cepat lu pergi sana dan jangan ganggu kita!" ucap Rimba.


"Oke! Ayo sayang kita pergi!" Zafran mengalah dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.


"Pak, ini uangnya ya!" ucap Zafran tak lupa memberikan uang kepada si penjual.


"Loh ini kebanyakan mas, cuma empat puluh ribu aja kok." ucap penjual itu terkejut.


"Gapapa pak, sekalian buat bayarin mereka-mereka itu. Saya khawatir mereka gak bayar, kasihan bapak nantinya!" ucap Zafran.


"Wah terimakasih ya mas! Ternyata anak geng motor gak semuanya jahat ya," ujar si penjual.


"Sama-sama, pak. Yaudah, saya sama pacar saya permisi dulu ya! Bapak hati-hati kalo layanin mereka!" ucap Zafran.


"Siap mas!" ucap penjual itu.


Setelahnya, Zafran pun bergegas pergi bersama kekasihnya sebelum geng thunder menyadari bahwa dirinya adalah anggota the darks.


******


Tedy kembali ke markas the darks dengan kondisi wajah terluka akibat berkelahi dengan Geri sang kakak dari Ayna itu tadi.


Sontak seluruh anggota the darks yang ada disana merasa terkejut melihatnya, mereka tampak heran mengapa Tedy bisa terluka seperti itu.


"Huft, gila kesel banget gue sama si Geri!" ucap Tedy penuh emosi.


"Lo kenapa sih bro? Abis berantem sama siapa lu sampe bonyok gini?" tanya Arif.


"Bonyok gigi lu! Luka gue cuma sedikit, itu juga karena gue gak waspada tadi!" sangkal Tedy.


"Iya iya, terus lu kenapa bisa begini? Siapa yang bikin lu kayak gini?" tanya Arif lagi.


"Geri," jawab Tedy singkat.


"Hah? Lu ribut sama si Geri, kok bisa sih? Emang gara-gara apa bro?" ujar Arif terkejut.


"Iya Ted, kenapa lu bisa ribut sama dia?" sahut Randi ikut penasaran.


"Gue tadi ke rumah Ayna buat ngobrol doang, eh si Geri gak suka dan malah ngajak gue ribut. Awalnya gue masih bisa tahan emosi, sampai akhirnya Geri dorong Ayna ke jalan dan itu bikin gue kesel. Yaudah deh, abis itu gue sama dia ribut." jelas Tedy.


"Astaga! Kalo itu alasannya sih parah, gue kan udah ingetin lu supaya jauhin Ayna, eh masih aja ngeyel buat deketin dia!" ucap Arif.


"Tau rasa kan lu sekarang, abis dihajar sama si Geri! Udah lah Ted, jangan pernah lu deketin cewek itu lagi, apalagi dateng ke rumahnya! Mending lu cari cewek lain," ucap Leo.


"Kalian ngomong enak, gue yang ngejalanin susah bro." ucap Tedy kesal.


"Halah! Apa susahnya sih emang?" ujar Arif.


"Ya lu mana ngerti bro! Lu itu kan belum pernah merasakan yang namanya cinta, jadi lu gak paham apa yang gue rasain sekarang!" ucap Tedy.


"Iya iya, si paling paham tentang percintaan!" cibir Arif.


"Yaudah, gausah pada ribut gitu lah! Ted, lu gak kapok apa udah dihajar begitu sama si Geri? Lu masih mau ke rumah Ayna lagi?" ucap Randi.


"Ya iyalah Ran, cinta itu harus diperjuangkan dan gue bakal lakuin itu!" ucap Tedy.


"Hadeh, kalo lu gagal dan malah berakhir bonyok gimana? Gue yakin banget, si Geri itu gak mungkin biarin adiknya deket sama lu!" ucap Randi.


"Kenapa sih Ran? Lu halangi gue buat deketin Ayna, tapi lu sendiri juga sering kan hubungin dia!" ucap Tedy.


"Hah? Sejak kapan? Ngaco aja lu!" elak Randi.


"Halah gausah ngeles lu! Gue lihat sendiri, kalian itu saling followan di akun sosmed. Malahan lu pernah komen di salah satu postingan Ayna, dasar pengkhianat lu!" ucap Tedy.


"Lu bicara apa sih? Itu kan gue cuma follow balik dia, orang dia duluan yang follow gue. Kalau masalah komen, nih yang komen tuh si Jeki!" ucap Randi menjelaskan.


"Hehe iya Ted, itu gue yang komen pake akunnya Randi.." ujar Jeki sambil nyengir.


"Ah payah lu semua!" ucap Tedy kesal.


Bersambung....