My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 124. Pasti takut



My love is sillie


Episode 124



Willy mengajak Aurora ke toilet pria di ujung koridor, dengan cepat dia membawa Aurora masuk ke dalam dan mengunci pintu rapat-rapat.


Aurora pun hanya bisa pasrah menuruti kemauan Willy, karena melawan juga percuma lantaran tenaganya kalah jauh dibanding Willy.


"Sayang, kamu ngapain sih bawa aku ke toilet cowok? Mau mesum ya?" tanya Aurora.


"Itu kamu tau, daritadi punya aku udah berdiri tau minta dipuasin sama kamu," jawab Willy.


"Ish, jangan di sekolah juga kali! Nanti kalau ada yang mergokin kita gimana?" ujar Aurora panik.


"Kamu gausah takut, aku bisa jamin kita gak akan ketahuan siapapun kok!" ucap Willy.


"Ah aku gak mau, nanti aja ya pulang sekolah kita check-in lagi di hotel?" ucap Aurora.


"Yah kelamaan sayang, aku maunya sekarang udah gak tahan ini. Cuma sampai aku keluar deh, janji gak aku masukin!" Willy terus berusaha membujuk kekasihnya agar mau menurutinya.


"Haish, yaudah deh aku mau. Tapi bener ya, kamu gak masukin?" ujar Aurora.


"Iya sayang, mana pernah aku bohong sama kamu? Cepetan puasin aku!" ujar Willy.


Aurora menghela nafasnya, sedangkan Willy sudah terduduk di atas closet sembari membuka celananya. Aurora terbelalak melihat milik Willy yang menyembul keluar, ternyata benar pria itu sudah bergairah.


"Kamu lihat kan? Dia udah berdiri tegak begini, masa kamu tega cuekin dia?" ucap Willy.


"Iya iya, sini aku puasin," ucap Aurora pasrah.


Aurora duduk bersimpuh di hadapan Willy dengan kedua lututnya sebagai penopang, satu tangannya meraih sosis Willy yang panjang itu dan perlahan mulai mengurutnya.


"Aarrhh nikmat!" pekik Willy saat Aurora mulai memainkan miliknya. Bahkan, kini Aurora sudah memasukkan miliknya ke dalam mulutnya.


Aurora melakukannya dengan lihai, seakan-akan milik Willy adalah lolipop. Willy pun tak kuasa menahan gejolak kenikmatan di tubuhnya itu.


Tak lama, Willy mencapai puncaknya. Ia memuntahkan laharnya di mulut sang kekasih dan memaksanya untuk menelan semua itu.


Aurora menurut saja, dia memang selalu tak berkutik jika Willy sudah bergairah seperti ini. Walau dalam hatinya, Aurora merasa sangat sedih dan tidak ingin melakukan itu.


Setelah puas, kini Willy menarik Aurora untuk berdiri tegak seperti semula. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Aurora lalu merapatkan wajahnya ke perut rata sang kekasih.


"Sekarang gantian aku yang puasin kamu ya sayang?" ucap Willy.


"Eee gausah Wil, aku gapapa kok. Kita langsung ke kelas aja yuk! Aku takut ada yang lihat," ujar Aurora.


"Jangan takut sayang! Sebentar aja kok, aku bisa puasin kamu cuma pakai jari-jari aku dan mulut aku ini," ucap Willy.


"Tapi Wil—"


"Udah ayo sini!" potong Willy yang langsung menarik tubuh Aurora duduk di pangkuannya.


Tanpa basa-basi, Willy pun membuka satu persatu kancing seragam Aurora sampai memperlihatkan bongkahan indah miliknya. Tangan satunya juga bergerak menyingkap rok milik kekasihnya itu.


"Hahaha, ngerokok kuy! Enak banget nih pagi-pagi ngerokok disini,"


"Nah bener lu, ayo dah!"


Suara tersebut membuyarkan apa yang sedang dilakukan Willy untuk Aurora, mereka terlihat panik khawatir akan ketahuan.


"Wil, gimana ini? Kamu sih gak mau dengerin kata-kata aku!" ujar Aurora.


"Udah kamu diam aja! Tahan suara kamu, jangan sampai kita ketahuan!" bisik Willy.


Aurora mengangguk pelan, menutupi mulutnya dengan telapak tangan untuk menahan suara indah yang akan keluar.


Sementara Willy kembali menggerakkan jarinya di bawah sana, membuat sang empunya merem melek menahan kenikmatan.


"Mmhhh ahh.." Aurora tak bisa menahan suaranya lagi, sebab Willy semakin gencar mempermainkan dirinya.


"Woi! Suara apaan tuh?"


"Kayak orang lagi des*h"


Sontak Aurora kembali terkejut, ia berusaha menghentikan aktivitas Willy tetapi tak digubris oleh pria itu.


"Ih Willy, berhenti akkhh..!!" pekik Aurora.


"Kayaknya dari sini deh bro,"


"Kita isengin yuk!"


"Gas!"


Sepertinya orang-orang di luar itu mendekat ke arah pintu toilet tempat Willy dan aurora berada, mereka menggedor pintu untuk mengganggu aktivitas Willy serta Aurora disana.


"Woi keluar woi! Mesum kok di sekolah? Gak mampu nyewa hotel ya lo?"


Willy menghentikan jarinya saat Aurora akhirnya mencapai pelepasan, ia tersenyum lebar dan langsung meraup bibir kekasihnya.


"Wil, kamu apa-apaan sih?! Bukannya udahan malah makin jadi," kesal Aurora.


"Tenang sayang! Itu yang di luar mah cuma kroco, mereka paling ciut sendiri nanti pas lihat aku. Udah, benerin seragam kamu gih!" ujar Willy.


"Iya iya," ucap Aurora cemberut.


Aurora pun merapihkan seragam serta rambutnya, ia tak mau dicurigai oleh teman-temannya nanti. Sementara di luar sana orang-orang tadi terus saja menggedor pintu.


Setelah selesai, Willy membuka pintu dan keluar dari dalam sana.


"Nah, abis mesum ya lu?" ujar salah seorang pria di luar yang bernama Apis.


"Hah? Kak Willy??" tiga pria lainnya tampak ketakutan begitu melihat wajah Willy.


"Eee kak, so-sorry ya kita ganggu! Ki-kita gak tahu kalo yang di dalam itu lo," ujar Apis gugup.


"Dengar ya, lain kali kalian itu jangan suka ganggu orang atau ikut campur urusan orang lain! Lo semua pada mau gue hajar, ha?" kesal Willy.


"Enggak kak, kita minta maaf kak!" ucap Apis.


"Yaudah, sana lo semua pergi dan jangan pernah tunjukin muka kalian di depan gue!" ujar Willy.


"I-i-iya kak iya.." mereka berempat pun pergi dengan kaki gemetar.


Willy pun tersenyum lebar, merangkul Aurora dan mengecup bibirnya sekilas.


Cup!


"Lihat kan sayang? Mereka pasti takut sama aku, jadi kamu gausah khawatir!" ujar Willy seraya mencolek hidung Aurora.


"Iya, untung itu tadi yang pergokin kita cuma murid bukan guru atau kepala sekolah. Kalau sampai kita kepergok sama guru, bisa abis kita!" ujar Aurora.


"Tapi nyatanya enggak kan? Udah lah, kamu gausah panik sayang!" ujar Willy.


Aurora mengangguk pelan, kemudian Willy pun membawa kekasihnya itu keluar dari toilet tersebut sambil merangkulnya.


******


Saat istirahat tiba, Willy menghampiri Aurora yang tengah bersama teman-temannya di kantin. Ia duduk begitu saja diantara mereka bertiga.


"Halo guys!" sapa Willy sembari mencolek pipi kekasihnya itu.


"Halo juga Willy! Lo kayaknya gak bisa banget jauh-jauh dari Aurora, sampe nyamperin segala kesini. Kenapa dari awal gak bareng aja sekalian tadi?" ujar Elsa.


"Gue sebenarnya pengen bareng, tapi kan kalian tahu sendiri si Aurora ini gimana orangnya. Dia malu-malu tapi mau, bilangnya gak mau padahal nyatanya suka deket-deket sama gue," ucap Willy.


"Ih apa sih? Sejak kapan aku begitu?" elak Aurora.


"Cie gak mau ngaku, aku tahu loh gimana perasaan pacar aku sendiri. Udah lah ngaku aja sama aku, gausah malu gitu cantik!" goda Willy.


"Gak jelas! Lagian ngapain sih kamu nyusul kesini? Mending kamu kumpul sama teman kamu aja sana, jangan disini!" sentak Aurora.


"Haish, gak bosen apa sama aku terus? Kita kan daritadi udah berduaan terus tau, sekarang harusnya kamu sama teman-teman kamu sana!" ujar Aurora.


"Aku gak mau," ucap Willy dengan tegas.


"Terserah kamu aja deh! Tapi karena kamu disini, traktir kita bertiga ya sayang?" ucap Aurora.


"Boleh, apa sih yang enggak buat pacar aku yang manis dan cantik ini?" ujar Willy seraya memeluk dan mencium pipi Aurora.


"Aduh aduh, berasa nyamuk nih kita berdua," cibir Elsa.


"Iya nih, jadi iri lihatnya. Kapan ya gue bisa digituin juga sama cowok?" sahut Cindy.


Tiba-tiba saja, Zabnu muncul di samping Cindy dan mengejutkan kedua gadis itu.


"Tenang aja Cindy sayang! Babang Zabnu kan ada disini, kalau kamu mau digituin bilang aja sama babang Zabnu!" ujar Zabnu.


"Idih ogah banget gue! Lagian lo sejak kapan sih ada disini? Ngagetin aja!" protes Cindy.


"Hahaha, babang Zabnu akan selalu ada di samping yayang Cindy yang cantik ini. Jadi, yayang Cindy jangan sedih terus ya!" ujar Zabnu.


"Ih najis najis! Jangan sentuh-sentuh gue lo anjir! Gue gak sudi disentuh sama lo, udah sana ah pergi!" bentak Cindy.


"Oke gapapa, mungkin sekarang kamu belum siap terima babang Zabnu. Tapi, babang Zabnu akan selalu setia menunggu yayang Cindy," ujar Zabnu.


"Dasar gila!" umpat Cindy.


"Ahaha, udah Cin terima aja tuh si Zabnu! Kasihan loh dia ngarep banget sama lu, kan katanya lu juga mau punya pacar?" ujar Elsa.


"Ya iya sih, tapi gak dia juga kali. Gue tuh maunya minimal sama Bayu gitu, dia kan ganteng terus cool lagi," ucap Cindy.


"Ah kebanyakan menghayal lu! Kalo itu mah si Bayu nya yang gak mau sama lu," cibir Elsa.


"Ngeselin lu!" cibir Cindy.


"Hahaha, udah udah jangan ribut! Eh Nu, lo kok jadi ngejar-ngejar Cindy sih? Bukannya lo kemarin sukanya sama si Clara?" tegur Willy.


"Gapapa kali Wil, incaran gue ada banyak biar kalo salah satu ditolak masih ada satu lagi," ucap Zabnu.


"Yeh sok ganteng banget lo! Kalo misal gak mau dua-duanya gimana?" ledek Willy.


"Jangan begitu lah Wil! Sebagai sahabat, harusnya lo dukung gue dong!" ujar Zabnu.


"Ahaha, iye iye suka-suka lu aja deh! Dah ah, gue mau pacaran dulu sama Aurora!" ucap Willy.


Cup!


Willy kembali mengecup pipi Aurora di depan teman-temannya yang sontak membuat Aurora terbelalak, begitupun dengan Cindy dan Elsa.


"Ih ih ya ampun gak lihat gak lihat! Duh mata gue ternodai!" ucap Elsa spontan.


"Lebay banget lo! Bilang aja lo iri kan karena gak ada yang cium pipi lo! Makanya Cindy, Elsa, kalian cari pacar atau minta cium sama si Zabnu tuh!" cibir Aurora.


"Ish Aurora, nyebelin banget lo! Kenapa lo jadi ikut-ikutan kayak gitu sih?!" kesal Cindy.


"Bercanda elah, tapi kalau emang lo suka sama Zabnu ya gas ajalah Cin!" ujar Aurora.


"Kagak ya, gue kagak pernah ngomong gue suka sama si Zabnu ini!" sangkal Cindy.


"Gapapa sumpah gapapa, meski sakit tapi gapapa lah," ucap Zabnu mengelus dada.


Willy serta yang lainnya tertawa kecil melihat ekspresi Zabnu yang seperti itu.


******


Disisi lain, Thoriq serta Mia tiba di restoran. Thoriq sengaja membawa gadisnya kesana untuk membuat Mia melupakan kejadian tadi.


"Kamu udah baik-baik aja kan?" tanya Thoriq.


"Hah? Iya aku baik kok," jawab Mia.


"Beneran? Kamu udah gak mikirin kejadian tadi lagi kan?" tanya Thoriq memastikan.


"Iya sayang, aku udah lupain itu kok. Aku juga gak perduli sama mereka, toh mereka udah dihajar sama pacar aku yang jagoan ini," jawab Mia.


"Hahaha, cantiknya aku bisa aja deh! Yaudah, aku ikut senang kalau kamu udah gak mikirin mereka lagi! Aku takut aja kamu trauma atau apa gitu," ucap Thoriq.


"Tenang aja sayang! Tadi sih emang aku sedikit trauma dan kaget, tapi sekarang udah enggak. Kamu lihat sendiri kan aku baik-baik aja?" ucap Mia.


"Iya sih, yaudah bagus deh. Aku harap kamu bisa ceria terus begini ya cantik!" ujar Thoriq.


Mia mengangguk tersenyum, lalu menaruh wajahnya di pundak sang kekasih. Thoriq pun mengecupnya, mengusap lembut wajah Mia dengan telapak tangannya.


"I love you," ucap Thoriq lirih.


"Love you too Thoriq sayang," balas Mia.


"Yaudah, kamu mau makan apa cantik?" tanya Thoriq mengambil daftar menu disana.


"Umm, aku lagi mau makan kepiting," jawab Mia.


"Oh gitu, oke kita pesan kepiting ya?" ujar Thoriq.


Mia manggut-manggut setuju, membuat Thoriq gemas dengan ekspresi gadisnya itu.


Setelahnya, Thoriq pun memesan makanan dan minuman pada sang pelayan disana.


Sesudah memesan, Thoriq kembali menatap wajah Mia dan menciuminya berkali-kali.


"Ih udah ah sayang, malu tau!" rengek Mia.


"Gapapa, aku suka banget cium pipi kamu. Gak ada pipi yang lebih enak selain pipi kamu ini," ucap Thoriq.


"Lebay kamu mah! Udah dong jangan cium-cium terus, gak enak sama yang lain tuh!" ujar Mia.


"Iya iya, kamu mah gak suka banget dicium sama pacar sendiri. Yaudah, sekarang gantian kamu cium aku nih!" pinta Thoriq.


"Ih gak mau!!" tolak Mia.


"Lah kok gitu? Kamu gak mau nih cium pacar kamu sendiri??" tanya Thoriq.


"Enggak, kenapa?!" cibir Mia.


"Okay, berarti aku yang bakal ciumin kamu terus dan kamu gak boleh protes!" ucap Thoriq.


"Ih jangan!" ucap Mia menahan kekasihnya.


"Ya makanya, kamu cium aku dong buruan! Sekali aja deh, abis itu aku janji gak akan ciumin kamu lagi!" ucap Thoriq.


"Huh iya iya!" Mia menurut dan akhirnya mendekatkan bibirnya ke wajah sang kekasih.


Cup!


Satu kecupan mendarat di pipi Thoriq, lelaki itu pun merasa sangat gembira. Dia memegang tengkuk Mia dan mengecup bibirnya.


Cup!


"Makasih ya sayang! Aku suka banget dicium sama kamu," ucap Thoriq.


"Iya sama-sama," balas Mia.


Disaat mereka sedang asyik bertatapan, tiba-tiba pelayan datang membawakan pesanan mereka di meja.


Sontak Thoriq dan Mia langsung salah tingkah, terlebih Mia yang wajahnya memerah dengan kedatangan si pelayan disana.


"Silahkan mas, mbak, ini pesanannya!" ucap pelayan itu.


"Eee iya iya, terimakasih mas!" ucap Thoriq.


Bersambung....