
My love is sillie
Episode 148
•
Bughh
Bughh
"Aakhhh ampun! Tolong hentikan gue gak kuat!" ucap Max memohon ampun pada mereka sambil terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Orang-orang itu akhirnya berhenti memukuli Max, lalu salah satu dari mereka menarik tubuh Max untuk berdiri menghadapnya.
"Heh! Lo gak mau mati di tangan kita kan?" ujarnya.
Max menggeleng dengan tubuh gemetar.
"Yaudah, lu nurut sekarang sama kita dan ikut kita atau gue habisin lu sama temen lu itu!" ancamnya.
"Oke oke, gue mau ikutin kemauan kalian. Sekarang lepasin gue dan jangan serang bang Martin lagi!" ucap Max mengalah.
"Bagus!" ucap pria itu singkat.
Akhirnya orang-orang itu berhenti menyerang Martin sesuai kemauan Max.
"Uhuk uhuk! Max, kenapa lo malah suruh mereka berhenti dan serahin diri lo? Apa lo mau mati, ha?" tanya Martin pada Max.
"Sorry bang! Gue justru gak mau lu mati gara-gara bantuin gue!" jawab Max.
Deg!
"Lo jangan ngeremehin gue Max! Gue sanggup hadapi mereka walau sendiri!" ujar Martin.
"Enggak bang, jangan maksa!" ucap Max melarang Martin agar tidak nekat.
"Udah lo diem aja! Kalau lo masih maksa, kita abisin lu dan kirim lu ke kuburan!" ancam salah satu anggota geng tersebut.
"Gue gak takut sama ancaman lu! Kalian itu pengecut, beraninya keroyokan!" tantang Martin.
"Ohh nantangin? Mau mati lu? Iya?" mereka kembali mendekati Martin.
Dan disaat mereka hendak memukul Martin, tiba-tiba suara teriakan mengacaukan niat mereka.
"Berhenti!!!"
Suara itu berasal dari Kiara, sang kekasih Martin yang sudah turun dari mobil dan mendekati mereka disana.
"Kiara? Kamu ngapain malah turun dari mobil? Harusnya kamu tetap di dalam!" ujar Martin.
"Enggak tuan, aku gak bisa diam aja lihat tuan dihajar sama mereka!" tegas Kiara.
"Tapi Kiara, ini bahaya buat kamu! Sebaiknya kamu masuk dan tunggu saya kembali!" perintah Martin.
"Aku gak mau masuk kalau gak sama tuan, biarin aku disini tuan!" ucap Kiara.
"Hahaha, ada cewek sok jago nih! Lo mau ngapain sih ikut-ikutan segala? Pengen cari mati, iya?" ujar si ketua geng.
"Nama kamu siapa? Dan kenapa kamu ganggu Max disini?" tanya Kiara.
"Hah? Ngapain lu nanya nama gue? Ohh gue tau nih, pasti lu naksir ya sama gue dan pengen jadi pacar gue?" kekeh si ketua geng.
"Bukan begitu, justru aku tanya nama kamu supaya bisa aku laporin ke polisi yang sebentar lagi bakal datang kesini," ucap Kiara mengancam.
"Hah apa??" kaget si ketua geng.
Bukan hanya dia yang kaget, namun Martin beserta Max juga ikut kaget mendengar ucapan Kiara barusan.
"Lo beneran lapor polisi?" tanya si ketua geng.
"Iya, dan sekarang polisi sedang menuju kesini. Mereka bakal tangkap kalian semua!" jawab Kiara.
Sontak kumpulan geng motor itu langsung saling menunduk, mereka terlihat takut begitu Kiara menyebut tentang polisi.
"Duh gimana nih? Gue belum mau masuk penjara, gue masih pengen bebas!" lirih si ketua geng.
"Kalau kalian gak mau masuk penjara, sebaiknya kalian cepat pergi dari sini!" ucap Kiara.
Semua anggota geng itu saling melirik satu sama lain, mereka bingung harus apa.
******
"Kalian mau keluar dari hutan ini kan?" tanya Jamal.
"I-i-iya bang, abang berdua bisa bantu kita keluar dari sini?" jawab Thoriq.
"Ya bisa lah, itu mah hal kecil buat kita. Tapi sebelumnya, gue minta kalian temenin gue dulu buat cari mangsa di sekitar sini!" ucap Jamal.
"Mangsa? Mangsa apa maksudnya bang?" tanya Thoriq tak mengerti.
"Ya hewan buruan lah, gimana sih lo?!" jawab Jamal ketus.
"Hehe.."
"Ta-tapi bang, kita gak ngerti caranya cari hewan buruan. Berburu aja kita gak pernah, ya kan sayang?" ucap Mia.
"Eee i-i-iya, betul itu bang!" sahut Thoriq dengan sedikit gugup.
"Lu berdua tenang aja, kita pasti kasih tau caranya nanti! Yang penting sekarang kalian ikut aja dulu sama kita!" ucap Jamal.
"Oke deh bang! Tapi, bener kan kalian bakal bantu kita buat keluar dari hutan ini?" ujar Thoriq.
"Iya, yah elah kagak percayaan amat! Gue mah udah hafal sama daerah sini," ucap Jamal.
Thoriq manggut-manggut saja, ia pun terpaksa mengikuti kemauan Jamal dan Ujang, meski ia sedikit merasa ragu.
"Sayang, kamu yakin?" bisik Mia.
"Kamu tenang aja!" balas Thoriq singkat.
Mia mengangguk menurut dengan apa yang diucapkan Thoriq, memang tak ada pilihan lain bagi mereka selain mengikuti dua orang pemburu tersebut agar bisa lepas dari hutan itu.
"Bang, kita mau berburu hewan apa sih? Daritadi cuma muter-muter doang gak jelas," ujar Thoriq.
"Heh! Makanya lu bantu cari hewan yang bisa kita buru dong!" sentak Jamal.
"Hah??" kaget Thoriq.
"Kenapa lu kaget gitu? Perjanjian awalnya kan emang kayak begitu, gimana sih lu?" ujar Jamal.
"Iya bang, gue tuh cuma akting aja biar tambah seru," ucap Thoriq.
"Alah ngeles aja lu!" kesal Jamal.
Tak lama kemudian, terlihat seekor rusa yang melintas di depan mereka dengan sangat cepat.
"Eh bang, tuh ada binatang tuh!" ujar Thoriq.
"Hah? Wah dapet rusa, akhirnya setelah sekian lama! Yaudah, ayo kalian ikut kita tangkap tuh rusa!" ucap Jamal.
"Ta-tapi bang..."
"Udah gausah tapi-tapi!" potong Jamal.
Mereka pun berlari ke arah rusa tersebut, Jamal dan Ujang bersiap dengan senapan mereka dan membidik secara hati-hati.
Sementara Thoriq dan Mia hanya menyaksikan saja aktivitas Jamal serta Ujang, mereka bingung harus berbuat apa.
"Sayang, aku gak mau ah lama-lama sama mereka!" ujar Mia ketakutan.
"Tenang ya sayang!" ucap Thoriq menenangkan gadisnya.
"Gimana bisa tenang? Mereka ngeri-ngeri banget tau, mana bawa senapan lagi," ucap Mia.
"Ya namanya juga pemburu sayang," ucap Thoriq kini memeluk wanitanya.
******
"Hehe, iya Bu aamiin! Insyaallah abis lulus aku bakal nikahin Aurora!" ujar Willy.
"Hah??" Aurora terkejut bukan main.
"Eh, kamu kenapa kayak gak senang gitu Aurora? Kamu gak mau dinikahin sama aku?" tanya Willy.
"Bu-bukan gitu Willy, tapi kan kamu udah janji buat nungguin aku lulus kuliah dulu," jawab Aurora.
"Iya juga sih," lirih Willy.
"Lagian ngapain sih kamu mau buru-buru nikahin nak Aurora? Takut diambil orang lain ya?" ujar Bu Ani sambil terkekeh kecil.
"Itu salah satu alasannya Bu, soalnya Aurora ini kan cantiknya bukan main. Aku gak mau lah ada cowok lain yang embat dia," jawab Willy.
"Ngomong apa sih kamu? Mana ada yang berani rebut aku dari kamu? Yang ada mereka nanti bakal dihajar dan dibikin masuk ke UGD sama kamu," ucap Aurora.
"Hahaha, iyalah itu yang bakal aku lakuin kalau sampai ada yang deketin kamu!" kekeh Willy.
"Oh iya, keasyikan ngobrol sama cewek cantik sih Bu jadi lupa waktu!" ucap Willy sambil menatap wajah Aurora.
Seketika Aurora kembali tersipu mendengar ucapan yang dilontarkan Willy.
"Cie cie mukanya merah cie," goda Willy.
"Apa sih kamu? Malu tau ada ibu sama teman kamu!" sentak Aurora.
"Gausah malu, mereka mah gak akan masalahin itu kok. Ya kan Bu? Sasha?" kekeh Willy.
"Eee..." Sasha tampak gugup dan bingung.
"Hahaha, udah lah kalian jangan mesra-mesraan terus! Yuk kita sarapan mumpung masih ada waktu!" ujar Bu Ani.
"Tau nih Willy, malah godain aku terus!" cibir Aurora.
"Tapi kamu senang kan digodain sama aku?" kekeh Willy sembari mendekap tubuh gadisnya.
"Apa sih ih?!" Aurora memukul serta mendorong tubuh Willy darinya.
Willy terkekeh saja dengan tingkah menggemaskan pacarnya itu, rasanya ingin sekali ia terkam Aurora saat ini jika tidak ada Bu Ani dan Sasha.
Akhirnya mereka pun sama-sama melangkah ke meja makan, yang mana disana sudah tersedia makanan pemberian Sasha.
"Ayo dimakan dong Willy, Aurora!" pinta Bu Ani.
"Eee Bu, kayaknya aku makan sandwich buatan Aurora aja deh. Gak enak juga kalau aku gak makan," ucap Willy melirik ke arah Aurora.
"Ohh, iya benar juga sih. Terserah kamu aja mau makan yang mana," ucap Bu Ani.
"Ayo nak Aurora, dimakan dong makanannya!" sambungnya seraya menatap wajah Aurora.
"Ah iya Bu, aku kebetulan udah sarapan tadi di rumah. Jadi, aku masih kenyang sekarang," ucap Aurora.
"Oalah pantas," ucap Bu Ani.
******
Mereka yang ada disana merasa terharu mendengar ucapan Chalvin, memang benar bahwa sangat sulit untuk saling melupakan satu sama lain apabila sudah sangat lama bersama-sama.
"Tapi Vin, tetap aja lu harus bilang dulu sama Willy! Dia itu kan leader kita disini, jadi yang bisa terima lu di the darks ya cuma dia!" ucap Leo.
"Iya betul, bentar deh gue coba dulu telpon ke nomor si Willy," sahut Zafran.
"Eh gausah, nanti malah ganggu dia sekolah lagi! Udah biar nanti siang aja gue kesini lagi, siapa tahu Willy udah balik kan?" ujar Chalvin.
"Iya sih, terserah lo aja deh. Pastinya kita senang banget bro karena lu balik lagi ke the darks!" ucap Zafran.
"Hahaha, gue juga Zaf!" balas Chalvin.
"Eh guys, gimana kalau kita rayain gabungnya Chalvin di the darks?" usul Leo.
"Hah rayain gimana maksud lo?" tanya Tedy.
"Ya rayain, kita bikin party buat menyambut kembalinya Chalvin di the darks. Acaranya nanti malam di markas besar, gimana pada setuju gak?" jelas Leo.
"Wah gue sih setuju! Udah lama kita gak party, markas besar juga jarang kita datangin. Pasti asik tuh kalo diadain pesta disana!" ucap Syakur.
"Gue juga setuju sama usul Leo!" sahut Jeki.
"Wih mantap pada setuju! Gimana nih Zaf? Lo setuju juga gak?" ujar Leo.
"Eee gue sih setuju aja..." Zafran sengaja menggantung ucapannya.
"Tapi, tetap kita harus minta izin dulu sama Willy. Kita gak boleh ngadain acara apapun itu tanpa konfirmasi dulu sama ketua kita," lanjutnya.
"Zafran benar, kalian sebagai anggota harus menghormati ketua kalian!" ujar Chalvin.
"Iya Zaf, Vin, kita semua ngerti kok. Cuma si Willy itu yang gak bisa ngertiin kita, dia sebagai leader kok malah jarang datang kesini," ucap Arif.
"Betul! Sekalinya kesini pasti bawa cewek, terus malah fokus pacaran," timpal Syakur.
"Hus kalian gak boleh ngomongin leader kalian sendiri di belakang kayak gitu! Gimana kalau Willy tahu dan gak terima?" tegur Chalvin.
"Tau nih, kebiasaan banget emang mereka!" timpal Zafran menggelengkan kepala.
"Ya gimana lagi Vin? Emang faktanya begitu," ucap Syakur.
"Tetep aja kalian gak boleh begitu, kalau si Willy tau dan gak terima gimana?" ujar Chalvin.
"Iya, kita gak akan kayak gitu lagi kok. Tapi, beneran kan ini lu mau balik ke the darks?" ucap Arif.
"Masih aja lu nanya kayak gitu, ya iyalah beneran. Ngapain juga gue main-main soal itu coba?" jawab Chalvin.
"Hahaha, mantap dah biar geng kita makin rame dan kuat!" ujar Arif tampak sangat gembira.
******
"Maksud kamu apa? Kamu mau ngapain ajak aku ke rumah kamu?" tanya Ayna.
"Gak ngapa-ngapain kok sayang, aku cuma pengen kenalin kamu sama rumah aku. Emang salah ya kalau aku bawa pacar aku ini ke rumah aku?" jawab Randi sambil tersenyum miring.
"Ya enggak sih, tapi beneran kan gak mau ngapa-ngapain? Awas loh ya kalau kamu mesum lagi disana!" ancam Ayna.
"Iya iya, gak bakal kok sayang," ucap Randi seraya mencubit hidung gadisnya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan membuat keduanya terkejut.
"Ehem ehem, misi pak bos!" sapanya.
Seketika Randi langsung mendongakkan wajahnya ke arah si pelayan, ia tersenyum tanpa menjauhkan tangannya dari inti Ayna.
"Ada apa sih? Saya kan belum panggil kamu, kenapa kamu udah datang?" tegur Randi.
"Eee..."
"Yeh malah bengong, ditanya sama bosnya itu dijawab bukan diam aja!" potong Randi.
"Maaf bos! Saya cuma mau tawarin makan atau minum aja gitu," ujar si pelayan.
"Hadeh, yaudah saya pesan coffe latte satu!" sentak Randi.
"Baik pak bos! Makanannya?" ucap si pelayan.
"Umm, nanti saya pikir-pikir dulu. Kamu buatin aja kopinya dan jangan ganggu saya!" ucap Randi.
"Eh sayang, aku belum pesen tau. Masa cuma kamu doang yang pesan minuman? Kan aku juga haus," ucap Ayna dengan nada manja.
"Oh iya ya, sampe lupa aku kalau ada kamu. Yaudah, kamu mau pesan apa cantik?" ujar Randi.
"Aku mau cappucino nya satu ya?" ucap Ayna pada si pelayan.
"Baik, ditunggu ya!" ucap si pelayan.
Lalu, pelayan itu pun pergi dan Randi serta Ayna kembali melanjutkan obrolan mereka.
"Kamu kok galak banget sih?" tanya Ayna.
"Gapapa, itu wajar." Randi menjawab dengan senyuman.
"Wajar darimana? Terus kamu bakal galak juga sama aku gitu dan bilang kalau itu wajar?" sentak Ayna dengan wajah betenya.
"Kok jadi ke kamu? Ya beda lah sayang," ucap Randi sambil tersenyum.
"Emangnya kalau ke aku, kamu gak bakal galak kayak gitu?" tanya Ayna dengan manja.
"Uhh ya jelas enggak dong sayangku cintaku!" jawab Randi mantap sembari mencubit hidung serta kedua pipi gadisnya.
"Iya deh aku percaya, tapi tetap aja kamu gak boleh galak begitu sama karyawan kamu! Mereka kan kerja disini tau," ucap Ayna.
"Ya ya ya," singkat Randi.
Randi pun mendekap Ayna dengan erat seakan tak mau melepasnya, mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk saling memeluk disana.
"Kamu wangi banget sih! Pake sabun apa coba?" ucap Randi sambil mengendus wangi gadisnya.
"Ada deh, kamu gak boleh tau! Nanti kamu malah ikut-ikutan pake sabun itu," ujar Ayna.
"Dih emang kenapa kalau aku ikut pake? Gak boleh?" tanya Randi heran.
"Ya gak boleh lah, itu kan khusus perempuan," jawab Ayna.
"Ohh, hahaha.." Randi tertawa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh tapi sayang, bukannya gak ada salahnya ya kalau cowok pake sabun perempuan? Malahan enak tau jadi tambah wangi," ucap Randi.
"Tetep gak boleh Randi sayang! Aku gak mau kamu terlalu wangi, terus nanti cewek-cewek jadi pada nempel ke tubuh kamu!" ucap Ayna.
"Oh gitu, duh perhatian banget sih sayang aku yang satu ini!" ujar Randi.
Ayna hanya tersenyum saat Randi mencolek dagunya yang lancip dan mencium kedua pipinya.
Bersambung....