
My love is sillie
Episode 82
•
"Stop ya kak! Jangan tuduh Willy yang enggak-enggak! Kamu gak tahu Willy kayak gimana, jadi stop bilang begitu!" tegas Aurora.
"Sudah sudah! Jangan berdebat!" ucap Johan.
Martin dan Aurora pun menghentikan perdebatan mereka sesuai permintaan Johan.
"Maaf om! Saya cuma mau meluruskan Aurora, supaya dia tidak semakin terjebak ke dalam kejahatan Willy." ucap Martin.
"Cukup Martin! Ini sudah tengah malam, lebih baik kamu pulang saja! Terimakasih karena kamu sudah menemani om buat cari Aurora!" ucap Johan.
"Tapi om—"
"Cepat pulang Martin!" potong Johan.
Martin mendengus kesal, berbalik lalu pergi dengan tangan terkepal.
"Pah, Willy itu gak jahat!" ucap Aurora pada Johan.
"Iya sayang iya, papa kan gak bilang Willy jahat. Besok papa akan ikut ke sekolah kamu, kita temui pelaku penculikan kamu itu!" ucap Johan.
"Buat apa pah? Kan masalahnya udah kelar, Willy tadi udah kasih pelajaran kok ke dia." ucap Aurora.
"Itu saja gak cukup sayang, papa mau dia ditangkap polisi!" ucap Johan.
Aurora menganga lebar, menatap Willy dengan wajah bingung. Jujur saja Aurora tidak mau memperpanjang masalah ini, karena ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk nantinya.
"Pah, gausah lah pah! Aku sama Willy aja ya yang urus semuanya, jangan papa!" pinta Aurora.
"Iya om, insyaallah saya bisa jamin kalau Max gak akan mungkin mengulangi perbuatannya!" sahut Willy.
"Kenapa kamu bisa bicara begitu, Willy? Apa yang bikin kamu yakin, ha?" tanya Johan.
"Karena saya akan berikan penjagaan ekstra untuk Aurora, dan kali ini saya tidak mungkin kecolongan lagi! Aurora pasti akan aman!" jawab Willy.
"Baiklah, om pegang kata-kata kamu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Aurora, maka kamu yang akan om mintai pertanggungjawaban!" ujar Johan.
"Siap om!" ucap Willy.
"Yasudah, ayo kita masuk Aurora!" ucap Johan.
"Sebentar pah! Aku mau bicara dulu sama Willy, papa masuk aja duluan ya!" ucap Aurora.
"Yaudah deh, tapi jangan lama-lama ya sayang! Papa tunggu kamu di dalam, kamu harus istirahat dan makan yang banyak!" ucap Johan.
"Iya pah, gak lama-lama kok. Aku cuma pengen bicara sebentar sama Willy," ucap Aurora.
Johan mengangguk kecil, lalu menatap Willy sekilas sambil tersenyum sebelum melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Titip Aurora ya Willy! Terimakasih karena kamu tadi sudah menolong putri saya!" ucap Johan.
"Iya om, sama-sama. Harusnya saya yang minta maaf sama om, karena saya sempat gagal jagain Aurora sampai dia diculik sama orang lain." ucap Willy.
"Gapapa, itu bukan salah kamu. Yasudah, papa masuk ke dalam dulu ya?" ucap Johan.
"Iya pah," ucap Aurora mengangguk kecil.
Johan pun pergi dari sana meninggalkan putrinya berdua dengan Willy.
Setelah papanya pergi, Aurora kembali mendekat ke arah Willy sambil tersenyum.
Tentu Willy menyambut gadisnya dengan senang hati dan meraih satu tangannya.
"Ada apa sayang? Kamu mau bicara apa sama aku? Belum puas ya tadi kamu udah peluk-peluk sama ngobrol bareng aku?" tanya Willy.
"Kalau ditanya puas apa enggak, ya jelas enggak lah. Kamu kan tahu sendiri, tadi hampir setengah hari aku diculik sama Max. Jadi, aku gak bisa ketemu sama kamu deh. Makanya sekarang aku mau bicara lagi sama kamu sebelum aku masuk ke dalam," jawab Aurora.
"Duh, kamu manis banget sayang! Sebetulnya aku juga gak pengen pisah sama kamu malam ini, justru aku maunya bawa kamu ke hotel dan kita tidur berdua disana." ujar Willy sambil nyengir.
"Ish kamu mesum banget sih!" ucap Aurora seraya mencubit pinggang dan lengan Willy berkali-kali.
"Ahaha, kok mesum sih? Bukan mesum sayang, tapi itu karena aku terlalu sayang sama kamu. Aku gak bisa gak ketemu kamu walau satu detik aja, karena kamu selalu muncul di bayangan aku." ucap Willy sambil terkekeh kecil.
"Tapi gak gitu juga, sayangku. Kalau kita tidur berdua di hotel, yang ada kamu nanti bisa dihajar sama papaku." ucap Aurora.
"Hehe, iya juga sih. Yaudah, kita tidur berduanya di rumah aku aja. Disana kan ada ibu sama ayah aku, jadi papa kamu gak akan marah." ucap Willy.
"Ya kalo gitu mah namanya bukan tidur berdua dong, tapi berempat." ucap Aurora.
"Tetap berdua, kan sewaktu ayah sama ibu tidur, aku bakal menyelinap ke kamar kamu. Terus kita tidur berdua deh sampe pagi, jadi aku bisa tidur sambil peluk kamu." ucap Willy.
"Aih kamu emang dasar mesum!" cibir Aurora.
"Hahaha.. hahaha..." Willy tertawa lepas.
**
Johan yang sudah masuk ke dalam rumahnya, sengaja mengintip Aurora dan Willy dari balik jendela.
Johan pun melihat putrinya yang sedang tertawa bersama Willy di depan sana, ia merasa senang karena Aurora bisa sebahagia itu.
"Papa gak nyangka, akhirnya papa bisa lihat kamu tertawa sebahagia itu sayang. Sepertinya Willy memang pria yang tepat buat kamu, papa salah karena sempat meragukan dia." ucap Johan.
Sangking asyiknya menatap ke luar, Johan sampai tak ingin beralih dari tempatnya saat ini dan terus memandangi putrinya sambil senyum-senyum.
******
Keesokan harinya, Kiara datang ke sekolah seperti biasa dan langsung melangkah menuju kelasnya setelah diantar oleh Martin.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai Kiara harus bertemu dengan Max yang sudah menunggunya di lorong.
Kiara pun terkejut saat melihat Max disana, entah mengapa ia cemas jika pria itu akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya.
"Halo Kiara!" ucap Max sambil tersenyum.
"I-i-iya, ha-halo! Kamu kenapa cegat aku? Ini kan jalan umum, aku boleh lewat dong?" ucap Kiara.
"Tentu aja kamu boleh lewat sini, tapi setelah kamu jawab pertanyaan aku." ucap Max.
"Pertanyaan apa?" ucap Kiara keheranan.
"Kamu kan yang udah kasih tau Willy kalau aku bicara sama kepala sekolah waktu itu? Kamu juga yang bikin Willy tuduh aku, terus marah-marah sama aku sampe kita hampir ribut." tanya Max.
Deg!
Kiara berdebar-debar mendengarnya, dugaan ia sedari tadi ternyata benar bahwa Max memang ingin membahas soal itu.
"Aduh! Aku harus jawab apa dong sekarang? Gak mungkin aku jujur ke dia!" batin Kiara.
Max perlahan mendekat ke arah Kiara, hingga membuat gadis itu mundur dan menyentuh tembok.
"Ka-kamu mau apa...??" tanya Kiara gemetar.
"Aku cuma mau kamu jujur sama aku!" jawab Max.
"Bukan aku yang bilang begitu ke Willy, lagian aku kan juga gak tahu kamu bicara apa aja sama kepala sekolah waktu itu." ucap Kiara mengelak.
"Kamu gausah ngelak lagi Kiara! Aku tahu kok kamu pelakunya, jadi kamu jujur aja daripada aku bikin kamu menyesal!" ucap Max.
"Maksud kamu apa? Emangnya kamu mau apain aku?" tanya Kiara ketakutan.
"Hahaha, kamu gausah takut Kiara! Aku gak akan apa-apain kamu kok, asalkan kamu mau jujur sama aku." jawab Max sambil mencolek pipi Kiara.
"Aku udah jujur daritadi, tapi kamu aja yang gak percaya!" ucap Kiara tegas.
"Kamu itu bohong!" ucap Max.
"Aku gak bohong, aku sudah katakan yang sejujurnya sama kamu. Bukan aku yang udah kasih tahu Willy tentang kamu ngobrol sama kepala sekolah, lagian aku juga gak ada urusan dengan itu." elak Kiara.
"Baiklah Kiara, kalau kamu gak mau jujur sama aku sekarang, nanti biar aku paksa kamu untuk jujur dengan cara yang menyeramkan! Ayo kamu ikut sama aku!" ucap Max.
Max mencengkeram lengan Kiara dengan kuat dan memaksanya untuk pergi dari sana.
"Ish, lepasin aku! Kamu gak bisa paksa-paksa aku kayak gini, lagian aku juga udah jujur sama kamu!" geram Kiara.
"Aku gak percaya sama kamu! Ayo ikut denganku, kita bicara lebih lanjut tentang apa yang sudah kamu lakukan!" ujar Max.
"Gak! Aku gak mau!" tolak Kiara.
Max terus memaksa Kiara dan coba menarik lengannya, namun Kiara tak menyerah begitu saja dan terus memberikan perlawanan.
"Ayo ikut aku!" tegas Max.
"Gak mau!" ucap Kiara.
Tiba-tiba saja ada yang datang dan menepis tangan Max dari lengan Kiara.
Itu adalah Aurora, si cantik yang baru datang ke sekolah setelah diantar Willy.
"Jangan suka paksa orang buat turutin kemauan lu! Dengar ya Max, Kiara berhak buat gak mau ikut sama lu! Jadi, mending sekarang lu pergi dan jangan ganggu dia lagi!" ucap Aurora.
"Kamu ngapain sih Aurora? Kamu mending jangan ikut campur deh! Ini urusan aku sama Kiara, biar kita berdua yang selesaikan semuanya. Kamu pergi aja dari sini!" ucap Max.
"Gue gak akan pergi, sebelum lu pergi duluan! Gue bakal tetap disini belain Kiara, karena gue tahu betapa jahatnya lu!" ucap Aurora.
"Oke, aku aja yang pergi!" ucap Max pasrah.
Akhirnya Max tak memiliki pilihan lain, ia pun pergi dari sana walau sebenarnya masih ingin berbincang dengan Kiara.
"Makasih ya Aurora!" ucap Kiara sambil tersenyum.
"Sama-sama Kiara, lu gapapa kan?" ujar Aurora.
"Gak kok, aku baik-baik aja." jawab Kiara.
"Syukur deh!" ucap Aurora.
******
Para anggota black jack tengah berkumpul di markas mereka membicarakan kegagalan mereka sebelumnya.
Tampak kekecewaan di wajah Billy dan yang lainnya, lantaran mereka telah gagal membuat Aurora tetap disana.
"Aaarrgghh sial! Gimana caranya si Willy bisa tau tempat ini? Dan yang lebih bikin gue bingung, kok si Max juga bisa ketangkap sih sama anak-anak the darks?" ujar Billy keheranan.
"Entahlah, mungkin aja mereka papasan di jalan. Terus si Willy maksa Max buat kasih tau dimana Aurora berada, sampai akhirnya Max bawa dah tuh mereka kesini." tebak Choky.
"Bisa jadi sih, tapi darimana si Willy tau kalo Max yang udah culik Aurora?" tanya Billy.
"Gak tahu, coba aja nanti lu tanya langsung ke Max pas dia datang kesini!" jawab Choky.
"Kalo menurut gue, apa gak sebaiknya kita copot jabatan Max dari leader geng kita?" usul Geri.
"Hah? Kenapa lu bilang gitu, Ger?" tanya Billy.
"Ya karena si Max itu gak bisa apa-apa, lihat aja semalam waktu dia ditangkap sama Willy dan teman-temannya! Dia pasrah aja kan, gak ngelawan sama sekali?!" jelas Geri.
"Iya sih, bener juga lu." ucap Billy.
"Jangan begitu lah guys! Bisa aja itu semua bagian dari rencana Max, kan kita gak tahu apa yang lagi dia rencanakan sekarang." ujar Choky.
"Ah rencana apa? Itu mah emang dia aja yang bego!" ujar Geri.
"Cukup guys! Geri, tolong jangan berasumsi sendiri kayak gitu! Kita gak bisa ambil kesimpulan kalau Max itu bodoh atau dia gak bisa apa-apa, karena kita gak tahu jalan pikirannya kayak gimana. Jadi, kalian semua diam aja!" ucap Ilham menengahi.
"Tapi Ham, dari beberapa hari ini emang gue lihat tuh si Max kayak gak ada perubahan tau. Dia gak punya strategi yang bagus, dan dia cuma mikirin masalah percintaannya aja!" ucap Geri.
"Terus, menurut lu kita harus gimana?" tanya Ilham.
"Ya kita gusur dia dari jabatannya di black jack! Kita cari leader baru yang pantas buat gantiin dia!" jawab Geri.
"Emang lu pikir gampang buat cari leader baru? Udah lah, kita percayai aja semuanya sama Max! Lagian dengan adanya Max di black jack, kita bisa hidup lebih enak bray!" ucap Ilham.
"Gue setuju sama Ilham! Buktinya aja sekarang kita gak perlu susah-susah malak di jalanan lagi, kita udah bisa makan atau minum sesuka hati kita disini." sahut Billy.
"Ya justru itu yang bikin nama black jack lemah di mata masyarakat guys!" geram Geri.
"Iya sih Ham, kita jadi gak pernah lagi menebarkan kekuatan black jack ke masyarakat. Gimana kalau kita gak ditakutin lagi?" sahut Choky.
"Biar nanti gue diskusiin itu sama Max, kalian semua tenang aja! Gue yakin Max punya rencana sendiri buat bikin nama geng black jack ditakuti di masyarakat, jadi kalian gausah mikirin tentang itu!" ucap Ilham.
"Oke! Semoga aja Max emang bisa diandalkan! Kalau enggak, kita singkirin aja dia dari jabatan leader black jack!" ucap Geri emosi.
"Sabar Ger! Nanti siang si Max mau datang kesini lagi, kita adakan rapat penting untuk membahas kemajuan geng black jack. Kalian semua sekarang boleh bubar dulu, terserah mau kemana!" ujar Ilham.
"Yah bubar kemana Ham? Gue gak ada kegiatan lain selain ngumpul disini," ujar Billy.
"Hahaha, dasar ansos lu Bil! Yaudah, lu stay disini aja jaga basecamp ya!" ucap Choky.
"Ah bacot lu! Sukanya ngeledek gue mulu!" cibir Billy.
"Udah udah, jangan ribut! Yang mau pergi silahkan pergi, yang masih pengen disini juga terserah! Gue pergi duluan ya, gue harus sekolah!" ucap Ilham.
"Oke Ham, siap!" ucap Choky.
Ilham pun bangkit dari duduknya, mengambil tas sekolahnya dan pergi menuju motor yang sudah terparkir di depan sana.
Sementara yang lainnya tetap disana, terutama Billy karena dia memang tidak punya kegiatan lain selain berkumpul bersama teman-temannya.
"Kalo gitu gue juga mau pergi guys, nanti siang gue balik lagi!" ucap Geri.
"Oke Ger, hati-hati lu!" ucap Billy.
Satu persatu anggota geng black jack pergi dari sana, hingga hanya menyisakan Billy.
Bersambung....