
My love is sillie
Episode 108
•
Willy dan Aurora tiba di sebuah hotel yang sudah mereka booking sebelumnya.
Kini keduanya berada di kamar hotel itu, Willy langsung menutup serta mengunci pintu rapat-rapat.
Tanpa basa-basi, kedua insan yang saling mencintai itu terduduk berdampingan di pinggir ranjang king size itu sambil saling berpegangan tangan.
Willy terus mengusap punggung tangan Aurora, perlahan mulai naik sampai menyentuh area leher jenjang sang kekasih.
Willy pun menyibakkan rambut Aurora ke belakang, hingga terpampang lah leher mulus dan putih milik Aurora itu.
Cup!
Aurora sedikit terkejut dengan apa yang barusan Willy lakukan, ya pria itu secara tiba-tiba mengecup lehernya dan membuatnya mengerang nikmat.
"Akh!" erangan Aurora semakin bertambah begitu pria itu turut meremass bagian dadanya.
"Wil, kamu yakin mau ngelakuin ini? Bukannya tangan kamu lagi sakit, emang bisa?" tanya Aurora.
"Tangan aku emang sakit sayang, tapi bawah aku ini udah berdiri tegak dan gak tahan buat masuk ke sarangnya itu." jawab Willy.
"Ya ampun Willy! Disaat seperti ini kamu masih sempat-sempatnya ya mesum begitu, dasar ketua geng mesum!" ujar Aurora.
"Hahaha, suruh siapa kamu cantik banget kayak gini? Aku kan jadi tergoda tau," ucap Willy.
"Ih itu mah punya kamu aja yang baperan! Perasaan aku juga gak ngapa-ngapain daritadi, masa langsung berdiri?" ucap Aurora.
"Ya emang gitu sih dia, tapi cuma kalo sama kamu aja kok sayang." ucap Willy menggoda kekasihnya.
"Iya iya, aku percaya!" ucap Aurora.
"Yaudah, aku boleh kan berarti minta jatah dari kamu sekarang?" tanya Willy pada kekasihnya.
Aurora terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengangguk karena tak ada pilihan lain.
"Yes! Thanks baby!" ucap Willy kegirangan.
"Kamu kayak orang abis dapet sembako aja," sindir Aurora.
"Hahaha, ini lebih menyenangkan daripada dapat sembako sayang!" ucap Willy nyengir.
"Hadeh, terserah kamu aja deh!" ujar Aurora.
Willy yang sudah mendapat izin, langsung saja mendorong tubuh Aurora hingga terjatuh ke atas ranjang dan menindihnya.
Pria itu mencumbu leher serta wajah Aurora dengan ganas seakan lupa kalau dia sedang terluka di bagian tangannya.
Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Willy untuk menanggalkan semua pakaian Aurora, kini wanita itu sudah full naked.
Willy pun bangkit sebentar untuk melepas seluruh pakaiannya, lalu kembali menindih Aurora dan mengarahkan senjatanya ke milik wanita itu.
Bless...
Penyatuan keduanya pun terjadi, Willy terus memompa dengan kecepatan sedang seraya memainkan gundukan kenyal milik Aurora.
Hampir setengah jam mereka bermain di atas ranjang itu, sampai akhirnya Willy pun mencapai puncaknya.
"Aakhhh!!" Willy mencabut miliknya dan mengeluarkan cairan di atas perut rata Aurora.
"Hah hah hah! Aku puas banget sayang, rasanya luar biasa!" ucap Willy seraya berbaring di samping Aurora dan memeluk wanitanya itu.
"Kamu untung inget buat cabut, kalau keluar di dalam lagi bisa gawat deh!" ucap Aurora.
"Iya, tapi sebenarnya aku mau sih keluar di dalam. Aku kan pengen punya anak dari kamu," ucap Willy sambil mengusap perut kekasihnya.
"Ih gak sekarang Willy!" ujar Aurora.
"Hahaha, aku selalu tunggu waktunya baby!" ucap Willy yang kembali merapatkan tubuhnya dengan sang kekasih.
******
Disisi lain, Martin juga baru saja selesai menikmati tubuh Kiara sampai lelaki itu mendapat kepuasan.
Ya mereka memang tidak melakukan penyatuan, itu karena Martin tak mau merenggut kesucian gadisnya sebelum menikah.
Kiara juga masih ingin menjaga kesuciannya, itulah sebabnya ia melarang Martin melakukan lebih dari sekedar menjamah tubuhnya.
Cup!
Martin mengecup kening gadis itu yang dipenuhi keringat dan mengeratkan pelukannya dengan sang kekasih.
"Terimakasih ya cantik!" ucap Martin tersenyum lembut seraya membelai wajah kekasihnya.
"Sama-sama tuan, makasih juga karena tuan mau nurut buat gak masukin itu!" ucap Kiara.
"Iya, saya kan gak mau paksa kamu sayang. Saya pengennya kita sama-sama menikmati, bukan saya doang." ucap Martin.
"Nanti kalau aku udah siap, aku pasti bakal izinin kamu deh buat lakuin itu tuan." ucap Kiara.
"Okay! Saya pasti sangat menantikan momen itu, jadi gak sabar saya buat rasain goa punya kamu!" ucap Martin.
"Hahaha, sabar dulu dong tuan!" ujar Kiara.
Martin tersenyum lebar dan mengusap-usap puncak kepala gadis itu.
"Yaudah, makan yuk!" ajak Martin.
Kiara mengangguk setuju, dirinya juga membutuhkan asupan makanan setelah mendapat pelepasan beberapa kali akibat ulah Martin.
Martin pun bangkit dan mengangkat tubuh Kiara ala bridal style, membawanya turun dari ranjang untuk menuju meja makan.
"Duh tuan, ngapain pake gendong aku segala sih? Aku masih bisa jalan tau," ujar Kiara.
"Gapapa sayang, aku tahu kamu masih lemas, makanya aku gendong kamu." ucap Martin.
"Yaudah deh gapapa, aku ngikut aja sama tuan. Makasih ya tuan udah perduli sama aku!" ucap Kiara sambil tersenyum.
"Gak perlu terimakasih untuk itu sayang, aku senang kalau kamu senang!" ucap Martin.
Martin mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan membawa Kiara di gendongannya.
Mereka kini telah berada di meja makan, Martin benar-benar memperlakukan Kiara layaknya seorang ratu saat ini.
"Ayo dimakan cantik! Ini semua kan kesukaan kamu, pasti kamu suka deh!" ucap Martin.
"Iya tuan, terimakasih ya! Tuan baik banget deh sama aku!" ucap Kiara.
"Harus dong sayang, kamu itu kan pacar aku dan aku mau bikin kamu ngerasa nyaman tinggal sama aku! Jadi, kamu gak akan mikirin Willy lagi." ucap Martin sambil tersenyum.
Kiara mengangguk pelan, jujur ia sangat senang dengan perlakuan Martin padanya saat ini. Namun, tetap saja dirinya masih sulit melupakan Willy.
"Yaudah, ayo dimakan biar kuat lagi!" ujar Martin.
"Ah iya tuan, tuan juga makan dong biar kita sama-sama makan!" ujar Kiara.
"Siap sayang!" ucap Martin.
Akhirnya mereka sama-sama menikmati makanan itu.
******
Willy kini mengajak Aurora pulang ke rumahnya setelah mereka selesai bermain dua ronde.
Ya mereka memang pulang dengan mobil Aurora, karena Willy tak bisa mengendarai motor.
Wanita itu tampak lelah dan masih merasakan nyeri di bagian bawahnya saat berjalan.
"Awhh sshh perih!" Aurora meringis menahan sakit.
"Kamu kenapa sayang? Sakit?" tanya Willy.
"Iya nih, gara-gara kamu!" jawab Aurora ketus.
"Eee ya maaf cantik! Terus, sekarang aku harus ngapain biar kamu gak kesakitan lagi?" tanya Willy kebingungan.
"Kamu turun aja, terus istirahat jangan kemana-mana dulu!" jawab Aurora.
"Loh kok gitu? Kamu sendiri gimana sayang? Kuat nyetir sampe rumah sendiri?" tanya Willy.
"Kuat kok, buktinya ini aku bisa anterin kamu sampai ke rumah." jawab Aurora.
"Ya jangan dong! Kalau kamu ikut, terus kamu nanti pulangnya lagi naik apa?" ucap Aurora.
"Kan aku bisa naik taksi, pokoknya aku tuh mau pastiin kamu sampai rumah baik-baik aja!" ucap Willy.
"Gausah sayang, udah kamu turun aja terus masuk ke rumah kamu buat istirahat!" ujar Aurora.
"Gimana aku bisa istirahat kalau perasaan aku cemas? Udah ya cantik, kamu nurut aja sama aku!" ucap Willy kekeuh.
"Ih kamu susah banget sih dikasih taunya! Aku gak mau kamu ikut ke rumah aku, mending kamu turun aja cepet!" ujar Aurora.
"Gak akan, titik! Aku mau antar kamu pulang, aku gak bisa diam aja di rumah!" ucap Willy.
"Huft, kamu emang kepala batu ya Wil!" cibir Aurora merasa kesal.
Willy tersenyum lebar, lalu menggunakan satu tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala kekasihnya.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mengetuk pintu mobil Aurora dari luar sana.
"Hah? Itu ibu," ujar Willy.
Aurora geleng-geleng kepala, menekan tombol pembuka jendela dan menyapa Bu Ani alias ibu dari Willy itu.
"Assalamualaikum Bu," ucap Aurora.
"Waalaikumsallam, kalian kenapa diam aja disini? Kok gak turun sih?" tanya Bu Ani bingung.
"Iya Bu, ini tapi Willy gak mau turun dan katanya malah mau anterin aku pulang." jawab Aurora.
"Kenapa gitu?" tanya Bu Ani heran.
"Ya karena aku khawatir sama Aurora Bu, aku takut dia kenapa-napa kalau pulang sendiri!" jawab Willy.
"Aduh aduh, romantis banget sih kamu Willy! Tapi, emang kamu bisa temenin Aurora? Tangan kamu aja lagi sakit begitu, yang ada malah nyusahin nanti pulangnya gak bisa." ledek Bu Ani.
"Tuh kan sayang, dengerin kata ibu kamu!" ucap Aurora.
"Hmm,"
******
Ilham memberanikan diri mengikuti Sasha sampai ke depan rumah gadis itu.
Ia tersenyum lebar begitu melihat Sasha turun dari motor dan masuk ke dalam rumahnya.
Ilham pun yakin bahwa kali ini ia tidak salah alamat, karena itu adalah benar rumah miliknya.
"Akhirnya ketemu juga rumahnya!" ujar Ilham.
Tentu saja Ilham langsung turun dari motornya, lalu menghampiri Sasha sebelum gadis itu masuk lebih jauh.
"Hai Sasha cantik!" sapa Ilham sambil nyengir.
"Loh, Ilham? Lu ngapain disini coba? Lu ngikutin gue ya?" ujar Sasha terkejut hebat.
"Iya aku ngikutin kamu, tapi cuma supaya aku tahu dimana rumah kamu." jawab Ilham santai.
"Mau ngapain lu tau rumah gue? Jangan cari gara-gara deh! Mending lu pergi dari sini, gue gak mau abang gue sampe lihat lu disini!" ujar Sasha.
"Emang kenapa sih? Aku kan cuma pengen main aja Sasha, apa salahnya?" ujar Ilham.
"Jelas salah besar lah itu! Gue gak pernah mau ada cowok datang ke rumah ini, begitu juga abang gue! Dia bakal hajar setiap cowok yang modus sama gue, mau lu dihajar?!" ucap Sasha.
"Aku gak mau modus Sya, aku cuma mau silaturahmi. Kamu gak boleh dong halangi niat orang yang mau silaturahmi!" ucap Ilham.
"Ah tau ah serah lu aja!" kesal Sasha.
Disaat Sasha hendak berbalik dan masuk ke rumahnya, Ilham lebih dulu menahan lengannya dari belakang dan memaksanya untuk tetap disana.
"Ish, apaan sih lu?! Lepasin gak tangan gue!!" bentak Sasha emosi.
"Aku akan lepasin, asal kamu bolehin aku buat masuk ke dalam!" ujar Ilham.
"Lu kenapa maksa-maksa gitu sih? Gue udah bilang gak boleh, ya gak boleh. Lu gak bisa maksa main ke rumah orang gitu aja dong!" kesal Sasha.
"Aku cuma mau ngobrol-ngobrol sama kamu Sya, aku janji gak akan macam-macam!" paksa Ilham.
"Tetep aja gak boleh, jangan maksa!" tegas Sasha.
"Please lah Sasha, kali ini aja kok! Lain kali aku gak akan datang lagi ke rumah kamu, aku janji! Kamu bisa pegang kata-kata aku!" ucap Ilham.
"Gue gak percaya, lu itu cuma besar omongan doang! Udah ah sana pergi!" ujar Sasha kesal.
Ilham melemahkan pegangannya, membiarkan Sasha lepas dari genggamannya.
"Oke deh, aku bakal pergi. Tapi, tolong kamu mau jalan sama aku nanti malam ya!" ucap Ilham dengan nada memelas.
"Jalan? Idih ogah banget, gak mau gue!" ujar Sasha menolak mentah-mentah ajakan Ilham.
"Kok gitu sih kamu? Emangnya kamu gak kasihan apa sama aku?" tanya Ilham jengkel.
"Buat apa kasihan?" ucap Sasha.
******
Willy dan Aurora telah sampai di rumah Johan, yang tentu saja juga tempat tinggal Aurora.
Sebelumnya Aurora memang sudah memberi izin pada Willy untuk menemaninya pulang.
"Nah sampe, kalo gini kan aku lega." ujar Willy.
"Iya, makasih ya kamu udah perhatian banget sama aku sayang!" ucap Aurora tersenyum tipis.
"Pastinya dong, aku kan pacar kamu." ucap Willy.
"Yaudah, kamu langsung pulang ya! Nanti aku minta supir buat antar kamu pulang ke rumah, okay?!" ucap Aurora.
"Terserah kamu aja deh, aku nurut kali ini sama pacar aku yang cantik!" ucap Willy sambil mengusap wajah kekasihnya.
"Nah gitu dong, sekali-kali kamu juga harus nurut sama aku sayang! Jangan cuma kamu aja yang maksa aku buat nuru sama kamu!" ucap Aurora.
"Iya iya, udah turun yuk!" ucap Willy.
Aurora mengangguk setuju, lalu mereka pun sama-sama turun dari mobil dan melangkah menuju halaman rumah wanita itu.
"Pak Ridho, nanti tolong antar Willy pulang ke rumahnya ya!" ucap Aurora pada supirnya.
"Ah siap non!" ucap supir bernama Ridho itu.
"Yaudah, yuk sayang kita ketemu papa dulu!" ucap Aurora menggandeng lengan kekasihnya.
"Oke cantik!" ucap Willy menurut.
Mereka kembali melangkah sampai teras rumah wanita itu, disana lah mereka bertemu dengan Johan yang baru keluar rumah.
"Loh Aurora, Willy, kalian sudah pulang?" tanya Johan dengan wajah heran.
"Iya pah, emangnya kenapa sih? Aku gak boleh pulang sekarang ya?" ujar Aurora bingung.
"Hahaha, gak gitu sayang. Papa cuma heran aja, abisnya gak biasanya kalian pulang cepat. Biasanya juga kalian kan pada pergi dulu sampe malam," ucap Johan.
"Eee iya om, hari ini kita berdua emang gak jalan-jalan jauh. Soalnya tangan saya kan masih sakit, jadinya Aurora minta saya buat cepat-cepat istirahat di rumah." jelas Willy.
"Wah benar begitu Aurora?!" tanya Johan pada putrinya.
"Iya papa, aku kan gak mau Willy kenapa-napa. Tangannya ini harus dibawa istirahat, gak boleh pergi-pergi terus." jawab Aurora.
"Bagus begitu sayang! Kamu memang harus perduli sama kekasih kamu ini!" ucap Johan.
"Iya papa, makanya aku minta Willy buat istirahat. Yaudah, kamu langsung pulang aja ya sayang!" ucap Aurora.
"Eh jangan dong! Emang Willy gak disuruh masuk dulu, dibuatin minum gitu?" ujar Johan.
"Umm, kamu mau?" tanya Aurora pada Willy.
"Boleh sih," jawab Willy tanpa segan.
"Huh dasar kamu!" cibir Aurora.
Bersambung....