My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 136. Semakin dalam



My love is sillie


Episode 136



"Wil, emang Sasha masih sering datang ke rumah kamu ya?" tanya Aurora.


"Eee gak juga sih, baru kemarin sama hari ini. Emangnya kenapa? Kamu cemburu?" jawab Willy.


"Ah eee enggak lah ngapain?!" elak Aurora.


"Masa sih? Kelihatan loh dari wajah kamu, pasti kamu cemburu kan? Udah sayang, ngaku aja kali kalo kamu cemburu!" ucap Willy.


"Apa sih?! Kamu gausah kege'eran deh, aku gak cemburu! Aku tuh cuma tanya dan penasaran aja, ngapain gitu Sasha masih datang ke rumah kamu. Aku gak ada maksud lain," ucap Aurora.


"Iya iya sayangku, aku percaya aja deh sama kamu mah!" ucap Willy seraya memeluk kekasihnya.


"Jangan peluk-peluk ah gak enak tau kalo diliat ibu atau bapak kamu!" ujar Aurora berontak.


"Gapapa, tenang aja!" ucap Willy sambil tersenyum.


"Iya nak Aurora, gak perlu malu di depan bapak mah." keduanya sama-sama kaget mendengar suara seorang lelaki yang muncul dari arah dapur mendekati mereka.


"Hah bapak??!" Aurora tersentak kaget, ia coba melepas pelukan Willy tetapi gagal karena pria itu malah menahannya.


"Ih Willy lepas, malu tau ada bapak kamu!" ujar Aurora coba berontak.


"Kamu kenapa sih? Bapak aku perasaan biasa-biasa aja gak marah, ya kan pak?" ucap Willy dengan santai.


"Iya, udah gapapa nak Aurora namanya juga anak muda. Dulu bapak sama ibunya Willy juga begitu kok," ucap pak Gunawan.


Aurora terbelalak mendengarnya.


"Pantas aja anaknya begini," batin Aurora.


Melihat Aurora terdiam, Willy malah dengan santainya mengecup pipi gadis itu di hadapan sang ayah.


Cup!


"Ih Willy!" protes Aurora.


"Abisnya kamu kenapa diem aja? Terpesona ya sama ketampanan aku?" goda Willy yang tak berhenti mengendus leher Aurora.


"Willy, kamu jangan kayak gini di depan bapak kamu! Aku gak enak tau!" bisik Aurora.


"Iya iya, aku bicara sama bapak dulu ya?" ucap Willy kemudian beralih menatap pak Gunawan. Aurora yang mendengar itu dibuat sangat kaget.


"Wil, kamu mau ap—"


"Pak, bapak gak mau kemana gitu pak? Aurora malu katanya kalau ada bapak," ucapan Aurora terpotong oleh perkataan tidak sopan Willy kepada bapaknya sendiri.


Sontak Aurora terkejut karena Willy dengan berani mengusir papanya demi bisa berduaan dengannya disana, sungguh tidak beradab.


"Ya ya ya, ini bapak juga mau ke depan kok. Sudah, kalian ke meja makan aja sana! Sarapannya udah disiapin sama ibu, jadi nak Aurora juga bisa sekalian sarapan!" ucap pak Gunawan.


"Ah eee i-i-iya pak, makasih!" ucap Aurora.


"Yaudah, bapak ke depan dulu ya?" ucap pak Gunawan lalu berlalu pergi.


Willy tersenyum dan kembali menatap gadisnya.


"Sayang, sekarang kan bapak udah ke depan. Jadi, kamu gak perlu malu lagi! Cium aku dong!" ucap Willy dengan manja.


"Hah? Cium? Cium pipi maksud kamu kan?" kaget Aurora.


"Ya bukanlah sayang, cium bibir yang aku mau. Atau enggak, aku yang cium kamu duluan nih," ujar Willy seraya memegang bibirnya.


"Ih gak mau!" tolak Aurora.


"Ohh gitu..." tanpa aba-aba, Willy menarik tengkuk Aurora dan mencium bibirnya cukup lama.


"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora coba berontak tetapi gagal.


******


Martin mengangguk pelan, dia turun dari mobil untuk membantu Max yang sedang berkelahi dengan geng motor disana.


Max tampak kewalahan, hampir saja dia terkena pukulan jika Martin tak datang.


"Hey hentikan!!" teriaknya.


Sontak mereka menghentikan pertarungan itu, wajah Max sudah berdarah sedikit akibat pukulan dari orang-orang itu.


"Bang, tolongin gue bang! Mereka gak jelas banget tiba-tiba serang gue, padahal gue gak kenal dan gak ngerasa punya urusan sama mereka. Ketemu juga baru kali ini," ucap Max ngos-ngosan.


"Heh! Lo gausah ikut campur, ini masalah kita sama tuh orang!" bentak si ketua geng.


"Masalah apaan? Gue aja gak kenal sama kalian, jangan ngarang deh!" elak Max.


"Bener-bener lu ya, udah bawa kabur uang kita terus sekarang pura-pura gak kenal segala!" geram si ketua geng.


"Hah??!" Max terkejut bukan main, dia benar-benar bingung setelah dituduh seperti itu.


"Bawa kabur uang kalian? Apa benar begitu Max?" tanya Martin menatap ke arah Max.


Max terdiam, dia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Itu tidak benar Martin, gue gak pernah bawa kabur uang mereka! Gue aja baru kali ini ketemu sama mereka, gimana bisa gue ambil uang mereka?!" elak Max.


Martin sama sekali tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Max, dia bisa tahu kalau lelaki itu sedang jujur.


"Ah maling mana ada yang mau ngaku! Sekarang lo serahin duit itu, atau kita bakalan hajar lo berdua sampai masuk rumah sakit!" teriak si ketua geng mengancam Max.


"Bang Martin, gimana ini bang??" tanya Max panik.


"Kita hadapi mereka bersama, lo gak boleh jadi laki-laki pengecut!" sentak Martin.


"Ta-tapi bang.."


"Maju Max!" potong Martin.


Mau tidak mau, Max pun terpaksa ikut menyerang geng motor tersebut bersama Martin.


Kiara yang masih di dalam mobil, merasa bingung dan cemas melihat Martin serta Max berkelahi dengan geng motor itu. Ia khawatir jika salah satu diantara mereka akan terluka.


"Duh, aku harus gimana ya buat bubarin mereka? Apa aku telpon polisi aja?" gumam Kiara.


"Iya non, ada baiknya kita hubungi polisi non. Supaya tuan Martin juga bisa selamat," sahut sang supir.


"Eee i-i-iya deh pak, tapi bapak turun dong bantu tuan Martin lawan orang-orang itu!" ujar Kiara.


"Waduh! Saya bukan gak mau bantu tuan Martin non, kalau saya turun nanti non Kiara gimana?" ucap supir itu.


"Halah alasan aja kamu! Yaudah, saya mau telpon polisi dulu?" ucap Kiara.


"Siap non!" ucap si supir.


Kiara pun mulai menghubungi polisi.


******


"Oh ya, omong-omong ini si Willy kemana dah? Gue pengen ketemu dan ngobrol lagi sama dia," tanya Chalvin sambil celingak-celinguk.


"Dia mah datang kesini nya gak nentu, kadang siang sehabis pulang sekolah, tapi kadang juga malam-malam baru datang. Kalau pagi-pagi begini, dia pasti masih asyik pacaran sama ceweknya," jawab Zafran.


"Betul tuh, si Willy udah jarang banget kumpul sama kita! Ya mungkin dia lagi dimabuk cinta, wajar sih ceweknya cakep banget udah kayak bidadari khayangan," sahut Leo.


"Hahaha, masa sih? Gue jadi penasaran sama ceweknya si Willy yang sekarang," ujar Chalvin.


"Tunggu aja bro, dia kadang suka kesini bareng ceweknya. Ya tapi gue juga gak tahu kapan sih," ucap Zafran.


"Okelah!" ucap Chalvin singkat.


"Eh ya, ini perasaan gue doang atau emang geng the darks makin sepi? Si Randi, Thoriq sama Farrel pada kemana dah?" tanya Chalvin heran.


"Eee Thoriq sama Farrel udah keluar dari the darks bro," jawab Zafran.


"Hah? Kenapa??" Chalvin terkejut bukan main.


"Apa??!" kaget Chalvin.


"Iya bro, makanya sekarang kita kehilangan anggota. Dan sampai saat ini, kita belum temuin pengganti mereka," ucap Zafran.


"Duh, berat juga ya?" ujar Chalvin.


"Ya begitulah bro, makanya sekarang kekuatan the darks itu rada berkurang. Kita aja gak bisa hadapin geng black jack tanpa Willy, kita selalu babak belur tiap mereka datangi kita," ucap Zafran.


"Hah? Black jack? Geng mana lagi itu? Geng baru?" tanya Chalvin amat kaget.


"Itu geng black punyanya si Ilham, mereka bikin geng baru yang lebih besar dan kuat. Sekarang mereka juga masih jadi musuh kita," jelas Zafran.


"Hah??" kaget Chalvin.


"Betul Vin, makanya kita lagi berusaha buat cari anggota baru di geng the darks. Supaya kita bisa mengimbangi kekuatan black jack, apalagi sekarang mereka juga dibacking sama Martin si mafia besar itu," ucap Leo.


"Berarti mereka kuat-kuat juga dong?" tanya Chalvin.


"Iya, itu karena pengaruh Martin. Kenapa Vin? Lo pengen coba lawan mereka?" ujar Leo.


"Eee gue..."


"Kalau iya lu mau, mending lu gabung aja deh sama kita lagi kayak dulu!" potong Leo.


"Nah betul tuh, gue setuju sama ucapan Leo! Lo balik aja ke the darks ya!" sahut Zafran.


"Justru emang itu yang mau gue sampein ke kalian, gue pengen balik kesini dan gabung sama kalian lagi," ucap Chalvin.


******


"Sayang, kamu gak marah kan karena tadi aku masuk kamar kamu gitu aja?" tanya Randi.


"Enggak kok sayang, buat apa aku marah? Lagian mana bisa sih aku marah sama kamu?" jawab Ayna.


"Makasih ya sayang! Berarti kapan-kapan boleh dong aku masuk kamar kamu lagi?" ujar Randi.


"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.


"Hahaha, bercanda kok sayang. Tapi, kalau emang dibolehin sih gapapa. Aku ngerasa nyaman ada di kamar kamu kayak tadi," ucap Randi.


"Boleh boleh aja, asalkan gak ada kak Geri mah. Udah ah jangan bahas itu terus, yuk kita jalan ke luar!" ujar Ayna.


"Kamu mau pergi kemana emang sayang?" tanya Randi seraya mendekap tubuh gadisnya.


"Umm, kemana aja asalkan sama kamu deh." jawab Ayna sembari menaruh wajahnya di dada sang kekasih.


Randi tersenyum lebar, mencium pipi Ayna serta mengusap rambutnya.


Mereka pergi dari rumah itu, Randi sengaja membawa Ayna ke cafe nya lebih dulu untuk sekedar sarapan.


"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.


"Oke!" Ayna mengangguk singkat.


Mereka duduk berdampingan di cafe itu, Randi terus menatap wajah gadisnya dan tersenyum.


"Kamu cantik banget sih!" goda Randi.


"Ah kamu bisa aja!" ucap Ayna.


Randi semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka dengan tangan yang terus mengusap rambut sang wanita.


"Ka-kamu mau apa? Jangan dekat-dekat Randi, malu!" ucap Ayna.


"Rileks sayang!" bisik Randi sensual.


"Ih kamu bilang tadi gak akan mau macam-macam ya sayang! Malu tau banyak orang!" sentak Ayna.


"Banyak darimana? Enggak ada tuh," ujar Randi.


"Tetap aja aku malu, kamu gausah kayak gini dong Randi sayang!" ucap Ayna dengan gugup.


Pria itu justru tersenyum dan menaruh tangannya di atas paha sang kekasih, mengusapnya lembut membuat Ayna merasa geli.


"Eemhh, Randi jangan nakal!" ucap Ayna berusaha menyingkirkan tangan Randi, tetapi gagal.


"Sssttt udah diem aja sayang! Kamu nyaman kan diginiin?" goda Randi.


"Gak nyaman, yang ada aku malah deg-degan takut ada yang lihat kita. Udah lah Randi, cepet lepasin tangan kamu!" sentak Ayna.


"Kalau aku gak mau gimana?" ucap Randi yang kini malah mengecup ceruk leher Ayna.


"Ahh.." de-sah Ayna tak tertahankan saat pria itu mengendus lehernya dengan mesra.


Tangan Randi bergerak semakin dalam, menyentuh bagian intim wanitanya dengan lembut yang membuat sang empu makin gelisah.


"Akh Ran, please!" lirih Ayna.


"Kamu suka kan? Nanti abis dari sini, kamu ke rumah aku ya? Supaya kita berdua bisa bebas ngapain aja," ucap Randi.


"Maksud kamu apa? Kamu mau ngapain ajak aku ke rumah kamu?" tanya Ayna.


******


"Kalau begitu, kita harus gimana nih dan rencana kalian buat abisin geng the darks kayak apa? Pasti udah ada kan rencananya?" tanya Rimba.


"Eee sebenarnya kita juga belum tahu sih, kita masih nunggu bang Martin. Karena kita gak berani buat rencana tanpa sepengetahuan dia, biar gimanapun dia kan leader kita," jawab Ilham.


"Yah berarti percuma dong gue datang kesini, karena gak ada si Martin?" ujar Rimba.


"Sabar bro! Mungkin sebentar lagi bang Martin bakal datang kesini," ucap Ilham menenangkan.


"Iya bro, lo tunggu aja dulu sambil minum!" sahut Billy.


Rimba mengangguk-angguk saja, lalu meminum minuman yang sudah disediakan oleh anggota black jack untuknya.


"Gue mau tanya deh sama lo, sebenarnya masalah lo sama anak the darks tuh apa?" tanya Rimba.


"Hah? Lo nanya begitu ke gue bro? Asal lu tahu ya, black jack dan the darks itu musuh bebuyutan! Kita gak akan pernah damai sama mereka sampai kapanpun, karena Willy udah bikin kita sengsara!" jelas Ilham dengan keras.


"Oh begitu, pantas aja lo kelihatan emosi banget. Gue suka nih yang begini, anak-anak the darks emang harus dikasih pelajaran supaya mereka gak semena-mena terus sama kita!" ucap Rimba.


"Iya tuh, kita harus abisin mereka!" timpal Billy.


"Gue punya saran buat kumpulin seluruh geng di Jakarta, gue bakal minta bantuan ke mereka untuk menghabisi anak-anak the darks," usul Rimba.


"Hah??!" kaget Ilham. "Serius lo bro?" sambungnya terkejut bukan main.


"Ya iyalah, semakin banyak orang yang kita kumpulin, semakin besar juga kemungkinan kita buat abisin anak-anak the darks! Mereka itu punya Willy, jadi kita harus waspada!" ucap Rimba.


"Kelihatannya lu takut banget sama Willy, lu udah pernah tarung sama dia terus kalah ya?" ledek Ilham.


Braakkk...


"Lo jaga kata-kata lo anjir!!" bentak Rimba emosi sembari menggebrak meja disana.


"Bro sabar bro, rileks! Lo kenapa jadi emosi kayak gini? Lo lupa kalau lo sekarang lagi ada di markas kita?" ujar Ilham tersenyum miring.


Rimba melirik ke sekeliling, terlihat para anggota black di sekitarnya menatapnya dengan tajam.


"Lo harus jaga sikap disini bro, kalau gak mau kita hajar sampai lu masuk UGD!" ucap Ilham sekali lagi mengingatkan Rimba.


"Oke, gue minta maaf!" ucap Rimba mengalah.


"Hahaha, takut juga ya lo ternyata sama ancaman kita?" kekeh Ilham.


"Ya iyalah Ham, dia kan cuma sendiri disini. Kalau dia ngelawan, bisa jadi ayam geprek dia!" timpal Billy.


"Hahaha..." anggota black jack lainnya pun ikut tertawa.


"Jangan ketawain gue kayak gitu kalian! Kita ini kan mau kerjasama, gak boleh lah saling mengejek!" ucap Rimba.


"Ya ya, makanya lain kali lu jaga sopan santun kalau ada di wilayah kita!" ucap Ilham.


"Siap salah! Gue minta maaf!" ucap Rimba.


Bersambung....