
My love is sillie
Episode 112
•
Willy akhirnya menemukan keberadaan Randi di cafe tersebut, ia terkejut karena Randi tengah bermesraan bersama seorang wanita disana.
Sementara Aurora masih merasa jengkel pada Willy karena minumannya diminum oleh kekasihnya itu sampai tersisa setengah.
"Si Randi sama cewek, siapa ya itu? Apa pacarnya dia?" gumam Willy dalam hati.
Aurora yang sadar bahwa ia tidak diperhatikan oleh Willy, semakin kesal dan jengkel. Ia akhirnya menoleh ke arah Willy dengan tatapan emosi.
"Ish Willy!" Aurora menegur pria itu.
"Hah, iya sayang? Kenapa?" ujar Willy terkejut.
"Ih malah nanya kenapa lagi! Kamu itu ngeliatin apa sih? Bukannya bujuk aku supaya gak marah lagi, eh malah matanya jelalatan kemana-mana!" ucap Aurora emosi.
"Ya maaf sayang, aku cuma lihatin si Randi itu disana!" jawab Willy.
"Randi? Randi teman kamu di the darks itu?" tanya Aurora.
"Iya sayangku, cintaku," jawab Willy lembut.
"Mana dia??" tanya Aurora tak percaya.
"Itu disana, lihat aja!" jawab Willy menunjuk ke arah Randi berada.
Aurora langsung tercengang melihat Randi bersama wanita cantik disana.
"Kok dia sama cewek? Itu siapa?" tanya Aurora.
"Ya itu dia sayang, aku juga gak tahu. Tapi, kayaknya sih dia pacarnya. Lihat aja tuh, mereka kelihatan mesra banget!" jawab Willy.
"Iya emang mereka mesra, terus kenapa? Kamu cemburu ya karena pacarnya Randi itu lebih cantik daripada aku? Kamu itu bener-bener ya, ngeselin banget sih!" ujar Aurora.
"Hah? Sejak kapan aku bilang dia lebih cantik dari kamu?" elak Willy.
"Halah bohong mulu! Ngaku aja kali kalau kamu emang merasa begitu, aku kesel ah sama kamu!" cibir Aurora.
"Kenapa lagi sih? Kan minuman kamu udah diganti yang baru tuh, masih ngambek aja deh," ucap Willy.
"Aku ngambek ya karena kamu ngeliatin pacarnya Randi, dasar mata keranjang!" ujar Aurora.
"Kok mata keranjang sih? Aku ngeliatin Randi sayang, bukan pacarnya. Kamu jangan salah sangka begitu dong sama aku! Aku ini setia sama kamu, beneran deh!" ucap Willy.
"Setia apanya? Paling kalau ada yang lebih cantik dari aku, pasti kamu bakal berpaling ke dia dan tinggalin aku!" ujar Aurora.
"Ya enggak lah sayang," ucap Willy.
Aurora membuang muka dan meminum minumannya dengan ekspresi kesal.
"Udah dong, jangan kesel lagi!" pinta Willy.
"Aku gak kesel, udah kamu makan tuh punya kamu! Kan udah dipesen, sayang kalo gak dimakan!" ucap Aurora.
"Aku maunya makan kamu aja gimana?" goda Willy.
"Ish, ngada-ngada!" ujar Aurora.
"Hahaha..." Willy tertawa lepas seraya mencolek pipi wanitanya.
"Jangan colek-colek! Emangnya aku sabun apa?!" protes Aurora.
"Kamu bukan sabun, tapi kamu enak buat dicolek." Willy menggeser posisinya menjadi lebih dekat dengan sang kekasih.
Aurora hendak menjauh, namun terlambat karena Willy lebih dulu menahan pundaknya.
"Ih Willy ngapain sih?! Kamu tuh gak boleh dekat-dekat sama aku, udah sana jauh-jauh!" ucap Aurora coba melepaskan diri.
"Kenapa emang?" tanya Willy heran.
"Aku gak mau disentuh sama cowok mata keranjang kayak kamu," jawab Aurora.
"Apa sih? Aku gak gitu loh, aku setia sama kamu!" ujar Willy.
"Nyenye..." ledek Aurora.
******
Sementara itu, Randi juga tampak terus memperhatikan Willy dan Aurora dari tempatnya duduk saat ini.
Ayna yang berada di sampingnya pun merasa heran, ia tak mengerti mengapa pria tersebut justru mengacuhkannya dan lebih fokus menatap ke arah lain.
"Ran, kamu lagi ngeliatin apa sih? Serius banget kayaknya sampe lupa sama aku," tegur Ayna.
"Eh eee, itu loh aku baru tahu ternyata ada teman aku juga disini," jawab Randi.
"Teman kamu? Siapa?" tanya Ayna penasaran.
"Eee dia ketua geng the darks, tuh yang lagi duduk di kursi sana sama perempuan!" jawab Randi seraya menunjuk ke arah Willy.
"Ohh, dia sama pacarnya?" tanya Ayna.
"Iya dong, cowok kayak dia mah gampang dapet pacar. Beda sama aku yang begini, mana bisa punya pacar?" jawab Randi.
"Kenapa kamu bilang gitu? Emang selama ini kamu belum pernah pacaran?" tanya Ayna.
Randi menggeleng disertai senyum tipisnya.
"Wah masa sih? Gak mungkin laki-laki setampan kamu belum pernah pacaran, pasti kamu punya dong pacar!" ujar Ayna.
"Kalau aku punya pacar, gak mungkin aku deketin kamu kayak gini," ucap Randi seraya merangkul pundak gadis itu.
Ayna cukup terkejut mendapat rangkulan dari Randi secara tiba-tiba.
"Kenapa? Kamu gak suka ya aku rangkul kayak gini? Bakal ada yang cemburu kalau aku giniin kamu?" tanya Randi pada Ayna.
"Eee bukan gitu, aku cuma kaget aja karena kamu tiba-tiba rangkul aku. Tapi, rasanya nyaman sih diginiin sama cowok," jawab Ayna.
"Hahaha, berarti suka kan?" tanya Randi lagi.
Ayna hanya mengangguk kecil, wajahnya saat ini juga sudah memerah menahan rasa malunya.
"Duh, merah banget tuh pipi!" sindir Randi.
"Ih apa sih?!" ucap Ayna malu-malu.
"Yaudah, makan dulu gimana? Mau aku suapin atau makan sendiri?" ujar Randi.
"Suapin? Aku bukan anak kecil, aku bisa makan sendiri kali," jawab Ayna.
"Iya aku tahu, tapi barangkali kamu mau aku suapin biar romantis gitu," ucap Randi.
"Romantis? Tapi, kita kan gak pacaran. Kenapa kamu mau suapin aku?" ujar Ayna.
"Gak harus pacaran kali biar romantis, kan bisa berteman tapi mesra. Ya kecuali kalau kamu mau diajak pacaran, pasti aku gak nolak," ucap Randi.
"Mau kok!" ucap Ayna spontan.
Sontak Randi langsung terkekeh kecil melihat ekspresi Ayna yang menggemaskan, apalagi ucapan gadis itu amat membuatnya gembira.
"Yakin nih mau pacaran sama aku?" tanya Randi.
"Eee kita makan aja dulu yuk!" ucap Ayna coba mengalihkan pembicaraan.
"Makan mah gampang, jawab aja dulu pertanyaan aku!" ucap Randi.
"Ih nanti aja bahas itu, aku udah lapar nih!" ujar Ayna.
Randi tersenyum saja.
******
Ilham kembali datang ke rumah Sasha dengan motornya, ia berniat mengajak gadis itu untuk pergi bersamanya menikmati hari libur ini.
Namun, Ilham tak pernah menyerah untuk mendekati Sasha. Ia ingin terus berusaha agar dapat memiliki gadis itu.
"Huft, semoga aja bang Ferro gak ada di rumah kali ini! Jadi, gue gak perlu ketemu dia," ujar Ilham.
Ilham turun dari motornya, mendekat ke pagar rumah Sasha sembari membawa bunga di tangannya.
"Permisi, good morning!" ucap Ilham lantang.
"Siapa??" Ilham tersenyum lebar mendengar jawaban dari Sasha.
"Yes, Sasha yang jawab!" girang Ilham.
Tak lama kemudian, gadis itu muncul dari dalam rumahnya menghampiri Ilham yang sedang berdiri di depan sana.
"Ilham, ngapain sih lu datang kesini lagi? Lo belum puas udah dihajar sama abang gue?" tanya Sasha.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih? Aku kesini bukan buat diajar lagi tau, tapi aku pengen ajak kamu jalan sama aku mumpung hari libur. Kamu mau kan cantik?" jawab Ilham sambil nyengir.
"Gausah ngaco deh! Gue gak akan pernah mau jalan sama lu, jadi jangan harap!" tegas Sasha.
"Ayolah Sasha, ini aku udah bawain bunga buat kamu loh!" melas Ilham.
"Gue gak perduli, mau lu bawa bunga atau apa kek, gue tetap gak mau jalan sama lu!" ujar Sasha.
"Kenapa sih emang? Gue kurang apa coba? Gue lebih ganteng loh dari Willy," tanya Ilham.
"Bukan soal ganteng, tapi emang gue gak suka sama lu. Tolong dong lu ngertiin perasaan gue, jangan paksa gue terus kayak gini!" jawab Sasha.
Ilham terdiam menunduk, ia merasa sedih lantaran Sasha terus-menerus menolaknya.
"Udah ya, gue mau istirahat di dalam. Sekali lagi lu muncul di hadapan gue, jangan salahin gue kalo abang gue bakal hajar lu lagi!" ancam Sasha.
"Mau abang kamu hajar aku sampai masuk UGD sekalipun, aku tetap gak akan menyerah untuk dapetin cinta kamu!" tegas Ilham.
"Gue gak cinta sama lu, tolonglah jangan paksa gue buat terima cinta lu! Cinta gue ini cuma buat Willy, paham?!" ucap Sasha.
"Willy lagi Willy lagi, gue bakal bunuh tuh orang biar lu gak terus-terusan mikirin dia! Lo itu cuma boleh buat gue, Sasha!" ucap Ilham.
"Dih siapa lu? Kalo lu mau bunuh Willy, silahkan aja coba! Gue yakin banget, gak mungkin lu bisa ngalahin dia!" ucap Sasha.
Ilham kembali terdiam, Sasha yang sudah kesal pun masuk begitu saja ke dalam rumahnya.
******
Martin membawa Kiara ke bioskop untuk menonton film di hari libur yang cerah ini.
Memang Kiara yang meminta Martin agar mereka bisa menonton hari ini.
"Kamu mau pesan popcorn sama minum dulu gak? Barangkali nanti di dalam kamu lapar lagi, jadi kita gak perlu repot-repot keluar," tanya Martin.
"Umm, boleh deh tuan. Ya kalau gak ngerepotin tuan sih, soalnya kan harga makanan sama minuman disini tuh mahal-mahal," jawab Kiara.
"Mau semahal apapun itu, kalau buat kamu ya pasti aku bakal beliin lah. Kamu gak perlu mikirin harga lagi kalo sama aku mah," ucap Martin.
"Iya deh iya, aku lupa kalau kamu itu kan sultan dan kekayaan kamu di atas rata-rata. Jadi, apapun pasti bisa kamu beli," ucap Kiara.
"Nah itu tau, yaudah ayo kita kesana dan beli popcorn buat kamu!" ucap Martin seraya menggandeng tangan gadisnya.
"Kok cuma buat aku sih? Kamu emangnya gak mau nonton sambil makan juga nanti di dalam?" tanya Kiara.
"Kan bisa makan berdua, biar romantis. Lagian aku gak terlalu suka popcorn, aku lebih suka kamu terutama dada kamu," jawab Martin.
"Ish, kamu mesum banget sih!" cibir Kiara.
"Hahaha, gak ada salahnya kan? Toh di dalam bioskop nanti gelap, jadi aku bisa bebas sentuh-sentuh dada kamu tanpa ketahuan," sarkas Martin.
Kiara menggeleng pelan, sedangkan Martin malah terus menggodanya.
Sesudah membeli popcorn dan minum, kini keduanya pun masuk ke dalam studio bioskop.
Martin sengaja memilih tempat di pojok belakang agar kegiatannya nanti tidak dilihat orang lain.
"Kenapa kita duduk di pojok?" tanya Kiara.
"Kamu kayak gak tahu aja, saya kan udah bilang tadi waktu kita lagi beli popcorn. Kamu siap-siap aja ya, tahan suara kamu!" jawab Martin.
"Ih tuan beneran mau begitu disini? Aku kira cuma bercanda loh, jangan lah tuan aku takut ketahuan nanti!" ujar Kiara ketakutan.
"Gapapa, cuma sentuh-sentuh dikit aja kok. Kamu emangnya gak mau rasain sensasi main di bioskop?" goda Martin.
"Tapi, filmnya kan nanti horor tau," ucap Kiara.
"Terus kalau horor kenapa? Kamu takut beneran ada hantunya disini dan gangguin aktivitas kita nanti?" tanya Martin.
"Ya gak juga sih, aku lebih takut kalau kita kepergok sama manusia," jawab Kiara.
"Tenang aja! Kita gak mungkin kepergok kok sayang, asalkan kamu bisa tahan suara kamu nanti pas saya sentuh kamu," ucap Martin.
Akhirnya Kiara tak mempunyai pilihan lain, selain menuruti kemauan Martin, walau sebenarnya ia sangat khawatir dengan apa yang hendak dilakukan Martin kali ini.
******
Willy dan Aurora baru menyelesaikan aktivitas makan siang mereka di cafe itu, tampak keduanya hendak pergi dari sana.
Namun, Aurora masih saja merasa jengkel pada Willy akibat kelakuan pria itu yang membuatnya kesal karena tak mengindahkannya.
"Rora, mau sampai kapan kamu kayak gini terus sama aku? Aku kan udah coba jelasin sama kamu, masa kamu belum ngerti juga sih?! Ayolah sayang, maafin aku ya!" bujuk Willy.
"Iya sayang, udah kamu gausah mikirin itu terus ya!" ucap Aurora sambil tersenyum.
"Kalo gitu coba dong kamu senyum sama aku! Jangan cemberut terus lah!" pinta Willy.
"Kamu mau aku senyum?" tanya Aurora yang tentunya dibalas dengan anggukan oleh Willy.
"Yaudah, kamu jangan lirik-lirik cewek lain lagi kayak tadi!" ucap Aurora mengingatkan kekasihnya.
"Kapan sih aku lirik-lirik cewek lain? Cuma kamu yang ada di hati aku sayang," elak Willy.
"Apa iya? Buktinya tadi kamu sempat lirik pacarnya Randi, itu apa kalo bukan curi-curi pandang?" ucap Aurora kesal.
"Udah lah sayang, jangan dibahas lagi! Aku minta maaf ya sama kamu, aku janji deh gak akan begitu lagi!" ucap Willy.
"Okay!" ucap Aurora singkat.
Wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya, diikuti Willy yang tak mau menjauh darinya.
"Bentar dulu dong! Aku bayar dulu makanannya, baru kita bisa pergi dari sini," ucap Willy.
"Yaudah, kamu bayar aja sana! Aku tunggu di mobil, kamu tinggal nyusul kan!" ujar Aurora.
"Jangan dong sayang! Kita ke mobilnya barengan aja, kamu ikut aku dulu!" pinta Willy.
"Gak mau ah!" ucap Aurora ketus.
Saat Aurora hendak pergi, tiba-tiba Willy menahan lengannya dari belakang dan mencengkramnya kuat seakan tak mau melepaskannya.
"Apa sih sayang?! Lepasin ah!" ujar Aurora.
"Bentar dulu, kamu ikut aku bayar makanannya ya!" ucap Willy.
"Ih kamu mah maksa terus!" cibir Aurora.
"Hehe, kamu harus nurut sama aku kan kamu pacar aku!" ujar Willy.
"Baru pacar sayang, belum suami. Jadi, kamu belum bisa paksa aku!" ucap Aurora.
"Sama aja, intinya kamu harus tetap nurut dan patuh sama aku!" tegas Willy.
"Haish, ngeselin kamu ah!" kesal Aurora.
"Willy!" keduanya terkejut saat mendengar suara seorang pria yang memanggil nama Willy.
Bersambung....