
My love is sillie
Episode 90
•
Ilham dan para anggota black jack, tiba di sebuah tempat latihan silat sesuai arahan dari Choky.
Sesampainya disana, mereka kompak turun dari motor dan berjalan menghampiri si guru silat.
"Nah guys, ini dia tempatnya." ucap Choky.
"Terus, mana orangnya yang kata lu sakti itu?" tanya Ilham.
"Eee..." Choky terlihat celingak-celinguk mencari sosok guru silat untuk dikenalkan pada teman-temannya itu.
"Ada apa?" tiba-tiba saja seseorang muncul di sebelah mereka, membuat Ilham dan yang lainnya terkejut bukan main.
"Nah, ini dia orangnya. Halo bang Feri! Gue Choky yang suka nongkrong di depan sana," ucap Choky sambil tersenyum.
"Ya ya ya, gue tahu kok lu siapa. Terus, ngapain lu ajak teman-teman lu ke tempat gue? Mereka mau pada daftar silat sama gue?" ujar pria bernama Feri alias bang Feri itu.
"Enggak bang, kita kesini karena ada yang mau kita bicarain sama lu. Apa boleh kita bicara di tempat yang agak sepi?" ucap Choky.
"Oke! Ayo kita kesana!" ucap Feri.
"Siap bang! Guys, ayo kita ikutin bang Feri!" ucap Choky.
Ilham serta teman-temannya mengangguk saja, lalu melangkah mengikuti bang Feri.
Mereka kini duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia, bang Feri pun terlihat penasaran mengenai apa yang ingin disampaikan oleh Ilham dan teman-temannya itu.
"Jadi, apa yang mau lu-lu pada omongin sama gue? Penting atau enggak?" tanya Feri.
"Eee kita..." Choky menghentikan ucapannya saat Ilham menepuk pundaknya dari samping.
"Biar gue aja yang bicara sama bang Feri," pinta Ilham.
"Oh oke! Bang, teman gue ini yang mau bicara sama lu." ucap Choky.
"Yaudah, bicara aja cepet!" ujar bang Feri.
"Jadi gini bang, kita itu dari geng black jack. Kita butuh sosok seperti abang, buat backing geng kita ini bang." jelas Ilham.
"Backing geng kalian? Apa untungnya buat gue?" tanya bang Feri.
"Eee apapun yang lu mau, kita pasti bakal turutin." jawab Ilham.
"Yakin lu?" tanya bang Feri.
"Ya-yakin bang!" jawab Ilham agak gugup.
"Oke! Kalo gitu gue minta kalian buat pergi dari sini, gue bakal kabarin ke Choky kalau gue udah nemu jawabannya!" ucap Feri.
"Tapi bang, lu bisa kan buat jadi backing kita? Soalnya kita butuh banget orang kayak lu, supaya geng kita bisa ditakutin banyak orang dan disegani." ucap Ilham.
"Apa maksud lu? Lu pengen gue bantu kalian buat nyerang orang-orang gitu?" ujar Feri.
"Eee enggak bang, ki-kita..."
"Halah anjing lu! Emang lu pikir gue orang yang kayak gitu? Lu salah bro, mending lu semua pergi sana dan jangan harap gue bakal mau backing kalian! Dari dulu gue itu benci sama geng motor berandalan seperti kalian!" potong Feri.
"Bang, sabar dulu bang! Semuanya bisa dibicarain baik-baik, kita gak seperti yang abang kira kok. Disegani bukan berarti kita harus menyakiti yang lemah bang, kita cuma pengen kalahin geng-geng motor lain di luaran sana!" ucap Choky.
"Bacot lu Choky! Gak nyangka gue kalo lu ternyata gabung di geng motor berandalan kayak gini, jangan pernah lu deketin gue lagi! Udah udah, sana pergi lu semua!" ucap Feri.
Ilham yang tidak terima dengan itu, langsung menyerang Feri begitu saja.
"Banyak omong lu bangs*t!!" teriak Ilham.
Namun, belum sempat Ilham memukul Feri, pria itu sudah mampu menahan lengan Ilham dan memelintirnya sampai hampir patah.
Kreekkk...
"Pergi lu semua! Atau gue patahin nih tangan dia!" ancam Feri.
"I-i-iya bang, kita pergi kok. Tolong lepasin dia bang!" ucap Choky.
Bruuukkk...
Feri menghempas tubuh Ilham begitu saja hingga jatuh ke tanah.
"Aakkkhhh!!" teriak Ilham memegangi lengannya.
"Ham, lu gapapa Ham?" tanya Choky panik.
"Gapapa palalu peyang! Sakit anjing tangan gue! Cepet bantu gue berdiri!" bentak Ilham.
Choky dan Billy pun bergerak membantu Ilham, sedangkan Feri hanya tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan mereka.
******
Willy dan seluruh anggota the darks tiba di markas geng Altar yang dianggap sudah merebut wilayah kekuasaan mereka.
Dengan langkah tertatih-tatih akibat segitiga nya masih terasa sakit, Willy mendekat ke arah para anggota geng Altar tersebut.
"Heh! Maju sini lu semua bangs*t!" ucap Willy.
Sontak para geng Altar itu langsung tersulut emosi, mereka bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Willy disana.
"Wah wah ada sang jagoan ternyata! Mau apa lu semua kesini, ha?" ucap Nero (geng Altar).
"Pake nanya lagi lu bangs*t! Ya udah jelas lah, gue mau rebut balik wilayah gue yang udah kalian ambil! Sekarang terserah kalian, mau serahin secara baik-baik atau secara paksa!" ucap Willy.
"Enak aja lu kalo ngomong! Daerah kalian yang mana emang yang kita rebut, ha? Gausah ngada-ngada deh lu! Emangnya lu pikir kita takut sama kalian? Walau kalian sempat jadi raja jalanan, tapi kita gak pernah takut!" ujar Nero.
"Iya tuh, kalo kalian semua mau cari ribut kita bakal jabanin!" sahut Zian (geng Altar).
"Sikat!" perintah Willy pada teman-temannya.
Zafran mengangguk kecil, melangkah maju dan bersiap untuk menyerang para anggota Altar.
"SERAANGGG!!!" teriak Zafran.
Zafran pun bergerak memimpin penyerangan itu bersama para anggota the darks.
Sementara Willy memantau dari belakang sambil tersenyum dan memakan permen karet.
"Hadeh, sebenarnya tangan gue udah gatel buat serang mereka. Tapi, kondisinya lagi gak memungkinkan. Kalau gue paksain, yang ada segitiga gue makin nyeri." ucap Willy.
Bruuukkk...
Tak butuh waktu lama, the darks pun berhasil mengalahkan geng Altar dan membuat mereka semua tersungkur di tanah.
"Aakhhh!!" Nero memekik kesakitan.
Lalu, Zafran mempersilahkan Willy untuk berbicara pada Nero.
"Wil, lu bisa selesaiin sekarang!" ucap Zafran.
"Oke!" ucap Willy singkat.
Willy bergerak maju mendekat ke arah Nero serta para anggota Altar yang sudah tergeletak lemas.
"Heh! Jadi gimana? Masih mau ngelawan sama raja jalanan? Itu tadi baru setengah loh dari kekuatan the darks, kalau udah full dikeluarin semua, kalian pasti udah pada tewas di tempat!" ucap Willy tersenyum smirk.
"A-ampun Wil! Iya iya, kita balikin wilayah barat ke lu dan geng the darks. Tolong jangan abisin kita!" ucap Nero merintih kesakitan.
"Bagus! Awas ya kalau gue lihat lu atau teman-teman lu masih pada main disana, gue gak akan segan-segan buat abisin kalian!" ujar Willy penuh ancaman.
"Si-siap Wil!" ucap Nero gugup.
Willy mengangguk-angguk dan menegakkan tubuhnya seperti semula.
Cuihh..
Willy meludah ke arah Nero, membuang permen karet dari mulutnya hingga menempel tepat di wajah pria itu.
"Hahaha hahaha..." Zafran dan yang lainnya kompak tertawa melihat itu.
"Udah, ayo kita cabut! Kita deklarasikan wilayah barat sekarang sudah jadi milik kita lagi, supaya orang-orang disana gak ada yang kasih uang lagi ke mereka!" ucap Willy.
"Siap Wil!" ucap mereka menurut.
******
Kini Willy bersama Randi dan beberapa anggota the darks mendatangi markas geng lain yang bernama Alligator.
Seperti sebelumnya, mereka juga hendak merebut kembali wilayah yang seharusnya menjadi milik mereka dari kekuasaan geng Alligator.
Tanpa basa-basi, Willy memberi kode pada Randi melalui matanya agar Randi segera menghampiri pimpinan geng tersebut.
Tentu saja Randi mengerti, ia pun turun dari motor dan melangkah mendekat ke arah para anggota geng Alligator yang juga sudah berdiri.
"Heh! Mau apa lu-lu pada datang ke markas Alligator? Cari ribut?" ujar Kenzo (geng Alligator).
"Tenang tenang, jangan ngegas dulu! Kita kesini cuma mau bicara baik-baik sama kalian, jadi kalian jangan salah paham! Kalau kita bisa selesaikan ini dengan cara baik, maka kita gak perlu pakai kekerasan." ucap Randi dengan ramah.
"Ah banyak bacot lu! Langsung aja bilang, apa mau lu datang kesini?!" bentak Kenzo.
"Kurang ajar lu ya!" kesal Zafran.
"Tahan!" Randi spontan menghalangi Zafran yang hendak maju menyerang Kenzo.
"Dia ngeselin tuh!" ujar Zafran menunjuk ke depan.
"Sabar dulu! Biar gue bicara sama mereka, kalau kesepakatan gak bisa dicapai, baru deh lu bisa bertindak seperti tadi." ucap Randi.
"Oke!" ucap Zafran menurut.
Kenzo pun melangkah mendekat ke arah Randi dengan gaya menantang.
"Kalian mau apa?!" tanya Kenzo sekali lagi.
"Lu mending mundur deh! Gue mau bicara sama ketua kalian, bukan lu. Sekarang dimana ketua kalian itu?" ucap Randi.
"Lu gak perlu bicara sama ketua Hanif, cukup sama gue aja!" ucap Kenzo.
"Gue gak mau bicara sama lu, panggilin Hanif sekarang supaya semuanya cepat kelar!" ucap Randi tegas.
"Oke! Guys, panggil Hanif!" ucap Kenzo.
"Siap!" salah seorang anggota Alligator yang lain pun bergerak memanggil ketua mereka.
Tak lama kemudian, orang yang dipanggil Hanif itu muncul menghampiri mereka.
"Ini ketua kita," ucap Kenzo.
"Bagus! Kalau gitu langsung aja gue mau ngomong sama lu, ini masalah wilayah x yang kalian ambil alih dari kami, geng the darks." ucap Randi.
Hanif tampak berbicara menggunakan bahasa tubuhnya.
"Dia ngomong apa?" tanya Randi pada Kenzo.
"Kata ketua, kenapa sama wilayah itu?" jelas Kenzo.
"Ohh, kita semua mau kalian balikin wilayah itu ke geng the darks. Kalau enggak, kita pastikan kalian semua bakal tahu akibatnya nanti!" ucap Randi.
Lagi-lagi Hanif berbicara dengan bahasa tubuhnya, dikarenakan ia memang terlahir bisu.
"Heh! Lu bisa bicara kayak biasa aja gak sih? Pusing gue lihatnya, gue gak ngerti lu ngomong apa!" ujar Zafran emosi.
"Woi! Berani banget lu ngehina ketua Hanif kayak gitu, minta dihajar lu?!" ucap Kenzo membela ketuanya.
"Sabar Zaf! Ketua mereka itu emang bisu, jadi dia gak bisa ngomong. Kan gue bilang tadi, lu diem aja gausah ikut nimbrung!" bisik Randi pada Zafran.
"Oh gitu, iya deh iya sorry!" ucap Zafran.
Randi pun kembali menatap ke arah Kenzo dan juga Hanif sambil tersenyum.
"Eee maaf ya! Temen gue gak tahu kalau lu..."
"Ya gapapa, gausah dibahas!" potong Kenzo.
"Oke! Jadi, gimana keputusan kalian tadi?" tanya Randi.
"Ketua Hanif gak mau serahin wilayah itu ke kalian, dia bilang wilayah itu sekarang udah jadi hak milik kita. Kalian gak berhasil minta itu lagi," jawab Kenzo.
"Ohh, baiklah!" ucap Randi.
Randi langsung mundur dan memberi kode pada Zafran yang sudah bersiap-siap untuk melakukan penyerangan.
"Abis lu semua sama gue!" ujar Zafran.
******
Aurora tengah duduk santai di sofa ruang tamu miliknya sembari memainkan ponselnya.
Tak lama, Johan sang ayah muncul menghampiri Aurora dan duduk di sebelah putrinya.
"Anak papa yang cantik ini lagi ngapain sih? Kok mukanya ditekuk terus kayak gitu? Nungguin chat dari siapa, ha?" tanya Johan sedikit menggoda putrinya itu.
"Apa sih pah? Aku biasa aja kok, aku cuma tunggu chat dari Willy aja. Aku bingung kenapa dia gak ngabarin aku ya, pah?" jawab Aurora.
"Umm, mungkin dia masih marah sama kamu. Coba aja kamu chat atau telpon dia duluan!" ucap Johan memberi usul.
"Udah pah, tapi gak dibalas." ucap Aurora.
"Telpon?" tanya Johan.
"Gak diangkat-angkat, padahal nyambung." jawab Aurora.
"Duh, bingung juga nih papa." ujar Johan.
"Yaudah lah, mungkin emang dia udah gak perduli sama aku. Masa dia sampai semarah ini sama aku?" ucap Aurora cemberut.
Johan tersenyum saja, kemudian mendekat dan merangkul pundak putrinya.
Johan juga menaruh wajah Aurora di bahunya untuk menenangkan gadis itu.
"Jangan cemberut gitu dong sayang! Ayo kamu senyum lah, kamu juga gak boleh mikir yang enggak-enggak begitu!" ucap Johan.
"Tapi pah, itu benar kok." ucap Aurora.
"Kata siapa? Memangnya kamu dengar sendiri Willy bilang begitu sama kamu? Enggak kan? Itu semua baru dugaan kamu sayang, jadi belum pasti. Sudahlah, kamu jangan menduga-duga terus seperti itu!" ucap Johan sembari mengusap wajah putrinya dengan lembut.
"Iya pah, tapi papa tumben belain Willy, biasanya juga papa selalu mojokin dia." ujar Aurora.
"Papa sebenarnya gak belain siapa-siapa, papa cuma gak mau putri papa yang cantik jelita ini sedih gara-gara mikirin sesuatu yang belum pasti. Jadi, makanya papa mau hibur kamu!" ucap Johan.
"Makasih ya papaku yang tampan! Aku senang deh diperhatiin begini sama papa, aku bahagia banget bisa dekat sama papa kayak gini!" ucap Aurora.
"Sama sayang, papa juga senang." ujar Johan.
Aurora mengeratkan pelukannya sambil semakin membenamkan wajahnya di dada sang papa.
"Kita terus begini ya pah! Pokoknya aku gak mau jauh-jauh dari papa, awas aja kalau papa berubah lagi kayak dulu!" ucap Aurora posesif.
"Tenang aja sayang! Selagi papa masih hidup, papa akan usahakan untuk selalu ada di dekat kamu. Tapi, kalau kamu nanti sudah menikah, mungkin kita gak bisa sedekat ini lagi sayang." ucap Johan.
"Loh kenapa, pah?" tanya Aurora dengan polos.
"Ya kamu kan pasti bakal dibawa sama suami kamu, jadinya kita bakal jarang ketemu deh." jawab Johan sembari membelai rambut Aurora.
"Eee tenang aja pah! Nanti aku minta sama Willy, biar supaya dia aja yang tinggal disini, jadi aku bisa dekat terus deh sama papa." ucap Aurora.
"Hah? Memangnya kamu sudah yakin banget mau nikah sama Willy?" ujar Johan.
"Papa ih!" Aurora dibuat tersipu dengan kata-katanya sendiri.
"Hahaha, lucu banget sih anak papa kalo lagi cemberut gini!" ujar Johan sambil mencubit dua pipi putrinya.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan momen indah ayah dan anak itu.
"Siapa ya yang dateng?" ujar Johan bingung.
"Biar aku aja yang buka pah, papa disini aja ya!" pinta Aurora.
"Ya ya ya.." Johan mengangguk setuju.
Lalu, Aurora pun bangkit dari sofa dan bergerak menuju pintu untuk menemui tamu yang datang.
Bersambung....