My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 99. Amukan Willy



My love is sillie


Episode 99



Tedy mengangguk dan menggandeng tangan Ayna lalu pergi menjauh dari minimarket itu.


Ayna diam saja merasakan tangannya digenggam oleh Tedy, ia sebenarnya tak suka namun ia tidak berani protes.


Tedy pun melepas tangannya begitu mereka sudah menjauh dari minimarket.


"Nah, kita bicara disini aja. Duduk dulu yuk!" ucap Tedy.


Ayna menurut dan duduk di tempat yang tersedia, begitupun dengan Tedy.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Ayna penasaran.


"Teman aku si Randi bilang sama aku, katanya dia lihat musuh kita di rumah kamu dan kelihatan akrab sama kamu. Apa itu benar Ay?" jelas Tedy.


"Iya dong, itu kakak aku namanya Geri. Dia juga udah bilang sih soal Randi dan anak the darks, kalian itu emang musuhan ya?" ucap Ayna.


"Ya begitu deh Ay, the darks sama geng kakak kamu itu emang musuh berat. Makanya aku sedih banget pas dengar ternyata kamu ada hubungan sama mereka," ucap Tedy.


"Kenapa harus sedih?" tanya Ayna bingung.


"Karena aku jadi gak bisa dekat-dekat lagi sama kamu, aku takut kamu dimarahin sama kakak kamu itu." jawab Tedy.


"Jangan bilang gitu! Kita tetap bisa temenan kok, kamu gausah mikirin kak Geri! Dia gak bakal tau kalau kita temenan," ucap Ayna.


"Masa sih? Emangnya kamu gak bakal ditanyai-tanyain gitu sama dia?" ujar Tedy.


"Ya pasti ditanyain sih, tapi kan aku bisa bohong. Yang penting kita kalau ketemuan atau telponan jangan di dekat kak Geri aja! Misalnya sembunyi-sembunyi kayak gini," ucap Ayna.


"Boleh tuh usul kamu, aku setuju deh! Aku senang karena kamu masih mau dekat sama aku!" ucap Tedy.


"Iya, aku juga. Selama ini aku jarang banget punya teman cowok, makanya aku senang pas ketemu kamu sama teman-teman kamu itu." ucap Ayna.


"Hahaha.." mereka tertawa bersamaan.


"Ayna!" keduanya terkejut mendengar suara itu dan kompak menoleh.


Sontak saja Ayna langsung merasa takut dan khawatir mengetahui kakaknya ada disana.


Ayna dan Tedy pun sama-sama bangkit dari tempat duduk, menghadap ke arah Geri dengan tatapan bingung.


"Kak, kakak kenapa kesini?" tanya Ayna gugup.


"Harusnya gue yang tanya sama lu, ngapain lu malah disini? Sama anak the darks lagi, lu lupa yang gue bilang kemarin?!" tegas Geri.


"Eee ini kak, aku cuma ngobrol biasa kok sama Tedy. Kakak jangan marah-marah dulu ya!" ucap Ayna.


"Gimana gue gak marah? Lu malah deket-deket sama musuh gue ini!" geram Geri.


"Sabar kak! Aku sama Tedy gak ngapa-ngapain kok, kita kan cuma ngobrol aja. Udah lah kak, jangan marah-marah terus ya!" ucap Ayna.


"Yaudah, ayo kita pulang!" ujar Geri.


Geri langsung mencengkeram tangan Ayna dan memaksanya untuk pulang.


"Ta-tapi kak.."


"Udah ayo pulang!" paksa Geri.


Akhirnya Ayna tak memiliki pilihan lain, ia terpaksa mengikuti kemauan Geri daripada nantinya pria itu akan berbuat yang tidak-tidak kepada Tedy.


"Ted, aku pulang dulu ya? Maaf banget kita gak bisa selesaiin obrolannya!" ucap Ayna.


"Ya gapapa, aku ngerti kok Ayna!" ucap Tedy sambil tersenyum.


Ayna pun pergi bersama Geri meninggalkan tempat itu.


******


Willy sampai di markas black jack seperti tujuan awalnya untuk membalas apa yang sudah dilakukan mereka terhadap teman-temannya.


Melihat kehadiran Willy disana, sontak Ilham serta yang lainnya langsung kompak bangkit dari tempat duduk dan mendekat ke arahnya.


"Ham, gimana ini? Willy datang ke markas kita disaat bang Martin gak ada," bisik Choky.


"Tenang aja! Lu gausah takut sama si Willy! Kita pasti bisa bantai dia!" ucap Ilham.


Choky mengangguk saja, biarpun di dalam hatinya ia masih merasa cemas dengan kehadiran Willy di hadapannya.


"Wah wah, masih berani lu datang kesini sendirian Wil, gak takut mati?" ujar Ilham.


"Tahu lu Wil, apa lu gak takut dihabisin sama kita semua disini?" sahut Billy.


"Lagian lu mau apa sih datang kesini? Pengen nyerahin diri lu secara cuma-cuma ke kita?" tanya Ilham.


"Kalian semua gausah banyak bicara! Gue itu kesini justru mau kasih pelajaran buat kalian semua, jadi siap-siap aja ya!" ucap Willy tersenyum smirk.


"Hah? Apa lu kata? Kasih pelajaran buat kita? Yakin lu?" cibir Ilham.


"Ahaha, yang ada tuh lu yang bakal kita kasih pelajaran! Lu itu cuma sendiri, sedangkan kita rame. Kita dengan mudah pasti bisa bikin lu masuk ke UGD!" sahut Billy.


Willy tersenyum saja sembari menggeleng pelan, melepas jaketnya dan membuang ke sembarang arah.


"Wih udah siap nih buat dibantai?!" ujar Billy.


"Banyak omong lu!" tanpa basa-basi lagi, Willy langsung menyerang mereka semua secara membabi buta.


Billy dan yang lainnya tampak tak siap, akibatnya beberapa dari mereka terkena pukulan serta tendangan Willy itu.


Bughh bughh bughh...


Aksi saling pukul terjadi diantara mereka, namun tampak jelas Willy lebih dominan disana.


Hampir seluruh anggota black jack sudah terkapar di jalan, hanya tinggal Ilham dan Billy yang masih bertahan menghadapi Willy.


Kedua pria itu juga sudah mengalami luka akibat pukulan Willy sebelumnya.


"Sialan ya lu Wil! Lu pake dukun apa sih bisa kuat banget kayak gini? Kalau mau jadi raja jalanan itu yang fair dong, jangan main dukun!" ujar Billy.


"Buat apa gue pake dukun? Mungkin emang kalian semua aja yang lemah, kalian itu gak pantes jadi anak motor!" ucap Willy.


"Kurang ajar lu!" ucap Billy kesal.


Billy kembali menyerang Willy, pukulan demi pukulan terus ia layangkan ke arahnya tetapi gagal.


Bruuukkk...


Justru Billy lah yang tergeletak tak berdaya di jalanan saat ini.


"Awas lu ya!" ucap Ilham.


"Ayo sini maju!" tantang Willy.


"Cabut guys!" teriak Ilham yang kemudian pergi dari sana bersama teman-temannya itu.


******


Setelah puas menghajar anak-anak black jack, Willy kini mendatangi rumah Martin.


Willy berniat memberi pelajaran juga untuk Martin karena sudah menghajar teman-temannya.


Sesampainya disana, Willy langsung menemui salah seorang penjaga di gerbang itu.


"Heh! Mana bos lu? Suruh dia keluar!" ujar Willy.


"Anda ini mau apa lagi sih datang kesini? Sudahlah, anda pergi saja dari sini dan jangan cari masalah!" ucap Tomy (penjaga disana).


"Ohh, sekarang Martin udah jadi pengecut dan dia gak mau hadapin gue satu lawan satu? Kalo gitu bilang sama dia, gue gak akan pergi sebelum dia keluar temuin gue!" ucap Willy.


"Sepertinya tuan Martin juga tidak akan perduli dengan itu, jadi anda lebih baik pulang saja!" ucap Tomy.


"Martin tidak perduli? Oke, biar gue paksa orang itu buat keluar dari tempat persembunyiannya! Gue bakal abisin lu semua, supaya dia bisa keluar!" ucap Willy.


"Anda jangan cari gara-gara! Anda itu bukan lawan yang sepadan bagi kami, jadi sebaiknya anda pulang saja!" ucap Tomy.


"Waw! Kalo emang lu ngerasa hebat, ayo dong buka gerbangnya dan lawan gue!" tantang Willy.


Akhirnya Tomy membuka gerbang itu, membuat Willy tersenyum lebar dan merasa senang.


"Lu panggil bos lu sekarang, sebelum gue ratain lu semua yang ada disini!" ancam Willy.


"Gak semudah itu anda bisa menemui tuan Martin, langkahi dulu mayat kami!" ucap Tomy yang sudah bersiap melawan Willy.


"Baiklah, akan gue lakukan!" ucap Willy.


Willy maju menyerang Tomy serta para penjaga lainnya disana, tubuh mereka yang besar-besar memang sedikit membuat Willy kesulitan untuk dapat menumbangkan mereka.


Namun, serangan demi serangan yang dilakukan Willy berhasil membuat mereka terjatuh.


Bruuukkk...


Tiga orang penjaga itu tergeletak di jalan, sedangkan Tomy hanya terdorong akibat tendangan Willy pada perutnya.


"Akh! Hebat juga anda, tapi tetap saja anda tidak bisa bertemu dengan tuan Martin!" ucap Tomy.


"Masih mau yang lebih lagi? Baiklah, ayo maju dan hadapi gue!" ujar Willy.


Disaat Willy hendak maju, tiba-tiba saja Tomy mengangkat telapak tangannya dan meminta Willy untuk berhenti.


"Stop!!" teriak Tomy.


Willy tersenyum tipis dan mengurungkan niatnya, "Ada apa? Lu takut sama gue?" ujarnya.


"Saya gak takut, saya cuma menghindari adanya korban disini." elak Tomy.


"Yasudah, cepat panggilkan tuan lu itu!" ucap Willy.


Tomy memberi perintah pada Erlan si penjaga disana untuk menemui Martin dan mengatakan semuanya.


Erlan mengerti dan langsung bergerak masuk ke dalam, sedangkan Tomy tetap disana mencegah Willy untuk masuk.


******


Martin tengah asyik bermesraan dengan Kiara di pinggir kolam renang, mereka saling berpelukan dan sesekali memagut bibir satu sama lain.


Kiara amat menikmati momen seperti ini, pasalnya pelukan Martin adalah sebuah kenyamanan dan kehangatan untuknya.


"Kiara, gimana semalam sama pestanya? Kamu suka?" tanya Martin pada gadisnya itu.


"Suka banget! Tapi, banyak banget cowok-cowok yang godain aku disana, tuan." jawab Kiara.


"Oh ya? Itu sih wajar aja, kamu itu kan cantik bak bidadari. Kalau kamu digodain, jangan direspon biar saya gak cemburu!" ucap Martin.


"Iya tuan, aku gak respon mereka kok." ucap Kiara.


"Saya percaya sama kamu, saya yakin kamu gak mungkin ngerespon orang-orang nakal itu! Jangan bunuh kepercayaan saya ya cantik! Kamu harus bisa jaga kepercayaan ini!" ucap Martin.


"Pasti tuan! Lagian aku kan juga cuma sayang sama tuan Martin, mana mungkin lah aku khianati tuan?" ucap Kiara.


"Bagus itu! Saya pegang kata-kata kamu yang manis itu ya!" ucap Martin sembari mencolek hidung Kiara.


Kiara tersenyum dan kembali membenamkan wajahnya di dada sang kekasih.


Martin mendaratkan kecupan manis di kening Kiara dan terus mengusap punggungnya lembut.


Saat bibir keduanya hendak menyatu, tiba-tiba Erlan datang mengacaukan itu.


"Tuan, tuan permisi tuan! Maaf mengganggu, tapi ada sesuatu yang gawat di depan rumah tuan!" ucap Erlan sangat panik.


Sontak Martin tampak kecewa karena gagal menikmati bibir mungil gadisnya itu.


"Haish, ada apa sih Erlan?! Apa yang gawat?" tanya Martin geram.


"Maaf tuan! Itu loh tuan, laki-laki anak motor yang waktu itu, datang lagi kesini." jawab Erlan.


"Hah? Maksud kamu si Willy?" tanya Martin.


"Nah itu tuan, betul!" jawab Erlan.


"Hadeh, mau apa sih tuh anak datang ke rumah saya? Belum puas dia udah pernah saya hajar, dasar anak sialan!" umpat Martin.


"Iya tuan, dia minta ketemu sama tuan. Kalau enggak, dia mau hajar semua penjaga di depan." ucap Erlan.


"Kurang ajar tuh anak! Yasudah, saya akan ke depan sekarang. Kamu duluan sana!" ujar Martin.


"Baik tuan!" ucap Erlan patuh dan pergi lebih dulu.


Sontak Martin langsung bangkit dari duduknya, namun Kiara mencoba menahannya.


"Tuan, jangan emosi ya tuan!" pinta Kiara.


Cup!


Martin mengecup bibir Kiara sekilas dan mengusapnya sambil tersenyum.


"Jangan khawatir! Saya bisa kendalikan semuanya, kamu sekarang masuk ke kamar ya! Jangan sampai Willy lihat kamu!" ucap Martin.


"I-i-iya tuan.." ucap Kiara.


Martin pun bergerak cepat menuju ke depan rumahnya, sedangkan Kiara tetap disana dengan perasaan cemasnya.


"HEY WILLY! HENTIKAN!!" teriak Martin dengan lantang.


******


Aurora keluar dari kamarnya, ia sudah tampak rapih dengan pakaian miliknya dan bersiap untuk menemui Willy.


"Aku harus ketemu sama Willy! Aku takut banget semalam dia keluarin di dalam! Gimana kalau aku hamil nantinya?" gumam Aurora.


Wanita bergegas mengunci pintu, lalu turun ke bawah dengan tergesa-gesa.


Johan yang tengah duduk santai sembari menikmati secangkir kopi pun dibuat terkejut saat Aurora menuruni tangga dengan terburu-buru.


"Hey Aurora!" tegur Johan.


Sontak Aurora menghentikan langkahnya, ia menatap ke arah Johan dan tampak bingung.


"Sini kamu!" pinta Johan.


"Eee i-i-iya pah.." ucap Aurora menurut.


Aurora pun bergerak menghampiri papanya, ia menghentikan langkahnya tepat di samping Johan sambil terus tersenyum ke arahnya.


"Ada apa pah?" tanya Aurora.


"Kamu mau kemana? Baru pulang kok udah mau pergi lagi? Mana cantik banget kayak gini lagi," ujar Johan tampak penasaran.


"Apa sih pah? Ini loh aku mau ketemu sama teman, gapapa kan pah?" ucap Aurora.


"Ohh, teman apa teman nih? Bilangnya ketemu teman, eh ternyata malah nyamperin nak Willy." ledek Johan.


"Eee kalau misal aku gak sengaja ketemu sama Willy di luar, ya pasti aku bakal temuin dia dong." jawab Aurora sambil tersenyum.


"Ya ya ya, yasudah kamu boleh pergi kok! Perlu papa antar sayang?" ucap Johan.


"Enggak usah pah, aku bisa pergi sendiri naik motor." ucap Aurora menolak tawaran papanya.


"Loh kok naik motor sih? Pake mobil aja ya, minta antar sama pak supir. Kamu kan udah cantik begini sayang, kalau naik motor nanti malah berantakan lagi loh." ujar Johan.


"Gapapa pah, aku udah biasa kok naik motor." ucap Aurora.


"Gak gak, kamu naik mobil aja! Ayo papa antar kamu sampai ke depan!" ucap Johan langsung berdiri dan menggenggam tangan putrinya itu.


"I-i-iya pah iya.." ucap Aurora menurut.


Mereka pun pergi bersama-sama keluar dari rumah, walau sebenarnya Aurora malas sekali harus naik mobil yang bukan hobinya.


Ceklek...


Saat Johan membuka pintu, mereka berdua terkejut lantaran di depan sana sudah berdiri seorang lelaki yang tersenyum menghadap ke arah mereka.


"Halo om, halo Aurora cantik! Selamat siang!" ucap pria itu menyapa keduanya.


"Hah?" Aurora dan Johan kompak terkejut melihat kehadiran lelaki itu disana.


Bersambung....