My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 48. Larangan Willy



My love is sillie


Episode 48.



"Ehem ehem, enak banget sih ciuman bibir di parkiran sekolah kayak gitu!" mereka berdua terkejut saat ada suara orang lain yang muncul disana.


"Max?" ucap Aurora saat mendapati Max sudah berada di dekatnya.


Spontan Aurora menjauh dari Willy, karena tak mau Max berpikir yang tidak-tidak dan melaporkan semua kejadian tadi pada pihak kesiswaan.


"Lu jangan salah sangka dulu! Tadi itu—" lagi-lagi ucapan Aurora terpotong karena Willy langsung mendekapnya erat.


"Ya emang enak banget, bibir Aurora juga manis. Lu pasti iri ya dan pengen cobain bibir dia? Makanya bro, cari pacar sana!" ujar Willy sengaja memancing Max.


"Wil, lu kenap—"


"Sssttt diem baby! Biar aku aja yang urus si cowok gak jelas ini!" potong Willy sembari menaruh jari telunjuknya di bibir Aurora.


"Lu bisa bersenang-senang sekarang, tapi lihat aja apa yang terjadi setelah gue laporin kegiatan kalian tadi ke pihak kesiswaan!" ancam Max.


"Ohh, lu ngancam gue? Silahkan aja lu laporin, gue gak takut sama sekali!" Willy justru menantang Max tanpa rasa takut sedikitpun.


Keira sangat terkejut dengan ucapan Willy, ia melongok menatap pria itu disertai tatapan heran.


Sementara Max tersenyum saja, ia sadar bahwa Willy tidak mudah diancam dengan kata-kata.


Willy pun pergi membawa Aurora di rangkulannya, lalu beranjak dari parkiran tersebut meninggalkan Max yang masih terdiam.


Saat memasuki lobi, Willy dibuat tercengang ketika menyadari ada seorang wanita yang terasa tak asing di matanya.


"Loh, i-itu kan.." ucapnya tertahan.


"Kenapa Wil? Itu kan apa?" tanya Aurora heran.


"Eh eee enggak kok, bukan apa-apa. Kita ke kelas aja yuk! Walau sebenarnya gue masih pengen lanjutin yang tadi sih, emang sialan banget tuh cowok! Sukanya ganggu orang pacaran aja!" ucap Willy mengalihkan pembicaraan.


"Salah lu sendiri juga sih Wil, makanya jangan main cium-cium gue kayak gitu!" ujar Aurora.


"Yaudah, abaikan aja semua itu. Kita ke kelas yuk sekarang!" ucap Willy merangkul gadisnya.


Aurora menurut saja, kemudian melangkahkan kaki dan berjalan menuju ke kelas mereka yang ada di lantai dua.


Kebetulan Kiara juga tidak fokus pada sekitarnya, ia sedang sibuk mengisi data diri di meja piket sehingga tak menyadari keberadaan Willy dan Aurora disana.


Willy terus memandang ke arah Kiara, apalagi ketika melewati punggung gadis itu. Aroma parfum Kiara menusuk ke hidungnya dan membuat Willy semakin merindukan gadis itu.


"Kiara, lu emang wangi dan cantik banget! Mau apa sih lu di sekolah ini? Masa iya lu juga sekolah disini?" batin Willy.


Aurora sadar jika Willy tidak fokus ke jalan, ia pun penasaran dengan apa yang diperhatikan oleh Willy saat ini. Ia mencari sesuatu dan menemukan sosok wanita yang sepertinya memang tengah ditatap oleh Willy.


"Wil, ngapain lu lihatin cewek itu? Emang lu kenal sama dia?" tanya Aurora penasaran.


"Hah? Enggak kok, gue gak lihatin siapa-siapa. Lu jangan cemburu dong cantik!" ucap Willy gugup.


"Dih, siapa yang cemburu? Gue cuma heran aja, ngapain lu lihatin tuh cewek? Emang lu kenal sama dia? Atau lu cuma tertarik karena dia cantik? Cowok emang begitu semua ya?!" ujar Aurora.


"Hahaha, itu mirip mantan gue. Bukan cuma mirip sih, emang kayaknya itu emang mantan gue. Gue heran aja ngapain dia ada disini," ucap Willy.


"Ohh, mungkin dia sekolah disini." ucap Aurora.


"Lu pernah lihat dia disini sebelumnya?" tanya Willy pada Aurora.


"Enggak tuh," jawab Aurora.


"Berarti dia gak sekolah disini dong, kalau sekolah disini harusnya lu lihat dia sebelumnya." ucap Willy.


"Bisa jadi dia baru daftar. Lagian kalau lu penasaran, kenapa lu gak samperin aja dia kesana?" ucap Aurora.


"Enggak ah, nanti lu cemburu lagi." kata Willy.


"Hah?" Aurora menganga tipis dibuatnya.


******


Kiara baru menyelesaikan formulir yang harus ia isi di meja piket, ia pun hendak pergi dari sana untuk segera menuju kelasnya.


Akan tetapi, Kiara melihat sesosok pria yang sedari tadi terus mengamatinya. Kiara pun mendekat ke arah pria itu untuk memastikan siapa dia.


"Willy?" Kiara sedikit terkejut setelah menyadari bahwa pria tersebut adalah Willy.


Begitu juga dengan Willy, ia syok saat Kiara sudah berada di dekatnya dan tengah menatap ke arahnya dengan mata lebar.


"Kiara?" ucap Willy kaget.


"Wil, kamu sekolah disini juga?" tanya Kiara bingung.


"Ah iya, gue baru masuk kemarin. Lu sendiri? Baru daftar disini?" jawab Willy gugup.


"Iya, aku baru daftar nih." kata Kiara.


"Bagus deh, selamat bergabung ya di sekolah ini! Semoga lu betah dan nyaman sekolah disini!" ucap Willy tersenyum.


"Aamiin!" ucap Kiara.


"Oh ya, Martin mana? Dia gak ngikut lu kesini? Bukannya dia paling gak bisa jauh dari lu dan gak mau lepasin lu?" tanya Willy terheran-heran.


"Tadi tuan Martin anterin aku kok, tapi sekarang dia udah berangkat ke kantornya." jawab Kiara.


"Oh gitu, yaudah gue sama Aurora mau ke kelas dulu. Kelas lu dimana? Siapa tahu kita bisa bareng bertiga kesana," ucap Willy.


"Kelas 12 L," jawab Kiara.


"Yah gak searah, gue sama Aurora di kelas 12 C. Kalo gitu kita berdua duluan ya? Lu udah tau kan kelasnya dimana?" ucap Willy.


"Udah kok, aku nanti kan juga diantar sama pihak kesiswaan. Kamu gak perlu cemasin aku!" ucap Kiara tersenyum singkat.


"Gak ada yang cemas juga, buat apa gue cemas? Hati-hati aja ya, banyak buaya darat disini yang suka godain cewek! Lu harus bisa jaga diri, jangan sampai nanti Martin berulah lagi!" ucap Willy.


Kiara mengangguk saja mengikuti perkataan Willy, sedangkan Willy langsung pergi dari sana sembari merangkul gadisnya.


"Wil, kenapa lu gak anterin Kiara? Arah kita kan sama tau," tanya Aurora heran.


"Gue udah pengen moveon dari Kiara. Kalau gue dekat terus sama dia, gimana caranya gue bisa moveon? Lagian gue kan udah punya lu, gak enak dong kalo gue anterin cewek lain." jawab Willy.


"Ish, sejak kapan gue jadi punya lu?!" ujar Aurora.


"Dari sejak kita bertemu pertama kali, gue juga udah ikrar kan kalau lu itu punya gue. Jadi, gak ada siapapun yang boleh deketin lu!" ucap Willy.


"Hadeh, terserah lu aja deh!" ucap Aurora.


"Yaudah, makasih ya lu mau ngikutin kata-kata gue! Awas loh kalo lu masih bandel dan deketin cowok-cowok disini!" ucap Willy.


"Bawel lu! Walau gak ada lu sekalipun disini, gue juga gak pernah deketin cowok-cowok. Gue itu di sekolah mau belajar, bukan mau deketin cowok!" ucap Aurora kesal.


Willy mendekap erat Aurora sembari mencubit pipi gadis itu dan sesekali mengusapnya gemas, Aurora hanya bisa pasrah diperlakukan layaknya boneka oleh lelaki itu.


"Kiara kan udah sekolah disini, artinya lu bakal terus ketemu sama dia. Kira-kira gimana tuh?" ucap Aurora bertanya pada Willy.


"Eee ya gak gimana-gimana..." jawab Willy asal.


******


Sasha tengah melamun seorang diri di kantin sembari mengaduk-aduk minuman yang ia pesan.


Entah mengapa sejak Willy tidak bersekolah lagi disana, Sasha menjadi kurang semangat.


Tiba-tiba saja, sebuah es krim muncul di depan matanya dan membuat Sasha terkejut.


Gadis itu pun mencoba mencari tahu siapa yang sudah memberi es krim untuknya.


Sasha menoleh ke samping, ia menemukan Ilham berdiri disana memandangnya sambil tersenyum.


"Hai Sya!" ucap Ilham menyapanya.


"Hai!" balas Sasha singkat.


"Gue boleh duduk disini gak bareng sama lu? Nih gue juga udah bawain es krim buat kita makan bareng-bareng, pasti seru deh!" ucap Ilham.


"Duduk aja, ini kan tempat umum!" jawab Sasha.


"Oke, thanks ya!" ucap Ilham tersenyum senang.


Ilham menarik kursi, lalu duduk di sebelah Sasha dengan gembira.


Reaksi Sasha justru berbeda, ia sama sekali tak menyukai kehadiran Ilham disana.


"Eee Sya, ini es krim nya buat kamu!" ucap Ilham sembari menyodorkan es krim di tangannya itu ke depan Sasha.


Sasha melirik sekilas ke arah Ilham, kemudian kembali membuang muka.


"Sorry, gue gak minat es krim kacang! Buat lu aja. Lagipun, gue udah kenyang." ucap Sasha menolak pemberian Ilham.


"Ini enak loh Sya! Atau kalau kamu gak mau yang ini, aku punya rasa yang lain kok. Nih rasa coklat, kamu pasti suka kan? Biar nanti yang kacang buat aku aja, gimana?" ucap Ilham berusaha membujuk Sasha.


"Huft, yaudah deh kalo lu maksa. Sini es krimnya buat gue!" ucap Sasha mengambil es krim coklat dari tangan Ilham.


"Nah gitu dong, gue kan jadi suka kalau lu mau makan es krim pemberian gue! Abisin ya!" ucap Ilham tersenyum.


"Iya, thank you udah beliin es krim buat gue!" ucap Sasha masih dengan ekspresi ketusnya.


"Sama-sama, apapun untuk gadis tercinta." kata Ilham.


"Dih jijik gue! Udah deh, lu ngapain masih disini? Kan gue udah terima es krim dari lu, harusnya lu pergi sana!" ujar Sasha.


"Kenapa gitu? Tadi katanya gue boleh gabung disini sama lu, kok tiba-tiba lu usir gue? Emang salah ya kalo gue ada disini sama lu?" tanya Ilham.


"Ya enggak sih, tapi—"


"Udah, lu makan aja dulu es krimnya! Keburu meleleh loh nanti. Baru deh abis itu gue bakal pergi, setelah es krim lu habis." potong Ilham.


"Oke deh, awas ya kalo es krim gue habis terus lu belum pergi dari sini! Gue bakal muntahin lagi nih es krim dari perut gue," ucap Sasha mengancam.


"Eh jangan dong! Masa yang udah dimakan mau dimuntahin lagi? Gak boleh tau!" ujar Ilham.


"Yaudah, makanya lu nurut dan jangan ngebantah mulu sama gue! Masih mending gue mau terima es krim dari lu," ucap Sasha.


"Iya iya.." ucap Ilham menurut.


"Eh ya, sebenarnya lu kenapa sih? Gue perhatiin belakangan ini lu sering banget ngelamun, lu lagi mikirin siapa? Willy?" tanya Ilham pada Sasha.


"Lu gak perlu tau, dan gausah ikut campur urusan gue!" jawab Sasha ketus.


"Galak amat sih! Gue kan cuma nanya, gue penasaran aja kenapa lu jadi murung kayak gini. Padahal biasanya lu selalu ceria tuh. Apa benar gara-gara Willy?" ucap Ilham.


Sasha hanya terdiam sembari menikmati es krimnya.


******


Pulang sekolah telah tiba, seperti biasa Willy langsung menarik lengan Aurora dan membawa gadis itu keluar lebih dulu.


"Akh sakit Wil! Pelan-pelan aja!" rintih Aurora.


"Duh, lu desahh gitu bikin gue overthinking kemana-mana deh." ujar Willy.


"Dih si anjir dasar mesum!" umpat Aurora.


"Yeh jangan salahin gue lah! Kan lu sendiri yang mancing-mancing. Ngapain coba malah ngedesahh kayak gitu? Orang gue cuma tarik tangan lu, lu mau goda gue kan?" ucap Willy.


"Dih biji mata lu! Buat apa gue godain lu? Lu nya aja yang mesum!" elak Aurora.


"Oh gitu, tapi by the way suara desahh lu merdu juga. Boleh kali kapan-kapan kita staycation berdua, pasti enak tuh!" ujar Willy tersenyum.


"Ogah!" Aurora menolak mentah-mentah.


"Hahaha, lu gimana sih? Katanya mau jadi ratu jalanan, masa diajak staycation berdua aja gak berani? Pengecut lu!" ledek Willy.


"Itu gak ada hubungannya ya sama ratu jalanan, jangan ngada-ngada deh lu! Gini deh, mana ada coba ratu jalanan yang staycation berdua kayak gitu?" ucap Aurora.


"Oh jelas ada, syarat menjadi ratu jalanan itu harus staycation sama raja jalanan. Dan dalam hal ini, raja jalanannya itu gue. Jadi, lu harus tidur berdua sama gue!" jelas Willy.


"Najis amat! Mending gue urungin niat gue buat jadi ratu jalanan," ucap Aurora membuang muka.


"Hahaha, yaudah bagus! Gue lebih suka lu jadi Aurora yang baik dan ramah, karena jadi ratu jalanan itu gak ada untungnya. Kalo lu begini, itu kan bikin gue makin cinta!" ucap Willy mendekat dan menghirup aroma leher Aurora.


"Ish, jangan dekat-dekat!" Aurora mendorong tubuh Willy hingga hampir terjatuh jika tak berpegangan pada dinding di belakangnya.


Kejadian itu disaksikan oleh para murid yang kebetulan lewat disana, mereka terkekeh kecil melihat Willy hampir terjatuh.


"Aduh sayang! Lu kok gitu sih? Gue ini kan pacar lu, tega amat lu begitu sama gue!" ujar Willy.


"Biarin. Suruh siapa lu mesum banget jadi cowok?! Kalau lu pengen gue jadi cewek baik-baik, yaudah lu juga harus berubah dong! Lu gak boleh lagi gabung ke geng the darks!" ucap Aurora.


"Hah? Kok gitu??" ucap Willy terkejut.


"Kenapa? Gak berani ya? Kalo gitu jangan larang larang gue buat jadi ratu jalanan! Lu itu gak berhak kayak gitu!" ucap Aurora.


Aurora hendak pergi dari sana, namun lagi-lagi Willy mencekal lengannya cukup erat.


"Akh!" Aurora kembali reflek bersuara ketika lengannya dicengkeram cukup kuat oleh Willy.


"Lu mau kemana sih? Lu gak boleh pergi sebelum lu nurut sama gue! Ini semua demi kebaikan lu Aurora, gue gak suka kalo lu jadi berandalan kayak gue!" tegas Willy.


Aurora sungguh bingung dengan sikap Willy saat ini, pria itu begitu keras melarangnya masuk ke dunia jalanan.


"Willy?" keduanya terkejut mendengar suara halus yang muncul di dekat mereka, sontak Willy mengalihkan pandangannya ke samping dan menangkap sosok gadis berdiri disana.


Bersambung....