My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 118. Kangen Sasha?



My love is sillie


Episode 118



"Kamu mau kan maafin aku?" tanya Willy.


"Kalau gak mau, gimana?" goda Aurora.


"Yah jangan gitu dong! Aku minta maaf ya cantik, aku bakal beliin apapun yang kamu mau deh! Please, maafin aku ya!" paksa Willy.


"Kenapa sih kamu pengen banget aku maafin gitu?" tanya Aurora heran.


"Ya iyalah, aku kan gak bisa diginiin terus sama kamu," jawab Willy.


"Hilih! Makanya jangan mesum jadi orang!" cibir Aurora.


"Gapapa kali mesum sama cewek sendiri, apalagi kamu calon istri aku," ujar Willy seraya mencolek pipi wanita itu.


"Huh nyebelin!" Aurora mendengus kesal lalu membuang mukanya.


Willy pun menarik wajah Aurora dan mencium bibirnya secara paksa.


Cup!


"Mmppphhh.." Aurora berusaha berontak, tetapi gagal karena Willy mendekapnya cukup kuat.


"Willy!" suara seseorang dari belakang sana mengacaukan momen keduanya disana.


"Si-siapa itu??" Aurora melepas pagutannya dan menoleh ke asal suara, begitupun juga Willy.


Mereka berdua menatap sosok gadis cantik yang tengah berdiri disana.


"Kiara?" ucap Willy lirih.


"Itu dia ngapain sih berdiri disitu? Mau ganggu kita pacaran apa ya?!" kesal Aurora.


"Hah? Kamu kok kesel gitu pas Kiara muncul? Bukannya tadi kamu gak mau dicium sama aku ya? Cie cie, berarti tandanya kamu udah maafin aku dan kamu mau ciuman sama aku," goda Willy.


"Ih apa sih?! Aku cuma gak suka aja kalo dia ganggu kamu terus!" elak Aurora.


"Kamu cemburu ya?" Willy terus menggoda Aurora sembari mencolek dagu dan pipi wanita itu.


"Ish, kamu iseng banget sih! Udah sana samperin tuh cewek, dia kayaknya nyari kamu!" ujar Aurora.


"Dih kata siapa?" tanya Willy.


"Iyalah, tadi aja dia cuma manggil kamu, padahal ada aku juga disini. Itu artinya dia emang mau ketemu kamu doang," jawab Aurora.


"Oh iya juga sih," ujar Willy sambil nyengir.


Willy pun bangkit dari duduknya, diikuti Aurora yang terus menggandeng lengan kekasihnya.


"Kok dipegangin terus sih?" tanya Willy.


"Ya aku mau ikut aja, emang gak boleh kalau aku ikut temuin Kiara? Ohh atau kamu mau berduaan aja ya sama cewek itu?" ucap Aurora cemberut.


"Hus, jangan cemberut dong cantik! Ayo kamu ikut juga samperin Kiara ya!" bujuk Willy.


Aurora mengangguk dengan bibir merengut, Willy pun tampak gemas dan terus membelai rambut kekasihnya yang halus itu.


"I love you," ucap Willy sambil tersenyum.


"I love you too," balas Aurora dingin.


"Kok balasnya cuek gitu sih? Pake senyum dong cantik!" pinta Willy.


"Iya iya, i love you too Willy sayang..." Willy langsung terbang seketika mendengar ucapan Aurora.


Setelahnya, mereka pun melangkah dengan bergandengan tangan menghampiri Kiara disana.


"Eh Kiara, kamu ada apa kesini?" tanya Willy.


"Maaf ya kalau aku udah ganggu kalian berdua lagi pacaran!" ucap Kiara merasa tidak enak.


"Udah tau ganggu, ngapain sih pake kesini segala!" cibir Aurora.


"Hus sayang! Jangan gitu!" tegur Willy.


Aurora memutar bola matanya malas tanpa melepas pegangan tangannya.


"Gapapa Wil, emang aku pengganggu kok. Aku kesini cuma mau balikin botol minum kamu Aurora, tadi ketinggalan di sekolah," ucap Kiara menyodorkan sebuah botol minum ke arah Aurora.


"Hah??"


******


Keesokan harinya, Randi memberanikan diri datang ke rumah Ayna untuk menjemput gadis itu.


Ya hubungan antara Randi dengan Ayna belakangan ini memang semakin dekat.


Lelaki itu memarkir motornya di depan gerbang, melepas helm lalu mengeluarkan ponselnya.


^^^💌Randi : Morning! Aku udah sampe nih, kamu keluar dong! Sorry, aku gak berani panggil kamu takut abang kamu dengar!^^^


Randi pun mengirimkan pesan itu ke nomor Ayna, ia tersenyum sembari menunggu balasan darinya.


Tliingg..


Tak lama, akhirnya pesan balasan itu muncul dan dengan semangat Randi membukanya.


💌Ayna : Iya Randi, ini aku juga udah siap kok. Tunggu sebentar ya aku keluar nih!


Randi langsung mengembangkan senyumnya melihat pesan balasan Ayna, ia sangat berharap gadis itu bisa menjadi jawaban atas doa-doanya selama ini.


Tak lama kemudian, Ayna keluar dari rumahnya. Menyapa Randi dan melangkah mendekati pria itu sambil tersenyum manis.


"Randi!" lelaki yang sedang melamun itu terkejut, ia menoleh ke arah Ayna, matanya membulat lebar melihat kecantikan gadis di hadapannya itu.


"Ayna?" ucap Randi tak percaya.


"Hai Ran, pagi!" sapa Ayna dengan lembut.


"Hey, pagi juga Ayna! Kamu cantik banget sih pagi ini, aku sampe pangling deh lihat kamu!" ucap Randi terpukau dengan kecantikan gadis itu.


"Ah bisa aja kamu, aku jadi malu tau," ucap Ayna.


Melihat ekspresi Ayna yang malu-malu, Randi semakin gemas padanya.


"Kamu lucu banget deh!" ujar Randi.


"Udah udah, kita langsung berangkat aja yuk! Kak Geri lagi gak ada di rumah, dia tadi udah pergi pagi-pagi gitu. Jadi, kita aman buat jalan berdua sekarang," ucap Ayna.


"Boleh, tapi emang kamu mau dibonceng pake motor aku yang butut ini?" tanya Randi ragu.


"Hah? Butut kamu bilang? Motor sebagus ini dibilang butut? Aku emang gak tahu jenis motor ya, tapi aku yakin harga motor ini pasti di atas seratus juta," protes Ayna.


"Hahaha, tapi tetap aja ini motor. Kamu bakal kepanasan atau kehujanan kalau naik ini," ucap Randi.


"Gapapa, udah ada yang jemput aja aku senang banget. Belum pernah tau aku ngerasain dijemput cowok kayak gini," ucap Ayna.


"Sama dong," ucap Randi singkat.


"Apanya yang sama?" tanya Ayna bingung.


"Aku juga baru kali ini jemput cewek, dan ceweknya itu secantik kamu," jawab Randi sembari mencolek dagu Ayna.


"Ih masih pagi udah gombal terus!" ujar Ayna mencibirkan bibirnya.


Randi tersenyum, tangannya terus bergerak mengusap lembut wajah mulus Ayna. Baru kali ini dia benar-benar terpesona pada wanita.


"Ohh, jadi ini yang lu lakuin di belakang gue, Ran?" Randi dan Ayna kompak terkejut mendengarnya.


******


Willy masih berada di rumahnya, menikmati sarapan bersama ayah serta ibunya di meja makan.


Awalnya suasana disana tampak baik-baik saja, tapi semua berubah saat tiba-tiba Bu Ani menanyakan mengenai hubungan Willy dengan Aurora.


"Willy, kamu sama Aurora sekarang gimana? Baik-baik aja kan?" tanya Bu Ani.


"Eee ibu kenapa jadi bahas Aurora ya? Aku baik-baik aja kok sama dia," jawab Willy.


"Ya gapapa sih, ibu cuma mau tau aja. Soalnya ibu khawatir kamu bakal khianati nak Aurora, kasihan dia kalau sampai kamu jadiin dia sebagai pelampiasan karena dulu kamu ditinggal sama nak Kiara!" ucap Bu Ani.


"Ibu ngomong apa sih? Aku gak kayak gitu lah, aku cinta kok sama Aurora. Aku juga udah janji sama dia dan malah papanya kalau kau akan jaga Aurora, ibu gausah khawatir ya!" ucap Willy.


"Alhamdulillah deh! Semoga kamu bisa pegang omongan kamu ya nak!" ucap Bu Ani.


"Oh ya, terus kabar nak Sasha sekarang gimana? Dia jadi jarang datang kesini semenjak kamu pindah sekolah, kamu masih kontakan sama dia atau enggak?" tanya Bu Ani.


"Masih kok, tapi kadang-kadang aja. Paling cuma sebatas sapa menyapa, sama nanyain kabar. Emang kenapa ya Bu?" jawab Willy.


"Gapapa, ibu cuma nanya aja," ucap bu Ani.


"Ah masa? Ibu pasti kangen ya sama Sasha? Ngaku aja deh Bu!" ujar Willy.


"Sebenarnya sih iya, tapi dia aja gak pernah main kesini lagi," ucap Bu Ani.


"Gampang Bu, nanti aku minta Sasha buat datang kesini supaya ibu gak sedih lagi," ucap Willy.


"Eh eh, gausah Willy! Nanti kalau nak Aurora tau, dia bisa salah sangka loh," ujar Bu Ani.


"Tenang aja Bu! Aku bisa jelasin ke Aurora, lagian dia juga udah kenal sama Sasha kok," ucap Willy.


"Oh ya? Masa sih?" tanya Bu Ani.


"Iya Bu, udah ibu tenang aja ya! Nanti pulang sekolah, aku sekalian ajak Sasha buat main kesini," ucap Willy.


"Iya deh Willy, ibu ngikut aja," ucap Bu Ani.


TOK TOK TOK...


Mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar sana, pak Gunawan pun bangkit dan hendak membuka pintu.


"Eh pak, mau kemana?" tanya Willy.


"Pake nanya lagi, buka pintu lah!" jawab pak Gunawan.


"Biar aku aja pak," pinta Willy.


"Yaudah sana!" ketus pak Gunawan.


Willy langsung beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.


Ceklek...


"Hai Willy, morning!" Willy terkejut hebat mendengar dan melihat seorang wanita berdiri di depannya sambil tersenyum manis.


******


Aurora pamit pada papanya untuk berangkat ke sekolah di pagi hari yang cerah ini.


"Pa, aku berangkat sekolah dulu ya?" ucap Aurora sembari mencium tangan sang papa yang tengah duduk di sofa.


"Ah iya sayang, kamu dijemput Willy?" tanya Johan.


"Enggak pa, aku minta antar pak Ridho aja kali ini. Sekali-kali lah aku berangkat naik mobil, besok baru aku diantar Willy lagi," jawab Aurora.


"Ohh, emangnya kenapa? Willy gak bisa jemput kamu apa gimana?" tanya Johan penasaran.


"Bukan gitu, justru aku sendiri yang minta sama Willy buat gak jemput," jawab Aurora.


"Yaudah, kamu hati-hati aja ya sayang! Jangan lupa dimakan bekalnya!" ucap Johan.


"Iya pa," Aurora mengangguk singkat dengan senyum manisnya.


Lalu, wanita itu pun berbalik dan pergi keluar menemui supirnya yang sudah bersiap untuk mengantarnya.


"Pak Ridho, ayo antar saya!" pinta Aurora.


"Siap non!" sang supir bernama Ridho itu langsung membukakan pintu mobil untuk Aurora.


Sontak Aurora pun masuk ke dalam mobilnya, ia terduduk santai dan mengambil ponselnya lalu mengabari Willy bahwa ia sudah berangkat.


Pak Ridho menyusul masuk ke dalam mobil tepatnya kursi kemudi, ia melirik sekilas ke arah Aurora sambil memakai sabuk pengamannya.


"Kita mau langsung berangkat sekarang, non?" tanya Ridho pada wanita itu.


"Iya pak, jalan aja!" jawab Aurora tanpa menatap wajah supirnya, ya wanita itu sangat sibuk memandang layar ponselnya.


"Baik non!" ucap Ridho patuh.


Sang supir menurut, kemudian melajukan mobilnya secara perlahan meninggalkan pekarangan rumah besar itu.


"Eee maaf non! Apa saya boleh tanya sesuatu sama non Aurora?" tanya Ridho.


"Hah? Tanya apa pak?" Aurora terlihat bingung sekaligus penasaran, ia sampai mengalihkan pandangan ke arah sang supir.


"Kok non Aurora tumben banget minta antar sama saya, biasanya juga dijemput den Willy. Emang den Willy gak sekolah non?" ujar Ridho.


"Ohh, Willy sekolah kok. Tapi, aku sengaja aja gak mau dijemput sama dia, soalnya aku mau ke sekolah pake mobil," ucap Aurora.


"Oalah kirain ada apa, tapi non sama den Willy gak ada masalah kan?" tanya Ridho memastikan.


"Ya enggak lah pak, buat apa kita punya masalah? Bapak ngada-ngada aja nih nanyanya," jawab Aurora sedikit terkekeh.


"Syukur deh non! Jujur aja, saya ikut baper tiap lihat non Aurora sama den Willy berduaan, jadi saya gak bisa bayangin kalau non sama den Willy berantem," ujar Ridho.


"Hahaha, bisa aja deh bapak." Aurora tertawa kecil mendengar perkataan supirnya barusan.


Ciiitttt...


Tiba-tiba saja, Ridho menginjak rem secara mendadak dan membuat Aurora terkejut.


"Ada apa pak?!" ucap Aurora panik.


******


Thoriq dan Mia—kekasihnya tengah berjalan santai di sekitaran taman hijau untuk sekedar berolahraga.


Mereka memang sudah membuat janji sebelumnya, walau Thoriq belum pernah olahraga sejak dulu.


"Sayang, kamu capek gak? Kita istirahat dulu yuk!" ujar Thoriq merasa lelah.


"Enggak kok, aku masih kuat. Lagian baru juga beberapa putaran, masa udah capek aja? Kamu emangnya udah gak kuat? Mau istirahat?" ucap Mia.


"Hehe, gitu deh sayang." Thoriq menjawab sambil tersenyum renyah.


"Yaudah, kamu istirahat aja gih! Aku masih mau muter satu atau dua kali lagi, mungkin lari," ucap Mia.


"Oh oke, aku tunggu disini ya!" ucap Thoriq.


"Iya sayang, kalo gitu aku lari dulu ya?" ucap Mia.


Thoriq mengangguk pelan, tersenyum kemudian mengusap wajah gadisnya lembut.


Lalu, Mia pun mulai berlari kecil meninggalkan Thoriq sendirian disana.


Sementara pria itu memutuskan duduk sejenak di tempat tersedia sembari meminum air mineralnya.


Mia yang sedang asyik berlari mengitari taman itu, dikejutkan dengan kehadiran Choky serta Geri yang tak lain adalah anggota black jack.


Kedua lelaki itu langsung mendekati Mia, berusaha menggoda Mia dengan rayuan maut mereka.


"Ehem ehem, cantik amat neng!" goda Choky.


"Iya, apalagi keringetan begitu, uhh tambah seksi deh tubuhnya. Dilihat dari jauh aja udah enak, apalagi dekat," sahut Geri.


Mia diam saja tak memperdulikan ucapan kedua pria tersebut, ia terus mempercepat langkahnya bermaksud menghindari mereka berdua.


"Hey, pelan-pelan dong cantik! Kamu juga jangan diem aja, jawab kita lah! Oh atau kamu bisu ya gak bisa ngomong? Pasti enggak dong, masa cantik-cantik bisu?" ujar Choky.


"Kalian itu siapa sih?! Gue lagi fokus olahraga, jangan gangguin gue!" kesal Mia.


"Kita gak ganggu loh, kita cuma mau kenalan sama kamu. Kamu jangan sombong lah, ayolah kasih tau siapa nama kamu ke kita!" ujar Geri.


"Apaan sih? Gue gak mau kenalan sama kalian! Mending kalian pergi deh, sebelum gue teriak dan kalian bakal dihajar sama cowok gue!" ancam Mia.


"Hah? Emang siapa sih cowok lu? Mana panggil sini, kita kagak takut!" tantang Geri.


"Ih dasar cowok aneh!" umpat Mia kesal.


Disaat Mia hendak pergi, Geri dan Choky kompak mencekal lengan gadis itu sehingga Mia tidak bisa kemana-mana.


"Eits, mau kemana cantik??" ujar Choky.


"Ish lepasin gue! Tolong!!" teriak Mia.


Thoriq yang tengah duduk santai, tak sengaja mendengar suara teriakan wanitanya.


"Mia??!"


Bersambung....