My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 73. Aurora tak terima



My love is sillie


Episode 73



"Nah gitu dong, makin cakep deh kamu!" ucap Willy menggoda gadisnya.


Tak lama kemudian, dua piring nasi goreng telah siap dan dibawa ke atas meja oleh si penjual.


"Ini dia Willy, nasi gorengnya sudah jadi. Silahkan neng, cobain nasi goreng saya!" ujar penjual itu.


"Oke bang, thank you!" ucap Willy tersenyum.


"Makasih bang!" ucap Aurora.


"Sama-sama, selamat menikmati!" ucap penjual itu.


Willy dan Aurora pun mulai sama-sama menikmati nasi goreng milik mereka masing-masing.


"Gimana sayang? Enak kan?" tanya Willy.


"Iya, ini enak banget sih!" jawab Aurora.


"Tuh kan, apa aku bilang?" ujar Willy.


"Iya iya.." Aurora tersenyum dan lanjut menikmati nasi gorengnya.


"Oh ya, besok kamu anterin aku sekolah kan?" tanya Aurora pada Willy.


"Uhuk uhuk.." Willy tersedak dan membuat Aurora panik saat itu juga.


"Ka-kamu kenapa?" tanya Aurora keheranan.


"Uhuk uhuk uhuk.." Willy terus batuk-batuk disana dan berusaha mengambil gelas teh hangat miliknya.


Aurora pun membantu menyodorkan teh hangat itu kepada Willy, "Ini Wil, kamu minum dulu!" ucapnya.


Glekk glekk..


Willy menenggak teh hangat itu hingga sisa setengah, ia pun merasa lega setelah meminum minumannya.


"Gimana Willy? Udah lega kan?" tanya Aurora.


"Iya sayang, udah kok. Makasih ya tadi kamu bantuin aku ambil teh nya!" ucap Willy.


"Iya, sama-sama. Kamu itu kenapa sih? Kok langsung batuk gitu tadi? Padahal aku cuma nanya besok kamu mau anterin aku sekolah atau enggak," tanya Aurora bingung.


"Eee itu soalnya aku besok gak bisa antar kamu sekolah sayang, maaf banget ya!" jawab Willy sambil tersenyum.


"Ohh, kenapa?" tanya Aurora penasaran.


"Aku lagi diskors sama pihak sekolah, selama satu Minggu aku gak boleh datang ke sekolah." jawab Willy.


"Hah? Diskors??" Aurora terkejut mendengarnya.


"Iya sayang, ini gara-gara ada penyerangan dari geng black jack kemarin." jawab Willy.


"Tapi, bukannya kamu kemarin udah dihukum juga ya buat bersihin toilet? Kok kamu masih dihukum lagi sama pihak sekolah?" tanya Aurora.


"Entahlah, aku juga kurang tau. Tadi pagi tiba-tiba pak kepsek panggil aku dan bilang semuanya ke aku, kalau aku diskors." jelas Willy.


"Haish, ini gak adil tau! Kamu itu kan gak salah, jadi kamu gak seharusnya diskors kayak gini!" geram Aurora.


"Iya, tapi mau gimana lagi sayang? Aku terpaksa terima semuanya walau berat," ujar Willy.


"Gak bisa, kita gak bisa diam aja! Besok kamu ikut sama aku ke sekolah, terus kita temuin kepala sekolah itu!" ucap Aurora.


"Hah? Kamu mau ngapain sayang? Jangan ngada-ngada deh ya!" ujar Willy.


"Kenapa? Aku cuma pengen bela kamu kok, aku gak terima aja kalau kamu diperlakukan gak adil kayak gini sama pihak sekolah. Udah, biar besok aku yang bicara langsung ke kepala sekolah soal ini!" ucap Aurora.


"Kamu serius? Emang kamu berani?" tanya Willy.


"Ya iyalah, kenapa juga aku harus gak berani? Kan aku mau bela kebenaran, kamu itu gak berhak diskors begitu!" ucap Aurora tegas.


"Cie cie, peduli banget deh kamu sama aku! Pasti kamu udah mulai sayang ya sama aku? Duh, aku gak nyangka bisa secepat ini!" ujar Willy.


"Apaan sih? Ngaco!" elak Aurora.


"Hahaha, cie malu-malu cie... kamu tahu gak? Kamu kalau lagi tersipu malu kayak gini, itu tambah cantik tau. Coba aja kita gak lagi di tempat rame kayak gini, pasti aku udah langsung sikat kamu." ujar Willy menggoda gadisnya.


"Hah? Sikat apa? Emangnya aku baju apa disikat gitu?" ujar Aurora.


"Ya maksud aku begitulah, masa kamu gak tahu sih apa yang aku maksud?" goda Willy.


"Udah deh, kamu jangan bahas itu terus! Kita fokus makan aja!" pinta Aurora.


"Iya iya.." ucap Willy sambil senyum-senyum.


******


Willy pun mengantar Aurora pulang ke rumah, mereka berhenti tepat di depan gerbang rumah gadis itu untuk berbincang sejenak.


Aurora tampak tersenyum menatap ke arah Willy, ia senang karena malam ini dirinya bisa kembali bersenang-senang dengan Willy.


"Wil, makasih ya udah ajak aku keliling plus makan malam tadi!" ucap Aurora.


"Sama-sama sayang, kamu senang gak kira-kira?" tanya Willy.


"Senang banget dong! Aku tuh malah pengen kita sering-sering kayak gini, gak tahu kenapa rasanya bahagia dan bikin aku tenang gitu. Sesuatu yang belum pernah aku rasain sebelumnya," jawab Aurora.


"Wah oke siap sayang! Kalo gitu besok aku ajak kamu jalan-jalan lagi ya cantik?" ujar Willy.


"Iya, boleh tuh. Oh ya, besok jangan lupa loh kamu jemput aku disini jam enam pagi!" ucap Aurora.


"Iya sayang, tapi kamu beneran nih mau ngomong gitu ke pak kepsek? Kamu gak takut bakal dihukum juga?" tanya Willy cemas.


"Ya enggak lah, ngapain takut? Orang kita benar kok, kecuali kalau kita salah baru deh takut." jawab Aurora tegas.


"Waw emang pemberani ya cewek aku ini!" puji Willy seraya mencubit hidung Aurora.


"Ahaha, bisa aja ente!" ujar Aurora.


"What? Ente kadang-kadang ente.." sarkas Willy.


"Hahaha, kamu ih malam-malam bikin ketawa aja deh!" ujar Aurora.


"Lah kok aku? Kan kamu duluan yang mulai itu, aku mah cuma ngikut aja." ucap Willy.


"Yaudah, aku masuk dulu ya ke dalam? Kamu langsung pulang gih, udah malam loh ini!" ucap Aurora.


"Iya cantik, selamat malam ya! Besok pagi kita ketemu lagi disini, i love you!" ucap Willy seraya mengecup bibir Aurora sekilas.


Cupp!


Aurora hanya terbelalak mendapati kecupan di bibirnya, sedangkan Willy langsung kembali ke motornya sambil tersenyum kecil.


"Salam ya buat papa kamu, dadah sayang!" ucap Willy pamitan.


"I-i-iya.." ucap Aurora pelan dan masih terus mengusap bekas kecupan Willy di bibirnya.


Setelahnya, Willy pun menancap gas dan melaju pergi dari rumah Aurora.


Sementara Aurora juga kembali tersadar, ia menuntun motornya memasuki area rumahnya dengan melewati satpam yang berjaga disana.


Saat hendak memasukkan motornya ke garasi, ia malah tak sengaja bertemu dengan papanya yang baru keluar dari rumah.


"Aurora, baru pulang?" tanya Johan.


"Eee iya pah, maaf ya kalau aku pulangnya kemalaman!" jawab Aurora menunduk.


"Gapapa, ini belum terlalu malam kok. Asalkan besok-besok jangan diulangi lagi!" ujar Johan.


"Makasih pah!" ucap Aurora tersenyum renyah.


"Udah pah tadi sama Willy," jawab Aurora.


"Waw asik dong makan berdua bareng Willy! Pantes aja kamu daritadi senyum-senyum terus begitu, bahagia banget ya!" goda Johan.


"Apa sih pah? Aku biasa aja kok, ngapain juga aku harus bahagia kalau cuma makan bareng Willy?" elak Aurora.


"Halah pake ngeles segala! Papa udah tahu, sebenarnya kamu itu cinta kan sama Willy?!" ucap Johan sambil terkekeh kecil.


"Mana ada? Papa jangan ngada-ngada deh!" ucap Aurora terus mengelak.


"Hahaha, yasudah ayo kita masuk aja ke dalam! Terlalu lama disini itu gak bagus, udaranya terlalu dingin." ucap Johan.


"Iya pah," ucap Aurora mengangguk pelan.


Johan pun merangkul putrinya, melangkah ke dalam rumah bersama Aurora sambil saling bercanda ria.


******


Keesokan paginya, Willy kembali datang ke rumah gadisnya dan tampak tersenyum sembari merapihkan rambutnya.


Willy sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Aurora pagi ini, pasalnya Aurora memang terlihat lebih cantik di matanya apabila mengenakan seragam sekolah.


Namun, yang muncul lebih dulu justru mobil milik Martin. Tentu saja Willy merasa jengkel dan tidak senang saat melihat Martin keluar dari mobil itu, lalu menghampiri dirinya.


"Hey! Mau apa kamu disini? Ngapain, ha?" tanya Martin menegur Willy.


Willy hanya diam tak perduli dengan ucapan pria di sebelahnya itu, hingga memancing amarah Martin yang sudah mengepalkan tangannya.


"Heh! Saya ini bertanya sama kamu, kenapa kamu malah diam aja?" ujar Martin kesal.


"Ohh, situ nanya ke gue? Yang jelas dong makanya kalo ngomong, jangan sebut kamu kamu aja! Gue ini kan punya nama, dan gue yakin lu juga masih inget nama gue." ucap Willy.


"Gausah basa-basi! Langsung aja kasih tahu ke gue, mau apa lu kesini?!" ucap Martin.


"Gue mau ngapain itu bukan urusan lu, mending lu pergi deh jauh-jauh dari kehidupan gue! Jangan pernah lu ikut campur lagi sama urusan gue!" ucap Willy mengusir Martin.


"Hah? Kamu gak salah usir saya? Ini rumah paman saya, dan saya berhak buat datang kesini. Yang seharusnya pergi itu kamu, bukan saya!" ucap Martin.


"Gue gak perduli, mau lu keponakan om Johan atau siapa kek itu bukan urusan gue! Intinya gue bakal tetap disini," ucap Willy.


"Lu bener-bener ya!" geram Martin.


Martin mendekati Willy perlahan-lahan dengan gestur seperti ingin memukulnya.


"Tahan!"


Tiba-tiba suara teriakan lantang terdengar di telinga mereka, membuat Martin menghentikan gerakannya dan mengurungkan niatnya.


Mereka sama-sama menoleh ke arah suara, tampaklah Johan dan juga Aurora yang baru keluar rumah mereka.


"Paman? Aurora?" ucap Martin terkejut.


"Kamu mau apa Martin? Jangan buat keributan di depan rumah om!" ujar Johan.


"Eee saya gak buat keributan kok om, tapi si Willy ini yang bikin saya kesal!" ucap Martin.


"Memangnya ada apa?" tanya Johan.


"Ini om, Willy sudah saya usir berkali-kali tapi tetap kekeuh gak mau pergi. Kan saya jadi kesal om, untung om keburu datang, kalau enggak udah saya habisi anak ini!" jawab Martin.


"Sudahlah Martin, kamu tidak perlu meributkan itu! Biarkan saja Willy ada disini, karena dia hanya ingin mengantar Aurora sekolah." kata Johan.


"Hah? Apa paman? Kenapa paman bilang begitu? Emangnya paman udah gak khawatir lagi kalau Willy akan membawa pengaruh buruk buat Aurora?" tanya Martin.


"Dari yang om lihat, Willy gak terlalu buruk dan Aurora juga merasa nyaman sama dia. Itu artinya Willy tidak membawa pengaruh buruk untuk Aurora, jadi biarkan saja mereka." jawab Johan.


"Iya kak Martin, kamu gak perlu terlalu cemas begitu soal aku!" sahut Aurora.


"Baiklah, saya tidak akan permasalahkan itu lagi. Tapi asal paman tahu, jangan salahkan saya jika nantinya Aurora jadi semakin liar!" ucap Martin.


"Itu gak akan pernah terjadi kak," ucap Aurora.


"Saya permisi!" ucap Martin.


Martin pun berbalik, lalu pergi dengan perasaan jengkel.


Sementara Willy tampak tersenyum puas saat melihat Martin tak didengar lagi oleh Johan.


******


Singkat cerita, Willy dan Aurora sudah tiba di sekolah mereka. Sepasang kekasih itu pun turun dari motor, melepas helm masing-masing lalu bertatapan sejenak di depan sekolah.


Willy meraih dua tangan gadisnya, tersenyum sembari merapihkan rambut Aurora dan membuat gadis itu merasa salah tingkah sendiri saat diperlakukan seperti itu.


"Kamu manis banget sih, gula di rumah aku aja kalah manisnya sama kamu sayang!" ucap Willy.


"Apaan sih? Gausah gombal deh, mending kita langsung masuk sekarang!" ujar Aurora.


"Kamu yakin sayang? Aku masih ragu nih, aku takut kepala sekolah malah makin marah dan tambahin hukuman buat aku!" ucap Willy.


Aurora menggeleng sembari menghela nafas.


"Apalagi kalau nantinya kepala sekolah juga ikut kasih hukuman ke kamu, kan aku semakin ngerasa bersalah sayang." sambung Willy.


"Udah deh, kamu jangan mikir begitu dulu! Belum tentu itu bakal kejadian kan? Jadi, kamu gausah cemas Willy!" ucap Aurora.


"Gimana gak cemas? Kalau kamu diskors juga, nanti papa kamu malah nyalahin aku lagi dan gak bolehin kita buat dekat kayak gini. Sekarang udah untung loh papa kamu mau terima aku," ucap Willy.


"Gak akan begitu, kamu percaya deh sama aku!" ucap Aurora.


"Iya iya, aku percaya deh sama kamu. Tapi, cium bibir aku dulu dong!" pinta Willy.


"Dih ogah!" cibir Aurora.


"Hahaha, cie yang malu malu..." ledek Willy.


"Aku tahu kok sayang, kamu itu sebenarnya menikmati kan setiap kali aku cium bibir kamu? Dan kamu tuh padahal mau dicium sama aku terus, tapi kamu gengsian." ucap Willy.


"Sok tahu banget sih! Ngapain juga aku pengen dicium sama kamu? Kita aja bukan siapa-siapa," elak Aurora.


"Kok kamu ngomongnya gitu sih? Kita kan pacaran sayang, masa dibilang bukan siapa-siapa?" protes Willy.


"Lah bener kan? Status pacaran itu cuma pura-pura aja, dari awal aku kan udah bilang sama kamu." kata Aurora.


"Yang pura-pura itu dilupakan aja, sekarang kita kan udah serius sayang. Aku ini pengen kamu jadi pacar beneran aku, bukan pura-pura lagi." ucap Willy.


"Kalau akunya gak mau gimana?" tanya Aurora.


"Ya gampang, tinggal aku paksa. Lagian mana mungkin juga kamu gak mau pacaran sama aku?" jawab Willy santai.


"Ish, kepedean banget jadi cowok!" cibir Aurora.


"Gapapa kepedean daripada suka insecure, itu malah lebih parah." ujar Willy.


"Yaudah, kita masuk yuk!" ajak Aurora.


"Ntar dulu Aurora! Kamu jawab dulu pertanyaan aku tadi!" pinta Willy.


"Pertanyaan apa sih?" tanya Aurora heran.


"Kamu mau gak jadi pacar beneran aku?" ucap Willy sambil tersenyum.


"Haish, bahas itu nanti aja deh! Kita tuh harus temui pak kepsek sekarang Willy, sebelum bel!" ucap Aurora.


Willy tersenyum lebar, bergerak maju mendekati Aurora dan menangkup wajah gadis itu.


Disaat bibir mereka hendak bertaut, tiba-tiba sebuah teriakan membuyarkan momen itu.


"Willy!"


Bersambung....