My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 31. Dihukum



My love is sillie


Episode 31



"Riq," ucap Randi memanggil Thoriq.


Sontak Thoriq terkejut melihat kehadiran Sasha beserta dua temannya disana, begitupun dengan Aurora yang tak mengenal siapa mereka.


Sasha juga menatap heran ke arah Aurora, ia berpikir keras siapakah gadis itu dan untuk apa dia ada disana.


"Eh lu Ran, ini kok Sasha sama yang lainnya bisa ada disini sih?" ujar Thoriq keheranan.


"Ah iya Riq, kita mau jenguk Willy. Kebetulan kita tahu kabar tentang Willy dari Ilham, dia ngaku kalau dia yang udah bikin Willy babak belur dan sampai masuk rumah sakit." jawab Sasha.


"Waduh, nekat juga tuh anak pake ngaku sama kalian. Itu kan sama aja dia siap buat ditahan di kantor polisi," ucap Thoriq.


"Lu salah Riq! Ilham bukan ditahan sama polisi, tapi dia harus dapat pelajaran yang setimpal karena udah bikin Willy sampai babak belur. Bukan cuma Ilham, tapi semua temannya yang terlibat kemarin!" ucap Randi.


"Hey hey hey! Aduh kalian ini pada kenapa sih! Untuk sekarang jangan bahas balas dendam dulu! Gue mau lihat kondisi Willy, boleh kan gue masuk ke dalam?" ucap Sasha.


"Eee jangan dulu! Willy barusan aja istirahat, dia gak boleh diganggu!" ucap Aurora.


Sasha kembali menatap ke arah Aurora, ia seperti tak suka melihat keberadaan gadis itu disana.


"Lu siapa?" tanya Sasha heran.


"Gue temannya Willy, lebih tepatnya calon murid Willy." jawab Aurora sambil tersenyum.


"Calon murid? Maksud lu apa sih? Emangnya Willy guru apa?" tanya Sasha tak mengerti.


"Iya, Willy calon guru gue. Dia udah bilang kalau dia mau ajarin gue banyak hal tentang jalanan, lu sendiri siapanya Willy? Kok kelihatan cemas banget sama Willy?" ucap Aurora balik bertanya.


"Gue Sasha, mantan pembalap sekaligus teman satu sekolahnya Willy. Gue lebih kenal Willy dibanding lu, jadi pantas dong kalau gue cemas sama kondisi dia. Lagian lu ngapain sih minta diajarin tentang jalanan sama Willy? Mau jadi apa lu, ha?" ujar Sasha.


"Gue mau jadi apa kek itu suka-suka gue, kan ini hidup gue. Yaudah ah, gue mau ke kantin aja. Thoriq, Randi, gue pergi dulu ya?" ucap Aurora.


"Ah iya Rora, hati-hati!" ucap Randi tersenyum.


"Mau gue temenin gak ke kantinnya? Barangkali butuh temen ngobrol gitu," ujar Thoriq.


"Gausah, gue bisa sendiri." tolak Aurora.


"Oh oke!" ucap Thoriq mengangguk singkat.


Aurora pun pergi dari sana, ia sempat melirik sinis ke arah Sasha dan dibalas juga oleh lirikan tajam oleh gadis itu.


Setelah Aurora menghilang, Sasha beralih menatap Randi dan Thoriq bermaksud menanyakan mengenai Aurora.


"Dia itu siapa sih? Gayanya sok keren banget!" ujar Sasha.


"Kenapa Sya? Lu cemburu ya karena Aurora dekat sama Willy?" goda Thoriq.


"Hah? Bu-bukan gitu, gue kan cuma mau tanya. Jadi namanya Aurora?" ucap Sasha terbata-bata.


"Iya, dia Aurora. Kalau lu pengen tahu lebih jauh tentang Aurora, lu susul aja dia ke kantin gih sana terus tanya langsung!" ucap Thoriq.


"Dih ogah banget!" ujar Sasha.


Thoriq dan Randi hanya senyum-senyum saja melihat ekspresi Sasha.


"Riq, kondisi Willy sekarang gimana? Dia udah membaik kan?" tanya Ratih.


"Lu tenang aja Ratih! Willy semakin membaik kok kondisinya, dia cuma butuh istirahat aja supaya dia bisa pulih sepenuhnya dan pulang dari sini." jawab Randi menjelaskan.


"Syukurlah! Gue ikut senang dengarnya!" ucap Ratih merasa lega.


"Yaudah, kalo gitu gue mau hubungin bokap dan nyokap nya Willy dulu ya? Kasihan mereka cari-cari Willy kesana-kemari gak ketemu!" ucap Aziz.


"Eh Ziz jangan!" cegah Randi.


"Lah kenapa sih, Ran?" tanya Aziz heran.


"Jangan kasih tahu orang tua Willy tentang kejadian yang menimpa dia! Soalnya Willy gak mau orangtuanya cemas dan panik, apalagi dia juga belum kasih tahu ke orangtuanya kalau dia udah dikeluarin dari sekolah. Willy takut aja orangtuanya makin tambah syok nantinya," jelas Randi.


"Iya Ziz, tolong lu ngertiin kondisi Willy ya! Kita juga sebenarnya mau kasih tahu mama papanya Willy, tapi dicegah sama dia." sahut Thoriq.


"Tapi Ran, Riq, kalau kita gak kasih tahu orang tua Willy, mereka pasti terus cemas dan nyariin Willy. Bukannya justru itu tambah bikin mereka kasihan ya?" ucap Sasha.


"Iya Sya, gue tahu. Tapi, sebaiknya lu jangan hubungin mereka dulu tanpa seizin Willy!" ucap Randi.


"Yaudah deh, gue ngikut apa kata lu aja." ucap Sasha menurut.


"Thanks Sya!" ucap Randi singkat.


******


Kiara juga tiba di depan rumah sakit tempat Willy berada, wanita itu memang mengikuti kemana motor Sasha pergi hingga sampai kesana.


Kiara langsung turun dari mobilnya, kemudian menatap ke sekeliling area rumah sakit dengan wajah terheran-heran.


"Ngapain ya Sasha ke rumah sakit ini? Emangnya Willy dirawat disini?" gumam Kiara bingung.


Tanpa berpikir terlalu lama, Kiara langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit tersebut karena ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Willy.


Bruuukkk...


Sangking tergesa-gesa nya, Kiara sampai menabrak seseorang pria di depannya dan sedikit merintih kesakitan.


"Awhh aduh! Sorry sorry, aku gak sengaja!" ucap Kiara merasa tidak enak.


"Loh Kiara?" pria itu syok begitu menyadari yang menabrak dirinya adalah Kiara.


"Tu-tuan Martin?" ucap Kiara gugup plus terkejut melihat adanya sosok Martin di rumah sakit tersebut.


"Kamu ngapain disini sayang?" tanya Martin.


"Eee a-aku..." Kiara tampak bingung menjelaskan kepada Martin, ia tak mungkin mengatakan pada lelaki tersebut bahwa saat ini ia tengah mencari Willy.


"Kamu sakit? Atau ada yang mau diperiksa? Kok gak bilang saya dulu sih?" tanya Martin cemas.


"Ah enggak kok, aku kesini mau jenguk teman. Kamu sendiri ngapain disini?" jawab Kiara gemetar.


"Loh, kamu ini gimana sih? Ini kan rumah sakit milik saya, jadi saya kesini ya wajar dong buat cek perkembangan rumah sakit ini." kata Martin.


"Apa? Rumah sakit kamu?" ujar Kiara terkejut.


"Iya Kiara, kamu gak lihat apa nama rumah sakit ini? Di depan kan tertera jelas tuh, Martin hospital. Ini rumah sakit milik aku sayang. Emang teman kamu dirawat di ruang mana?" ucap Martin.


"Eee itu dia, aku belum tahu. Makanya ini aku mau cari tau dulu," ucap Kiara masih gugup.


"Ohh mau aku bantu?" tanya Martin menawarkan diri.


"Gausah tuan, biar aku tanya sendiri aja ke bagian resepsionis. Kamu kan pasti banyak urusan, jadi aku gak mau ganggu kamu." jawab Kiara.


"Eee ta-tapi..."


"Udah ayo aku anterin kamu ke resepsionis!" potong Martin langsung menarik tangan Kiara.


Akhirnya mereka berdua pergi menuju tempat resepsionis, Martin menanyakan pada pegawai disana dimana kamar tempat teman Kiara dirawat.


"Misi mbak, saya mau tanya dong." kata Martin.


"Iya tuan Martin, ada yang bisa saya bantu?" ucap pegawai itu.


"Tentu. Istri saya mau jenguk temannya yang dirawat disini, tapi dia gak tahu dimana ruang rawatnya. Makanya saya ajak dia kesini buat cari tahu," jelas Martin.


"Ohh nama temannya siapa ya tuan?" tanya pegawai itu.


"Nah sayang, kamu kasih tahu gih nama teman kamu itu ke mbaknya!" ucap Martin pada Kiara.


"I-i-iya mas..." ucap Kiara gugup.


"Namanya...."


******


Willy terbangun dari tidurnya, ia membuka mata dan melihat sosok wanita tengah tertidur bersandar di sofa kamar tersebut.


Sontak saja Willy terkejut, karena yang ia lihat saat ini adalah Sasha alias teman sekolahnya. Dan tentu Willy heran bagaimana caranya Sasha bisa datang ke rumah sakit itu.


"Sasha? Dia kok bisa ada disini sih? Siapa yang kasih tahu dia?" gumam Willy.


Pria itu melihat ke arah jam, waktu sudah menunjukkan tengah malam dan ia pun tidak enak jika Sasha harus menemaninya disana sampai besok pagi.


Willy berusaha membangunkan gadis itu agar dia bisa pulang ke rumahnya, namun entah mengapa Willy tiba-tiba berubah pikiran karena tak mau jika Sasha kenapa-napa di jalan mengingat hari sudah malam.


"Duh, kayaknya gue gak bisa bangunin dia. Biar gimanapun Sasha itu kan perempuan, kalo gue suruh dia pulang sekarang yang ada malah bahaya buat dia!" ucap Willy.


Akhirnya Willy membiarkan saja gadis itu terlelap disana tanpa mau mengganggunya, ia hanya sesekali menatap wajah Sasha sambil tersenyum.


"Kasihan juga si Sasha! Dia rela sampai tidur disini cuma buat jagain gue. Tapi, ini Thoriq sama Randi kemana sih? Mereka ninggalin gue apa gimana ya? Tega bener tuh dua orang!" gumam Willy.


"Haish, gue haus lagi. Mana gelasnya agak jauh lagi, kira-kira gue bisa ambil gak ya?" sambungnya.


Willy yang merasa kehausan akhirnya terpaksa mengambil gelas minum untuknya sendiri, tak mungkin ia harus membangunkan Sasha hanya untuk sesuatu yang menurutnya sepele.


"Ayo dikit lagi!" ucapnya menyemangati diri.


Praaangg....


Namun, yang terjadi justru gelas tersebut malah terjatuh dan pecah hingga berserakan dimana-mana.


"Aduh gawat! Kok malah pecah sih?" ujar Willy cemas.


Sasha tentu saja terbangun akibat pecahan gelas tersebut, gadis itu langsung membuka matanya dan reflek bangkit dari tempat duduk untuk menghampiri Willy dengan perasaan cemas.


"Wil, lu kenapa? Apaan yang pecah tadi?" tanya Sasha cemas.


"Eee ini barusan gue mau minum, tapi gelasnya malah pecah gara-gara kesenggol. Emang gue ini payah banget!" ucap Willy.


"Lu jangan bilang gitu! Udah, ini biar nanti pelayan yang bersihin. Gue ambilin air minum ya buat lu!" ucap Sasha.


"Boleh tuh, thanks ya Sya! By the way, lu kok bisa ada disini sih? Siapa yang kasih tahu?" ucap Willy.


"Ohh gue tadi kesini sama Aziz dan Ratih juga, kita tuh dapat informasi dari Ilham karena dia ngaku kalau dia yang udah mukulin lu." jelas Sasha.


"Pantes aja," ucap Willy singkat.


"Yaudah, nih minum dulu katanya lu haus kan!" ucap Sasha menyodorkan gelas minuman pada Willy.


"Thanks! Sorry banget ya gue udah ganggu waktu tidur lu tadi!" ucap Willy merasa tidak enak.


"Gapapa, santai aja! Kalo diganggu nya sama lu mah gue gak masalah kok, gue malah suka banget bantuin lu!" ucap Sasha tersenyum.


"Iya, makasih ya!" ucap Willy.


Willy pun meminum air pemberian Sasha itu, lalu terlihat celingak-celinguk seperti mencari seseorang.


"Lu cari siapa sih?" tanya Sasha bingung.


"Eee anu... lu lihat atau tahu gak Randi sama Thoriq dimana? Tadi sore gue masih lihat mereka disini, tapi kok sekarang udah gak ada? Apa mereka udah pada pulang?" ucap Willy.


"Ohh enggak kok, mereka semua ada di depan. Bahkan anak-anak geng lu yang lain juga pada datang kok buat bantu jagain lu," ucap Sasha.


"Lu serius? Emang pihak rumah sakit kasih izin buat mereka datang kesini?" tanya Willy kaget.


"Boleh boleh aja, katanya sih asalkan gak bikin keributan gitu." jawab Sasha.


"Oalah, gue kira mereka udah pada pulang. Ternyata mereka malah ngumpul semua di depan, emang the best dah mereka!" ucap Willy.


"Hahaha... iya Wil, gue juga salut sama pertemanan kalian!" ucap Sasha.


Willy mengangguk-angguk saja, lalu pikirannya tiba-tiba tertuju pada sosok Aurora si gadis cantik yang entah mengapa memikat perhatiannya.


"Kira-kira Aurora masih ada juga gak ya di depan? Atau dia udah pulang?" batin Willy.


******


Martin mendorong kasar Kiara ke atas ranjang dan mengunci pintu kamar wanitanya itu dengan rapat dari dalam.


"Awhh!!" pekik Kiara memegangi lengannya.


"Kiara, sudah berapa kali saya bilang sama kamu? Kamu jangan pernah lagi mikirin Willy apalagi berniat temui dia! Tapi apa, kamu tadi malah mau jengukin dia di rumah sakit!" bentak Martin.


"Maaf tuan! Aku cuma pengen lihat kondisi Willy aja, gak ada maksud lain kok!" ucap Kiara.


Martin menatap bengis ke arah Kiara sembari melangkah mendekatinya, perlahan pria itu membungkuk lalu mencengkram rahang Kiara dengan kasar dan mendekatkan wajahnya.


"Itu cuma alasan kamu doang kan! Aku tahu sebenarnya kamu khawatir sama dia, makanya kamu datang ke rumah sakit buat jenguk dia. Selain itu, aku juga yakin kalau kamu kangen dan pengen sama-sama terus sama dia!" ucap Martin.


"Enggak tuan, beneran aku gak ada pikiran begitu! Tolong tuan percaya sama aku! Yang ada di pikiran aku itu cuma tuan!" bujuk Kiara.


"Omong kosong! Kalau memang benar begitu, sekarang saya minta kamu berikan tubuh kamu untuk saya! Sudah cukup lama saya menahan ini, sekarang saya ingin memiliki kamu seutuhnya sayang! Tunjukkan sama saya kalau kamu memang hanya memikirkan saya!" ucap Martin.


Kiara terdiam kebingungan, ia merasa sangat takut pada Martin saat ini, karena pria itu benar-benar menyeramkan dan terlihat jelas kalau dia ingin sekali merasakan tubuhnya.


Memang bukan kali pertama Martin memarahinya seperti itu, tapi tetap saja hati Kiara terlalu lemah untuk menghadapi amarah pria tersebut.


"Aku harus gimana? Kalau aku tolak keinginan tuan Martin, yang ada dia bakal semakin marah dan gak percaya lagi sama aku. Tapi, aku juga gak mau serahin mahkota yang udah aku jaga selama ini sama dia!" batin Kiara.


Sementara Martin masih terus menatapnya, menanti jawaban dari gadis itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA+KOMEN YA GES YA!!!...