
My love is sillie
Episode 97
•
Sreekkk...
Dengan tidak sabaran, Willy merobek gaun yang dikenakan Aurora hingga terpampang lah dada milik gadis itu dengan pembungkus berwarna hitam menutupinya.
"Waw it's perfect!" puji Willy.
Aurora merasa malu saat Willy terus menatapnya seperti itu, ia menggigit bibir bawahnya dan membuat Willy makin gemas.
"Kamu kenapa gemesin banget sih sayang?" goda Willy seraya mencolek dagu Aurora.
"Kamu sendiri kenapa sobek gaun aku? Nanti aku pulangnya gimana?" tanya Aurora bingung.
"Maaf sayang! Aku udah gak tahan soalnya, soal pulang gampang deh biar aku yang urus. Sekarang kita lanjutin kan kegiatan tadi?" ujar Willy.
Aurora mengangguk malu-malu, sejujurnya ia ingin meneruskan kegiatan itu agar rasa panas di tubuhnya hilang, walau ia masih takut untuk melakukannya bersama Willy.
"Ah kamu luar biasa baby! I love you so much.." ucap Willy sembari menciumi leher jenjang gadisnya.
Aurora merem melek dengan dua tangan terus mencengkram sprei akibat permainan mulut Willy di lehernya.
Apalagi saat pria itu membuka pembungkus yang menutupi dadanya, hingga kini dua gundukan itu menyembul keluar.
"Ini luar biasa!" puji Willy.
Tanpa menunggu lama, Willy langsung melahap gundukan itu dan menyedotnya seakan-akan ada cairan yang akan keluar dari sana.
Tangannya juga tak tinggal diam, ia meremass gundukan yang lainnya dan juga mencolek-colek bagian bawah Aurora.
"Emhh akh uhh.." jerit Aurora merasakan sekujur tubuhnya penuh kenikmatan.
Drrttt..
Drrttt...
Willy mengabaikan dering telpon miliknya dan memilih meneruskan aksinya, ia sudah terlanjur bergairah dan tidak ingin berhenti begitu saja.
Namun, lambat laun bunyi telpon itu membuatnya resah. Ia pun bangkit sesaat untuk memeriksa siapa yang menelponnya.
"Randi? Ada apa sih?" gumamnya.
"Kenapa Wil?" tanya Aurora kecewa.
"Bentar sayang, aku terima telpon dulu." jawab Willy.
"Huh!" Aurora mendengus kesal.
Willy pun mengangkat telpon dari Randi itu.
📞"Halo Ran! Kenapa lu telpon gue?" tanya Willy di telpon.
📞"Ha-halo Wil! Gawat Wil, Martin udah gabung sama black jack dan dia tadi serang kita semua! Uhuk uhuk.." jawab Randi terbatuk-batuk.
📞"Apa?!!" Willy terkejut bukan main.
📞"Benar Wil! Tadi dia juga ngancem kita supaya bubarin geng the darks, kalau enggak dia bakal abisin kita semua nantinya Wil." sambung Randi.
📞"Sialan tuh orang! Punya dendam apa sih dia sama the darks?!" geram Willy.
📞"Maka dari itu, sekarang lu bisa gak ke markas sekarang? Kita harus bahas tentang ini Wil!" tanya Randi.
📞"Eee gue.." ucap Willy menggantung.
Willy masih kebingungan saat ini, ia melirik ke arah Aurora yang sudah bersusah payah menahan rasa panas di tubuhnya, tentu ia kasihan melihat Aurora seperti itu dan ingin menolongnya.
Namun, Willy juga khawatir dengan kondisi teman-temannya di markas, sehingga kini ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit.
📞"Gimana Wil?" tanya Randi sekali lagi.
📞"Gue gak bisa datang sekarang, gue masih ada urusan sama Aurora. Tapi, gue janji gue bakal selesaikan semuanya secepat mungkin! Kalian sekarang bubar aja dulu, ke klinik kalau ada yang luka parah!" jawab Willy.
📞"Tapi Wil, gimana kalau Martin dan black jack serang kita lagi nanti?" tanya Randi.
📞"Lu semua tenang aja! Gak akan ada serangan lagi dari mereka, gue bakal urus semua ini secepatnya!" jawab Willy.
📞"Oke Wil!" ucap Randi singkat.
Tuuutttt tuuutttt...
Saat berbalik menatap Aurora kembali, Willy terkejut hebat lantaran tubuh gadis itu sudah polos tanpa sehelai benangpun disertai ekspresi menggoda dengan menggigit jarinya.
Glekk..
Willy menelan saliva secara susah payah saat dihadapkan pada situasi seperti ini.
"Gak ada pilihan lain, maaf Aurora!" ucap Willy.
Willy langsung buru-buru menindih tubuh Aurora dan melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.
Suara-suara kenikmatan mereka terus menggema di satu ruangan tersebut.
******
Pagi harinya, Aurora terbangun dan merasakan lengan kekar melingkar di pinggangnya.
Ia menoleh ke samping, menatap Willy dengan heran dan coba mengingat kejadian semalam.
Seketika itu juga Aurora menangis, ia ingat betul apa yang dirinya lakukan bersama Willy semalam.
"Hiks hiks.." isak tangis Aurora rupanya membuat Willy ikut terbangun.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Willy cemas.
Pria itu langsung memegang wajah gadisnya dan mendekat, namun Aurora justru menepis tangannya seakan tak mau disentuh.
"Hey, what's wrong? Kamu marah sama aku karena kejadian semalam? Iya iya, aku akui aku salah dan sekarang aku mau minta maaf sama kamu. Tolong jangan nangis lagi ya sayang!" bujuk Willy.
"Kamu gak perlu minta maaf, ini salah aku kok. Aku yang goda kamu semalam dan minta kamu buat puasin aku, seharusnya aku gak lakuin itu." ucap Aurora dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Aurora sangat bersedih seperti itu, membuat Willy merasa kasihan.
"Duh, gue kok jadi nyesel ya udah kasih obat per*ngs*ng ke minuman Aurora semalam? Kasihan juga pacar gue ini!" batin Willy.
Willy pun kembali mendekat, ia usap air mata di wajah gadisnya dan mengecup bibirnya singkat.
Cup!
"Udah ya sayang, jangan nangis! Aku gak bisa lihat kamu sedih kayak gini, sekali lagi aku minta maaf sama kamu!" ujar Willy.
"Aku gapapa kok, aku cuma gak nyangka semalam aku bisa kayak gitu ke kamu. Gara-gara tindakan aku itu, sekarang aku udah kehilangan kesucian yang aku jaga selama tujuh belas tahun." ucap Aurora.
"Kamu tenang ya! Aku pasti bakal tanggung jawab! Aku akan nikahi kamu, Aurora!" ucap Willy.
Entah mengapa Aurora merasa sedikit lega dan senang mendengar ucapan Willy, walau masih ada sedikit rasa emosi dan tidak percaya di dalam dirinya mengenai itu semua.
"Makasih Willy!" Aurora langsung memeluk Willy dan membenamkan wajahnya di dada sang kekasih yang masih tak berbusana.
"Sama-sama sayang, i love you.." balas Willy seraya mengecup kening Aurora.
Cup!
"Yaudah, kamu sekarang mau mandi gak? Semalam abis main, kamu langsung tidur aja kayaknya karena kecapekan." ucap Willy sembari mencolek dagu Aurora.
"Iya boleh, tapi ini sekarang kita masih belum pake baju ya?" tanya Aurora saat merasakan kulitnya seperti bersentuhan langsung dengan milik Willy di bawah sana.
"Iya cantik, kan aku bilang tadi, permainan semalam betul-betul memuaskan dan melelahkan. Makanya kita berdua langsung sama-sama tidur abis main," jelas Willy.
"Eee kalo gitu aku minta maaf! Kamu pasti ngerasa gak nyaman aku peluk kayak gini," ujar Aurora.
"Gak kok sayang, aku senang dipeluk sama kamu, mau kamu telanjang atau enggak. Kamu jangan lepas pelukannya ya!" ujar Willy.
"Tapi Wil, punya kamu kayaknya keras lagi ya? Kerasa soalnya di kulit aku," ucap Aurora merasa risih.
"Hah? Kena ya?" ujar Willy terkejut.
Willy tersenyum saja dan langsung melumatt bibir kekasihnya dengan ganas dan menuntut.
Aurora hanya bisa pasrah dengan itu, ia kini sudah tak memiliki alasan untuk menolaknya.
"Kita sambung di kamar mandi yuk!" ucap Willy.
Aurora mengangguk saja, Willy pun mengangkat tubuh Aurora ala koala dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
******
Hari ini hari Minggu, Tedy berniat menemui Ayna di rumahnya untuk mengajak gadis itu jalan-jalan.
Ia pun telah tiba di depan rumah Ayna, dan bersiap untuk melangkah lebih dekat.
Akan tetapi, niat Tedy langsung berubah begitu melihat Geri keluar dari rumah itu bersama Ayna.
Samar-samar ia mendengar percakapan mereka yang jaraknya tak terlalu jauh darinya itu.
"Kak, kalau cuma ke minimarket mah aku bisa sendiri tau. Kakak gak perlu repot-repot kayak gini buat anterin aku kesana, aku sendiri aja ya!" ucap Ayna pada kakaknya.
"Gak bisa Ayna, nanti lu malah ketemuan lagi sama tuh temen lu yang anak the darks itu. Dengar ya, gue gak suka lu dekat-dekat sama mereka! Apalagi si Randi itu wakil the darks, dia musuh besar gue Ayna!" ucap Geri.
"Tapi kak, musuh kakak kan bukan berarti musuh aku juga. Aku cuma pengen temenan aja kok sama mereka, gak lebih." ucap Ayna.
"Itu sama aja Ayna, pokoknya gue gak suka lu punya hubungan sama mereka! Mau itu temenan atau apalah kek, lu harus nurut sama gue dan jangan ngebantah!" tegas Geri.
"Ish, kakak jahat banget sih!" ujar Ayna kesal.
"Gue gak jahat, gue cuma mau melindungi lu. Nih ya gue kasih tahu, anak-anak the darks itu semuanya jahat Ayna! Mereka bisa bikin lu celaka, jadi mending lu jauh-jauh deh dari mereka!" ucap Geri.
"Apaan sih? Yang aku lihat mereka baik-baik tuh, buktinya mereka bantu aku kemarin." ucap Ayna.
"Ah itu mah cuma modus!" ujar Geri.
"Kata siapa? Aku lihat sendiri kok mereka beneran mau bantu aku, bukan modus. Kakak jangan nilai seseorang karena kakak benci dia, kalau begitu mah mereka akan terus salah di mata kakak!" ucap Ayna menasehati kakaknya.
"Heh! Lu sekarang udah berani nasehatin gue kayak gitu?! Ingat ya, gue ini kakak lu dan gue lebih tahu mereka daripada lu! Jadi, lu nurut sama gue atau lu gue kirim ke pesantren!" ujar Geri.
"Haish, iya kak iya aku nurut!" ucap Ayna pasrah.
"Lu harus apa sekarang??" ucap Geri.
Ayna menatap kebingungan ke arah kakaknya, ia tak mengerti apa yang diinginkan kakaknya itu.
"Emangnya harus apa?" tanya Ayna bingung.
"Ya ampun Ayna! Masa lu gak ngerti sih? Minta maaf loh minta maaf, masa harus diingetin terus?!" geram Geri.
"Ohh, iya iya aku minta maaf kak! Tapi, sekarang aku ke minimarketnya sendiri aja ya?" ujar Ayna.
"Dih enak aja! Gue gak bakal biarin lu jalan sendirian lagi, nanti lu malah enak-enak ketemuan sama si Randi itu!" ucap Geri.
Ayna pun mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Ini jangan-jangan yang cowok waktu itu lu bawa ke rumah tuh si Randi ya, anak the darks?" tanya Geri pada adiknya.
"Bukan," jawab Ayna menggeleng.
"Terus siapa?" tanya Geri lagi.
"Tedy, dia temannya Randi." jawab Ayna.
"Hadeh, lu kenal sama berapa anak the darks sih?" tanya Geri penasaran.
"Cuma dua, Tedy sama Randi." jawab Ayna.
"Yang bener??" tanya Geri memastikan.
Ayna manggut-manggut saja, Geri pun percaya pada jawaban adiknya.
"Yaudah, ayo cabut!" pinta Geri.
"Iya," ucap Ayna singkat lalu naik ke motor Geri.
Mereka pun melaju pergi dari sana menuju minimarket untuk membeli keperluan Ayna.
Tedy yang masih mengintip dari jauh, berniat mengikuti mereka dengan motornya.
"Gue harus ikutin mereka! Siapa tau gue punya kesempatan buat deketin Ayna," ucap Tedy sambil senyum-senyum sendiri.
Tedy langsung menancap gas dan menyusul Geri dari jarak tidak terlalu dekat.
******
Aurora keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe yang tersedia di ruangan itu.
Ia melangkah dengan berhati-hati karena bagian bawahnya masih terasa perih.
Setelah semalaman digempur, tadi pun Willy juga masih saja melakukannya saat mereka mandi.
Aurora tidak bisa menolak lagi saat ini, karena ia sudah terlanjur menikmati permainan Willy.
Kini wanita itu duduk di depan cermin, memandangi wajahnya sambil menangis.
"Huft, sekarang tubuh aku udah gak suci lagi. Ini semua karena ulah aku sendiri, harusnya aku gak lakuin itu semalam! Aduh Aurora, kenapa kamu bisa seceroboh itu sih?!" gumam Aurora.
Ceklek...
Pintu terbuka dari luar, membuat Aurora menoleh karena terkejut.
"Willy? Kamu darimana?" tanya Aurora.
"Ini sayang, aku beliin baju buat kamu. Aku belum tahu ukuran kamu, jadi aku tebak-tebak aja. Ya semoga muat deh di tubuh kamu!" jelas Willy.
"Makasih ya Wil!" ucap Aurora sambil tersenyum.
"Sama-sama, lagian semalam kan aku yang udah robek gaun kamu. Jadinya kamu gak bisa pakai gaun itu lagi deh, maaf banget ya Aurora! Tapi, aku janji nanti aku akan beliin kamu gaun yang baru dan lebih bagus dari itu!" ucap Willy.
"Iya iya, yaudah kamu keluar dulu sana kan aku mau ganti baju!" pinta Aurora.
"Hah ngapain? Aku mau disini aja lihat kamu ganti baju," ucap Willy.
"Ish apa sih? Kamu gausah ngada-ngada deh, aku malu tau ganti baju di depan kamu! Kamu keluar dulu sebentar sana, nanti masuk lagi!" ujar Aurora.
"Gapapa sayang, gausah malu! Toh kita udah lakuin itu dua kali, semalam dan tadi." ucap Willy.
"Iya sih, tapi tetep aja aku masih ngerasa aneh kalo ganti baju dilihatin sama kamu." ucap Aurora.
"Kamu mau ganti sendiri, atau aku gantiin nih?" ucap Willy mendekat ke arah Aurora.
"Ih jangan! Aku bisa ganti sendiri, udah kamu duduk aja disitu jangan dekat-dekat! Awas ya kalau kamu samperin aku lagi!" ucap Aurora.
Willy tersenyum tipis dan menuruti kemauan Aurora untuk duduk di pinggir ranjang.
Aurora mengambil kantung berisi pakaian yang sudah dibelikan Willy itu.
Namun, Aurora cukup kaget lantaran di dalam sana tidak ada dalaman sama sekali.
"Ini apa-apaan sih Willy? Kok kamu cuma beliin aku baju? Kamu lupa ya kalau aku harus pakai dalaman juga?" tanya Aurora.
"Udah gausah, kamu pake yang ada aja ya! Toh ini cuma buat sementara, supaya kita bisa pulang aja." ujar Willy sambil nyengir.
"Haish.."
Bersambung....