My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 52. Orang bayaran



My love is sillie


Episode 52



"Aku gak bisa jauhi dia, pah. Aku gak punya alasan untuk ngelakuin itu, karena selama aku kenal sama dia Willy itu gak pernah bawa pengaruh buruk kok buat aku." kata Aurora.


"Kamu belum sepenuhnya kenal dia, Aurora. Kamu tidak bisa percaya begitu saja dengan dia! Bisa saja dia sedang akting kan?" ucap Johan.


"Papa ini kenapa sih? Siapa yang udah bikin papa jadi kayak gini?" tanya Aurora heran.


"Gak ada, papa abis suruh orang buat cari tau tentang Willy. Dan setelah papa dapat informasi, ternyata Willy itu adalah ketua geng motor berandalan. Bahkan dia pernah ditahan di penjara beberapa kali, dia itu bukan orang baik Aurora!" jawab Johan.


Aurora melepas paksa tangannya dari cengkeraman sang papa, lalu menatap Johan dengan penuh emosi.


"Cukup pah, papa udah kelewatan! Aku gak mau lagi nurut sama papa, sekarang biarin aku pergi!" ucap Aurora.


"AURORA TUNGGU!" teriak Johan cukup keras.


Namun, Aurora tak mau mendengarkan itu dan memilih pergi begitu saja.


Aurora pun keluar dari rumahnya, menemui Willy di depan gerbang dengan tergesa-gesa.


"Wil, ayo cepat kita pergi Wil!" pinta Aurora.


"Hah? Lu kenapa sih sayang? Buru-buru amat, santai aja kali masih pagi ini!" ujar Willy heran.


"Ish, udah cepetan mana helmnya?!" ujar Aurora.


"I-i-iya iya.." Willy yang heran hanya bisa menurut dan menyerahkan helm itu kepada Aurora.


"Ayo cepat jalan!" ucap Aurora yang sudah naik ke jok motor Willy.


"Ini lu kenapa sih sebenarnya?" tanya Willy.


"Udah, gausah banyak tanya deh! Lu buruan jalanin motor lu, kita berangkat sekarang!" ujar Aurora.


"Ya tapi kenapa lu harus panik?" tanya Willy.


"Haish, udah nanyanya nanti aja di jalan. Buruan sekarang nyalain motor lu, terus kita cabut!" ucap Aurora tampak kesal.


"Okay, nih gue jalanin motornya." kata Willy.


"Yaudah buruan ih!" ujar Aurora.


"Iya iya sayangku.." ucap Willy tersenyum manis.


"AURORA TUNGGU!" Willy mengurungkan niatnya saat mendengar teriakan seorang pria dari belakangnya.


"Sayang, itu papa lu noh." ujar Willy.


"Ih lu kenapa berhenti sih, Wil? Harusnya udah lu jalan aja, gausah perduliin bokap gue!" ujar Aurora.


"Loh kenapa? Kalo gue jalan aja, nanti yang ada gue dibantai bokap lu." kata Willy.


"Aurora, turun kamu!" Johan kini sudah berada di dekat motor Willy dan meminta Aurora turun.


"Papa mau apa lagi sih?" tanya Aurora jengkel.


"Papa kan sudah bilang sebelumnya, kamu jangan lagi dekat-dekat dengan anak ini! Kenapa kamu malah ngeyel dan gak mau nurut sama papa? Oh papa tau, itu pasti ajaran dari si berandalan ini kan? Belum apa-apa aja dia udah bawa pengaruh buruk buat kamu, gimana nanti?!" ujar Johan.


"Pah, cukup pah! Papa gak boleh ngomong begitu sama Willy! Aku begini karena papa sendiri kok, papa kan selama ini gak pernah perduli sama aku apalagi ngurusin aku. Jadi, jangan salahin aku kalau aku gak mau nurut sama papa!" ucap Aurora.


Willy hanya bisa diam menyaksikan perdebatan antara ayah dan anak itu, ia tidak ingin ikut campur karena takut salah.


"Sudahlah Aurora, kamu menurut saja dengan papa! Ayo ikut papa!" ucap Johan.


"Gak mau, aku gak mau ikut papa! Pokoknya aku pengen ke sekolah sama Willy aja, papa gak bisa paksa aku kayak gitu!" ucap Aurora menolak.


"AURORA!" bentak Johan.


Akhirnya Willy turun tangan, ia melirik ke arah Aurora dan meminta pada gadis itu untuk turun saja dari motornya.


"Rora, udah deh kamu nurut aja sama papa kamu! Aku gak mau jadi penyebab hubungan kamu dan papa kamu retak," ucap Willy.


"Tapi Wil—"


"Tenang aja ya Aurora! Kan kita masih bisa ketemu di sekolah nanti, sekarang kamu turun dan ikut sama papa kamu ya!" potong Willy.


Aurora menatap sekilas ke arah papanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dari motor sesuai perintah Willy.


"Bagus, ayo kita pergi!" ucap Johan.


Johan langsung menarik tangan Aurora dan membawa putrinya itu masuk ke dalam.


Willy pun hanya bisa dia memandangi Aurora yang perlahan menjauh darinya.


"Apa ini pertanda kalau hubungan gue dan Aurora bakal susah buat direstuin?" batin Willy.


******


Setibanya di sekolah, Willy tanpa sengaja melihat Kiara baru turun dari mobilnya diantar oleh Martin yang memang selalu melakukan itu.


Willy pun perlahan melangkah menghampiri Martin dengan raut amarah di wajahnya, sepertinya ia hendak memaki pria disana itu.


"Aku masuk dulu ya? Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut!" ucap Kiara pamit sambil tersenyum.


"Iya Kiara, saya gak akan ngebut kok. Saya ini kan juga pengen selamat, karena saya masih mau dekat sama kamu." kata Martin.


"Ahaha, tuan Martin bisa aja.." ujar Kiara tersipu.


"Yaudah, kamu belajar yang rajin ya! Kalau ada apa-apa di sekolah, bilang aja sama saya! Dan ingat loh, kamu gak boleh dekat-dekat dengan cowok siapapun itu!" ucap Martin.


"Iya tuan, aku selalu ingat kok pesan dari tuan Martin itu!" ucap Kiara patuh.


"Bagus! Kalo gitu sekarang saya pergi dulu, selamat belajar ya cantik!" ucap Martin.


Kiara mengangguk pelan, mencium tangan Martin lalu melambaikan tangan sambil menunjukkan senyum manis di bibirnya.


Martin bersiap melajukan mobilnya, namun sebuah teriakan lelaki menghentikan niatnya dan membuat keduanya tampak terkejut.


"Tunggu!"


Mereka kompak menoleh ke asal suara, itu adalah Willy yang sekarang sudah berada di dekat Martin serta Kiara.


"Wah wah, ternyata si anak geng ini ada disini. Mau apa sih kamu, ha?" ujar Martin.


"Gue pengen ngomong sama lu. Sekali lagi gue peringatkan sama lu, jangan pernah menjelek-jelekkan nama the darks di lingkungan masyarakat! Asal lu tahu ya, gara-gara berita hoax lu itu sekarang kita jadi dicari sama warga!" ucap Willy emosi.


"Hahaha, ya bagus dong kalo gitu. Emang anak geng motor berandalan kayak kalian tuh pantasnya mendekam aja di penjara selamanya, kalau perlu sekalian dihukum mati. Karena buat apa kalian hidup kalau cuma jadi sampah masyarakat?" ucap Martin tersenyum smirk.


"Hey, bicara apa anda? Jangan bawa-bawa Kiara dalam masalah ini! Saya tidak akan biarkan kamu menyentuh dia lagi!" ucap Martin.


"Gue gak perduli, kalau lu masih terus-terusan sebar berita bohong itu ke masyarakat, maka gue bakal bawa Kiara pergi dari lu secara paksa. Lu jangan pernah main-main sama gue!" ujar Willy.


"Hahaha, kamu pikir saya takut dengan kamu? Tidak Willy, justru kamu yang sebaiknya jangan main-main dengan saya! Saya bisa lakukan apapun pada kamu, jika saya mau." kata Martin.


"Begitupun dengan gue, gue bakal bikin lu menderita selamanya Martin!" ucap Willy.


"Eh udah udah, jangan pada ribut kayak gitu! Ini kan kawasan sekolah, gak enak tahu kalau didengar orang lain!" ucap Kiara memisahkan.


"Anak ini yang cari gara-gara duluan," ucap Martin.


"Cih! Gue gak akan begini, kalau lu gak cari masalah lebih dulu sama anak-anak the darks. Lu udah bikin geng kita dibenci masyarakat, gue gak akan tinggal diam!" ucap Willy.


"Itu bukan karena saya, tapi karena kesalahan kalian sendiri. Kalian itu kan suka buat onar dan bikin masyarakat resah, saya tidak melakukan apapun termasuk menghasut masyarakat. Untuk apa juga saya melakukan itu?" ucap Martin.


"Gue gak terima alasan lu itu, siap-siap aja Martin karena gue bakal bikin hidup lu gak tenang!" ucap Willy mengancam Martin.


Setelah mengatakan itu, Willy sempat melirik sekilas ke arah Kiara sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan mereka berdua disana.


Kiara pun tampak bingung dengan apa yang dikatakan Willy tadi, ia tak mengerti mengapa Willy berkata demikian.


"Kiara, kamu tenang aja ya! Saya akan selalu ada untuk melindungi kamu!" ucap Martin.


"Iya tuan," ucap Kiara mengangguk pelan.


"Maksud Willy apa ya? Dia mau bawa aku pergi dari tuan Martin? Kenapa begitu?" batin Kiara.


******


Saat di kelas, Willy yang kesal langsung melempar tasnya begitu saja ke arah tempat duduknya, lalu menuju ke belakang untuk duduk meluruskan kakinya di lantai.


Willy masih tak mengerti darimana Johan alias papanya Aurora tahu kalau dirinya adalah ketua geng motor, padahal selama ini ia baru satu kali bertemu dengan papa dari gadis cantik itu.


"Gue heran, kok bokapnya Aurora bisa tahu secepat ini ya tentang gue? Apa mungkin kalau dia punya orang suruhan buat mata-matai gue? Atau justru dia sendiri yang suka ngikutin gue buat mastiin itu semua?" gumam Willy dalam hati.


Tak lama kemudian, Aurora muncul disana dan melihat Willy yang tengah duduk selonjoran di lantai dengan wajah bingungnya.


"Willy?" Aurora langsung menyapa dan menghampiri Willy disana.


Karena tak ada jawaban dari Willy, gadis itu pun ikut duduk di sebelahnya dan terus menatap wajah pria tersebut sambil tersenyum lebar.


"Wil, kamu—"


"Sssttt jangan bicara! Aku maunya lihat senyum kamu aja, jadi kamu terus aja senyum kayak tadi gausah pake ngomong!" potong Willy.


"Ish, berarti daritadi kamu udah sadar kalau aku ada disini?" tanya Aurora tampak jengkel.


"Iya, udah kok. Cuma aku lagi pusing aja mikirin papa kamu, jadinya aku diem aja tadi pas kamu tegur aku. Maafin aku ya cantik! Kamu jangan cemberut gitu dong!" ucap Willy sembari mengusap rambut gadisnya.


"Enggak kok, gak cemberut. Oh ya, kamu tadi kenapa mikirin papa aku? Emangnya apa yang kamu pikirin coba? Soal tadi pagi pas papa aku larang aku buat bareng kamu?" tanya Aurora.


"Iya, soal itu. Aku heran aja, darimana ya papa kamu tahu tentang aku?" ucap Willy keheranan.


"Eee aku sih juga bingung ya, tapi kayaknya papa dikasih tahu deh sama sepupu aku. Kebetulan sepupu aku tahu banyak tentang kamu, dia juga sempat bilang ke aku buat menjauh dari kamu. Mungkin aja emang dia yang kasih tahu ke papa soal kamu," ucap Aurora.


"Sepupu kamu? Siapa?" tanya Willy penasaran.


"Martin, yang waktu itu datang ke markas the darks dan hampir ribut sama kamu." jawab Aurora.


"Hah? Kok bisa? Jadi, si Martin itu sepupu kamu? Terus, kenapa dia kayak gak ngenalin kamu waktu ketemu kamu di markas the darks?" tanya Willy terheran-heran.


"Mungkin karena dia belum tahu, kalau aku anak papa. Soalnya aku juga baru tahu kalau Martin sepupu aku," jawab Aurora.


"Berarti udah fix, si Martin itu yang udah kasih tahu ke papa kamu. Dia benar-benar kurang ajar, dia terlalu dalam ikut campur ke masalah aku! Aku gak terima dengan itu!" geram Willy.


"Eee terus kamu mau apa?" tanya Aurora bingung.


"Entahlah, sepertinya aku bakal temuin dia dan bicara berdua sama dia. Aku mau tahu, apa alasan dia ngelakuin ini semua." jawab Willy.


"Tapi, aku minta jangan ada perkelahian ya! Aku gak mau kamu kenapa-napa!" ucap Aurora.


Willy tersenyum senang, ia mendekat ke arah Aurora dan menatap wajah gadis itu dari jarak dekat sembari mengelusnya perlahan.


Aurora tampak tersipu dan wajahnya pun sudah memerah, entah mengapa ia bingung sendiri kenapa ia mengucapkan kalimat tadi.


"Cie yang mulai perduli sama aku," goda Willy.


"Ah enggak tuh, biasa aja." kata Aurora.


"Kok wajah kamu merah gitu? Berarti tandanya kan kamu lagi malu, nah kalo malu itu artinya kamu beneran perduli sama aku. Aku senang deh dengar kamu khawatir sama aku," ucap Willy tersenyum.


"Udah udah, malu ah dilihat orang-orang! Ini di kelas, bukan tempat pacaran." ucap Aurora.


"Emangnya kamu udah anggap aku sebagai pacar kamu?" tanya Willy sengaja menggoda gadis itu.


Aurora pun langsung membuang muka, menahan senyum di bibirnya yang hendak tumpah akibat kata-kata Willy barusan.


******


Martin menemui seseorang di taman, ia duduk di bangku dengan ekspresi dinginnya tanpa menatap orang di sebelahnya.


"Apa kabar, Reynold?" ucap Martin dingin.


"Saya baik, anda sendiri bagaimana?" ucap seseorang yang bernama Reynold.


"Sama. Yasudah, langsung saja ke intinya. Saya butuh bantuan kamu," ucap Martin.


"Bantuan apa Martin?" tanya Reynold.


"Saya mau kamu habisi satu persatu anak geng motor the darks, dari mulai anggota sampai ketua gengnya sekalian." jawab Martin.


"The darks? Waw saya pernah dengar itu, mereka adalah kumpulan anak-anak motor yang bringas dan haus darah. Tapi, sepertinya mereka sekarang sudah bubar." ucap Reynold.


"Tidak Rey, mereka masih berkeliaran dan sering mengganggu ketertiban. Untuk itu saya meminta kamu habisi mereka semua, tanpa ada yang tersisa!" ujar Martin.


"Baiklah, akan saya lakukan itu. Tapi, tentu saja bayarannya tidak murah." kata Reynold.


"Ya, saya tahu itu." ucap Martin tersenyum smirk.


Martin pun mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam jasnya, kemudian menyerahkan amplop itu kepada Reynold.


"Ini dp buat kamu. Sisanya akan saya bayar setelah kerjaan kamu selesai. Ingat ya, saya tidak mau kamu gagal!" ucap Martin.


"Hahaha, ini yang saya maksud. Terimakasih Martin, saya pasti akan bekerja sebaik mungkin dan tidak mungkin mengecewakan kamu!" ujar Reynold mencium amplop itu.


"Habislah kamu Willy! Kamu salah karena sudah main-main denganku!" batin Martin.


Bersambung....